Dusta

Saat ini Falensia sedang berada di ruangan CEO, dia sedang memeriksa berkas-berkas.

TOK ... TOK ... TOK ... Ruangan pintu Falensia di ketuk dari luar.

"Masuk," pekik Falensia dari dalam ruangan, tanpa memalingkan wajahnya dari berkas-berkas yang sedang dia periksa.

"Sibuk sekali Miss CEO," Daddy.

"Ah, Daddy. Maaf Dad, hanya memeriksa beberapa berkas. Duduk Dad, ada yang ingin di bahas?" Falensia berhenti memeriksa berkas-berkas dan melihat ke arah Daddynya.

"Iya. Daddy ingin bertanya apa hubungan dirimu dan suamimu berjalan baik?" tanya Daddy.

"Iya, kami baik-baik saja Dad," jawab Falensia.

"Dirimu tidak sedang berbohong dengan Daddykan," Daddy.

"Tidak Dad, aku tidak berbohong. Mengapa Daddy tiba-tiba membahas hal ini?" tanya balik Falensia.

"Daddy dan Mommy melihat dirimu seperti tidak menganggap suami dan anakmu. Apa ada masalah yang terjadi antara dirimu dan Langit? Berbagi cerita dengan Daddy, katakan apa yang membuatmu mengacuhkan suami dan anakmu?" ujar tanya Daddy.

"Hah ... Tidak ada Dad, itu hanya penilaian sesaat Daddy dan Mommy saja," Falensia.

"Dirimu yakin?" tanya Daddy, mendesak putrinya.

"Iya, Dad," Falensia.

"Lalu mengapa Malvin mengatakan, jika dirimu sering menampar, memukul dan melempari suamimu dengan barang-barang? Malvin tidak mungkin berbicara bohong bukan?" Daddy.

Hais, anak itu. Batin Falensia.

"Haruskah aku katakan Dad? ini permasalahan rumah tangga kami." Falensia.

"Berbagi dengan Daddy, kita akan mencari solusinya." Daddy.

"Langit tidak mencintaiku Dad, dia memiliki wanita lain. Yang dia tunjukkan di depan Daddy dan Mommy bukanlah dirinya ketika berada di luar!" Falensia membalikkan fakta.

"Maksudmu, Langit memiliki selingkuhan dan dia bermuka dua? Jangan mengatakan suatu kebohongan." Daddy tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya, sebab yang dia tahu menantunya adalah suami dan Daddy yang baik, tidak banyak bertingkah dan sopan dengan orang yang lebih tua.

"Daddy tidak akan mempercayainya, tetapi itu kebenarannya Dad. Mengapa aku menyuruhnya untuk bekerja di rumah, itu untuk meminimalisir agar dia tidak bisa bertemu dengan selingkuhannya. Tetapi itu sia-sia Dad, dia masih menemui selingkuhannya!" Falensia beracting dengan menitihkan air mata.

"Mengapa tidak mengatakannya dari awal pada Daddy dan Mommy sayang?" Daddy, berjalan ke arah Falensia dan memeluk putrinya, mengusap punggung anaknya.

"Ini rumah tanggaku Dad, aku tidak ingin mencemarkan nama baik keluarga kita lagi dengan kabar gagalnya rumah tanggaku. Cukup dengan aku yang hamil di luar nikah saja Dad," Falensia mendrama di dalam pelukan Daddynya.

"Tidak sayang, Malvin adalah anugerah bukan sebuah kesalahan. Daddy mendukung dirimu bercerai dengan Langit, dia tidak pantas mendapatkan dirimu. Ajukan surat perceraian, biarkan kuasa hukum Daddy yang mengurusnya. Jangan pikirkan penilaian orang lain, pikirkan kebahagiaan dirimu dan anakmu. Maaf Daddy tidak peka selama ini dengan masalah yang dirimu hadapi sayang." Daddy menitihkan air mata, mengingat takdir malang yang menimpa putri sulungnya.

"Iya Dad, aku akan mengajukan surai cerai. Daddy tidak salah, Daddy adalah Daddy terbaik." Falensia bermuka dua.

"Lanjutkan perkejaanmu. Daddy akan pulang untuk mengurus si berengsek itu! Daddy pergi dahulu sayang," Daddy, benar-benar ingin menghajar habis-habisan Langit yang sudah memberikan begitu banyak luka untuk putrinya.

"Hati-hati Dad, jangan sakiti dia. Dia hanya mengekspresikan isi hatinya Dad." Falensia pura-pura melindungi suaminya.

"Lihat, hatimu seperti malaikat, tetapi harus bersanding dengan iblis. Daddy tidak janji!" Daddy, pergi dari ruangan Falensia.

"Maaf Langit, aku tidak mungkin mengatakan yang sebernya pada Daddy." Falensia tersenyum licik, karena berhasil membuat Daddynya percaya dengan kebohongan yang di buatnya.

Falensia lanjutkan pekerjaanya, tanpa memikirkan dampak dari kata-kata yang dia utarakan pada Daddynya.

***

Sementara di dalam masion, Langit sudah selesai memasak makan siang untuk di bawakan ke istrinya, sebagai ucapan terima kasih karena kemarin sudah menyempatkan waktu untuk bermain bersama Malvin. Langit membuatkan sop rumput laut kegemaran istrinya dan minuman green tea. Malvin sedang tidur siang di kamar. Dia akan ke kantor untuk memberikan makanan yang dia buat secara langsung pada istrinya.

"Sop rumput laut?" Mommy, yang baru keluar dari kamar ingin bersantai di ruang TV, menjadi melangkah ke arah dapur, karena mencium wangi makanan kegemaran putri sulungnya dan benar saja, menantunya sedang menata makanan di wadah yang sepertinya akan diberikan pada putrinya.

"Iya Mom, sop rumput laut. Di sana masih ada Mom, jika Mom ingin." Langit dengan senyumnya.

"Iya, nanti akan Mommy makan. Ingin di antar ke Falensia?" Mommy.

"Iya, Mom." Langit.

"Pergilah, selagi Malvin sedang tidur. Ingin di antar sopir?" Mommy.

"Iya, Mom, tidak Mom. Laangit menaiki bus saja Mom, hitung-hitung jalan kaki untuk menyehatkan tubuh Mom. Langit pergi dahulu Mom." Langit membungkukkan badan sambil membawa 1 paperbag berisi makanan untuk istrinya.

"So sweet sekali." Gumam Mommy.

Langit sering mengantarkan istrinya makan siang, meskipun tidak setiap hari, tetapi 1 minggu ada 3 kali dia akan mengantarkan makan siang untuk istrinya. Jadi bukan hal baru lagi, bila Mommy melihat menantunya berada di dapur.

Langit berjalan kaki keluar dari masion Daddy, hingga tiba di halte bus. Dia menunggu beberapa waktu, tidak lama bus datang. Langit menaiki bus, dia memeluk paperbag yang dia bawa, senyumnya merekah.

Sementara di dalam ruangan CEO, aktivitas Falensia lagi-lagi harus terhenti karena ketukan dari luar ruangannya.

TOK ... TOK ... TOK ...

"Masuk!" Falensia menghelang napas.

"Maaf Miss, di lobi ada yang ingin bertemu dengan Miss." Karina sekretaris Falensia.

"Siapa?" Falensia acuh tak acuh.

"Dia mengatakan namanya Samudra." Karina.

Tubuh Falensia kaku seketika, apakah nama itu adalah orang yang sama, orang yang dia tunggu selama ini, orang yang dia cintai sampai saat ini? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Hingga Karina mengembalikan ke sadarannya.

"Miss." Panggil Karina.

"Bawa dia segera keruanganku sekarang." Falensia tegas.

"Baik Miss." Karina pergi dari ruangan menuju ke lobi untuk menjemput Samudra.

Sementara Falensia terus bertanya-tanya pada dirinya, apa itu orang yang dia tunggu selama ini, jika benar, apa Samudra kembali untuk memberikan dia penjelasan atas kepergiannya dan apakah Falensia harus menerimanya kembali. Pertanyaan itu terus berputar, hingga dia tidak sadar kalau Karina dan Samudra sudah berada di dalam ruangannya.

"Miss." Panggil Karina.

Falensia membuka matanya dan orang yang pertama kali dia lihat adalah orang yang meninggalkan dia tanpa penjelasan, dia cinta dalam hidup Falensia, dia kembali, dia kembali, dia ada di depan mata Falensia. Tidak terasa air mata menetes, jantungnya berdegub keras, dia merindukan cinta dalam hidupnya yang sekarang ada di depan matanya.

"Tinggalkan kami!" Perintah Falensia. Karina keluar dari ruangan Falensia. Tinggal lah Falensia dan Samudra di dalam ruangan masih dengan kesunyian, mereka tenggelam dalam tatapan mata mereka.

Episodes
1 Prolog
2 Biarkan Waktu Menjawab
3 Biarkan Waktu Menjawab (2)
4 Dusta
5 Daddy Malvin Kembali
6 Langit
7 Cinta Pertama
8 Di Usir
9 Penyesalan
10 Murka
11 Manipulatif
12 Pencarian
13 Menikah dengan Ku
14 Negosiasi
15 Restu
16 Falensia dengan Penyesalan
17 Hari Bahagia
18 Apa itu Bahagia
19 Palsu
20 Kerja
21 Lagi
22 Keroyok
23 Curhat
24 OTW Paris
25 Hallo Paris
26 Princess Laurent
27 Paris Bencana
28 Rumit
29 Perceraian
30 Percaya
31 Paris
32 Paris (2)
33 Paris 3
34 Paris (4)
35 Back To Korea
36 Back To Korea (2)
37 Daddy dan Aunty Jenjen
38 Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39 Daddy dan Aunty Jenjen 3
40 Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41 Ada Apa?
42 Kecewa Lagi?
43 Baby Son
44 Baby Son (2)
45 Melepaskan?
46 Melepaskan? (2)
47 Takdir Tuhan
48 Kado untuk Daddy Baby
49 Daddy Baby Masak
50 Daddy Baby Pamit
51 Maaf Daddy Ingkar Janji
52 Samudra
53 Princess Daddy Langit
54 Langit
55 Keajaiban Tuhan
56 Daddy Langit
57 Perjalanan Baby dan Mommy
58 Berhati Malaikat
59 Daddy Mendidik Abang Malvin
60 Membujuk Mommy
61 Daddy CEO
62 Menyambut Diana & Laurent
63 Kedatangan Laurent dan Diana
64 Perubahan
65 The End Of Everyting
66 Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67 Maaf
68 Fakta
69 Langit
70 Pesan Langit untuk Jennie
71 Hadiah Langit untuk Putrinya
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Prolog
2
Biarkan Waktu Menjawab
3
Biarkan Waktu Menjawab (2)
4
Dusta
5
Daddy Malvin Kembali
6
Langit
7
Cinta Pertama
8
Di Usir
9
Penyesalan
10
Murka
11
Manipulatif
12
Pencarian
13
Menikah dengan Ku
14
Negosiasi
15
Restu
16
Falensia dengan Penyesalan
17
Hari Bahagia
18
Apa itu Bahagia
19
Palsu
20
Kerja
21
Lagi
22
Keroyok
23
Curhat
24
OTW Paris
25
Hallo Paris
26
Princess Laurent
27
Paris Bencana
28
Rumit
29
Perceraian
30
Percaya
31
Paris
32
Paris (2)
33
Paris 3
34
Paris (4)
35
Back To Korea
36
Back To Korea (2)
37
Daddy dan Aunty Jenjen
38
Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39
Daddy dan Aunty Jenjen 3
40
Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41
Ada Apa?
42
Kecewa Lagi?
43
Baby Son
44
Baby Son (2)
45
Melepaskan?
46
Melepaskan? (2)
47
Takdir Tuhan
48
Kado untuk Daddy Baby
49
Daddy Baby Masak
50
Daddy Baby Pamit
51
Maaf Daddy Ingkar Janji
52
Samudra
53
Princess Daddy Langit
54
Langit
55
Keajaiban Tuhan
56
Daddy Langit
57
Perjalanan Baby dan Mommy
58
Berhati Malaikat
59
Daddy Mendidik Abang Malvin
60
Membujuk Mommy
61
Daddy CEO
62
Menyambut Diana & Laurent
63
Kedatangan Laurent dan Diana
64
Perubahan
65
The End Of Everyting
66
Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67
Maaf
68
Fakta
69
Langit
70
Pesan Langit untuk Jennie
71
Hadiah Langit untuk Putrinya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!