Ariel yang kesal pergi meninggalkan Noah dan menghampiri Om Bobby yang sejak tadi terus menatap ke arahnya. Sesampainya di samping Om Bobby, Ariel mengipasi dirinya dengan kedua tangan. Bukan karena gerah, namun karena emosi sehabis menghadapi Noah yang menyebalkan dan pengecut seperti dulu.
"Aku lihat tadi kamu dan mantan kamu mengobrol. Apa yang kalian bicarakan? Mengenang masa lalu?" sindir Om Bobby yang rupanya tidak suka melihat kedekatan Ariel dengan Noah.
"Apa yang harus dikenang? Masa lalu kami begitu kelam. Kisah indahnya hanya sedikit, sisanya hanya air mata, kata-kata hinaan dan juga penyesalan seumur hidup." Ariel menatap balik ke arah Noah yang sampai sekarang masih menatapnya dengan lekat. Ariel tak peduli, selama berada di samping Om Bobby dirinya akan merasa aman dari siapapun, begitu yang Ariel pikir.
"Ya ... mungkin saja masih ada perasaan yang tersisa? Aku 'kan tidak tahu, kalian masih sama-sama muda, perasaan cinta di antara kalian mungkin saja masih ada dan meledak-ledak bukan?" tanya Om Bobby dengan nada agak kesal.
"Om salah, bukan perasaan cinta yang tersisa tapi perasaan benci yang mendalam. Noah sengaja ingin menghinaku, bertanya aku datang dengan siapa, sambil menatapku dengan tatapan yang merendahkan. Aku tahu, ini memang profesiku. Seorang penjaja cinta yang pekerjaannya menjual tubuhnya. Aku tahu pekerjaanku memang hina. Entah mengapa saat dia yang mengatakannya, rasa marah dalam diriku begitu menggelegak. Aku merasa sangat terhina. Aku tak terima dikatakan seperti itu, jadi ya ... aku balas aja," jawab Ariel dengan jujur.
"Dia menghina kamu? Memangnya siapa dia? Hebat banget hidupnya? Bagaimana kamu tadi membalas dia? Kalau masih kurang biar aku yang balas!" Om Bobby ikut tersulut emosinya mendengar cerita dari Ariel. Om Bobby yang semula agak cemburu dengan kedekatan antara Ariel dengan Noah kini malah ingin menghajar Noah dengan kedua tangannya sendiri.
"Noah bilang, aku pasti datang dengan om-om yang menyewaku. Tak ada yang salah memang dengan perkataannya, beginilah pekerjaanku. Pekerjaan yang hina. Aku bilang saja sama dia, di antara kami ada janin yang telah kami bunuh di masa lalu. Dia tertawa ngejek karena merasa anak itu bukan anak kandungnya. Aku ingat sekali waktu itu dia kabur seperti pengecut saat aku hampir mati karena pendarahan, padahal sebenarnya yang menyuruhku melakukan aborsi adalah dirinya. Mengingat hal itu aku kembali emosi. Aku katakan saja yang sebenarnya."
"Kamu bilang apa?" Om Bobby semakin penasaran dengan cerita Ariel.
"Aku bilang kalau Om yang menyewa dulu itu sudah di vaksetomi. Anak itu bisa dipastikan adalah anaknya. Aku tak peduli dia mau menyesal atau marah padaku. Saat ini, aku masih bersyukur karena bisa memiliki Galang. Jika saat itu aku tidak selamat atau telat sedikit saja dibawa ke rumah sakit oleh sahabatku mungkin aku selamanya takkan pernah bisa memiliki anak dari rahimku sendiri." Ariel terlihat sedih bercampur emosi saat menceritakan tentang masa lalunya yang kelam tersebut.
Om Bobby meraih tangan Ariel dan menggenggamnya dengan erat, memberikan dukungan kepada wanita peliharaannya tersebut. "Kamu hebat! Aku suka cara kamu membalasnya. Terkadang laki-laki itu memang harus diberi pelajaran, apalagi laki-laki yang suka menghina perempuan."
"Terima kasih, Om. Om selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Om selalu percaya sama aku meski aku punya masa lalu yang kelam." Ariel tersenyum senang bisa memiliki pelanggan sebaik Om Bobby.
"Sudah ribuan kali kamu mengucapkan terima kasih sama aku. Tidak bosan? Sudahlah, kita cari udara segar saja yuk! Bosan aku di ruangan terus!" Om Bobby mengulurkan lengannya pada Ariel. Dengan senang hati Ariel menggandeng Om kesayangannya tersebut lalu keduanya pergi ke balkon.
Udara malam yang segar segera memenuhi paru-paru mereka. "Enak ya, Om, di sini lebih tenang."
Ariel menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip dengan indahnya. Rasanya lega sehabis mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam. Ada orang yang bisa diajak berbagi membuat beban berat yang selama ini terasa menghimpit bisa sedikit terangkat.
"Ternyata hidup kamu penuh lika liku ya," kata Om Bobby. "Bukan hanya punya suami yang gemar mabuk dan berjudi, kamu juga punya mantan kekasih yang pengecut dan tidak bertanggung jawab. Aku heran, kenapa kamu bisa sebodoh ini hingga mudah terjebak dengan laki-laki yang enggak banget?"
Ariel tersenyum lalu memeluk Om Bobby dengan erat. "Dulu aku memang bodoh. Namun sekarang tidak lagi. Aku punya Om yang sangat baik padaku dan selalu melindungiku. Itulah derita si miskin. Aku begini karena butuh uang, Bapak hanya petani yang kadang gagal panen. Adikku masih sekolah. Kalau bukan aku yang berjuang, siapa lagi?"
"Sebenarnya kamu hebat sih, ada sisi positifnya. Kamu tak mau menyusahkan orang lain. Good!" Om Bobby mengusap kepala Ariel dengan lembut. "Tunggu, tadi kamu bilang kalau kamu punya Om yang sangat baik, siapa tuh?" ledek Om Bobby.
"Ya ... Om Bobby dong! Om kesayangan aku seorang!" Ariel memeluk Om Bobby makin erat. "Om, pulang yuk! Om mau aku jadi apa malam ini? Aku siap loh memberikan service yang terbaik hanya untuk Om seorang," kata Ariel dengan centilnya.
"Godain aku terus nih, anak nakal ini. Memangnya kamu enggak capek ya, sudah menggoda aku habis-habisan eh milikku hanya bereaksi sedikit saja dan langsung lemas lagi," kata Om Bobby dengan suara yang terdengar sedih.
"Enggak pernah ada kata capek untuk Om Bobbyku tersayang. Om mau menyuruh aku begini atau begitu, aemua akan aku lakukan. Yang paling penting bagi aku adalah melihat Om senang. Kalau dia masih lemas juga, mungkin Om yang butuh waktu. Aku siap kok menunggu Om." Ariel tersenyum meyakinkan Om Bobby bahwa ia akan terus menemaninya sampai kapanpun. Hanya Om Bobby tempatnya bergantung saat ini.
Om Bobby tersentuh dengan sikap tulus Ariel. Semangatnya pun kembali lagi. "Oke, malam ini aku mau kamu jadi pelayan hotel. Kamu siap?"
"Siap dong, Om. Ayo, kita pulang!" Sambil menggandeng Om Bobby dengan mesra, Ariel dan Om Bobby masuk ke dalam ruangan pesta dan berniat langsung pulang setelah berpamitan dengan beberapa orang kenalan Om Bobby.
Baru saja hendak pergi, seseorang nemanggil nama Om Bobby. "Bobby!"
Om Bobby berbalik badan dan melihat siapa yang memanggilnya. Sebuah senyum tersungging di wajah Om Bobby. "Kamu datang ke sini juga?" Om Bobby menyambut hangat seseorang yang memanggil tersebut.
"Iya. Kamu sama si ... apa?" Lelaki yang memanggil Om Bobby terlihat begitu terkejut saat melihat siapa yang sedang menggandeng dengan Om Bobby.
Ariel pun demikian, ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan seseorang dari masa lalunya di malam ini. Rupanya cobaan hari ini belumlah usai.
"Oh, aku pergi dengan teman dekatku. Perkenalkan, Sam, ini Ariel. Ariel, ini Sam!" Om Bobby pun memperkenalkan keduanya.
Wajah Ariel tiba-tiba pucat. Ia tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan mantan sugar daddynya dulu. Ya, Om Sam adalah sugar daddy yang telah merebut kesucian Ariel. Dulu, Om Sam banyak menghabiskan waktunya bersama Ariel. Hubungan mereka berdua berlangsung lumayan lama. Ariel bisa membayar uang kuliahnya berkat menjadi sugar baby Om Sam. Om Sam inilah yang dulu diduakan oleh Ariel yang menjalin hubungan dengan Noah.
Di tengah kepanikannya, Ariel berusaha untuk bersikap tenang. Ia memilih untuk berpura-pura tidak mengenal Om Sam. Ariel pun mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. " Ariel." Ariel tersenyum seakan mereka tak pernah bertemu sebelumnya.
"Sam!" Om Sam membalas uluran tangan Ariel seraya menggelitiki tangan Ariel. Memberi Ariel isyarat kalau mereka punya ikatan di masa lalu dan ia masih mengingat jelas semua masa indah mereka.
Ariel melepaskan tangan Om Sam dengan cepat dan kembali merangkul lengan Om Bobby. "Om, jadi pulang sekarang?" Ariel tak mau berlama-lama di dekat Om Sam.
"Tentu. Ayo, kita pulang!" Om Bobby pun pamit pada Om Sam. "Aku pamit pulang dulu ya! Sampai ketemu lagi nanti!"
Cepat-cepat Ariel pergi meninggalkan pesta terkutuk tersebut. Senyum bahagianya saat berangkat ke pesta kini sudah tak ada lagi. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Bagaimana ini, ternyata Om Bobby mengenal Om Sam. Bagaimana kalau Om Sam menceritakan tentang masa lalu kami?" batin Ariel.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
ardan
bukannya om Kun yah?
2023-11-29
2
Berdo'a saja
jujur saja lah
2023-11-02
0
Meriana Erna
astaga asik ketemu mantan j si ariel🤣🤣🤣
2023-10-22
0