Tok ... Tok ... Tok ... Pintu kamar Jennie di ketuk dari luar.
"Unn, Unnie sudah bangun. Ayo sarapan, Jesya Unnie sudah menunggu di meja makan, ajak juga Langit, Unn," tutur Rachel dari luar pintu.
"Iya," saut Jennie dari dalam kamar.
"Apa dirimu bisa berdiri?" tanya Jennie melihat ke arah Langit yang saat ini sudah menegakkan tubuhnya.
"Sepertinya bisa, Jennie," jawab Langit mencoba untuk berdiri, syukurlah hal itu berhasil.
"Syukurlah," lega Jennie.
"Jennie, apa saya bisa meminjam pakaianmu? Sangat tidak mungkin, saya keluar dengan keadaan seperti ini" ucap Langit.
"Astaga, aku baru menyadarinya. Tunggu sebentar," Jennie pergi ke ruangannya dia sana dia memilih baju kaus yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya dan untungnya Jennie memilikinya, dia memberikannya pada Langit.
"Pakai lah," ucap Jennie, sembari memberikan kaus.
"Terima kasih," Langit mencoba untuk memakai baju kaus yang di berikan Jennie. Tapi gagal karena tubuhnya nyeri semua setelah dia kemarin di pukul habis-habisan dengan Daddy Arkan. Jennie yang melihat Langit mengalami kesulitan dalam memakai kaos, ia membantu Langit.
"Terima kasih, Jennie," tutur Langit.
"Iya, ayo ke meja makan," ajak Jennie bangun dari atas kasurnya dan pergi menuju ruang makan.
Sementara Langit masih berada di kamar, Langit membereskan kasur Jennie terlebih dahulu, setelah itu dia baru ke luar kamar menuju meja makan yang di sana sudah ada Jennie, Rachel dan Jesya.
"Langit kemari, duduklah. Kita sarapan bersama," panggil Jesya.
"Iya, Nona," Langit tersenyum canggung.
"Nona? Hei kita teman waktu sekolah dulu," protes Jesya.
"Ah, maaf Nona. Saya sempat mengalami kecelakaan dan itu berdampak pada hilangnya sebagian ingatan saya Nona. Maaf jika saya, lupa dengan Nona," tutur Langit membungkuk sedikit.
"Astaga, maaf Unnie tidak tahu. Aku Jesya, dulu di sekolah dirimu memanggil ku dengan sebutan Unnie karena jarak usia kita beda 2 tahun." jelas Jesya.
"Hallo Jesya Unnie, saya Langit. Senang bisa bertemu dengan Jesya Unnie lagi," sapa Langit dengan senyumnya.
"Hallo Langit," Jesya balik menyapa Langit.
"Hallo Langit, aku Rachel, teman sekelasmu dulu," Rachel memperkenalkan dirinya.
"Hallo Rachel, saya Langit," Langit balik menyapa.
"Baiklah, acara perkenalannya cukup. Sekarang waktunya kita sarapan," ajak Jesya.
"Iya, Unnie," Mereka bertiga kompak.
Mereka makan dengan tenang, tidak ada pembicaraan, hanya ada suara detingan sendok makan. Setelah selesai makan Langit berinisiatif untuk membantu mencuci peralatan makan mereka.
"Biar saya saja, Unn," tutur Langit, mulai mengumpulkan peralatan makan dan membawanya ke wastafel.
"Unnie dan Rachel bersiaplah, kita akan bertemu Unnie, Daddy, Mommy dan jagoan kecil. Aku akan membantu Langit," ucap Jennie membantu membawa beberapa gelas kotor yang mereka gunakan tadi dan pergi menyusul Langit yang sedang mencuci piring.
"Ayo unn, biarkan Jennie unnie bernostalgia dengan cinta pertamanya. Sepertinya cinta lama belum kelar," ledek Rose melihat tingkah unnie keduanya itu yang menempeli Langit.
"Sepertinya seperti itu. Sangat mudah di baca bukan. Ayo Rachel," ajak Jesya.
Mereka pergi meninggalkan meja makan, mereka memasuki kamar masing-masing.
Tinggal lah Jennie dan Langit berdua di dapur. Langit yang belum menyadari kehadiran Jennie, dia sibuk dengan aktivitasnya.
"Langit," panggil Jennie meletakkan gelas kotor yang dia bawa.
"Letakkan saja di situ, biar saya yang mencucinya. Jennie bisa melakukan hal lainnya," ucap Langit.
"Aku akan membantu. Walaupun hanya menyusun saja," jelas Jennie.
"Baiklah, terima kasih Jennie," ucap Langit.
"Langit, tidak bisakah gaya bicaramu jangan terlalu formal. Cukup gunakan aku saja, tidak perlu saya," pinta Jennie sambil menyusun piring yang sudah Langit cuci.
"Saya sudah terbiasa, tapi nanti akan saya coba," ujar Langit.
"Baiklah, buat dirimu senyaman mungkin, Langit," tukas Jennie tidak ingin memaksa kehendaknya.
"Iya, Jennie," Langit.
Selesai dari aktivitas mencuci piring, Jennie pergi ke kamarnya untuk mandi sementara Langit sedang duduk di ruang TV, hingga Jesya keluar dari kamarnya dan bergabung bersama Langit.
"Sendiri? Jennie mana?" tanya Jesya duduk di depan Langit.
"Jennie, sedang membersihkan dirinya, Unn," jawab Langit.
"Hm... Langit apa Unnie bisa menanyakan sesuatu padamu?" tanya Jesya lagi.
"Silakan, Unn," Langit.
"Langit, apa yang terjadi dengan dirimu, kenapa kemarin dirimu bisa tidak sadarkan diri, tergeletak di pinggir hujan dan wajahmu penuh luka?" lontar Jesya.
"Aku sedang mencari rumahku, Unn. Rumahku bukan lagi di sana, Unn. Aku mengorbankan diriku untuk melindungi
seseorang yang saya aku cintai, Unn." ungkap Langit.
"Maksudnya?" tanya Jesya.
"Aku sudah menikah, Unn. Pernikahanku bukan di dasarkan karena saling cinta, tapi karena hubungan yang saling menguntungkan. Dia membantu membayar pengobatan Mommy ku dan aku harus menikahinya untuk menutupi aibnya," jeda Langit.
"Waktu itu dia positif hamil, kekasihnya pergi meninggalkan tidak memberikan dia penjelasan. Karena Daddy dari anaknya tidak tahu keberadaannya, jadilah dia meminta ku untuk mengaku sebagai Daddy dari anaknya. Kami menikah, seiring berjalannya waktu aku mulai jatuh cinta dengannya, Unn. Tapi dia tidak akan pernah balik untuk mencintaiku," lanjutnya berhenti sejenak untuk menarik nafas dan menetralkan rasa sakit di dadanya.
"Aku mencintainya dengan tulus Unn, walaupun dia tidak menganggap diriku ada. Tepat kemarin, waktu jam makan siang, aku melihat dia sedang berciuman dengan kekasihnya, rumahnya yang selama ini dia nanti Unn. Aku memutuskan untuk berpisah dengannya secara baik-baik, sepulang dari tempat kerjanya," sambungnya
Aku yang baru masuk rumah mertuaku, langsung mendapatkan beberapa luka, yang seperti unnie lihat saat ini. Dia mengatakan aku berselingkuh dengan wanita lain. Aku yang benar-benar sudah merasa tidak ada lagi alasanku untuk bertahan di sana, akhirnya aku mengakui itu unn, bahkan aku mengatakan kalau selingkuhan ku sedang mengandung anakku," papar Langit.
"Kenapa dirimu melakukan hal itu? Kenapa tidak mengatakan kebenarannya?" tanya Jesya yang merasa iba dengan cerita Langit.
"Aku mencintainya Unn. Rumahnya baru kembali Unn. Aku membiarkan mereka untuk berbahagia, Unn. Biarkan orang tuanya mengetahui jika diriku yang buruk, jangan sampai mereka tahu kebenarannya. Jika orang tuanya tahu kebenarannya, akan sangat sulit bagi kami untuk berpisah unn dan dia tidak akan bisa bersama kekasihnya." tutur Langit dengan senyum penuh luka di wajahnya.
"Hatimu murni Langit, semoga Tuhan memberikan dirimu pasangan yang bisa menerima dirimu apa adanya. Pasanganmu nanti akan bahagia karena di cintai dengan sepenuh hati oleh dirimu." Jesya tersenyum.
"Terima kasih Unn, semoga Tuhan mengabulkan itu dan doa itu berbalik juga ke diri Unnie." ucap Langit.
"Aamiin." Jesya.
Sementara di sisi ruangan ada Jennie yang sedari tadi mendengar percakapan antara Langit dan Jesya. Jennie terkejut mendengar pernyataan Langit, yang mengatakan kalau dirinya sudah menikah dan merasa perihatin dengan pengorbanan yang dilakukan Langit dalam rumah tangganya. Hati Jennie sakit, lagi-lagi dia kalah dengan waktu. Kenapa begitu sulit untuk bisa bersama cinta pertamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments