Biarkan Waktu Menjawab

Matahari menampakkan dirinya dengan memancarkan sinarnya yang sempurna, tidak sedang bersanding dengan awan gelap, tetapi sedang bersahabat dengan awan putih. Sinar matahari yang bagus ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Langit. Pagi-pagi sekali Langit sudah bangun merapikan alat tidurnya, membersihkan diri lalu membangunkan anaknya.

Mengajak putranya untuk sekadar bejalan santai dan berjemur di pagi hari. Kegiatan itu selalu dia lakukan pada putranya, untuk membiasakan putranya bangun pagi dan berolahraga. Mereka saat ini sedang berjalan di halaman mansion Kakek.

"Boy, tadi malam, Daddy sudah berbicara pada, Mommy. Mommy, mengatakan kalau hari ini kita akan ke Taman."

Langit.

"Benarkah, Dad?  Mommy, tidak ingkar janji lagi kan Dad?" tanya Malvin senang mendengar penuturan Daddynya.

"Mudah-mudahan kali ini Mommy menepati janjinya. Dirimu senang, Boy?" Langit.

"Mudah-mudahan Dad, tentu senang Dad. Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan Mommy, Dad. Apa di sana aku bisa mendapatkan es krim Dad?" tanya Malvin.

"Tentu, Boy," Langit.

"Dad, ayo masuk. Aku lapar." Malvin.

"Baiklah kita sudahi kegiatan jemur pagi kita, ayo masuk." Langit dan Malvin masuk ke dalam mansion, mereka mencuci kedua tangan mereka, lalu berjalan ke ruang makan. Di sana sudah ada Kakek dan Nenek.

"Pagi cucu Kakek, olahraga dan berjemurnya sudah?" Kakek.

"Sudah Kakek, Malvin lapar." Malvin.

"Oh, cucu Nenek lapar. Ingin sarapan apa sayang, biar Nenek ambilkan." Nenek.

"Tolong, pasta dan susu, Nek." Malvin.

"Tentu sayang, tunggu Nenek ambilkan sebentar, duduk manis lah." Nenek.

"Langit, tolong bangunkan istrimu itu. Jam segini masih belum bangun juga." Kakek.

"Iya, Dad." Langit, beranjak dari kursi dan ingin melangkah. Namun, langkahnya terhenti karena suara putranya.

"Dad, aku ikut." Malvin.

"Tidak Boy, dirimu di sini bersama Nenek dan Kakek. Daddy, akan membangunkan Mommy dahulu iya. Nikmati, sarapan mu," Langit, meninggalkan meja makan menuju ke kamar dirinya dan istrinya. Wajah Malvin cemberut, hal itu menarik perhatian Kakek dan Nenek.

"Mengapa sayang? Daddy, hanya pergi sebentar membangunkan Mommy." Nenek, meletakkan pesanan Malvin di depan cucunya.

"Aku takut Daddy akan terluka, Nek." Malvin.

"Terluka? Terluka mengapa sayang?" Kakek mengelus rambut Malvin.

"Mommy, pasti akan marah dan melempari Daddy, sesuatu atau Mommy akan menampar Daddy." Malvin, sendu menatap makanannya, selira makannya tiba-tiba hilang karena mengkhawatirkan Daddynya.

"Mommy, sering melakukan itu pada Daddy?" tanya Nenek terkejut mendengar pengakuan cucunya.

"Iya, Nenek. Mommy, sering menyakiti, Daddy. Bahkan pernah melempar, Daddy dengan bingkai foto dan membuat kening, Daddy berdarah." Malvin.

"Apa yang membuat Mommy, melakukan itu pada, Daddy?" tanya Nenek.

"Karena Daddy selalu memberi tahu Mommy hal yang baik untuk kebaikan Mommy, tetapi Mommy tidak terima, malah memaki Daddy dan bertindak kasar pada Daddy," jawab Malvin.

"Lalu apa yang Daddy, lakukan pada, Mommy?" tanya Nenek lagi.

"Daddy, hanya minta maaf dan membersihkan lukanya sendiri," Malvin.

"Daddy, tidak balas memukul atau meneriaki, Mommy?" tanya Nenek.

"Tidak pernah, Nek. Daddy, selalu berbicara lembut pada Mommy dan tidak pernah membalas perbuatan Mommy." jawab Malvin.

"Cucu Nenek, menyaksikan itu semua?" tanya Nenek lagi.

"Iya, Nek. Aku sering tanpa sengaja melihat tindakan buruk yang dilakukan Mommy pada Daddy. Bahkan Mommy sering berkata kasar pada, Daddy." Malvin.

"Apa yang Mommy, katakan?" Nenek.

"Mommy, mengatakan Daddy idiot, tidak bekerja seperti Mommy, hanya hidup enak saja. Mommy sering meminta cerai pada Daddy." Malvin.

"Cerai?" tanya Nenek untuk memastikan ucapan Malvin.

"Iya, Nek. Apa itu cerai? mengapa Mommy, selalu meminta itu pada Daddy, dengan sambil memaki-maki, Daddy?" Malvin.

"Cucu Nenek, belum boleh tahu tentang arti cerai sayang. Dan apa yang Daddy katakan?" Nenek.

"Daddy, selalu menolak. Daddy, bilang pernikahan bukan untuk di permainkan dan setiap kali Daddy mengatakan itu. Mommy pasti memukul Daddy atau melempari Daddy dengan sesuatu." Malvin.

Nenek dan Kakek, yang mendengar pernyataan dari cucunya, seketika saling pandang, berbicara lewat tatapan mata.

"Jangan pikirkan tentang apa pun sayang. Daddy adalah jagian yang bisa mengatasi itu semua. Boy percaya pada Daddykan. Sekarang Boy makan, Daddy akan sedih bila melihat kesayangannya belum memakan sarapannya.” Kakek.

Kakek menyimak percakapan antara istrinya dan cucunya, setelah mendengar pernyataan dari cucunya, banyak pertanyaan yang muncul dari otaknya.

Kakek tidak habis pikir dengan perlakuan putrinya, yang selama ini dia tahu, putrinya adalah orang yang lembut, hal itu di buktikan dengan cara putrinya menyayangi adiknya. Kakek, akan memastikan terlebih dahulu ucapan cucunya, lalu baru menanyakan alasan dari tindakan putrinya.

Sementara di dalam kamar lantai 2, Langit masuk dan duduk di sisi ranjang. Langit, memperhatikan wajah istrinya beberapa waktu, kemudian baru membangunkan istrinya. Langit menyentuh lengan istrinya dan mengusapnya pelan.

"Wife, bangun, ayo sarapan. Daddy, Mommy dan Malvin sudah menunggu di meja makan." Langit dengan lembut. Tetapi istrinya tidak bergeming sama sekali

"Wife, bangun." Langit, mengulang itu sampai 3 kali.

PLAK ... Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Langit.

"Sudah aku katakan, jangan sekali-kali menyentuhku dengan tangan menjijikkan mu itu. Pergilah, aku akan menyusul!" Falencia, bangun langsung menuju ke kamar mandi.

"Ah, tamparan cinta." Langit, tersenyum sambil mengelus pipi yang di tampar istrinya. Dia merapikan tempat tidur yang digunakan istrinya, setelah selesai dia menunggu istrinya di sofa.

Langit ingin turun ke bawah bersama istrinya. Menunggu 5 menit, istrinya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Istrinya menghelang napas kasar melihat Langit masih berada di kamar.

"Mengapa dirimu masih di kamar?" Nada tidak bersahabat dari Falencia.

"Ayo, turun bersama, akan sangat mengundang banyak pertanyaan dari Daddy dan Mommy jika melihat kita berjarak." Langit.

"Ada benarnya juga dirimu." Falencia, pergi berjalan terlebih dahulu keluar dari kamar menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Daddy dan Mommy yang sedang menyantap sarapan, dan putranya yang sudah selesai dengan sarapannya.

"Pagi Mom, Dad." Falencia, menyapa Daddy dan Mommynya memberikan kecupan di pipi orang tuanya.

"Pagi." Daddy dan Mommy.

"Pagi Mommy." Malvin.

"Pagi." Jawab Falencia cuek.

"Sudah sarapannya Boy?" Langit, duduk di sebelah Malvin.

"Sudah Dad. Pipi Daddy mengapa merah?" Malvin, memperhatikan pipi Daddynya yang merah sebelah.

"Ah, Daddy tadi merasa gatal di pipi Daddy, jadi Daddy menggosoknya dengan sangat kuat. Jadilah seperti ini." Langit, menjawab canggung.

"Benarkah, bukan karena ditampar Mommy, Dad?" Malvin.

"Tidak sayang, Mommy tidak melakukan itu." Langit, membela istrinya.

"Heh, bocah. Dirimu sembarangan saja menuduhku!" Falencia, menyangkal perkataan anaknya.

"Aku hanya bertanya Mommy." Malvin.

"Sudah-sudah. Boy tunggu Daddy sarapan ne, setelah itu kita akan membersihkan diri lalu pergi ketaman bersama Mommy. Oke." Langit, melerai anak dan istrinya.

"Iya, Dad." Malvin bersemangat.

"Oh, hari ini kalian akan pergi liburan keluarga?" Kakek.

"Iya, Dad. Bocah itu selalu meminta waktuku, tidak tahu apa kalau Mommynya sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan Daddy kesayangannya ini!" Jawab Falencia sewot sambil mengambil beberapa helai roti. Sementara Langit yang mendengar itu, bertingkah seolah-olah tidak mendengar ucapan istrinya.

"Dia anakmu sayang, panggil dengan benar. Boleh bekerja, hanya tetap utamakan urusan keluarga di atas pekerjaanmu sayang. Dia masih kecil, jadi sangat membutukan kasih sayang dari Mommy dan Daddynya." Nenek.

"Hah, Iya, Mom. Kapan princess kita pulang Mom?" Falencia, mulai mengunyah roti isinya.

"Dalam waktu dekat, dia sedang sibuk dengan mengurus perpindahannya." Nenek.

"Baguslah, aku sangat merindukan adikku," Falencia, dengan senyum manisnya.

"Aunty Jenjen, Mom?" tanya Malvin.

"Iya," Falencia cuek.

"Aunty Jenjen, akan tinggal di sini, Mom? Kapan aunty Jenjen ke sini Mom?" tanya Malvin lagi dengan bersemangat.

Malvin sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dengan auntynya. Dia hanya tahu Mommynya memiliki adik dan melihatnya hanya dari ponsel Neneknya.

Falencia berdecih, "dirimu terlalu banyak tanya," ujarnya acuh.

"Dalam waktu dekat, aunty Jenjen akan ke sini dan akan bermain ke masion sayang. Aunty tidak tinggal di

sini." Nenek menjawab pertanyaan Malvin.

"Mengapa, Nek?" Malvin.

"Aunty, akan tinggal di apartemennya sayang, bersama teman-teman aunty." Nenek.

"Seperti itu ya, Nek" Malvin.

"Iya sayang, aunty Jenjen akan sering mengunjungi masion untuk bermain bersama Malvin," Nenek.

"Benarkah Nek?" tanya Malvin.

"Iya, sayang," Nenek.

Mereka melanjutkan makan mereka, Malvin duduk setia menunggu Daddynya selesai dengan memakan sarapannya. Setelah itu Daddy dan anak itu pergi menuju kamar Malvin, Langit memandikan Malvin mendandani anaknya.

Setelah selesai dia meminta anaknya untuk menunggu dirinya di kamar bersama mainan. Sementara Langit melanjutkan kegiatan membersihkan dirinya.

Episodes
1 Prolog
2 Biarkan Waktu Menjawab
3 Biarkan Waktu Menjawab (2)
4 Dusta
5 Daddy Malvin Kembali
6 Langit
7 Cinta Pertama
8 Di Usir
9 Penyesalan
10 Murka
11 Manipulatif
12 Pencarian
13 Menikah dengan Ku
14 Negosiasi
15 Restu
16 Falensia dengan Penyesalan
17 Hari Bahagia
18 Apa itu Bahagia
19 Palsu
20 Kerja
21 Lagi
22 Keroyok
23 Curhat
24 OTW Paris
25 Hallo Paris
26 Princess Laurent
27 Paris Bencana
28 Rumit
29 Perceraian
30 Percaya
31 Paris
32 Paris (2)
33 Paris 3
34 Paris (4)
35 Back To Korea
36 Back To Korea (2)
37 Daddy dan Aunty Jenjen
38 Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39 Daddy dan Aunty Jenjen 3
40 Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41 Ada Apa?
42 Kecewa Lagi?
43 Baby Son
44 Baby Son (2)
45 Melepaskan?
46 Melepaskan? (2)
47 Takdir Tuhan
48 Kado untuk Daddy Baby
49 Daddy Baby Masak
50 Daddy Baby Pamit
51 Maaf Daddy Ingkar Janji
52 Samudra
53 Princess Daddy Langit
54 Langit
55 Keajaiban Tuhan
56 Daddy Langit
57 Perjalanan Baby dan Mommy
58 Berhati Malaikat
59 Daddy Mendidik Abang Malvin
60 Membujuk Mommy
61 Daddy CEO
62 Menyambut Diana & Laurent
63 Kedatangan Laurent dan Diana
64 Perubahan
65 The End Of Everyting
66 Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67 Maaf
68 Fakta
69 Langit
70 Pesan Langit untuk Jennie
71 Hadiah Langit untuk Putrinya
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Prolog
2
Biarkan Waktu Menjawab
3
Biarkan Waktu Menjawab (2)
4
Dusta
5
Daddy Malvin Kembali
6
Langit
7
Cinta Pertama
8
Di Usir
9
Penyesalan
10
Murka
11
Manipulatif
12
Pencarian
13
Menikah dengan Ku
14
Negosiasi
15
Restu
16
Falensia dengan Penyesalan
17
Hari Bahagia
18
Apa itu Bahagia
19
Palsu
20
Kerja
21
Lagi
22
Keroyok
23
Curhat
24
OTW Paris
25
Hallo Paris
26
Princess Laurent
27
Paris Bencana
28
Rumit
29
Perceraian
30
Percaya
31
Paris
32
Paris (2)
33
Paris 3
34
Paris (4)
35
Back To Korea
36
Back To Korea (2)
37
Daddy dan Aunty Jenjen
38
Daddy dan Aunty Jenjen (2)
39
Daddy dan Aunty Jenjen 3
40
Daddy dan Aunty Jenjen (4)
41
Ada Apa?
42
Kecewa Lagi?
43
Baby Son
44
Baby Son (2)
45
Melepaskan?
46
Melepaskan? (2)
47
Takdir Tuhan
48
Kado untuk Daddy Baby
49
Daddy Baby Masak
50
Daddy Baby Pamit
51
Maaf Daddy Ingkar Janji
52
Samudra
53
Princess Daddy Langit
54
Langit
55
Keajaiban Tuhan
56
Daddy Langit
57
Perjalanan Baby dan Mommy
58
Berhati Malaikat
59
Daddy Mendidik Abang Malvin
60
Membujuk Mommy
61
Daddy CEO
62
Menyambut Diana & Laurent
63
Kedatangan Laurent dan Diana
64
Perubahan
65
The End Of Everyting
66
Flashback Pertengkaran Jesya & Jennie
67
Maaf
68
Fakta
69
Langit
70
Pesan Langit untuk Jennie
71
Hadiah Langit untuk Putrinya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!