"Hai, apa kabar?" tanya Samudra dengan senyumnya.
Falensia yang mendengar itu air matanya seketika terjun bebas, dia berdiri dan memeluk Samudra. Falensia menangis sambil memukul dada dan punggung Samudra.
Samudra membiarkan itu, dia balik membalas pelukan Falensia, memberikan kehangatan melalui pelukan, menyalurkan rasa rindu. Sampai beberapa waktu Samudra ingin melepaskan pelukan, tetapi Falensia menahannya.
"Jangan, Cukup berikan penjelasan dengan seperti ini. Aku merindukanmu," ujar Falensia yang memeluk erat tubuh Samudra.
"Baik, Tuan Putri," Samudra memeluk balik Falensia.
Falensia yang mendengar kembali panggilan itu dari Samudra, hatinya menjadi hangat, dia merindukan orang yang dia peluk, sangat merindukan.
"Maaf, karena sudah pergi meninggalkan dirimu begitu saja. Aku pergi karena ikut Daddy ke Cina, saat itu Daddy sedang memiliki masalah dalam bisnisnya. Daddy di tipu rekan kerjanya, Daddy mengalami kebangkrutan dalam bisnisnya. Tidak sampai di situ, dampak dari kebangkrutan itu, Daddy jatuh sakit. Karena tidak ada harta yang kami miliki, aku harus bekerja untuk memenuhi biaya hidup dan pengobatan Daddy.
Waktuku habis untuk bekerja di berbagai tempat agar bisa membiayai pengobatan Daddy. Sampai 1 tahun lamanya Daddy di rawat, Daddy menghempaskan napas terakhirnya. Setelah kepergian Daddy aku ingin kembali ke Korea untuk bertemu denganmu. Tapi aku tidak memiliki biaya, untuk itu aku bekerja keras untuk mengumpulkan banyak uang, agar bisa menemui dirimu.
Syukurlah Tuhan dengan kemurahan hatinya memberikan diriku rezeki lebih, sehingga aku bisa memiliki usaha restoran sederhana yang dari sana aku bisa memenuhi kebutuhanku dan membawaku kembali kepadamu." terang Samudra sambil mencium kepala Falensia.
Falensia terteguh mendengar semua penjelasan dari cinta dalam hidupnya, Falensia tidak menyangka kalau Samudra mengalami masa-masa yang sangat sulit.
Falensia melepaskan pelukan mereka, menatap wajah Samudra, mengelus rahang Samudra dan menempelkan bibirnya dengan bibir Samudra. Falensia menautkan tangannya di leher Samudra mendorong kepala Samudra ke arahnya untuk memperdalam ciuman mereka. Hingga ciuman mereka terhenti setelah mendengar suara benda jatuh.
Bugh ... Paperbag makanan yang di Langit untuk Falensia terjatuh begitu saja.
Falensia dan Samudra menoleh ke arah sumber suara. Di sana sudah ada Langit dengan tatapan yang kosong. Langit cepat-cepat sadar dari keterkejutannya, dia mengambil paperbag yang jatuh.
"Ah, Maaf, maaf karena mengganggu waktunya," lirih Langit.
"Tidak apa, anda ada perlu dengan Miss Falensia?" tanya Samudra yang tidak tahu kalau yang berada di hadapannya adalah suami dan kekasihnya.
"Iya, hanya perlu berbicara sebentar. Apa tidak masalah Miss Falensia?" tanya Langit.
"Tentu, tunggu aku di luar sebentar, ya." jawab Falensia mencium bibir Samudra sekilas.
"Iya," Samudra tersenyum dan dia juga senyum dengan Langit. Langit membalas senyum itu juga. Setelah ke pergian Samudra, tinggallah Langit dan Falensia.
"Langit, dia sudah kembali. Dia rumahku, dia Daddy kandung Malvin. Waktu sudah menjawab semuanya Langit," Kata Falensia menatap Langit.
Langit menunduk, terdiam beberapa saat, setelahnya dia menatap balik mata Falensia.
"Ah, ternyata waktuku sudah habis. Sesuai perkataan saya kemarin Miss. Saya akan mengakhiri pernikahan ini dan Miss bisa kembali ke rumah Miss yang sebenarnya. Saya ikut bahagia Miss dan terima kasih untuk kebaikan hati Miss yang sudah membantu biaya pengobatan Mommy saya Miss.
Uang yang Miss berikan akan saya kembali, saya akan meletakkannya di laci meja dan ini Miss cincin saya kembalikan. Sekali lagi terima kasih banyak Miss, biarkan saya berpamitan dengan Tuan dan Nyonya serta Malvin dengan secara baik Miss, saya akan menandatangani surat perceraian yang sudah Miss siapkan di laci meja. Saya pamit Miss." terang Langit, melepas cincin pernikahannya, membuka telapak tangan Falensia dan meletakkannya di sana.
Falensia tidak bereaksi apa pun, kesadarannya hilang seketika, ketika mendengar penuturan Langit. Ada sisi bagian hatinya yang merasa sakit, bahkan lebih sakit dari kepergiaan Samudra beberapa tahun lalu.
Langit tidak menunggu jawab Falensia, dia pergi keluar ruangan dan bertemu dengan Samudra. Langit menyapa sebentar:
"Tolong jaga istri dan anak anda Tuan. Saya permisi," gumam Langit pergi begitu saja.
Samudra yang merasa bingung dengan ucapan Langit, memilih masuk kedalam ruangan Falensia dan di dalam sana. Samudra melihat Falensia sedang menangis sambil memukul bagian dadanya.
Samudra berjalan cepat menuju Falensia dan memeluk kekasihnya. Samudra tidak menanyakan hal apa pun dulu pada Falensia dia memilih untuk menunggu Falensia redah sendiri dengan tangisnya dan baru dia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara Langit yang sudah berada di dalam bus. Langit hanya melamun dengan tatapan kosong, dia merasa hatinya sakit dan hancur, tetapi dia tidak bisa lagi mengekspresikan rasa sakitnya. Hingga dia hanya diam selama di perjalanan.
Setelah bus tiba di halte, Langit turun dan berjalan kaki menuju mansion, beberapa waktu dia berjalan akhirnya di tiba di mansion, dia masuk ke dalam masion dan ketika dia memasuki ruang TV.
Langit mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Daddy Falensia. Langit yang suasana hatinya benar-benar hancur saat ini, memilih diam saja, membiarkan mertuanya memukulnya sepuasnya. Bahkan kalaupun dia harus mati di tangan mertuanya, Langit pasrah.
"Cukup Dad, dia bisa mati!" teriak Mommy, menarik tangan suaminya. Melihat Langit sudah terbatuk-batuk, meringis memegangi perutnya.
"Biarkan bajingan ini mati! dia tidak pantas untuk putriku. Dia selingkuh, dia menyelingkuhi putriku!" serang Daddy, hendak memukul Langit lagi, tetapii di tahan oleh Mommy.
"Cukup Dad, kita dengarkan penjelasan Langit terlebih dahulu," Mommy, membawa suaminya duduk di sofa, sementara Langit masih berada di lantai.
"Langit, apa yang di katakan Daddy itu benar?" tanya Mommy.
"Iya Nyonya, saya berselingkuh dari putri Nyonya. Saya bajingan, saya menyakiti putri Nyonya. Bahkan selingkuhan saya sedang mengandung anak saya Nyonya." Bohong Langit, dia melakukan ini untuk menjaga nama baik Falensia dan melindungi Falensia.
Mommy, syok dengan penuturan Langit, dia tidak percaya menantu yang dia anggap baik selama ini ternyata adalah seorang bajingan.
"Dasar bedebah!" teriak Daddy, menghempaskan tangan Mommy dan menghajar Langit lagi sampai satu suara menghentikan Daddy.
"Jangan sakiti Daddyku!" jerit Malvin berlari menuju Langit, menjadi tameng untuk Daddynya, dia menatap tajam wajah Kakeknya
"Kakek kasar! seperti Mommy. Mengapa Kakek menyakiti Daddy?" Malvin menangis.
"Tidak sayang, Kakek sedang menghukum Daddy. Daddy yang salah sayang, bukan Kakek. Bukankah sebuah kesalahan harus mendapatkan hukumannya agar dia tidak mengulanginya lagi," jelas Langit membalikkan tubuh Malvin menghapus air mata anaknya.
Daddy dan Mommy, yang melihat itu merasa dilema, mereka terharu sekaligus marah karena ulah Langit.
"Tetapi tidak sampai melukai Daddy seperti ini!" tekan Malvin memegang wajah Langit sambil menangis.
"Tidak apa Boy. Daddy kuat, daddy super hiro. Tuan, Nyonya saya minta wakru sebentar untuk berbicara dengan Malvin dan menandatangani surat cerai kami. Saya permisi tuan, Nyonya," jelas Liangit membawa Malvin ke kamar, meninggalkan Daddy dan Mommy.
"Boy, dengarkan Daddy," ujar Langit menangkup wajah anaknya.
Langit mendudukkan Malvin di atas tepi kasur dan dia berlutut di depan anaknya, sambil menghapus air mata Malvin.
"Tolong jaga Mommy, ya. Malvin adalah putra Daddy yang pemberani dan berhati lembut. Daddy, pergi sebentar, selama Daddy pergi jangan membenci siapapun dan jadilah pelindung untuk Mommy" pesan Langit pada putranya.
"Daddy, ingin pergi ke mana? apa lama?" tanya Malvin.
"Daddy, mencari rumah. Daddy, pasti kembali untuk menemuimu, tetapi tidak tahu kapan Boy." jawab Langit menatap wajah Malvin.
"Rumah Daddy di sini, Daddy tidak perlu mencari rumah lagi." kata Malvin.
"Bukan sayang, di sini bukan rumah Daddy. Selama Daddy pergi, Boy harus berjanji untuk menjaga Mommy," pesan Langit.
"Iya, Dad, aku janji Dad," Malvin memeluk leher Daddynya.
"Good Boy. Antar Daddy ke bawah sebelum pergi," pinta Langit menggendong Malvin, masuk ke kamar dirinya dan Falensia, dia menyelesaikan urusannya di dalam kamar itu.
Dia meletakkan amplop berisi uang yang di berikan Falensia untuk pengobatan Mommynya, Langit juga menandatangani surat cerai yang di sana sudah ada tanda tangan Falensia. Setelah selesai dengan semuanya dia keluar dari kamar bersama Malvin menuju ke lantai bawah. Langit memberikan Malvin pada Mommy.
"Daddy pergi Boy. Tuan, Nyonya saya minta maaf untuk kesalahan saya yang menyakiti hati putri kalian. Saya pamit." pamit Langit membungkuk dan keluar dari mansion.
Langit berjalan tidak tahu arah, tatapannya kosong. Hujan menjadi temannya, dia berjalan terus, terus dan terus. Hingga pandangannya kabur dan dia terjatuh, setelahnya semuanya menjadi gelap. Dia pasrah, jika memang sudah waktunya Tuhan mengambil nyawanya, dia sudah benar-benar pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments