Langit jatuh di pinggir jalan, hujan terus menghujami tubuhnya. Dia sudah pasrah dengan takdirnya, dia terbatuk darah. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dia mendengar suara seorang perempuan yang menghampiri dirinya, setelah itu semua gelap. Perempuan itu adalah Jennie Arkan, dia turun dari mobil dan dua temannya menyusul dari belakang.
"Hei bangun," ucap Jennie yang belum melihat wajah orang yang akan dia tolong.
"Unn, ayo pergi. Tinggalkan saja. Aku takut ini sebuah siasat pencuri zaman sekarang, pura-pura pingsan, ketika kita menolong, kita yang akan di rampok. Ayo Unn," ajak Rachel anggota termuda dari persahabatan mereka.
"Hust, di jaga omongamu," tegur Jesya anggota tertua dari mereka.
"Pegang ini, Unn. Aku akan mengecek kondisinya sebentar," ucap Jennie memberikan payung untuk di pegangi Unnienya. Sementara Jennie menunduk dan membalikkan tubuh orang yang ingin dia tolong.
"La, ngit!" gumam Jennie tergagap setelah mengetahui orang yang tergeletak tidak sadarkan diri dan penuh luka di wajahnya adalah cinta pertamanya.
Jennie syok melihat keadaan Langit. Setelah sekian lama bertemu dan sekalinya bertemu. Dia melihat cinta pertamanya tergeletak tak berdaya di pinggir jalan
"Langit," ucap Jesya.
"Ayo, bawa Langit ke rumah sakit, Unn. Kasihan dia terluka parah sepertinya," usul Rachel.
"Iya, tolong pegangi payung ini Rachel. Biar Unnie membantu Jennie membawa tubuh Langit," ucap Jesya memberikan payung pada Rachel, dan membantu Jennie membopong tubuh Langit untuk di masukkan di kursi penumpang.
"Kita ke apartemen unn, berhenti di apotek sebentar nanti, Unn." pinta Jennie meletakkan kepala Langit di bahunya.
Jennie dan Langit duduk di kursi penumpang belakang. Sementara Jesya menyetir dan Rachel duduk di depan samping kemudi.
"Apa tidak sebaiknya di bawa kerumah sakit saja, Unn," usul Rachel.
"Tidak biar Unnie yang mengobatinya," tukas Jennie berseru sambil melihat wajah damai Langit yang sedang pingsan.
Mobil berjalan membelah hujan, menuju apartemen mereka. Sebelum ke apartemen, Jesya turun dari mobil masuk ke apotek untuk membeli keperluan yang di butuhkan Jennie untuk mengobati Langit. Setelah lengkap dia melajukan mobilnya lagi menuju apartemen.
Jesya dan Jennie membopong tubuh Langit. Sedangkan Rachel membawa barang-barang Unnienya dan dirinya. Mereka cukup kesulitan dalam membopong tubuh Langit, karena tubuh Langit yang tinggi dan tubuh orang pingsan 2 kali lebih berat dari berat normalnya. Setelah kesulitan yang mereka jalani, akhirnya tubuh Langit berhasil di baringkan di kasur Jennie.
"Keluarlah Unn, Rachel. Biar aku yang menangani ini," pinta Jennie sembari mengelap wajah Langit dengan handuk.
"Kamu yakin Jennie?" tanya Jesya.
"Iya, Unn. Beristirahatlah kalian, kita baru sampai dari Paris," Jennie sibuk dengan kegiatannya.
"Selamat malam, Unn," pamit Rachel pergi meninggalkan kamar.
"Unnie, tinggal Jennie. Jika butuh sesuatu masuk saja ke kamar Unnie, ya," kata Jesya meninggalkan kamar Jennie.
Setelah kepergian sahabatnya, Jennie yang sudah menyelesaikan mengelap wajah Langit, mulai bimbang apakah dia harus mengelap dan mengganti pakaian Langit, pasalnya dia gugup setengah mati bila melakukan hal itu.
Jika tidak di ganti kemungkinan Langit akan demam dan tidak mungkin jugakan Jennie meminta bantuan sahabatnya, dia tidak rela sahabatnya melihat tubuh cinta pertamanya, mau tidak mau, dia sendiri yang harus mengganti baju Langit.
Jennie perlahan-lahan membuka kancing kemeja Langit, setelah di buka dia dapat melihat beberapa luka lebam di tubuh Langit, ternyata tidak hanya luka di wajah saja, tapi juga ada di tubuhnya. Jennie melepaskan baju Langit dan mengelapnya dan baru mengoleskan obat untuk luka di tubuh Langit.
'Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu, kenapa seluruh tubuhmu terdapat luka lebam' monolog Jennie di benaknya setelah mengoleskan obat dia membalut luka itu dengan perban.
Jennie tidak memakaikan Laskar baju, karena takut akan tergores dengan perban luka. Jadi Jennie akan menggunakan selimut sebagai penutup dan penghangat tubuh Langit.
"Muka sudah, badan sudah, sekarang tinggal bagian bawah. Bagaimana ini? Apa tidak masalah kalau aku menggantinya, tapi itu bagian sensitif dan yang di miliki Langit dengan diriku jelas berbeda," gumam Jennie.
"Ganti, tidak, ganti, tidak, ganti, tidak, ganti, tidak. Syukurlah pilihannya jatuh di tidak mengganti bagian bawahnya. Kalau begitu tugasku sudah selesai," tukas Jennie keluar dari kamar. Setelah membereskan peralatan pengobatan Langit tadi, dia mengambil minum untuk di bawa ke kamarnya.
Karena dia sering terbangun tengah malam, hanya untuk minum. Saat ini dia berada di dapur, jadilah dia sekalian mengambil minum untuk dirinya. Jennie kembali ke kamar dengan membawa 1 gelas air, setelah dia memasuki kamar dan menutup pintu dia mendengar Langit bersuara lirih.
Jennie langsung buru-buru menuju kasurnya, meletakkan gelas yang dia bawa tadi di samping meja tempat tidurnya. Setelah itu dia duduk di samping Langit yang berujar lirih.
"Di, di, ngin," lirih Langit merancu dalam tidurnya.
Jennie yang mendengar itu langsung mengatur suhu kamarnya. Setelahnya dia membenarkan selimut Langit, tapi ketika dia ingin melepas tangannya dari selimut, tiba-tiba tangannya di genggam Langit.
Jantung Jennie berdegub kencang, tidak pernah berubah respon jantungnya ketika berkaitan dengan Langit. Karena tidak memiliki pilihan, Jennie akhirnya ikut tertidur di samping Langit, membiarkan Langit menggenggam tangannya.
Langit lebih mendekatkan tubuhnya pada Jennie, dia mengira kalau Jennie adalah guling. Jadi Langit memeluk Jennie yang kondisinya belum berada di alam bawah sadarnya, alias masih sadar belum tidur.
Jantung Jennie benar-benar berdegub kencang, rasanya dia bisa mati muda jika jantungnya terus berpacu seperti ini. Perlahan-lahan Jennie yang sudah mulai bisa untuk menyesuaikan diri, dia akhirnya memeluk balik tubuh Langit. Mereka berakhir dengan tidur saling memeluk satu sama lain.
***
Hari sudah pagi, jam sudah menunjukkan pukul 8 waktu Korea. Dua manusia itu masih terlelap dalam tidurnya, hingga kurang dari 5 menit salah satu dari mereka terbangun.
"Ugh, di mana ini," ucap Langit melihat sekeliling ruangan yang asing.
Langit belum menyadari jika ada makhluk lain yang sedang memeluk dirinya. Langit baru menyadari, setelah Jennie bergerak semakin mendekatkan tubuhnya dengan Langit.
"Nona," panggil Langit.
Jennie yang mendengar suara dari samping tubuhnya, lekas membuka mata, matanya bertemu dengan mata indah Langit, Jennie melamun. Hingga Langit menyadarkan lamunan Jennie.
"Nona, maaf. Bisakah Nona lepaskan tangan Nona, dari tubuh saya," pinta Langit dengan sopan.
"Ah, maaf, maaf," Jennie, menjauhkan tubuhnya dari Langit.
"Tidak apa Nona. Terima kasih sudah menolong saya, Nona," Langit sedikit membungkukkan badannya, dan itu sedikit menimbulkan rasa perih di perutnya, tapi dia masih bisa menahannya.
"Iya. Kamu tidak mengenaliku?" tanya Jennie.
"Maaf Nona, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Langit balik.
"Iya, kita bahkan satu Sekolah." ucap Jennie.
"Ah, itu. Maaf sebelumnya Nona, saya pernah mengalami kecelakaan mobil dan itu membuat sebagian ingatan saya hilang. Maaf karena saya tidak bisa mengingat Nona," jelas Langit dengan sopan.
"Kecelakaan?" tanya Jennie terkejut mendengar penuturan Langit. Dia baru tahu kalau Langit terlibat dalam kecelakaan dan mengalami amnesia.
"Iya, Nona. Untuk itu saya minta maaf jika kita pernah dekat. Namun, saya tidak mengingat tentang kedekatan kita Nona," ucap Langit meminta maaf, dia merasa bersalah.
"Tidak masalah. Itu namanya musibah. Kalau begitu mari berkenalan dari awal, perkenalkan nama saya Jennie," jelas Jennie dengan senyumnya.
"Saya Langit Akdiasa, Nona," ungkap Langit.
"Cukup panggil Jennie, jangan canggung seperti itu," kata Jennie.
"Ah, baiklah Jennie," Langit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments