Negosiasi

Saat ini Langit dan Jennie sedang berada di ruang rawat Malvin. Rachel di hubungi Mommy, bila Malvin masuk rumah sakit. Mommy, berharap putri bungsunya ingin menjenguk cucunya dan hal ini bisa dia manfaatkan untuk bertemu dan berbicara dengan putri kecilnya.

Rachel yang memberi tahu Jennie, ketika Jennie dan Langit kembali dari taman. Langit yang mendengar putranya sakit, raut wajahnya yang tadinya bahagia seketika menjadi sendu. Walaupun dia bukan Daddy kandung Malvin, tapi dia sudah merawat Malvin dari kecil dan menganggap Malvin seperti putranya sendiri.

Jennie awalnya tidak sama sekali tertarik untuk menjenguk Malvin, karena pasti ini hanya akal-akalan Mommynya saja, agar bisa bertemu dengan dirinya. Tapi dia berubah pikiran ketika Langit meminta dirinya untuk menemani Malvin. Jennie jelas tidak bisa menolak, bila calon suami yang berkata, maka tidak ada kata no keluar dari mulut Jennie. Dan berakhirlah mereka sekarang di ruang rawat Malvin.

Di dalam ruang rawat Malvin ada Daddy dan Mommy Arkan, mereka memberikan ruang untuk Langit bertemu dengan Malvin. Malvin sedang tertidur damai, setelah ditangani oleh dokter dan diberi obat. Langat sedang duduk di kursi samping kasur Malvin, dia mengusap punggung tangan putranya.

Tatapan Langit tidak lepas dari wajah Malvin, dadanya sesak karena melihat putranya yang baru berapa hari berpisah dengan dirinya dan sekarang bertemu dengan putranya dengan keadaan Malvin yang sedang sakit.

Jennie berdiri di samping tubuh Langit. Jennie mengusap punggung Langit. Bermaksud untuk menenangkan calon suaminya. Jennie luluh dengan tatapan yang di berikan Langit pada ponakannya. Malvin yang bukan darah daging Langit saja di perlakukan setulus ini, apa lagi nanti bila dengan anak mereka. Jennie tersenyum karena pikiran yang dia ciptakan sendiri.

Selang beberapa waktu, Malvin mulai bangun dari tidurnya. Dia membuka matanya perlahan dan hal pertama yang dia lihat adalah senyum manis dari Daddynya. Malvin meneteskan air mata mengangkat kedua tangannya, minta di gendong Daddynya, dan Langit melakukan itu.

"Jangan menangis Boy, Daddy sudah di sini bersama Boy," ucap Langit yang ternyata sudah menetaskan air matanya.

Jennie menghapus air mata Langit sambil tersenyum. Jennie benar-benar jatuh cinta dengan ketulusan Langit. Tidak sia-sia dia menurunkan harga dirinya dengan mengajak Langit menikah terlebih dahulu.

"Daddy," panggil Malvin sambil menagis, dia merindukan Daddynya.

"Iya, Boy, ini Daddy. Daddy bersama Boy," ucap Langit mencium kepala anaknya.

"Daddy, miss you," ungkap Malvin di sela tangisnya.

"Miss you too Boy, Miss you too,"balas Langit benar-benar menangis dan memeluk erat tubuh Malvin.

Jennie membiarkan hal itu, dia juga tidak terasa sudah meneteskan air mata karena melihat adegan so sweet antara Langit dan Malvin. Begitu juga dengan Daddy dan Mommy Arkan yang terharu melihat interaksi Daddy dan anak laki-laki itu.

Setelah beberapa saat, Langit dan Malvin jauh lebih tenang. Mereka berinteraksi seperti biasanya.  Sedari tadi Malvin memperhatikan wajah Daddynya, dia mengelus-elus wajah Daddynya.

"Kenapa Boy, Daddy tampan?" canda Langit.

"Iya, Daddy sangat tampan," jawab Malvin mengecup bibir Daddynya berulang kali.

'Yakh, itu bibir favoritku. Tidak Mommy tidak anak, sama-sama akan menjadi sainganku' monolog Jennie dalam mode posesif.

"Hahah ... " Langit tertawa mendengar pujian dari anaknya.

"Jennie," panggil Mommy memanggil putri bungsunya.

Jennie tidak merespon sama sekali panggilan dari Mommynya.

"Hon," tegur Langit dengan halus.

Hah, hati Jennie luluh ketika panggilan itu keluar dari mulut calon suaminya.

"Iya, Mom," saut Jennie baru merespon mommynya setelah mendapat teguran dari Langit.

"Bisa bicara sebentar di sana bersama Daddy juga sayang?" tanya Mommy.

"Ti-" Langit memotong ucapan Jennie.

"Honey," panggilan Langit lengkap.

"Iya. Aku kesana sebentar, honey" pamit Jennie mencium pipi Langit.

Malvin langsung mengusap pipi Daddynya yang di cium Auntynya.

"Jangan cium Daddy, Aunty," kata Malvin posesif.

"Kenapa?" tanya Jennie yang tidak suka dengan tindakan ponakannya.

"Hon," tegur Langit lagi.

"Iya, Iya, Iya," Jennie berjalan menuju sofa ruangan Malvin yang di sana ada Daddy dan Mommynya.

"Sayang, Daddy minta maaf karena kelepasan dan menampar dirimu," ungkap Daddy.

"Hah, (Jennie menghela nafas kasar), aku akan memaafkan kesalahan kemarin. Dengan 1 syara," pinta Jennie bernegosiasi dengan orang tuanya.

"Rumah baru? Blackcard? Mobil baru? Perusahaan? Katakan sayang," tantang Daddy dengan percaya diri.

"Aku tidak membutuhkan itu, aku bisa membiayai hidupku sendiri," tolak Jennie dengan mentah.

"Lalu apa syaratnya, katakan Daddy akan berikan sayang," ucap Daddy.

"Restui pernikahan aku dan Langit. Buat acara semegah mungkin," pinta Jennie dengan santainya mengatakannya.

"Menikah? Dengan Langit?" tanya Daddy syok. Ada apa dengan kedua putrinya. Kenapa bisa sangat tergila-gila dengan Langit.

"Iya, jika ingin aku melupakan kejadian kemarin dan kembali berhubungan dengan kalian," tawar Jennie.

"Tentukan tanggalnya," tegas Mommy, langsung menyetujui permintaan putri bungsunya.

"What's, Mom tidak semudah itu. Langit mantan suami Falensia dan sekarang akan menjadi suami dari anak bungsu kita dan menjadi adik ipar Falensia," cecar Daddy yang tidak habis pikir dengan ucapan istrinya.

"Kesalahan bukan pada Langit, Dad, tapi pada putri kita sendiri. Langit di dalam rumah tangganya bersama Falensia adalah korban, Dad. Daddy tidak mendengar cucu kita kemarin mengatakan, Falensia yang curang dengan Langit. Falensia yang memukul Langit dan melempari Langit dengan barang-barang, sampai keningnya meninggalkan bekas luka. Langit tulus Dad, Mommy percaya Langit pasti akan menjaga putri kecil kita dengan sangat baik, Dad," tutur Mommy.

"Hah, kenapa semua putri Daddy bisa tergila-gila dengan Langit," keluh Daddy.

"Karena nilai Langit lebih dari apa pun yang berharga di dunia ini," Jennie menjawab dengan mantap.

"Carilah yang lain sayang," saran Daddy.

"Tidak akan pernah. Aku hanya ingin Langit menjadi suamiku, bukan yang lain. Sepertinya Tuan Arkan tidak menyetujui negosiasi kali ini. Baiklah, kalau begitu seperti keputusan awal, aku bukan bagian dari Arkan. Dan aku akan tetap menikah dengan Langit, tanpa restu dari kalian," tegas Jennie hendak berdiri tapi di cegat dengan perkataan Daddynya.

"Tentukan tanggal pernikahan kalian. Daddy menyetujuinya," pasrah Daddy ucapan Jennie.

"Senang bernegosiasi dengan anda Tuan Arkan!" sarkas Jennie.

"C'mon sayang, Daddy sudah menyetujuinya. Jangan berbicara dan memanggil Daddy dengan formal, seperti tidak ada hubungan darah di antara kita," pinta Daddy.

"Tidak, sebelum tuan meminta maaf pada calon suamiku, aku tidak akan merubah cara bicaraku dan panggilan ku pada Tuan dan Nyonya Arkan," sarkas Jennie.

Episodes
1 Prolog
2 Biarkan Waktu Menjawab
3 Biarkan Waktu Menjawab (2)
4 Dusta
5 Daddy Malvin Kembali
6 Langit
7 Cinta Pertama
8 Di Usir
9 Penyesalan
10 Murka
11 Manipulatif
12 Pencarian
13 Menikah dengan Ku
14 Negosiasi
15 Restu
16 Falensia dengan Penyesalan
17 Hari Bahagia
18 Apa itu Bahagia
19 Palsu
20 Kerja
21 Lagi
22 Keroyok
23 Curhat
24 OTW Paris
25 Hallo Paris
26 Princess Laurent
27 Paris Bencana
28 Rumit
29 Perceraian
30 Percaya
31 Paris
32 Paris (2)
33 Paris 3
34 Paris (4)
35 Back To Korea
36 Back To Korea (2)
37 Daddy dan Aunty Jenjen
38 Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39 Daddy dan Aunty Jenjen 3
40 Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41 Ada Apa?
42 Kecewa Lagi?
43 Baby Son
44 Baby Son (2)
45 Melepaskan?
46 Melepaskan? (2)
47 Takdir Tuhan
48 Kado untuk Daddy Baby
49 Daddy Baby Masak
50 Daddy Baby Pamit
51 Maaf Daddy Ingkar Janji
52 Samudra
53 Princess Daddy Langit
54 Langit
55 Keajaiban Tuhan
56 Daddy Langit
57 Perjalanan Baby dan Mommy
58 Berhati Malaikat
59 Daddy Mendidik Abang Malvin
60 Membujuk Mommy
61 Daddy CEO
62 Menyambut Diana & Laurent
63 Kedatangan Laurent dan Diana
64 Perubahan
65 The End Of Everyting
66 Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67 Maaf
68 Fakta
69 Langit
70 Pesan Langit untuk Jennie
71 Hadiah Langit untuk Putrinya
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Prolog
2
Biarkan Waktu Menjawab
3
Biarkan Waktu Menjawab (2)
4
Dusta
5
Daddy Malvin Kembali
6
Langit
7
Cinta Pertama
8
Di Usir
9
Penyesalan
10
Murka
11
Manipulatif
12
Pencarian
13
Menikah dengan Ku
14
Negosiasi
15
Restu
16
Falensia dengan Penyesalan
17
Hari Bahagia
18
Apa itu Bahagia
19
Palsu
20
Kerja
21
Lagi
22
Keroyok
23
Curhat
24
OTW Paris
25
Hallo Paris
26
Princess Laurent
27
Paris Bencana
28
Rumit
29
Perceraian
30
Percaya
31
Paris
32
Paris (2)
33
Paris 3
34
Paris (4)
35
Back To Korea
36
Back To Korea (2)
37
Daddy dan Aunty Jenjen
38
Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39
Daddy dan Aunty Jenjen 3
40
Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41
Ada Apa?
42
Kecewa Lagi?
43
Baby Son
44
Baby Son (2)
45
Melepaskan?
46
Melepaskan? (2)
47
Takdir Tuhan
48
Kado untuk Daddy Baby
49
Daddy Baby Masak
50
Daddy Baby Pamit
51
Maaf Daddy Ingkar Janji
52
Samudra
53
Princess Daddy Langit
54
Langit
55
Keajaiban Tuhan
56
Daddy Langit
57
Perjalanan Baby dan Mommy
58
Berhati Malaikat
59
Daddy Mendidik Abang Malvin
60
Membujuk Mommy
61
Daddy CEO
62
Menyambut Diana & Laurent
63
Kedatangan Laurent dan Diana
64
Perubahan
65
The End Of Everyting
66
Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67
Maaf
68
Fakta
69
Langit
70
Pesan Langit untuk Jennie
71
Hadiah Langit untuk Putrinya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!