"Ya ampun Lin, aku lupa bila Azzam dan Azzura tadi bilang pulang jam 09.00 pagi," ucapku pada Lina yang masih berada di ruang meeting juga.
"Sekarang sudah mau jam 12.00 siang Bu, mungkin mereka sudah dijemput supir," ucap Lina padaku.
"Semoga saja," ucapku.
Aku kemudian membuka ponsel yang tadi aku silent karena meeting.
Di ponsel itu terdapat empat kali panggilan tak terjawab dari Pak Ujang, supir yang biasa menjemput anak-anak.
Aku segera menghubungi balik nomor ponsel Pak Ujang itu. Di dering pertama panggilan teleponku langsung dijawab oleh Pak Ujang.
"Halo Bu, dari tadi saya menelpon Ibu," ucap Pak Ujang panik.
Aku yang mendengar nada kepanikan dari suara Pak Ujang di sambungan telepon, seketika ikut panik juga.
"Saya tadi meeting, Pak. Ada apa ya?" tanyaku pada Pak Ujang.
"Itu Bu, Den Azzam dan Non Azzura saat saya menjemput di sekolahan sudah tidak ada," jawab Pak Ujang membuatku semakin panik.
"Hahh! Bagaimana bisa nggak ada Pak? terus mereka ke mana?" tanyaku.
"Maaf, Bu, saya tidak tahu kalau mereka pulang jam 09.00 pagi. Tadi saya jemput mereka jam 10.00 seperti biasanya, karena mereka biasa pulang setengah sebelas. Tapi setelah saya tiba di sana mereka sudah tidak ada disekolahan," jawab Pak Ujang menjelaskan padaku.
Aku tidak langsung menjawab ucapan Pak Ujang, karena aku sedang kebingungan ke mana mereka pergi.
"Pak Ujang tidak salah, saya yang salah Pak, saya lupa memberitahukan Pak Ujang bila mereka pulang jam 09.00 pagi," ucapku kemudian.
"Sekarang, Pak Ujang tolong cari mereka di kompleks, siapa tahu mereka sudah pulang dan sedang main dirumah tetangga. Sedangkan saya akan menghubungi guru di sekolahan untuk menanyakan dengan siapa mereka pulang," titahku pada Pak Ujang.
"Baik Bu," ucap Pak Ujang.
Setelahnya panggilan telepon itu pun berakhir.
"Apa si kembar belum pulang juga, Bu?" tanya Lina yang sejak tadi mendengarkan aku berbicara dengan Pak Ujang di sambungan telepon.
"Belum Lin," ucapku seraya menggelengkan kepala, kemudian mencari nomor guru TK di sekolahan tempat si kembar bersekolah lalu segera menghubunginya.
Tidak lama kemudian panggilan telepon itu dijawab oleh guru TK yang sedang aku hubungi.
"Halo Bu, Assalamualaikum," ucap guru TK di seberang telepon.
"Waalaikumsalam Bu, maaf mengganggu waktunya," ucapku.
"Iya Bu, ada apa ya?" tanya guru tersebut.
"Saya mau tanya, Azzam dan Azzura tadi pulang sama siapa ya?" tanyaku pada guru tersebut.
"Loh, saya pikir pulang sama sopir seperti biasanya Bu, memangnya kenapa ya?" tanya guru tersebut.
"Sampai sekarang Azzam dan Azzura belum pulang Bu," jawabku.
"Hahh? Yang betul, Bu? Apa mungkin mereka dijemput oleh papanya?" tanya guru itu lagi.
"Kalau itu saya tidak tahu, Bu," jawabku.
"Maaf, ya Bu, atas kelalaian kami ini. Kami semua tadi meeting, jadi kurang mengawasi anak-anak yang pulang sekolah," ucap guru itu.
"Ya sudah tidak apa-apa, Bu. Saya akan mencari mereka di tempat lain. Bila Anda melihat Azzam dan Azzura tolong segera hubungi saya," ucapku.
"Baik Bu," ucap guru tersebut kemudian panggilan telepon itu pun berakhir.
Karena mengkhawatirkan si kembar kepalaku terasa pusing, membuatku memijit kepala agar mengurangi rasa sakit itu.
Aku bingung harus mencari Azzam dan Azzura kemana, karena selama ini aku tidak pernah membawa mereka untuk pergi-pergian jauh.
'Apa Azzam dan Azzura benar-benar dibawa oleh ayah kandungnya?' pikirku.
Setelah rasa pusing di kepalaku sedikit berkurang, aku segera bangkit dari kursi lalu mengajak Lina untuk ikut bersamaku mencari Azzam dan Azzura.
"Kita mau cari si kembar kemana, Bu?" tanya Lina setelah kami berada di dalam lift.
"Saya juga tidak tahu Lin, tapi kita coba saja pulang ke rumah, siapa tahu Pak Ujang sudah menemukan mereka di kompleks," jawabku.
Lina menanggapi ucapanku dengan menganggukkan kepalanya.
Ting.
Tidak lama kemudian pintu lift yang sedang kami naiki itu terbuka. Saat ini kami sudah berada di lantai satu.
Dari depan pintu lift aku sudah bisa melihat bila sedang ada keributan di sana.
Lobby yang tadi pagi aku lihat bersih dan rapih kini menjadi kotor dan berantakan.
Belum lagi ada beberapa karyawan yang sedang mengomel karena lobby itu kotor dan berantakan.
"Kok lobbynya jadi kayak kapal pecah ya Bu," ucap Lina.
Belum sempat aku menjawab ucapan Lina, aku tidak sengaja melihat Azzam dan Azzura sedang berlarian.
Rasa khawatirku terhadap Azzam dan Azura yang belum pulang ke rumah seketika hilang saat melihat kedua anakku itu sedang berada di kantorku sendiri.
Aku tinggalkan Lina yang masih berdiri di depan lift untuk menghampiri Azzam dan Azzura yang sedang berlarian.
"Azzam, Azzura," panggilku pada si kembar.
"Mama," panggil balik Azzam dan Azzura sembari berlari menghampiriku dengan merentangkan tangan mereka.
Melihat mereka yang berlari menghampiriku, aku segera berjongkok untuk menerima pelukan dari mereka.
"Sayang, sejak kapan kalian di sini?" tanyaku pada Azzam dan Azzura setelah melepas pelukan mereka ditubuhku.
"Sejak tadi, Ma," ucap Azzura.
"Kalian sama siapa ke sini?" tanyaku lagi.
"Naik taksi, Ma. Tadi kami sudah nungguin Pak Ujang tapi tidak datang-datang, jadi kami ke sini saja," jawab Azzam.
Alis sebelah kiriku terangkat. Aku heran bagaimana mereka tahu alamat kantorku, padahal kedua anakku itu sama sekali belum pernah aku ajak ke kantor ini.
"Bagaimana kalian tahu alamat kantor Mama?" tanyaku.
"Dari ini Ma," ucap Azzura seraya mengangkat kartu namaku yang ada ditangannya.
Kartu namaku kemudian aku ambil lebih dulu, baru setelahnya aku berbicara lagi pada mereka.
"Dari mana kalian dapat kartu nama Mama?" tanyaku.
"Dari kamar Mama. Aku melihat kartu nama ini ada di meja rias, karena di situ ada foto Mama jadi aku ambil saja dan aku simpan," ucap Azzura.
Aku mengangguk mengerti pada penjelasan kedua anakku ini. Setelahnya aku mengajak Azzam dan Azzura untuk pulang ke rumah agar mereka makan siang, lalu tidur siang di rumah.
Mereka tentu saja Menurut padaku, yang langsung menggandeng tangan kedua anak kembarku untuk pulang ke rumah.
Tapi saat kami melewati OB yang tadi membersihkan ruangan meeting di lantai 4, Azzam dan Azzura yang berada di sisi kiri dan kananku seketika menghentikan langkah kaki mereka.
"Kenapa berhenti?" tanyaku.
Kedua anak kembarku ini tidak menjawab pertanyaanku, mereka justru membalikkan tubuhnya untuk melihat pada OB yang sedang berdiri menatap pada kami bertiga.
"Maaf, ya, Om Raka, kami sudah menyusahkanmu," ucap Azzam dan Azzura dengan serentak pada OB tersebut.
Aku tercengang karena kedua anakku ini bisa tahu nama OB tersebut, sedangkan aku sendiri saja tidak tahu bila nama OB itu adalah Raka.
Raka Alfareza nama lengkap OB itu, setelah aku membaca nama dibaju seragamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments