Biarkan Waktu Menjawab (2)

"Bay, bay, Nenek, Kakek. Malvin, pergi dahulu bersama Mommy, dan Daddy." Malvin melambaikan tangannya dengan semangat dari dalam mobil.

"Bay, bay, sayang. Habiskan waktumu bersama Daddy, dan Mommymu." Nenek.

Mobil berjalan, Falensia membunyikan klakson mobil. Ya, yang membawa mobil adalah Falensia, Langit tidak bisa mengendarai mobil. Langit duduk di sebelah  Falensia, Malvin duduk di pangkuan Daddynya,

"Mommy, apa nanti setelah dari taman kita bisa pergi ke pantai?" tanya Malvin pelan pada Mommynya yang sedang menyetir.

"Banyak sekali permintaanmu. Tetapi sesekali pergi ke pantai menghilangkan rasa jenuh dengan urusan kantor, bukan ide yang buruk. Kita bisa ke sana nanti," Falensia.

"Yey, terima kasih, Mommy," Malvin bersemangat.

"Hm," Falensia dengan acuh.

30 menit menempuh waktu untuk tiba di Taman, di sana ramai dengan anak-anak yang memainkan ayunan, perosotan, jungkat-jungkit.

"Dad, aku ingin bermain ke sana," Malvin menunjuk tempat permainan anak.

"Pergilah, hati-hati. Daddy, dan Mommy, melihatmu dari bawah pohon itu," Langit menunjuk pohon yang di bawahnya ada kursi.

"Iya, Dad," Malvin berlari menuju tempat yang ingin dia kunjungi.

"Jangan berlari, Boy," Langit memperingati anaknya.

Malvin yang mendengar ucapan Daddynya, langsung berhenti berlari dan berjalan menuju tempat yang ingin dia tuju.

"Ayo, kita duduk di sana," Langit mengajak Falensia duduk di bawah pohon.

Falensia tidak menjawab tetapi berjalan duluan menuju pohon itu dan duduk di sana, Langit mengikuti dari belakang. Mereka diam beberapa waktu, hingga Falensia membuka suara.

"Dirimu sangat dekat dengan anak itu," ucap Falensia.

"Iya, dia anak yang penurut dan manis," Langit melihat Malvin yang sedang bermain bersama anak lainnya.

"Hm ... sekali pun dia bukan anakmu?" tanya Falensia.

"Iya, sekali pun dia bukan anak kandungku. Tetapi aku sudah menganggapnya seperti putraku sendiri, karena aku sudah menikahi Mommynya," ujar Langit tersenyum melihat tawa Malvin.

"Aku ingin cerai!" Falensia.

"Lagi?" Langit sudah terbiasa dengan rengekan istrinya yang meminta cerai dengan dirinya.

"Langit, hubungan kita tidak karena cinta. Kita melakukan pernikahan karena kesepakatan!" Falensia.

"Aku mencintaimu." Langit.

"Aku tidak!" Falensia.

"Biarkan aku mencintaimu dengan caraku, hingga batas waktuku," Langit.

"Sampai kapan? Kau akan menyakiti dirimu sendiri?" tanya Falensia.

"Sampai waktunya Tuhan berkata waktuku untuk mencintaimu sudah selesai." jawab Langit tulus.

"Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, Langit. Aku hanya mencintai Daddy Malvin!" Falensia tegas.

"Maka biarkan aku yang mencintaimu. Biarkan waktu yang menjawab, jika memang nanti rumahmu sudah kembali, aku tidak akan mempersulit segala sesuatunya," Langit.

"Hah ... " Falensia menghelang napas secara kasar.

Dia tidak habis pikir dengan Langit yang mencintai dirinya. Apa yang membuat Langit mencintai dirinya.

Padahal Falensia sama sekali tidak menganggap Langit ada, tidak memperlakukan Langit dengan baik, malah Falensia melakukan kekerasan dengan Langit.

"Jangan anggap beban, lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Tolong katakan kepadaku, bila rumahmu sudah datang." Langit memahami arti dari helang napas Falensia.

Falensia tidak menanggapi pernyataan yang keluar dari mulut Langit, Falensia memilih melihat-lihat suasana Taman. Mereka diam dan sunyi hingga beberapa waktu. Sampai Malvin menghampiri Daddy dan Mommynya.

"Daddy," Panggil Malvin.

"Iya, sayang? minum dahulu." Langit mendudukkan Malvin di salah satu pangkuannya dan memberikan putranya minum.

"Sudah?" tanya Langit menyeka keringat anaknya.

"Sudah Dad, terima kasih Dad. Ayo ke pantai Mom, Dad. Aku sudah puas bermain di Taman," ucap Malvin.

"Iya, tunggu sebentar. Daddy, lap keringat dan tanganmu dahulu." Langit menyeka keringat dan kedua tangan putranya.

Malvin duduk anteng menikmati perlakuan Daddynya. Falensia melihat itu semua, dia tersentuh dengan ketulusan hati Langit pada anaknya, Langit orang yang penyayang.

Orang yang nantinya akan menjadi istri Langit akan merasa disayangi dan beruntung, sayangnya itu tidak berlaku pada dirinya. Karena dia tidak bisa balik mencintai Langit, dia mencintai Daddy kandung Malvin. Dia sedang menunggu rumahnya datang menjemputnya dan anaknya.

"Mommy, ayo pergi ke pantai," Malvin memecahkan lamunan Falensia.

"Iya," Falensia pergi terlebih dahulu menuju mobil, disusul dengan Langit dan Malvin di belakangnya.

Daddy dan anak itu cekikikan karena membahas suatu hal yang menurut meraka itu lucu. Mereka masuk mobil dan melanjutkan perjalanan ke pantai, di dalam mobil Malvin mendominasi dengan menceritakan keseruannya selama bermain di Taman.

"Wah, ayo Dad," Malvin tidak sabar menarik tangan daddynya berlari menuju tepi pantai senyum di wajah Malvin merekah.

"Selalu saja. Katanya ingin menghabiskan waktu bersama, tetapi aku selalu menjadi penonton dari kemesraan mereka berdua." ucap Falensia yang merutuk karena di tinggal oleh Langit dan Malvin.

Dia berjalan dan duduk di salah satu kursi pantai, sambil melihat Langit dan Malvin yang sedang asyik bermain air.

"Kapan dirimu kembali? Aku merindukanmu. Lihat, anakmu sudah besar. Dia tumbuh dengan baik, seharusnya dirimu yang saat ini bermain air bersamanya. Cepat kembali," lirih Falensia menitihkan air mata. Namun tidak berselang lama dari itu ponselnya berdering.

Falensia melihat siapa yang melakukan panggilan dengan dirinya, setelah dilihat ternyata adik kesayangannya yang melakukan panggilan telepon dengan dirinya, dia langsung menjawab panggilan telepon itu.

"Hallo manusia Paris," Ledek Falensia pada adiknya.

"Hallo Unn, aku merindukanmu dan ponakan ku, Unn?" tanya perempuan bermata kucing yang bernama Jennie.

"Maka kembalilah cepat  ke Korea," Falensia.

"Akan Unn, tunggu akan beberapa hari lagi, ya. Ini akan menjadi kejutan untuk kalian." Jennie.

"Unnie, akan menunggu kejutan itu." Falensia.

"Di mana ponakan ku, Unn?" tanya Jennie mengulang.

"Sedang bermain air pantai bersama Daddynya," Falensia melihat ke arah Langit dan Malvin.

"Ah, keluarga cemara sedang liburan," Ledek Jennie.

"Menjernihkan pikiran sementara waktu, tidak masalah bukan," Falensia tersenyum saat melihat Malvin yang cemberut karena celananya terkena air pantai.

"Baiklah, lanjutkan liburan keluarga cemara, aku tutup dahulu, Unn." Jennie.

"Iya," Falensia tersenyum setelah mendapat telepon dari adik kesayangannya.

Falensia melanjutkan memanjakan mata dan tubuhnya dengan bersantai di kursi pantai, sambil menunggu Langit dan Malvin selesai bermain di pantai. Sesekali di tersenyum mendengar suara Malvin yang tertawa lepas sambil memanggil nama Daddynya.

10 menit dengan posisi itu, tidak dasar Irene sudah terlelap dan tidurnya. Sementara Langit dan Malvin masih asyik dengan dunia mereka berdua, hingga 1 jam mereka merasa puas bermain air pantai, akhirnya mereka menepi dan menghampiri Falensia yang sedang tidur pulas.

"Mommy, tidur Dad?" tanya Malvin.

"Iya sayang, kita tunggu Mommy bangun dengan sendirinya. Dirimu haus Boy? Ingin mencoba minum air kelapa?" Langit menawari anaknya.

"Air kelapa?" tanya Malvin yang sama sekali belum pernah mencobanya.

"Iya, air kelapa. Ingin mencobanya, itu sangat segar, apalagi diminum ketika berada di pantai." jawab Langit.

"Aku ingin mencobanya Dad," Malvin pada Daddynya.

"Iya, Boy. Tunggu di sini, Daddy membelinya di sana, tolong jaga Mommy ya," Langit mengelus rambut Malvin.

"Iya, Dad." Malvin menjawab. Langit pergi ke kedai yang ada di dekat pantai, dia membeli 2 kelapa muda, membayarnya dan membawanya ke tempat istri dan anaknya, ternyata istinya sudah bangun dari tidurnya.

"Boy ini untukmu dan ini untukmu," Langit meletakkan 2 kelapa muda di depan Malvin dan Falensia.

Falensia tidak menjawab, tetapi dia meminumnya. Sementara Malvin terlihat ragu-ragu, karena dia belum pernah mencobanya.

"Kemari, biar Daddy ajarkan bagaimana cara meminumnya," Langit yang tahu anaknya ragu, langsung bertindak untuk menghilangkan keraguan anaknya.

Dia membuka menutup kelapa muda dan memasukkan pipet di dalamnya, lalu mendudukkan putranya di pangkuannya dan membiarkan putranya meminum air kelapa muda.

"Wah, ini enak dan segar Dad," Malvin berseru.

"Iya, Boy, habiskan," Ujar Langit mengelus rambut putranya.

Falensia sibuk dengan air kelapanya sendiri dan menatap ombak.

Setelah selesai dengan mengabiskan waktu bersama, keluarga kecil itu kembali ke masion. Dengan Malvin yang sudah terlelap di dekapan Daddynya.

Jennie Arkan/ Aunty Jenjen (24) : Anak bungsu dari Tuan Nicolas dan Nyonya Ficilia Smits, adik kesayangan Falensia. Pemilik Brand Fashion terkenal Ninic, sekaligus seorang model, tegas, aura dingin, cerdas, Apa pun yang dia sukai harus berada di genggamannya.

Episodes
1 Prolog
2 Biarkan Waktu Menjawab
3 Biarkan Waktu Menjawab (2)
4 Dusta
5 Daddy Malvin Kembali
6 Langit
7 Cinta Pertama
8 Di Usir
9 Penyesalan
10 Murka
11 Manipulatif
12 Pencarian
13 Menikah dengan Ku
14 Negosiasi
15 Restu
16 Falensia dengan Penyesalan
17 Hari Bahagia
18 Apa itu Bahagia
19 Palsu
20 Kerja
21 Lagi
22 Keroyok
23 Curhat
24 OTW Paris
25 Hallo Paris
26 Princess Laurent
27 Paris Bencana
28 Rumit
29 Perceraian
30 Percaya
31 Paris
32 Paris (2)
33 Paris 3
34 Paris (4)
35 Back To Korea
36 Back To Korea (2)
37 Daddy dan Aunty Jenjen
38 Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39 Daddy dan Aunty Jenjen 3
40 Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41 Ada Apa?
42 Kecewa Lagi?
43 Baby Son
44 Baby Son (2)
45 Melepaskan?
46 Melepaskan? (2)
47 Takdir Tuhan
48 Kado untuk Daddy Baby
49 Daddy Baby Masak
50 Daddy Baby Pamit
51 Maaf Daddy Ingkar Janji
52 Samudra
53 Princess Daddy Langit
54 Langit
55 Keajaiban Tuhan
56 Daddy Langit
57 Perjalanan Baby dan Mommy
58 Berhati Malaikat
59 Daddy Mendidik Abang Malvin
60 Membujuk Mommy
61 Daddy CEO
62 Menyambut Diana & Laurent
63 Kedatangan Laurent dan Diana
64 Perubahan
65 The End Of Everyting
66 Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67 Maaf
68 Fakta
69 Langit
70 Pesan Langit untuk Jennie
71 Hadiah Langit untuk Putrinya
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Prolog
2
Biarkan Waktu Menjawab
3
Biarkan Waktu Menjawab (2)
4
Dusta
5
Daddy Malvin Kembali
6
Langit
7
Cinta Pertama
8
Di Usir
9
Penyesalan
10
Murka
11
Manipulatif
12
Pencarian
13
Menikah dengan Ku
14
Negosiasi
15
Restu
16
Falensia dengan Penyesalan
17
Hari Bahagia
18
Apa itu Bahagia
19
Palsu
20
Kerja
21
Lagi
22
Keroyok
23
Curhat
24
OTW Paris
25
Hallo Paris
26
Princess Laurent
27
Paris Bencana
28
Rumit
29
Perceraian
30
Percaya
31
Paris
32
Paris (2)
33
Paris 3
34
Paris (4)
35
Back To Korea
36
Back To Korea (2)
37
Daddy dan Aunty Jenjen
38
Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39
Daddy dan Aunty Jenjen 3
40
Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41
Ada Apa?
42
Kecewa Lagi?
43
Baby Son
44
Baby Son (2)
45
Melepaskan?
46
Melepaskan? (2)
47
Takdir Tuhan
48
Kado untuk Daddy Baby
49
Daddy Baby Masak
50
Daddy Baby Pamit
51
Maaf Daddy Ingkar Janji
52
Samudra
53
Princess Daddy Langit
54
Langit
55
Keajaiban Tuhan
56
Daddy Langit
57
Perjalanan Baby dan Mommy
58
Berhati Malaikat
59
Daddy Mendidik Abang Malvin
60
Membujuk Mommy
61
Daddy CEO
62
Menyambut Diana & Laurent
63
Kedatangan Laurent dan Diana
64
Perubahan
65
The End Of Everyting
66
Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67
Maaf
68
Fakta
69
Langit
70
Pesan Langit untuk Jennie
71
Hadiah Langit untuk Putrinya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!