Bab. 3 Anak Siapa?

Begitu keluar dari dalam lift aku mengeluarkan peralatan kebersihan dari dalam sana, lalu menuju dapur kantor untuk beristirahat.

Tapi sebelumnya aku hendak menaruh peralatan kebersihan terlebih dahulu ditempatnya.

Brukk!

Belum sempat aku menaruh peralatan kebersihan itu, tubuhku tertubruk anak laki-laki yang sedang berlari dikejar oleh anak perempuan. Kedua anak itu begitu mirip, sehingga aku menduga bila mereka itu kembar.

"Awas kamu Zam kalau ketangkap," ucap anak perempuan tersebut mengejar anak laki-laki yang tadi menubrukku.

"Ha, ha, ayo, kejar aku, wlee," ucap anak laki-laki tersebut kemudian lari lagi.

Kedua anak itu kejar-kejaran di lobby kantor membuat gaduh karyawan yang bekerja dilantai tersebut.

Aku bukannya beristirahat, justru harus menangkap kedua anak-anak itu, karena keduanya mengganggu para karyawan yang bekerja di sana.

Belum lagi lantai yang aku bersihkan tadi, sudah kotor lagi karena sepatu anak-anak itu yang kotor. Rupanya kedua anak itu sehabis bermain di taman kantor yang becek karena diluar tadi diguyur hujan.

Grep.

Aku berhasil menangkap anak laki-laki itu.

"Lepasin! Om siapa berani nangkap aku?" tanya anak laki-laki tersebut sembari memberontak minta diturunkan.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan anak laki-laki itu, tubuhku sudah dipukuli anak perempuan yang tadi berlarian persamaan anak laki-laki yang sedang aku gendong.

"Lepasin Azzam, Om," ucap anak perempuan tersebut.

"Aduh, aduh, ampun jangan pukulin Om," ucapku seraya menghindari pukulan dari anak perempuan tersebut.

"Makanya, Om turunin Azzam," ucapnya.

"Iya, iya Om turunin, tapi kalian janji ya jangan lari-larian lagi," ucapku.

Anak laki-laki yang berada di gendonganku menatap pada anak perempuan di hadapanku, keduanya saling memberi isyarat lewat tatapan mereka.

"Arrgghh!" teriakku,

Bahuku digigit oleh anak laki-laki yang sedang aku gendong, membuatku langsung menurunkan anak laki-laki tersebut.

"Wlee, siapa suruh nggak mau nurunin aku," ucap anak laki-laki itu setelah menjulurkan lidah mengejekku.

Kedua anak itu kemudian berlari lagi, melompat ke sana kemari dan juga bermain petak umpat.

"Ssttt, lumayan juga gigitan tuh anak," ringisku sembari menyentuh bahu bekas gigitan anak laki-laki itu.

Aku menatap pada kedua anak yang sedang main petak umpet dikantor. Selama enam bulan aku bekerja dikantor ini, baru sekarang ada anak-anak yang datang kekantor.

Entah anak siapa mereka itu.

"Raka, cepat bawa keluar anak-anak ini. Mereka mengganggu kami bekerja," ucap resepsionis di sana.

Kedua anak-anak itu sedang main petak umpat bersembunyi dibalik meja resepsionis yang tentu saja mengganggu para resepsionis bekerja.

"Ehh, iya Mbak," ucapku sembari menggaruk tengkuk.

Aku bukannya tidak mau membawa mereka pergi, tapi aku bingung bagaimana cara membujuk mereka agar mau ikut padaku.

Aku kemudian mendekat pada anak laki-laki dan anak perempuan itu, lalu ikut berjongkok karena keduanya sedang berjongkok.

"Kamu kalau kerja itu jangan bawa anak, Raka," ucap kesal resepsionis disana.

'Hahh? Siapa yang bawa anak, aku bahkan tidak tahu mereka itu anak siapa,' batinku.

Bukan hanya Raka saja yang tidak tahu pada kedua anak tersebut, melainkan semua karyawan di kantor tersebut juga tidak tahu.

Kedua anak itu memang baru pertama kalinya datang kekantor.

"Maaf, Mbak," hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan.

"Sana bawa pulang anakmu itu," ucap resepsionis tersebut.

"Baik, Mbak," ucapku.

Aku kemudian menatap pada kedua anak yang sedang berjongkok. Mereka berdua juga menatapku yang tadi berbicara pada resepsionis tersebut.

"Hai, sepertinya kita belum kenalan ya," ucapku pada kedua anak itu.

Aku kemudian mengulurkan tangan lebih dulu pada mereka yang terus menatapku.

"Kenalin nama saya, Raka. Kalian panggil saja, Om Raka." ucapku.

Kedua anak tersebut diam saja tidak ada yang bicara, hingga tidak lama kemudian keduanya saling pandang, lalu bangkit dan berlari lagi.

"Azzam ayo kejar aku," ucap anak perempuan tersebut.

Anak laki-laki tersebut mengejarnya, keduanya kembali berlari-larian lagi.

Hufftt.

Aku menghela nafas, karena kesulitan membujuk anak-anak itu

Aku memilih membersihkan kembali lobby kantor dari kekacauan yang dibuat oleh kedua anak itu.

Bekas sepatu kotor tentu saja butuh 2 sampai 3 kali mengepel ulang, tapi aku tidak mengeluh. Aku lakukan dengan ikhlas karena itu memang pekerjaanku.

"Anak siapa itu, Raka?" tanya pak Ari yang menghampiriku.

Aku menghentikan sejenak pekerjaanku untuk menjawab pertanyaan dari Pak Ari, akan tidak sopan bila aku menjawab pertanyaan seseorang tanpa menatap orang tersebut.

"Saya tidak tahu Pak," jawabku.

"Bukan kamu kan yang kerja bawa anak?" tanya Pak Ari.

"Bukan Pak," jawabku.

"Ya sudah kamu bersihkan kembali lobby ini, biar aku yang menangkap anak-anak itu," ucap Pak Ari.

"Baik Pak," ucapku.

Setelahnya aku melanjutkan kembali membersihkan lantai lobby tersebut, sedangkan Pak Ari menghampiri kedua anak yang bermain dikantor.

Sembari mengepel aku sesekali melihat pada Pak Ari yang sedang berusaha menangkap kedua anak itu.

Rupanya Pak Ari juga kesulitan menangkap anak-anak itu.

Kedua anak itu terus berlari menghindari Pak Ari yang mau menangkap mereka, membuat lantai yang baru aku pel kotor lagi.

"Dasar anak-anak nakal. Awas kalian kalau sampai tertangkap, kalian akan aku jewer," ucap Pak Ari.

"Wlee, ayo kejar kami, Pak tua," ucap anak laki-laki tersebut sembari berlari bersama anak perempuan tadi.

Keduanya yang dikejar Pak Ari kemudian berlari ke arahku.

Brukk!

Byuurrr!

Salah satu dari kedua anak itu, menendang ember pel dihadapanku sehingga air tersebut tumpah ke lantai.

Bukan hanya lantai saja yang terkena air tersebut melainkan juga dengan celanaku yang bagian betisnya basah karena terkena air pel tersebut.

"Astaga anak-anak itu," ucap Pak Ari sembari memijit pelipis.

Sedangkan aku hanya mengelus dadaku, berusaha untuk lebih sabar lagi.

Meski sudah menumpahkan air pel, kedua anak tersebut masih saja terus berlari.

"Sudah Pak, jangan dikejar," ucapku.

Pak Ari akhirnya berhenti mengejar, lalu menghampiriku.

"Celanamu jadi basah, Raka" ucap Pak Ari.

"Tidak apa-apa, Pak." ucapku.

"Sebenarnya mereka tuh anak siapa sih, nakal sekali," ucap Pak Ari.

"Saya benar-benar tidak tahu mereka Itu anak siapa, Pak," ucapku.

"Ya sudah kamu bersihkan lagi lantainya, biar saya yang ngawasin anak-anak itu biar tidak menambah kekacawan," titah Pak Ari.

"Baik Pak," ucapku.

Aku kembali mengulang membersihkan lantai tersebut. Sedangkan Pak Ari masih memperhatikan kedua anak tadi.

Tidak lama kemudian terdengar suara seseorang yang aku kenal membuatku menghentikan pekerjaanku.

"Azzam! Azzura!" panggil seseorang itu.

Aku kemudian melihat pada seseorang itu, yang ternyata memanggil kedua anak yang sudah membuat kekacawan dilobby kantor.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!