Bab. 16 Karena Kasihan

POV. AUTHOR

Akira harus pulang terlambat karena ia menyelesaikan desain pakaian yang akan digunakan untuk pesta ulang tahun perusahaannya.

Wanita itu bukan hanya mendesain pakaian untuknya saja, melainkan juga untuk Azzam dan Azzura.

Akira ingin dalam pesta ulang tahun perusahaannya kedua anaknya juga turut hadir dalam acara tersebut.

Oleh karena itu Akira sedang membuatkan design baju pesta untuk Azzam dan Azzura.

Wanita itu melupakan bahwa ia tadinya ingin menanyakan pada kedua anak kembarnya perihal kedatangan Aarav yang menemui Azzam dan Azzura disekolahan.

Akira di kantor hanya seorang diri karena Lina pulang lebih dulu, pasalnya harus menemani ibunya yang sedang sakit di rumah sakit

Kring.. Kring..

Di saat ia sedang fokus pada laptopnya tiba-tiba ponsel yang ada di dalam tasnya berbunyi.

Wanita itu segera menghentikan kegiatannya lalu mengambil ponsel yang ada didalam tas itu.

"Iya, halo," ucap Akira menjawab telepon tersebut.

"Halo Bu, ini Den Azzam sama Non Azzura mau bicara dengan Ibu," ucap pelayan di rumah Akira.

"Ya sudah berikan teleponnya pada mereka," ucap Akira.

"Iya Bu," ucap pelayan di seberang telepon.

Tidak butuh lama Akira menunggu, suara Azzam dan Azzura terdengar diponselnya.

"Mama kapan pulang?" tanya Azzura.

"Sebentar lagi Nak," jawab Akira.

"Mama nggak biasanya pulang terlambat?" tanya Azzam.

"Iya Nak, Ini Mama lagi ada pekerjaan," jawab Akira.

"Mama pulang sekarang ya, disini sudah mau hujan, nanti mama kehujanan," ucap Azzura.

"Iya Nak, Mama pulang sekarang," ucap Akira.

"Oke Ma, Mama hati-hati di jalan, kami tunggu Mama di rumah," ucap Azzura.

"Iya Sayang," ucap Akira.

Panggilan telepon itu berakhir. Akira segera berkemas, mematikan laptopnya dan juga merapihkan map yang berserakan dimejanya.

Akira terlebih dulu melihat jam diponselnya, saat ini sudah pukul 06.00 sore.

Setelahnya, wanita itu segera meninggalkan ruangannya sembari menenteng kunci mobil di tangan kanannya.

"Ternyata di luar hujan," gumam Akira setibanya di teras kantor.

"Mau pulang ya, Bu?" tanya satpam yang berjaga di kantor.

Melihat Akira yang keluar dari kantor, satpam yang sedang berjaga dipos satpam segera menghampiri wanita itu sembari membawa payung.

"Iya Pak, tapi hujan nih," jawab Akira yang kebingungan hendak masuk ke mobilnya karena hujan lebat.

"Ini Bu, pakai payung saya saja ke mobilnya," ucap satpam tersebut seraya menyerahkan payungnya pada Akira.

Akira tidak langsung menerima payung tersebut, ia masih berpikir.

"Tidak apa-apa nih Pak, payungnya saya bawa?" tanya Akira.

"Iya Bu, tidak apa-apa," ucap satpam tersebut.

Akira segera menerima payung yang satpam itu serahkan padanya, kemudian segera menuju mobilnya yang parkir di parkiran mobil.

Payung itu Akira letakkan begitu saja di parkiran, lalu segera melajukan mobilnya untuk pulang kerumah.

Hujan yang lebat, serta hari yang mulai gelap membuat jarak pandangnya pada jalanan tidak begitu jelas.

Akira melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah sehingga ia semakin terlambat pulang ke rumah.

Tiba di perempatan jalan, lampu merah menyala membuat Akira menghentikan mobil disana.

Sembari menunggu lampu merah mati dan lampu hijau menyala, Akira mengedarkan pandangannya keluar mobil memperhatikan hujan yang begitu lebat membasahi jalanan yang ia lalui.

Tidak sengaja pandangan Akira menangkap sosok yang ia kenali sedang berteduh di teras toko yang sudah tutup.

"Itu kan, Raka," gumam Akira.

Wanita itu memperhatikan baik-baik wajah pria yang sedang berteduh itu.

"Iya, itu Raka." ucap Akira yakin.

Dari jarak itu Akira bisa melihat bila Raka sedang berjongkok kedinginan. Baju Raka juga terlihat oleh Akira sudah basah, membuatnya tak tega membiarkan OB dikantornya terlantar seperti itu.

Tidak lama kemudian lampu merah padam berganti dengan lampu berwarna hijau yang menyala.

Akira segera melajukan lagi mobilnya, namun saat tiba ditoko tempat Raka berteduh wanita itu membelokkan mobilnya kesana.

Setelah mobil itu berhenti, Akira segera membuka kaca jendela pintu mobil di bagian kemudi lalu menyembulkan sedikit kepalanya.

"Raka, ayo pulang," ucap Akira pada Raka yang sedang berjongkok.

Raka yang berjongkok seperti pengemis diteraa toko, tentunya terkejut mendapati wanita pujaan hatinya berada dihadapannya.

Pria itu segera berdiri, lalu menegakkan tubuhnya.

"Bu Akira sedang apa di sini?" tanya Raka.

"Sudah nanti aja tanyanya sekarang ayo masuk ke mobil saya," ucap Akira.

Meski ragu-ragu tapi Raka menghampiri juga mobil Akira karena ia tidak enak bila membuat wanita itu menunggunya.

Pria itu membuka pintu mobil di bagian sebelah kemudi lalu masuk ke dalamnya.

Dengan pakaian yang basah akhirnya Raka duduk di kursi mobil itu.

"Mobil Ibu jadi basah," ucap Raka.

"Tidak apa-apa," ucap Akira.

Wanita itu kemudian menjalankan lagi mobilnya ke jalanan.

"Ibu kenapa bolehin saya naik mobil Ibu?" tanya Raka.

"Memangnya kenapa?" tanya Akira dengan pandangan yang fokus pada jalanan di depannya.

"Saya kan OB, Bu, tidak pantas naik di mobil ini," ucap Raka.

"Saya tadi lihat kamu yang sedang berteduh di depan toko. Kamu kelihatannya kedinginan jadi aku hampirin aja karena kasihan lihat kamu yang kedinginan," ucap Akira.

Deg!

Akira tidak sadar bila ucapannya itu menyakitkan untuk Raka.

'Kasihan?' tanya Raka dalam hati.

Pria itu tersenyum getir. Bila tahu lebih dulu Akira mengajaknya karena kasihan, ia pasti tidak akan menerima ajakan boss-nya ini.

Ia pasti akan lebih memilih kedinginan di sana dibandingkan menerima belas kasih dari wanita idamannya.

Raka jadi merasa tidak ada harga diri lagi di depan Akira.

"Terima kasih, Bu, maaf jadi merepotkan," ucap Raka tercekat.

"Tidak apa-apa, memangnya rumah kamu di mana? biar sekalian saya antar pulang," ucap Akira.

"Tidak usah repot-repot ngantar saya pulang, Bu. Lagi pula hujannya sudah reda. Anda bisa nurunkan saya di halte depan saja," ucap Raka.

"Tadinya saya mau nganterin kamu pulang, loh," ucap Akira.

"Tidak usah, Bu, turunkan saya di halte depan saja," ucap Raka lagi.

"Ohh, baiklah." ucap Akira.

Di dalam mobil itu tidak ada yang bicara, keduanya saling diam.

Akira diam karena ia fokus pada jalanan yang sedang dilaluinya. Sedangkan Raka, pria itu fokus memikirkan dirinya yang sudah tidak memiliki harga diri di depan Akira.

Tidak lama kemudian mobil Akira menepi di sebuah halte terdekat.

"Yakin nih, kamu mau turun di sini?" tanya Akira.

"Yakin Bu." jawab Raka.

Pria itu kemudian membuka pintu mobil disisinya.

"Terima kasih banyak atas tumpangannya, maaf jadi merepotkan Anda," ucap Raka sebelum turun dari mobil Akira.

Tanpa menunggu jawaban Akira, Raka sudah turun lebih dulu dari mobil wanita itu.

Terpopuler

Comments

Nuri20

Nuri20

Niat nolong, tapi justru bikin orang kecewa ya begitu.

2023-07-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!