Plak ... Daddy, menampar pipi Jennie.
Jennie seketika terdiam. Semua orang yang ada di ruangan diam terpaku, ini pertama kalinya Daddy bermain tangan dengan putrinya. Jesya langsungg memberikan Malvin pada Rachel untuk di bawa keluar, menjauh dari kamar Falensia.
"Daddy, menamparku?" tanya Jennie lirih tidak percaya dengan perlakuan Daddynya.
Daddy, baru menyadari perbuatannya, dia menyesalah, tangannya gemetar.
"Daddy, membela dia, kita lihat apa yang akan Daddy, lakukan pada dia, jika Daddy tahu kebenarannya," Jennie menantang Daddynya.
"Tidak, bukan seperti it-" ucapan Daddy terpotong dengan Jennie yang memberikan isyarat kalau dirinya tidak membutuhkan penjelasan dari Daddynya.
"Dengarkan aku baik-baik Tuan Nicolas Arkan! Anakmu ini adalah manipulatif handal, dia mengatakan Langitku yang berselingkuh dan selingkuhannya sedang mengandung anaknya. Kenyataan yang sebenarnya adalah dia yang berselingkuh, dia yang menyakiti fisik dan hati Langitku. Dia melakukan itu dengan uang dan kekuasaan yang dia miliki. Dia memanfaatkan kondisi Langitku yang sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan Mommynya. Dia membantu Langitku dengan syarat, menikahi dirinya dan mengakui kalau Langitku adalah Daddy dari anaknya, yang itu adalah anak dari kekasihnya yang meninggalkan dirinya tanpa kejelasan!" seru Jennie dengan suara dalam menatap wajah Daddynya dengan tatapan tajam dan emosi meluap.
Daddy dan mommy Arkan terdiam, entah mana yang harus dia percaya, perkataan putri sulungnya atau putri bungsunya. Falensia sudah menundukkan kepalanya, hatinya sakit mengingat keburukan yang dia lakukan pada mantan suaminya.
"Tidak mungkin, katakan pada Daddy jika yang dikatakan adikmu adalah bohong. Tolong katakan sayang," Daddy mendesak Falensia.
"Jennie, benar Dad," jelas Falensia.
Plak ... Lagi, lagi pipi Falensia mendapatkan tamparan dan ini dari Daddynya.
"Dengarkan aku Falensia Arkan! aku Jennie Arkan akan mengambil milikku. Jika dirimu adalah luka untuknya, maka aku adalah obat baginya. Ku pastikan dirimu akan menyesal seumur hidup, karena harus melihat kebahagian diriku dengan Langitku. Dan aku Jennie Arkan memutuskan hubungan dengan dirimu," suara tegas Jennie menusuk setiap telinga yang mendengarnyadi tambah dengan tatapan tajam yang mengintimidasi lawan bicaranya.
Falensia terduduk di lantai, pederitaannya bertambah, setelah kepergian mantan suaminya, sekarang saudarinya sendiri memutuskan hubungan dengan dirinya dan yang lebih menyakitkan adalah jalannya untuk kembali bersama Langit akan semakin sulit karena harus bersaing dengan adiknya sendiri. Falensia meratapi ke bodohannya dia menangis tanpa suara, hatinya sakit benar-benar sakit.
"Dan untukmu Tuan Nicolas Arkan yang terhormat, aku Jennie Arkan bukan lagi anakmu!" tekan Jennie dengan setiap ucapannya, pergi meninggalkan kamar Falensia dengan menggenggam tangan Jesya. Mereka bersama-sama keluar dari kamar Falensia.
Daddy, terpaku mendengar ucapan putri bungsunya, dia baru saja bertemu dengan putrinya dan sekarang dia harus menelan kenyataan pahit, dimana putrinya sendiri memutuskan hubungan dengan dirinya. Mommy, mengejar putri bungsunya, meninggalkan suami dan putri sulungnya.
"Sayang," panggil mommy, Jennie dan Jesya berhenti berjalan.
"Iya, Mom," saut Jennie berusaha mereda amarahnya.
"Tolong jangan tinggalkan Mommy sayang, dirimu baru pulang dan sekarang dirimu memutuskan hubungan dengan keluarga ini," pinta Mommy sembari menitihkan air mata.
"Maaf Mom, ini sudah menjadi keputusanku. Mommy jaga diri Mommy, kita akan bertemu di luar Mom. Jennie pamit, Mom," pamit Jennie berjalan meninggalkan Mommynya di susul dengan Jesya dan Rachel. Keluar dari kamar Falensia, Rachel membawa Malvin kekamarnya dan menidurkan Malvin, lalu dia menunggu di ruang TV.
Mereka masuk mobil, Jennie duduk di belakang dengan Rachel. Hal itu dilakukan Rachel karena dia tahu unnienya sedang dalam suasana hati tidak baik. Dan benar saja, tatapan Jennie kosong, raganya di mobil tapi tidak dengan ruhnya, air matanya mengalir. Rachel membawa unnienya kedalam pelukannya, menenangkan Unnienya dengan mengelus punggung Jennie, membiarkan Jennie menangis dalam pelukannya.
Jadi pernikahan Falensia dan Langit tidak di rayakan dengan pesta, hanya melakukan pernikahan di tempat ibadah. Yang hadir hanya Daddy dan Mommy, hal ini atas permintaan Falensia yang malu karena dirinya sudah hamil duluan, itu akan membuat nama baik Daddynya buruk.
Padahal Daddy dan Mommy tidak sama sekali memperdulikan hal itu, mereka justru ingin pernikahan anak sulungnya di lakukan dengan mewah. Namun, karena permintaan putrinya yang meminta hanya ingin menikah di tempat ibadah saja, pada akhirnya mereka menyetujuinya.
Padahal alasan kuat Falensia tidak ingin mempublish pernikahannya adalah karena dia tidak ingin Samudra, kekasih hatinya mengetahui bahwa dirinya sudah menikah dan berpikir untuk tidak menemui dirinya lagi. Pernikahan Falensia tidak di hadiri Jennie karena waktu itu adiknya sedang sibuk dengan ujian sidangnya, jadi Jennie tidak hadir dipernikahan Unnienya.
Dan kenapa Jennie tidak mengetahui mantan suami Unnienya adalah cinta pertamanya, itu karena setiap melakukan Video Call ataupun panggilan telpon, Falensia tidak pernah menampakkan wajah Langit, hanya mengirimi Jennie foto Malvin saja. Selain itu Falensia juga tidak menganggap Langit penting di dalam hidupnya, jadi untuk apa dirinya memberi tahu adiknya tentang mantan suaminya.
***
Sementara di sebuah kedai yang baru selesai bersih-bersih dari menutup kedai, terdapat Langit dan Nenek Han. Mereka sedang makan untuk mengisi tenaga mereka setelah selesai bekerja.
"Kedai hari ini ramai sekali dan ini kali pertamanya kedai bisa tutup cepat berkat dirimu," puji Nek Han.
"Tidak seperti ini Nek, kedai cepat tutup karena masakan yang nenek jual sangat enak," Langit merendahkan diri.
"Bisa saja dirimu, siapa namamu Nak?" tanya Nek Han.
"Langit, Nek." jawab Langit.
"Panggil aku Nek Han. Di mana dirimu tinggal?" tanya Nek Han lagi.
"Aku tidak memiliki tempat tinggal Nek," ucap Langit.
"Kebetulan di lantai atas kedai ini ada ruagan untuk tidur, dirimu bisa tinggal di sana, sekalian menjaga kedai. Jika dirimu tidak keberatan," tawar Nek Han.
"Tidak sama sekali Nek, justru aku sangat banyak berterima kasih dengan kebaikan hati Nenek padaku. Aku janji akan menjaga kedai ini dengan baik," kata Langit dengan antusias.
"Syukurlah," Nek Han.
Mereka menghabiskan makanan mereka, lalu Nenek Han pamit pulang. Meninggalkan Langit di kedai, karena Langit menempati ruangan di lantai 2. Langit memeriksa ruangan yang ada di lantai 2. Langit membersihkan dan merapikan ruangan itu, bisa di bilang itu adalah kamar kecil. Setelah semuanya beres, Langit membersihkan diri di lantai bawah lalu baru naik ke lantai 2 dan beristirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments