Di halaman belakang mansion mewah milik Tuan Arkan, Jesya dan Rachel mencoba untuk menenangkan Malvin. Sampai saat ini anak itu belum berhenti dari tangisnya, dia terus memanggil Daddy, Daddy dan Daddy. Wajahnya sudah memerah, hidung memerah dan terbatuk. Jesya mencoba untuk mengambil perhatian Malvin dengan menanyai Daddynya.
"Daddy, kemana sayang?" tanya Jesya.
"Daddy, pergi Aunty. Daddy, bilang di sini bukan rumah Daddy," jawab Malvin dengan tangisnya yang mulai berhenti.
"Kapan Daddy pulang?" tanya Rachel.
"Daddy bilang, Daddy pasti akan pulang untuk bertemu dengan aku, tapi tidak tahu kapan Aunty," lirih Malvin.
"Apa yang Daddy katakan sebelum pergi?" tanya Jesya lagi .
"Dia mengatakan aku harus menjaga Mommy, selama Daddy pergi jangan membenci siapa pun dan menjadi pelindung untuk Mommy," ungkap Malvin.
"Mereka jahat dengan Daddy, Aunty," adu Malvin pada Jesya dan Rachel.
"Siapa mereka sayang? dan apa yang mereka lakukan pada Daddy?" tanya Jesya.
"Mommy, selalu menampar dan melempari Daddy dengan barang-barang, bahkan kening Daddy pernah sampai berdarah banyak. Mommy selalu meninju perut Daddy, bila Daddy telat bangun. Padahal Daddy telat bangun karena sedang sakit. Kakek kemarin meninju wajah dan perut Daddy," tutur Malvin sendu mengingat perlakuan buruk yang di terima Daddynya.
"Daddy, membalas perlakuan kasar Mommy dan Kakek?" tanya Rachel.
"Tidak! Daddy hanya diam dan menerima semuanya. Daddy selalu tersenyum setiap kali mendapat perlakuan kasar dari Mommy. Ketika Daddy di pukul Kakek, Daddy hanya pasrah, tidak melawan dan melindungi diri," lirih Malvin.
"Malvin menyayangi Daddy?" tanya Rose.
"Sangat Aunty. Daddy yang merawat aku ketika sakit, Daddy yang menghabiskan waktu denganku untuk bermain, Daddy yang mengajariku setiap hal, Daddy yang membacakan aku cerita sebelum tidur," ungkap Malvin dengan senyum manis yang terbit di wajahnya.
"Mommy?" tanya Rachel lagi.
"Mommy, hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Tidak ada waktu untukku dan Daddy," keluh Malvin.
"Siapa nama Daddymu sayang?" tanya Jesya, penasaran dengan sosok Daddy Malvin yang dari tadi di bicarakan. Pasalnya hal ini mengingatkan dia pada kehidupan keluarga Langit.
"Daddy Langit Akdiasa," jawab Malvin mantap.
Seketika Jesya dan Rachel diam terpaku dan untuk beberapa waktu barulah mereka saling pandang. Jesya pergi terburu-buru dengan Malvin yang masih berada di gendongannya menuju ke dalam mansion, menaiki tangga untuk segera sampai di kamar Mommy Malvin, yang barulah di belakangnya di susul Rachel yang baru memahami situasinya. Jesya dan Rachel melewati Tuan dan Nyonya Arkan begitu saja. Hal ini menarik perhatian Tuan dan Nyonya Arkan, merek akhirnya ikut menyusul juga.
***
"Siapa dia, Unn?" tanya Jennie.
"Langit, Langit Akdiasa," jawab Falensia mantap.
DUG ...
Tubuh Jennie kaku seketika, air matanya mengalir, hatinya langsung meradang, perih, seperih, perihnya, mendengar nama cinta pertamanya yang keluar dari mulut unnienya. Jadi orang yang selama ini di bahas adalah cinta pertamanya, yang menjadi mantan suami Unnienya adalah cinta pertamanya, Langitnya. Jennie tidak tahu ke burukan apa yang dilakukan di masa lalu hingga dia harus menerima takdir yang rumit ini.
Jennie diam beberapa saat, lalu berdiri tepat di depan Falensia. Falensia melihat wajah adiknya yang berubah menjadi emosi dan air mata yang mengalir.
Plak ... Falensia medapat tamparan keras dari adiknya.
Tamparan itu membuat sudut bibir Falensia mengeluarkan darah dan bekas telapak tangan adiknya melekat di pipi putih mulusnya. Falensia terpaku dengan tindakan adiknya, karena ini pertama kali adiknya menampar dirinya.
"Kenapa Jennie?" tanya Falensia syok dengan tindakan adiknya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa!" Bentak Jennie.
Plak ...
"Ini untuk perlakuan burukmu pada mantan suamimu!" serang Jennie menampar pipi kanan Falensia,
Plak ...
"Ini untuk mulut dan hati busukmu yang memfitnah mantan suamimu!" serang Jennie menampar pipi kiri Falensia.
Plak ...
"Ini untuk dirimu yang berani membohongi Daddy dan Mommy!" serang Jennie menampar pipi kanan Falensia.
Plak ...
"Dan ini untuk rasa sakit yang dirimu berikan untuk cinta pertamaku!" amuk Jennie menampar terakhir kali pipi Falensia dengan sangat kuat.
Falensia terpaku dengan tamparan yang di berikan adiknya, wajahnya kaku, tapi yang membuat dia lebih terpaku adalah kalimat terakhir yang dikatakan adiknya.
Cinta pertamaku,,,
Cinta pertamaku,,,
Cinta pertamaku,,,
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Falensia, dia belum bisa mencerna perkataan adiknya. Hingga dia meminta penjelasan dengan adiknya, dia mengabaikan kedua sudut bibirnya yang mengeluarkan darah dan pipinya yang sudah benar-benar memerah. Napas Jennie memburu, dia menatap jijik Unnienya.
Klik ... Pintu kamar Falensia di buka dari luar.
Masuklah Jesya yang sedang menggendong Malvin dengan nafas yang tersengal-sengal di susul dengan Rachel, lalu Tuan dan Nyonya Arkan.
Falensia dan Jennie mengabaikan keberadaan mereka.
"Cinta pertama?" tanya Falensia meminta penjelasan dari adiknya melalui tatapan mata.
"Iya! Dia cinta pertamaku yang selama ini aku nanti dan Kau! Kau! beraninya melakukan itu padanya. Kau! menyakiti fisik dan hatinyanya dengan mudah, sedangkan aku harus mencintai dia dalam diam!" hardik Jennie menujuk wajah Falensia.
"Cukup Jennie!" bentak Daddy.
"Tidak baik berkata kasar seperti itu dengan Unniemu dan kenapa dengan wajahmu?" tanya Daddy menghampiri kedua putrinya berdiri di tengah-tengah putrinya.
"Tidak mungkin, dirimu berbohong. Katakan pada Unnie jika dirimu berbohong!" desak Falensia berdiri dia menatap adiknya meskipun sedikit terhalang dengan keberadaan Daddynya.
"Dia, Langit Akdiasa cinta pertamaku!" tekan Jennie dengan suara dalam, menyatakan Langit adalah miliknya.
"Ada apa ini sayang, kenapa dengan Langit?" tanya Mommy, menarik mundur tubuh Jennie.
Mommy menatap wajah anaknya yang sedang emosi, Jennie menatap balik wajah Mommynya.
"Dia manipulatif! dia penjahat! dia iblis! Mom. Dia menyakiti cinta pertamaku! dia menyakiti Langitku! dia menyakiti Langitku, Mom," ungkap Jennie dengan suara lirihnya, Mommy memeluk Jennie.
"Tidak! dirimu berbohong. Tidak mungkin dirimu mengenal Langit. Dia Langitku!" tantang Falensia yang emosi dengan ungkapan Jennie.
"Cukup, ada apa ini? Tolong beritahu Daddy, kenapa kalian mempeributkan bajingan itu!" murka Daddy.
"Langitku bukan bajingan, Dia yang bajingan!" pekik Jennie di depan wajah Unnienya.
Plak ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments