Berubah Saat Mabuk

Ariel pulang dengan wajah sumringah. Uang lima ratus ribu sudah di tangan. Rencananya ia akan mengajak Galang berobat ke dokter 24 jam terdekat. Sisa uangnya akan Ariel pakai membeli susu dan makanan yang sehat untuk Galang.

Tak lupa Ariel mengganti pakaiannya. Ariel menaruhnya di laundry dan memakai pakaian yang tadi pagi dikenakannya agar keluarganya tidak menaruh curiga.

Ariel pulang ke kontrakkannya yang tiga petak. Sebelum berangkat, Ariel menitipkan Galang pada mertuanya yang memiliki usaha warung kelontong. Bu Sari -mertua Ariel- ternyata membiarkan Galang pulang bersama Wawan, anaknya.

Suara tangis Galang terdengar begitu kencang. Ariel mempercepat langkahnya untuk mencari tahu kenapa Galang menangis kencang.

"Aduh! Berisik sekali kau! Bisa pengang telingaku mendengar suara tangismu! Diam atau kubanting kau!" ancam Wawan.

Cepat-cepat Ariel masuk dan menggendong Galang yang duduk di atas karpet lantai sambil menangis kencang. "Mas, kamu kenapa sih? Anak nangis bukannya didiamkan malah diomeli!" omel Ariel.

Ariel menggendong Galang yang menangis semakin kencang dan menenangkannya. "Sst! Tak apa, Nak. Ada Mama. Jangan nangis ya!" kata Ariel dengan suara lembut dan keibuan miliknya.

"Wah ... superhero datang! Mama kamu datang! Mama kamu yang dulunya pelacuur sudah pulang. Dari mana saja kamu? Menjual diri seperti dulu?" Bau alkohol menyeruak dari mulut Wawan.

Ariel menutup hidungnya, tak tahan dengan bau alkohol yang diciumnya. Pantas saja Wawan emosional, ia sedang dalam pengaruh alkohol rupanya.

"Mas, jaga ya mulut kamu! Meskipun anak kita baru 2 tahun tapi dia bisa mendengar dan akan merekam apa yang kamu katakan!" Ariel menunjuk wajah Wawan sambil menahan air mata yang hendak menetes dari mata indah miliknya.

"Loh? Apa yang salah? Memang benar kamu dulu curcur ... pelacuuur!" ejek Wawan sambil tertawa meledek.

Dada Ariel bergemuruh menahan amarah. Rasanya sakit hati sekali dihina Wawan seperti itu. Memang benar dulu Ariel berprofesi sebagai sugar baby, namun bukankah Wawan menerima masa lalunya dan bahkan mau menikahinya? Kenapa sekarang Wawan malah menghinanya habis-habisan.

"Jaga mulutmu, Mas!"

Seakan mengerti rasa sakit hati yang dirasakan Mamanya, Galang yang sudah tenang kembali menangis. Ikatan batin yang kuat antara Ariel dan Galang membuat Galang merasakan kesedihan yang Ariel rasakan.

"Heh, diam anak setan!" maki Wawan dengan kasarnya.

"Ya ampun, Mas. Jaga ucapanmu! Galang tuh anak kamu! Seenaknya saja kamu mengatainya anak setan!" Ariel tak terima anaknya dimaki oleh suaminya sendiri. Dirinya dihina masih bisa ia tahan, namun saat anaknya dihina, Ariel pasti akan melawan.

Tubuh Wawan tak bisa berdiri tegak akibat pengaruh alkohol, sambil menunjuk-nunjuk Galang ia kembali meracau. "Dia bukan anakku tapi anak setan, sekali anak setan tetap anak setan! Berisik! Diam atau kubanting kamu!"

Wawan hendak mengambil Galang dari gendongan Ariel, secepat mungkin Ariel melindungi Galang dari Wawan yang hilang akal karena pengaruh alkohol. "Minggir kamu! Anak setan ini harus dikasih pelajaran!"

"Jangan, Mas! Jangan!" Ariel terus memeluk Galang yang menangis ketakutan. Air mata tak kuasa Ariel bendung lagi. Rasa takut dan marah bercampur jadi satu. Ariel takut Galang jadi korban.

"Minggir!" bentak Wawan. Tangan Wawan terayun dan menggampar wajah Ariel.

Plak!

Tangis Ariel pun pecah. Wajahnya sakit terkena tamparan Wawan. Ujung bibirnya berdarah karena robek, darah segar pun keluar.

Wawan menatap telapak tangannya sendiri. Ia juga tak sadar apa yang sudah diperbuatnya. Wawan menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan rumah kontrakkan dengan langkah gontai. "Maaf deh, enggak sengaja."

Ariel memeluk Galang yang terus menangis. Keduanya menangis bersama. Ariel meratapi hidupnya yang kelam bersama kemiskinan dan sosok pemimpin keluarga yang kasar.

"Kenapa di saat aku bertaubat, aku malah diuji dengan memiliki suami seperti itu? Apa salahku?" ratap Ariel.

Galang terus menangis. Panas tubuhnya semakin tinggi. Tak mau meratapi nasibnya lebih lama, Ariel cepat-cepat membawa Galang ke dokter terdekat. Galang harus sembuh. Galang harus sehat. Hanya karena Galang ia rela bertahan di rumah tangga tak sehat ini.

****

Ariel mengompres wajahnya yang agak bengkak seraya memandang Galang yang tertidur pulas di bawah pengaruh obat. Panas tubuh Galang sudah mulai turun. Obat dokter memang lebih paten dari obat warung.

Ariel sudah memasak ikan dan sayur untuk Galang. Makanan bergizi yang jarang ia bisa berikan. Wawan jarang memberinya uang belanja. Uang gaji Wawan habis dipakai untuk membeli minuman dan judi online.

Dulu Wawan tak begitu. Wawan sangat mencintai Ariel. Masa lalu kelam Ariel bisa Wawan terima dengan baik. Mereka saling mencintai sampai hadirlah Galang di tengah mereka.

Wawan lalu dipindahkan ke bagian lapangan. Wawan mulai bertemu banyak orang. Wawan pun salah pergaulan. Ia mulai mengenal judi online dan ikut-ikutan temannya minum alkohol.

Perilaku Wawan yang lembut mulai berubah. Judi online membuatnya ketagihan. Uang gaji Wawan lebih banyak dihabiskan untuk modal berjudi yang tak pernah kembali. Saat kalah judi, Wawan akan mengubur kesedihannya dengan minum alkohol.

Lama kelamaan Wawan mulai berubah. Wawan lupa dengan keluarga. Wawan juga suka bersikap kasar dan jarang menafkahi Ariel lagi. Mau melamar pekerjaan pun Ariel sulit mendapatkan karena minimnya pengalaman kerja serta nilai-nilai kuliahnya yang pas-pasan. Ariel juga tak enak menitipkan Galang lama-lama pada mertuanya yang juga harus berjualan. Ariel pasrah saja menjalani hidupnya, semua demi Galang.

"Riel!" panggil Wawan.

Ariel mengacuhkan Wawan. Ia masih marah sehabis ditampar Wawan. Ariel juga emosi melihat Galang ingin disakiti. Bagi Ariel, dirinya disakiti masih bisa ia tahan namun jika Galang yang disakiti, Ariel tak rela lahir batin, dunia akhirat!

"Riel, kamu sedang apa?" tanya Wawan dengan lembut, beda sekali dengan saat dirinya mabuk.

"Kok diam saja sih? Aku nanya loh, Riel." Wawan mendekat dan duduk di samping Ariel. Diangkatnya wajah Ariel yang agak bengkak karena ulahnya. "Maaf ya, Riel. Aku benar-benar mabuk semalam. Aku janji, aku tak akan mabuk lagi!"

Ariel mengambil pakaian di jemuran. Ia acuh dan tetap melipat pakaian kering dengan diam. Matanya mulai memanas. Kesal karena Wawan menganggap apa yang dilakukannya adalah hal wajar. Wawan tak sadar kalau sudah menyakiti istri dan anaknya sendiri.

"Riel, Mas 'kan sudah minta maaf. Jangan marah terus dong!" bujuk Wawan.

Ariel mengusap air matanya yang berhasil lolos dengan kasar. "Maaf kata Mas? Setelah penghinaan dan tamparan di wajahku dengan mudahnya Mas bilang maaf? Enak sekali ya, Mas? Lupa kamu semalam menghinaku habis-habisan? Lupa kamu semalam hampir menyakiti anakmu sendiri? Sekarang kamu minta maaf? Enak saja! Tidak kulapor polisi saja sudah untung!"

"Riel, Mas menyesal. Maafkan, Mas ya? Mas janji tak akan begini lagi. Maafkan Mas ya, Riel, Mas mohon!" Wawan bahkan berlutut memohon ampunan Ariel.

"Aku maafkan kamu, Mas. Kalau kamu ulangi lagi aku tak akan maafkan!" ancam Ariel.

"Iya. Aku janji tak akan mengulanginya lagi!" janji Wawan.

Sayangnya, janji yang Wawan ucapkan hanya bertahan seminggu. Saat judi onlinenya kalah lagi, Wawan kembali menenggak alkohol dan menganiaya Ariel. Wajah lebam Ariel buktinya.

Ariel mengambil foto semua lebam di wajahnya. "Cukup, Mas. Cukup sudah aku memberimu kesempatan. Selamanya kamu tak akan berubah!"

****

Terpopuler

Comments

Sarti Sarti

Sarti Sarti

lanjut ceritanya seru

2024-07-25

1

🙃😉

🙃😉

miris....

2024-07-07

2

iin

iin

Lgsg pisah aja. Penjahat kambuhan gitu gak bakal berubah sbelom ajal dtg 😑

2024-03-14

2

lihat semua
Episodes
1 Om Bobby
2 Berubah Saat Mabuk
3 Butuh Uang
4 Om Puas Tak Apa Aku Lemas
5 Mahar Yang Dirampas
6 Mencari Pinjaman Uang
7 Bayaran Atas 30 Juta
8 Kecurigaan Wawan
9 Sebuah Kata Talak
10 Ayo Kita Pulang!
11 Membalas Kebaikan Om Bobby
12 Sidang Perceraian
13 Masih Loyo
14 Jalan-jalan Bersama Om
15 Kita Sama
16 Pesta Terkutuk
17 Tamu Tak Diundang
18 Bujuk Rayu Anak Nakal
19 Bujuk Rayu Om Sam
20 Antara Rindu dan Amarah
21 Menjemput Galang
22 Kisah Masa Lalu Om Bobby
23 Om Bobby Yang Hangat
24 Pengaruh Ucapan Om Sam
25 Mimpi Yang Terasa Hampa
26 Bapak dan Ibu Ariel
27 Menceritakan Kisah Masa Lalu
28 Tangisan Pilu Bapak
29 Merindukan Galang
30 Kedatangan Om Bobby
31 Menerima Tantangan
32 Wedding Day
33 Si Joni
34 Anak Siapa Itu?
35 Sentuhan Demi Sentuhan
36 Pekerjaan Om Bobby
37 Pijatan Super Nyaman
38 Om Puas Aku Lemas
39 Tanggung Jawab Membangunkan Joni
40 Joni Joni Yes Papa
41 Kekesalan Om Bobby
42 Anak Om Bobby
43 Sakit
44 Syuting Iklan
45 Menyambut Kepulangan Om Bobby
46 Menunaikan Janji
47 Latihan Akting
48 Syuting di Kebun Teh
49 Sebuah Penolakan
50 Menilai Kejujuran
51 Nasehat Seorang Sahabat
52 Lelakiku
53 Ulah Joni
54 Kemeja Om Bobby
55 Bertemu Adik Ipar
56 Prisa
57 Ariel si Sumbu Pendek
58 Kami Berbeda!
59 Tentang Lisa
60 Maaf
61 Gaya Baru
62 Nyonya Besar
63 Si Pedas Prisa
64 Mama Tita
65 Masa Lalu Yang Terkuak
66 Pelukan Menenangkan
67 Kemarahan Om Bobby
68 Si Pantang Menyerah
69 Joni yang Bereaksi
70 Bukan Nenek Sihir
71 Berjualan di Bazar
72 Si Bule Jualan
73 Penghinaan Tanpa Henti
74 Tangisan Penyesalan Ariel
75 Terima Kasih Prisa
76 Rengekan Galang
77 Ibu-ibu Arisan
78 Didatangi Warga
79 Menambah Kerusuhan
80 Bantahan
81 Malaikat Penolong Yang Sebenarnya
82 Tercengang
83 I Love You My Husband
84 Sayang Om Papa
85 Penyesalan
86 Membahagiakan Mama Ariel
87 Selamanya Tak Akan Merestui
88 Belajar Menjadi Pebisnis
89 Menjadi Manusia Yang Bermanfaat
90 Kangen Kamu
91 Berita Gembira
92 Kedatangan Mama Tita
93 Sikap Keras Mama Tita
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Om Bobby
2
Berubah Saat Mabuk
3
Butuh Uang
4
Om Puas Tak Apa Aku Lemas
5
Mahar Yang Dirampas
6
Mencari Pinjaman Uang
7
Bayaran Atas 30 Juta
8
Kecurigaan Wawan
9
Sebuah Kata Talak
10
Ayo Kita Pulang!
11
Membalas Kebaikan Om Bobby
12
Sidang Perceraian
13
Masih Loyo
14
Jalan-jalan Bersama Om
15
Kita Sama
16
Pesta Terkutuk
17
Tamu Tak Diundang
18
Bujuk Rayu Anak Nakal
19
Bujuk Rayu Om Sam
20
Antara Rindu dan Amarah
21
Menjemput Galang
22
Kisah Masa Lalu Om Bobby
23
Om Bobby Yang Hangat
24
Pengaruh Ucapan Om Sam
25
Mimpi Yang Terasa Hampa
26
Bapak dan Ibu Ariel
27
Menceritakan Kisah Masa Lalu
28
Tangisan Pilu Bapak
29
Merindukan Galang
30
Kedatangan Om Bobby
31
Menerima Tantangan
32
Wedding Day
33
Si Joni
34
Anak Siapa Itu?
35
Sentuhan Demi Sentuhan
36
Pekerjaan Om Bobby
37
Pijatan Super Nyaman
38
Om Puas Aku Lemas
39
Tanggung Jawab Membangunkan Joni
40
Joni Joni Yes Papa
41
Kekesalan Om Bobby
42
Anak Om Bobby
43
Sakit
44
Syuting Iklan
45
Menyambut Kepulangan Om Bobby
46
Menunaikan Janji
47
Latihan Akting
48
Syuting di Kebun Teh
49
Sebuah Penolakan
50
Menilai Kejujuran
51
Nasehat Seorang Sahabat
52
Lelakiku
53
Ulah Joni
54
Kemeja Om Bobby
55
Bertemu Adik Ipar
56
Prisa
57
Ariel si Sumbu Pendek
58
Kami Berbeda!
59
Tentang Lisa
60
Maaf
61
Gaya Baru
62
Nyonya Besar
63
Si Pedas Prisa
64
Mama Tita
65
Masa Lalu Yang Terkuak
66
Pelukan Menenangkan
67
Kemarahan Om Bobby
68
Si Pantang Menyerah
69
Joni yang Bereaksi
70
Bukan Nenek Sihir
71
Berjualan di Bazar
72
Si Bule Jualan
73
Penghinaan Tanpa Henti
74
Tangisan Penyesalan Ariel
75
Terima Kasih Prisa
76
Rengekan Galang
77
Ibu-ibu Arisan
78
Didatangi Warga
79
Menambah Kerusuhan
80
Bantahan
81
Malaikat Penolong Yang Sebenarnya
82
Tercengang
83
I Love You My Husband
84
Sayang Om Papa
85
Penyesalan
86
Membahagiakan Mama Ariel
87
Selamanya Tak Akan Merestui
88
Belajar Menjadi Pebisnis
89
Menjadi Manusia Yang Bermanfaat
90
Kangen Kamu
91
Berita Gembira
92
Kedatangan Mama Tita
93
Sikap Keras Mama Tita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!