Kerja

Langit baru tiba di depan pintu mansion, dia menunggu Bus. Dia mampir ke toko kamera untuk membeli kamera yang bisa merekam video, nanti dia gunakan untuk memfoto produk di kedai dan menyebarkannya lewat media sosial. Langit benar-benar ingin memajukan kedai peninggalan Nenek Han yang sekarang menjadi milik istrinya, yang di kelola oleh dirinya.

"Dari mana dirimu jam segini baru sampai hah!" tekan Jennie yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menyilangkan tangannya di dada dan menatap Langit dengan tatapan tajam.

"Miss, saya baru membeli kamera Miss," jawab Langit.

"Uang dari mana? Untuk apa itu hah! Kerjamu hanya di kedai saja, sok-sokan pakek kamera!" marah Jennie.

"Uang saya sendiri Miss, untuk memfoto produk dan nanti akan di bagikan di sosial media," jawab Langit dengan tenang.

"Sok! kebayakan uang, ingat bulan ini aku mau target penghasilan lebih besar dari yang bulan kemarin!" tekan Jennie.

"Iya, Miss," jawab Langit.

"Ah, Miss saya tadi menerima satu tenaga kerja, untuk membantu di kedai, karena saya kewalahan bila mengurus kedai sendirian," terang Langit.

"Itu urusanmu, yang aku tahu aku mau uang bulan ini harus lebih besar dari yang sebelumnya. Pastikan gaji tenaga kerja itu di bayar dari uangmu, bukan uang bagianku!" bentak Jennie.

"Iya Miss, saya pamit dulu Miss," pamit Langit.

Jennie tidak menjawab, jadi lah Langit berjalan dengan membawa paperbag berisi kameranya ke gudang tempat dia istirahat.

'Semoga dengan kamera ini bisa menambah penghasilan kedai' monolog Langit meletakkan kameranya di samping dirinya.

Uang kedai untuk Jennie sama sekali tidak berarti apa-apa untuknya, tapi dia lakukan itu untuk menekan Langit, membuat Langit menderita dengan target penghasilan yang setiap bulannya akan dia naikkan. Dan jika Langit tidak bisa memenuhi target itu, Jennie bisa memberikan Langit hukuman penyiksaan. Dia benar-benar ingin menyiksa Langit secara perlahan-lahan.

Jennie naik ke laintai dua, masuk ke kamarnya. Dia membuka pesan yang di kirim Daddynya. Besok dia tidak perlu pergi ke kantor, karena dia diberikan izin untuk beristirahat mempersiapkan dirinya dan Langit untuk pergi honeymoon.

"Honeymoon? Di sini saja kami tidur berpisah. Daddy, Daddy, jika bukan aku menghormati dan menyayangi Daddy dan mommy, aku pasti sudah menolak tiket honeymoon dari kalian. Baiklah besok aku akan memberi tahu idiot itu!" ketus Jennie meletakkan teleponnya dan mulai untuk menutup mata dan tidur.

Sementara Langit, dia sedang menatap langit-langit gudang yang  sama sekali tidak ada yang spesial di sana. Dia menatap langit-langit sambil memikirkan nasib dirinya. Meskipun dia menerima perlakuan buruk dunia pada dirinya, dia juga kadang bertanya-tanya keburukan apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya. Hingga membuat dia sangat sulit untuk merasakan arti dari kebahagiaan. Dia memikirkan itu, sampai kedua matanya tertutup dan mulai memasuki alam bawah sadarnya.

***

Pagi hari di mansion Jennie, Langit sudah bangun dan membuatkan Jennie sarapan. Tapi sampai jam 7:45 Jennie belum turun juga. Langit yang tidak tahu jika hari ini Jennie libur, naik ke lantai dua memasuki kamar istrinya untuk membangunkan Jennie.

"Cantik sekali jika tidak memakai riasan di wajah," ucap Langit pelan.

Langit duduk di ujung kasur Jennie membangunkan istrinya.

"Miss, bangun ini sudah pagi. Miss bisa terlambat ke kantor," jelas Langit mengusap lengan Jennie.

"Miss," panggil Langit mencoba lagi, tapi Jennie belum ada tanda-tanda bergerak dari tempat tidurnya.

"Miss ba-" ucapan Langit terpotong karena Jennie meninju perut Langit dengan lumayan kuat. Hingga membuat Langit mengusap perutnya dan meringis kesakitan.

Bugh ... "Awww," pekik Langit terduduk di lantai memegangi perutnya.

"Kau lancang sekali!" bentak Jennie mendudukkan dirinya dan menyanggul rambutnya asal.

"Akh,,, Miss, saya membangunkan Miss agar Miss tidak terlambat ke kantor," ungkap Langit sambil meringis, bagaimana tidak meringis. Langit yang sudah melakukan pekerjaan membersihkan mansion, mencuci baju dan masak. Semua dia lakukan menguras tenaga dan dia belum makan, lambungnya yang sedari tadi perih semakin perih karena di tinju oleh istrinya.

"Dasar lemah, begitu saja sakit. Aku hari ini libur. Aku akan pergi dengan sahabatku. Oiya, besok kita akan pergi honeymoon!" sarkas Jennie.

"Honeymoon?" tanya Langit untuk memastikan ucapan istrinya.

"Jangan GR, ini hadiah dari Daddy dan Mommy, karena kalau dari dirimu itu jelas sangat tidak mungkin bukan!" bentak Jennie.

"Iya Miss. Sarapan sudah saya siapkan di atas meja Miss. Saya pergi ke kedai dulu Miss" pamit Langit.

Jennie tidak merespons, jadi Langit pergi meninggalkan kamar istrinya, sebelum itu dia pergi ke gudang untuk mengambil kameranya. Kemudian baru berjalan kaki menuju halte bus untuk menaiki bus ke kedai.

Sepeninggalan Langit, Jennie bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.  Dia berendam beberapa waktu, lalu menyudahi kegiatan mandinya dengan pergi ke ruangan pakaian dan aksesorisnya, setelahnya dia merias wajah dan turun ke lantai dasar.

"Kita lihat, idiot itu masak apa!" ketus Jennie berjalan ke meja makan. Di sana dia melihat ada pasta dan jus stroberi serta air putih dan kertas kecil dengan tulisan "selamat sarapan my wife," Jennie meremat kertas itu dan menjatuhkannya ke lantai, dia merasa geli dengan tulisan yang Langit buat. Jennie mulai memakan sarapannya.

"Not bad but not good," Jennie bergumam.

Dia meninggal meja makan dengan begitu saja dan pergi menuju garasi tempat koleksi mobilnya. Dia akan membawa mobilnya ke apartemen Jesya dan Rachel untuk menjemput mereka lalu pergi ke Mall.

"Hari yang cerah," ujar Jennie memakai kacamata dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan mansion. Sepanjang perjalanan dia di temani dengan lagu-lagu kesukaannya dia bersenandung dalam mobilnya.

***

"Pagi Langit," sapa Maudy.

"Pagi," balas Langit yang baru tiba di kedai.

"Semua sudah di siapkan termasuk sayuran yang sudah di potong dan daging yang sudah di cuci," ujar Maudy.

"Terima kasih Maudy, biarkan saya yang melakukan itu. Kamu hanya perlu membersihkan kedai saja," kata Langit.

"Tidak apa, bukan masalah," ucap Maudy.

"Ah, besok kedai tutup sampai 5 hari," ucap Langit.

"Tutup?" tanya Maudy.

"Iya, karena besok saya dan istri akan pergi honeymoon," jawab Langit dengan senyumnya.

"Wah, honeymoon," Maudy.

"Kamu bisa memasak bahan-bahan yang ada di kedai dan ini aku berikan uang untuk kamu jika ingin membeli sesuatu," kata Langit memberikan Maudy uang 3 juta.

"Ah, tidak perlu Langit," tolak Maudy.

"Tidak apa, maaf hanya bisa memberikan pegangan untuk kamu hanya segini. Ambil lah," kata Langit.

"Terima kasih Langit, ini lebih dari cukup untuk 5 hari 3 juta," ucap Maundy.

"Syukurlah. Oiya, aku kemarin membeli kamera untuk memfoto makanan kita. Rencanaku, nanti akan di sebarkan di media sosial, siapa tahu ada peminatnya," ucap Langit.

"Wah, kamu cerdas. Bagaimana kalau di tambah juga dengan video kamu yang sedang memasak," usul Maudy.

"Boleh, sepertinya itu bagus juga Maudy. Baiklah hari ini kita tutup kedai, kita membuat video dan foto produk saja. Kita juga membuat akun media sosial kedai ini, bagaimana menurut kamu?" tanya Langit.

"Ide bagus Langit," Maudy.

"Baiklah, mari menutup kedai," ajak Langit mulai menutup pintu kedai dan membalikkan gantungan yang bertulis buka menjadi tutup.

Mereka saat ini sedang berada di dapur, Maudy menata produk sebagus mungkin dan Langit bagian mengambil gambar serta mengatur pencahayaan. Butuh waktu yang lama untuk melakukan itu, karena hari ini mereka memasak semua menu dan memfoto semua menu dengan beberapa kali pengambilan gambar dan video di setiap pembuatan menu mereka. Mereka juga membuat akun media sosial untuk kedai. Mereka berhenti hanya pada saat waktu jam makan tiba, selebihnya mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka.

Episodes
1 Prolog
2 Biarkan Waktu Menjawab
3 Biarkan Waktu Menjawab (2)
4 Dusta
5 Daddy Malvin Kembali
6 Langit
7 Cinta Pertama
8 Di Usir
9 Penyesalan
10 Murka
11 Manipulatif
12 Pencarian
13 Menikah dengan Ku
14 Negosiasi
15 Restu
16 Falensia dengan Penyesalan
17 Hari Bahagia
18 Apa itu Bahagia
19 Palsu
20 Kerja
21 Lagi
22 Keroyok
23 Curhat
24 OTW Paris
25 Hallo Paris
26 Princess Laurent
27 Paris Bencana
28 Rumit
29 Perceraian
30 Percaya
31 Paris
32 Paris (2)
33 Paris 3
34 Paris (4)
35 Back To Korea
36 Back To Korea (2)
37 Daddy dan Aunty Jenjen
38 Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39 Daddy dan Aunty Jenjen 3
40 Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41 Ada Apa?
42 Kecewa Lagi?
43 Baby Son
44 Baby Son (2)
45 Melepaskan?
46 Melepaskan? (2)
47 Takdir Tuhan
48 Kado untuk Daddy Baby
49 Daddy Baby Masak
50 Daddy Baby Pamit
51 Maaf Daddy Ingkar Janji
52 Samudra
53 Princess Daddy Langit
54 Langit
55 Keajaiban Tuhan
56 Daddy Langit
57 Perjalanan Baby dan Mommy
58 Berhati Malaikat
59 Daddy Mendidik Abang Malvin
60 Membujuk Mommy
61 Daddy CEO
62 Menyambut Diana & Laurent
63 Kedatangan Laurent dan Diana
64 Perubahan
65 The End Of Everyting
66 Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67 Maaf
68 Fakta
69 Langit
70 Pesan Langit untuk Jennie
71 Hadiah Langit untuk Putrinya
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Prolog
2
Biarkan Waktu Menjawab
3
Biarkan Waktu Menjawab (2)
4
Dusta
5
Daddy Malvin Kembali
6
Langit
7
Cinta Pertama
8
Di Usir
9
Penyesalan
10
Murka
11
Manipulatif
12
Pencarian
13
Menikah dengan Ku
14
Negosiasi
15
Restu
16
Falensia dengan Penyesalan
17
Hari Bahagia
18
Apa itu Bahagia
19
Palsu
20
Kerja
21
Lagi
22
Keroyok
23
Curhat
24
OTW Paris
25
Hallo Paris
26
Princess Laurent
27
Paris Bencana
28
Rumit
29
Perceraian
30
Percaya
31
Paris
32
Paris (2)
33
Paris 3
34
Paris (4)
35
Back To Korea
36
Back To Korea (2)
37
Daddy dan Aunty Jenjen
38
Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39
Daddy dan Aunty Jenjen 3
40
Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41
Ada Apa?
42
Kecewa Lagi?
43
Baby Son
44
Baby Son (2)
45
Melepaskan?
46
Melepaskan? (2)
47
Takdir Tuhan
48
Kado untuk Daddy Baby
49
Daddy Baby Masak
50
Daddy Baby Pamit
51
Maaf Daddy Ingkar Janji
52
Samudra
53
Princess Daddy Langit
54
Langit
55
Keajaiban Tuhan
56
Daddy Langit
57
Perjalanan Baby dan Mommy
58
Berhati Malaikat
59
Daddy Mendidik Abang Malvin
60
Membujuk Mommy
61
Daddy CEO
62
Menyambut Diana & Laurent
63
Kedatangan Laurent dan Diana
64
Perubahan
65
The End Of Everyting
66
Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67
Maaf
68
Fakta
69
Langit
70
Pesan Langit untuk Jennie
71
Hadiah Langit untuk Putrinya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!