Sementara di kedai, Langit sedang kerepotan dengan pesanan yang membeludak, banyak pelanggan yang datang. Tapi dia hanya mengerjakannya sendiri. Mulai dari memasak, mengantarkan makanan pada pelanggan, mencatat pesanan, menjadi kasir, mencuci piring, mengelap meja yang selesai di pakai pembeli dan lainnya.
Walaupun Langit merasa kewalahan dan lelah dia merasa senang, karena banyak yang menyukai masakannya. Sampai datang seorang perempuan berbaju kaus hitam menghampiri Langit.
"Permisi, apa di sini sedang membutuhkan tenaga kerja?" tanya Wanita.
"Iya, disini membutuhkan tenaga kerja," jawab Langit.
"Apa saja persyaratannya?" tanya Wanita lagi.
"Tidak perlu, semalam jujur dan rajin bekerja itu saja sudah cukup. Apa dirimu yang ingin melamar bekerja?" tanya Langit balik.
"Iya, apa saya bisa bekerja di sini. Saya janji akan rajin bekerja dan jujur," jawab Wanita.
"Baiklah, kamu bisa bekerja di sini. Siapa namamu? Saya Langit." Langit memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya.
"Maudy Alexix, panggil saja Maudy," jawab Maudy balik mengenalkan dirinya.
"Apa kamu bisa membantu saya, kebetulan saya sedikit kewalahan dengan menangani pelanggan," ujar Langit.
"Tentu, apa yang bisa saya kerjakan?" tanya Maudy.
"Kamu bekerja berkenaan dengan pelanggan, seperti mencatat pesanan, mengantar pesanan, menjadi kasir dan mengelap meja, saya di bagian dapur," jawab Langit.
"Iya," saut Maudy dan mulai melakukan pekerjaannya, Walaupun belum secepat Langit, itu karna dia belum terbiasa saja.
Berkat adanya Maudy, Langit sangat merasa terbantu. Jam 11 mereka sudah menutup kedai, mereka saat ini sedang duduk karena baru selesai makan.
"Jadi dirimu dari Jepang?" tanya Langit.
"Iya, aku dari Jepang," jawab Maudy.
"Lalu kenapa bisa sampai ke Korea?" tanya Langit lagi.
"Aku ke sini untuk mencari Daddyku," ucap Maudy.
"Apa dirimu memiliki alamatnya?" tanya Langit yang berniat untuk membantu Maudy.
"Setelah aku turun dari bandara dan berjalan beberapa meter, aku di rampok. Semua barang-barangku di ambil, di dalam dompetku ada alamat rumah Daddyku," ungkap Maudy sendu.
"Oh, maaf. Apa dirimu sudah melapor ke polisi atas perampokan itu?" tanya Langit lagi.
"Sudah. Sepertinya membutuhkan waktu, karena aku kelaparan dan tidak memiliki uang untuk membeli makan makanya aku keliling mencari pekerjaan, dan syukurlah aku di terima di sini," ungkap Maudy penuh syukur.
"Syukurlah bila dirimu sudah membuat laporan, semoga segera di temukan perampok barang-barangmu. Ah, kebetulan di lantai 2 ada ruangan yang bisa digunakan untuk tidur. Tapi hanya ruangan kecil, kamar mandinya berada di bawah. Kamu bisa menempatinya jika kamu mau," tawar Langit.
"Benarkah?" tanya Maudy.
"Iya," Langit.
"Terima kasih Boss, terima kasih untuk kebaikan hatimu," puji Maudy.
"Langit saja, ini kedai milik istriku. Aku hanya mengelolanya saja. Oiya soal gaji, di sini tidak begitu besar seperti di restoran-restoran. Apa tidak masalah?" tanya Langit.
Ah, ternyata sudah memiliki istri. Batin Maudy.
"Tidak apa, sudah di beri tempat tinggal dan gratis makan saja itu sudah sangat lebih dari cukup," ucap Maudy.
"Tidak bisa seperti itu, dirimu berhak mendapatkan gaji atas kerja keras yang dirimu lakukan. Aku akan pulang, dirimu beristirahatlah," pamit Langit.
"Iya, hati-hati," saut Maudy.
"Iya," Langit keluar dari kedai dengan membawa 2 paperbag berisi makanan untuk istrinya.
Langit berjalan beberapa langkah hingga tiba di halte bus, dia menaiki bus untuk tiba di Arkan Company.
***
"Hah, melelahkan sekali. Idiot itu sedang apa sekarang," ketus Jennie.
"Ah, kenapa jadi memikirkan si idiot itu," sanggah Jennie.
Klik ... Pintu ruangan Jennie di buka dan masuklah Langit.
"Siapa menyuruhmu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan datang ke perusahaan!" pekik Jennie.
"Ah, maaf Miss, untuk ke depannya saya akan mengetuk pintu Miss. Saya membawakan Miss makan siang," tukas Langit.
"Buang saja, aku bisa memesan dari luar!" bentak Jennie.
"Tapi saya memasakkan untuk Miss, Miss bisa mencobanya dulu," bujuk Langit.
"Aku tidak mau, kenapa kau memaksa sekali hah!" marah Jennie.
"Tapi-"
Prang ... Paperbag berisi makanan jatuh, makanan berserakan di ruangan Jennie.
"Kau tuli hah! aku bilang aku tidak mau!" murka Jennie lagi-lagi menepis paperbag berisi makanan yang di buatkan Langit untuknya.
"Hah,,," Langit menarik nafas dalam dan membuang perlahan.
Langit membersihkan ruangan Jennie yang lantainya berserakan dengan makanan.
"Iya, Miss, maaf," ucap Langit sambil membersihkan lantai, bisa di bayangkan betapa lelahnya Langit.
Klik ... Pintu ruangan Jennie terbuka masuklah Rachel dan Jesya.
"Unn," panggil Rachel yang belum melihat Langit.
"Hai Rachel, Unn," sapa Jennie langsung berdiri dari duduknya dan menekan lengan Langit untuk ikut berdiri juga.
"Oh, ada Langit ternyata," sapa Rachel.
"Ah, Iya," Langit gugup.
"Kenapa gugup seperti itu, biasa saja Langit. Kami tidak akan menanyakan perihal malam pertama kalian, kami hanya ingin mengucapkan selamat pada Jennie, karena jabatan barunya," ledek Jesya, memberikan Jennie paperbag.
"Ah, Iya Unn," saut Langit.
"Terima kasih Unn, Rachel," ucap Jennie.
"Iya," jawab Rachel dan Jesya.
"Ah, ada apa dengan makanannya Langit?" tanya Rachel.
"Ah, tidak sengaja terjatuh karena aku ceroboh dan menyenggolnya," kilah Langi untuk menutupi perlakuan istrinya.
"Hm, tinggalkan saja. Biar OB yang membersihkan. Ayo, kita makan siang, kebetulan kami membawa banyak makan," ajak Jesya dan pergi ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Iya, Unn," jawab Langit, Jennie, dan Rachel. Mereka makan bersama dengan Langit yang hanya memakan kentang goreng saja.
Mereka berbincang, setelah selesai makan. Lalu mereka berempat keluar dari kantor menuju mobil mereka. Rachel dan Jesya pamit untuk pulang ke apartemen, begitu juga dengan Langit dan Jennie.
"Hati-hati di jalan Unn, Rachel," ucap Langit dan Jennie.
"Iya, kalian juga hati-hati," saut Jesya.
"Iya," Langit dan Jennie.
Mereka masuki mobil masing-masing, meninggalkan perusahan. Di pertengahan jalan menuju ara pulang, mobil Jennie menepi.
"Turun!" perintah Jennie, dengan suara keras.
"Tapi Miss-" Langit.
"Turun!" bentak Jennie.
"Iya, Miss," Langit langsung keluar dari mobil Jennie.
Jennie langsung melajukan mobilnya, meninggalkan Langit begitu saja. Langit hanya tersenyum sambil berjalan, menuju halte bus terdekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments