POV. RAKA
Begitu selesai membayar pesanan makan siang di restoran, aku segera keluar dari restoran kemudian meletakkan dua kotak makan siang dari restorant bersama dengan kotak makan siang yang lainnya.
Setibanya di kantor aku segera mengeluarkannya, lalu menenteng 20 kotak makan siang ditangan sebelah kiri dan kananku.
Aku lebih dulu masuk kedapur untuk menghampiri Pak Ari sebelum mengantarkan pesanan makan siang ini.
"Ini Pak, pesanan makan siangnya," ucapku.
"Langsung kamu antarkan saja Raka," titah Pak Ari padaku.
"Memangnya ruangan mana saja Pak, yang memesan makanan ini?" tanyaku.
"Dua kotak menu yang kamu beli di restoran itu pesanan Bu Lina, sisanya itu pesanan staff yang ada dilantai 2," ucap Pak Ari yang tentunya membuatku bingung.
Di lantai 2 total karyawan yang ada di sana jumlahnya 50 orang, sedangkan makan siang yang dipesan hanya 20 dikurangi pesanan milik Bu Lina 2 jadi 18.
18 makan siang itu aku sama sekali tidak tahu siapa saja yang memesannya.
"Maaf, Pak, bisa saya tahu nama staff yang memesan makanan ini," ucapku.
"Saya juga tidak tahu Raka, tadi saya cuma dikasih catatan sama uang saja. Kamu tanya sendiri saja pada mereka disana," ucap Pak Ari.
Mau tidak mau, akhirnya aku menganggukkan kepala.
Aku pisahkan lebih dulu pesanan makan siang milik Bu Lina, agar tidak tertukar dengan milik para staff yang memesan makan siang ini.
Setelahnya aku bergegas menuju pintu lift untuk masuk ke dalamnya.
Kondisi kantor yang masih jam kerja, membuat lift lenggang sehingga aku tidak berdesakan dengan karyawan lainnya saat masuk ke dalam lift ini.
Ting.
Tidak terasa aku sudah tiba di lantai dua, aku lebih dulu mendatangi ruangan yang paling dekat dari pintu lift.
Tok tok tok
Pintu ruangan aku ketuk lebih dulu, hingga terdengar suara seseorang dari dalam ruangan itu mempersilahkanku untuk masuk.
Ceklek.
Aku segera membuka pintu ruangan itu.
"Permisi, Mbak, Mas, apa ada yang memesan makan siang?" tanyaku.
"Iya, aku tadi pesan lalapan," ucap salah satu pria di sana.
Aku segera mengambil kotak makan siang berisi nasi lalapan, lalu memberikan pada pria itu.
Di dalam ruangan itu rupanya hanya satu orang yang memesan makan siang, sedangkan yang lainnya akan makan di kantin.
Kotak makan siang yang aku bawa masih tersisa 17 ditambah milik bu Lina 2. Aku segera pindah ke ruangan sebelahnya, melakukan hal yang sama menanyakan siapa yang memesan makan siang, lalu memberikan pada mereka.
Hampir setengah jam, waktuku digunakan hanya untuk mengantarkan makan siang ini karena tidak tahu siapa saja yang memesannya dan harus menanyakan satu persatu pada staf dilantai dua ini.
Akhirnya, kotak makan siang yang ada di tanganku hanya tersisa 2, yakni pesanan milik Bu Lina.
Dengan semangat 45 aku segera mengantarkan pesanan makan siang ini, berharap bisa melihat Bu Akira disana.
Aku yakin 2 pesanan makan siang ini salah satunya milik Bu Akira.
Setibanya dilantai 6, aku segera menghampiri Bu Lina yang duduk di mejanya.
"Bu Lina, ini pesanan makan siangnya," ucapku.
Bu Lina menghentikan pekerjaannya kemudian mengambil dua kotak makan siang yang aku pegang.
"Ibu makan dua porsi?" tanyaku.
"Bukan, ini satunya punya Bu Akira," jawab bu Lina.
"Kalau begitu biar saya saja, Bu, yang mengantarkan ke ruangannya," tawarku.
Bukan tanpa sebab aku menawarkan demikian, bila aku mengantarkan makanan ini tentunya aku bisa melihat Bu Akira di ruangannya.
"Tidak usah, biar saya saja yang antar," tolak Bu Lina membuat senyum di bibirku perlahan pudar.
Sayang sekali aku tidak diizinkan Bu Lina masuk ke dalam ruangan Bu Akira untuk mengantar makan siangnya.
Tidak lama kemudian ruang kerja Bu Akira dibuka oleh pemiliknya dari dalam.
Aku pikir Bu Akira hendak keluar, tapi yang aku lihat Bu Akira hanya berdiri di ambang pintu sembari berbicara dengan seseorang.
Rupanya Bu Akira berbicara dengan seorang pria. Pria itu keluar dari ruang kerja Bu Akira dengan wajah yang tegang. Entah tegang karena apa aku tidak bisa menebaknya.
Aku melihat Bu Lina membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada pria yang lewat ini, membuatku juga melakukan hal yang sama dengan Bu Lina.
Setelah pria itu berlalu dari hadapanku dan juga Bu Lina aku baru teringat dengan seseorang yang aku tabrak di dalam restoran tadi.
"Bukannya orang itu yang tadi aku tabrak di restoran ya?" gumamku bertanya sendiri sembari menatap pria yang barusan lewat di hadapanku.
"Kamu ngomong apa?" tanya Bu Lina yang ternyata mendengar aku bergumam.
"Ehh, tidak Bu. Yang tadi lewat itu siapa, Bu?" tanyaku.
"Pria tadi itu mantan suaminya Bu Akira, namanya Aarav Adiputro. Ganteng, kan?" ucap Bu Lina seraya tersenyum bangga padaku.
Aku terperangah kaget, tak menyangka, bila pria yang baru saja lewat itu ialah mantan suami dari wanita idamanku selama ini.
"Iya Bu, ganteng," ucapku pelan.
Aku merasa tubuhku lemas tak bertenaga setelah mengetahui mantan suami Bu Akira pria kaya dan tampan, sedangkan aku sendiri ... aku hanya bisa menggelengkan kepala karena aku hanya pria miskin dan jelek.
Tubuh yang terasa lemas ini kupaksakan agar kakiku bisa melangkah pergi dari hadapan Bu Lina.
Sembari berjalan menjauh dari Bu Lina, aku terus merutuki diriku yang sudah jatuh cinta pada bos-ku sendiri.
"Sadar Raka, kamu itu hanya pria miskin dan jelek. Bu Akira mana mungkin jatuh cinta padamu," ucapku sembari terus berjalan menuju pintu lift.
Setibanya di pintu lift tersebut aku sudah hendak masuk ke dalamnya, tapi terdengar suara Bu Lina memanggil namaku.
"Raka!" panggil Bu Lina.
Aku membalikan tubuh, menghadap bu Lina yang memanggilku.
"Iya Bu," ucapku.
"Kembaliannya mana?" tanya Bu Lina.
"Astaghfirullahaladzim, ini Bu ada di kantong," jawabku seraya merogoh kantong celana.
Karena aku yang insecure, aku sampai melupakan uang orang yang aku pegang.
Aku hampiri lagi Bu Lina yang masih berada di posisinya, kemudian memberikan uang sisa membeli makan siang.
"Berapa ini harganya?" tanya Bu Lina.
"Harga makanannya 700 ribu, Bu, dan ini kembaliannya 300 ribu," jawabku sembari menyerahkan uang kembalian tadi.
"Struknya mana?" tanya Bu Lina.
"Struknya tadi tidak aku ambil, Bu. Aku tidak tahu kalau dua porsi makanan ini pesanan Ibu," jawabku.
"Ya, sudah. Lain kali kalau aku yang pesan, struknya diambil ya," ucap Bu Lina.
"Iya, Bu," ucapku.
"Sekarang, kamu antarkan makan siang ini untuk Bu Akira," ucap Bu Lina yang tentunya membuatku bersemangat lagi.
Aku bahkan menyunggingkan senyum lebar pada Bu Lina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments