Wawan tak pulang sampai besok pagi. Lelaki tak bertanggung jawab itu menghabiskan sisa uang penjualan gelang untuk judi slot. Berharap menang dan bisa segera mengganti gelang milik Ariel.
Wawan tak peduli dengan Ariel yang marah gelangnya diambil. Kini hanya tersisa cincin menikah mereka. Ariel menatapnya dengan sedih. Wawan yang dulu baik dan sangat menyayanginya bisa berubah secepat ini.
Ariel menatap Galang, anak semata wayangnya yang masih tertidur lelap. Galang tak tahu apa yang sudah menimpa Mamanya saat ia tertidur lelap. Galang tak tahu berapa banyak air mata yang Mamanya sudah teteskan selama menikah dengan Papanya. "Sabar ya, Nak. Mama akan berusaha demi kamu. Apapun akan Mama lakukan agar hidup kita lebih baik lagi, Mama janji!"
Om Bobby belum mengabari Ariel lagi kapan harus ke rumahnya. Ariel butuh uang untuk keperluan sehari-hari. Wawan hanya membaginya seratus ribu dari uang hasil penjualan gelang miliknya. Sedih sekali hati Ariel.
Saat sedang menanti panggilan kerja dari Om Bobby, Ariel malah mendapat telepon dari Ibunya di kampung.
"Riel, maaf Ibu menelepon kamu." Suara Ibu terdengar panik dari ujung telepon sana.
"Tak apa, Bu, bagaimana kabar Ibu?" tanya Ariel.
"Kabar Ibu baik, kamu bagaimana?" tanya balik Ibu.
"Baik, Bu. Ada apa Ibu menghubungi Ariel?" tanya Ariel yang sudah menangkap kegelisahan dalam diri Ibunya.
"Adik kamu, Riel, Yoga."
Ariel mengernyitkan keningnya. "Yoga? Kenapa dengan Yoga, Bu?"
Ibu Ariel tak langsung menceritakan apa yang terjadi. Beliau takut Ariel jadi kepikiran. Mau tidak cerita, Ibu Ariel pun tak tahu harus minta tolong pada siapa lagi selain pada Ariel, anak tertuanya yang dipikirnya hidup enak di Jakarta dengan suami yang amat mencintainya. Tak tahu saja Ibu kalau Ariel sangat menderita dengan pernikahannya saat ini.
"Bu, Yoga kenapa?" Ariel kembali bertanya. Perasaan Ariel tak enak. Ibu tiba-tiba meneleponnya, pasti ada sesuatu yang penting.
"Yoga ikut ... tawuran, Riel."
Deg ... jantung Ariel berdegup makin kencang. Adiknya tawuran?
"Tawuran? Yoga terluka, Bu? Yoga tidak apa-apa?" tanya Ariel dengan nada panik.
"Yoga tak apa, Riel."
"Syukurlah." Ariel sedikit bernafas lega. Adiknya tidak apa-apa, ia bisa tenang.
"Tapi, Riel ...."
Jantung Ariel kembali berdegup kencang. "Tapi kenapa, Bu?"
"Adik kamu memang tidak terluka tapi dia melukai orang lain."
"Hah? Melukai orang lain bagaimana, Bu?" tanya Ariel semakin panik saja. Tangan Ariel mulai berkeringat.
"Yoga justru melukai anak lain. Tanpa sepengetahuan Ibu, Yoga membawa celurit milik Bapak dan melukai anak sekolah lain." Ibu bercerita sambil menangis.
"Ya ampun, Yoga. Kenapa senakal itu sih? Lalu anak itu bagaimana, Bu?" tanya Ariel yang kini sudah menangis.
"Anak itu di rawat di rumah sakit, Riel. Orang tua anak itu akan menuntut Yoga kalau Ibu tak mau bertanggung jawab. Biaya rumah sakit dan ganti rugi yang diminta sekitar 30 juta. Bagaimana ini Riel? Bapak kamu sedang menjual hasil panen, itu pun tak banyak. Musim kemarau panjang, hasil panen kita banyak yang gagal. Bagaimana nasib Yoga nanti, Riel? Bagaimana kalau dia sampai di penjara? Yoga itu anak laki-laki, Riel. Bagaimana masa depannya kelak kalau ada catatan hitam di kepolisian?" Suara Ibu terdengar putus asa.
Ariel memijat keningnya yang ikut berdenyut. Belum selesai masalah yang satu, sudah ada masalah lain.
"Riel, kamu masih ada di sana?" tanya Ibu karena Ariel tak berkata apa-apa.
"Masih, Bu. Aku sedang memikirkan nasib Yoga, dan jalan keluarnya, Bu," kata Ariel dengan suara lemah.
"Coba minta tolong sama Nak Wawan, Riel. Siapa tahu Nak Wawan bisa kasbon, dia 'kan karyawan tetap di kantornya. Nanti Ibu yang cicil setiap bulan. Tolong adikmu, Riel. Hanya kamu harapan Ibu satu-satunya," pinta Ibu dengan sangat.
"Wawan? Jangankan untuk membantu Ibu, dia saja mengambil gelangku dan jarang memberi nafkah, bagaimana menantu seperti itu bisa membantu Ibu?" batin Ariel.
"Nanti aku akan carikan uangnya, Bu," janji Ariel.
"Benar ya, Nak? Terima kasih, kamu memang selalu bisa diandalkan Riel. Ibu tunggu ya, Nak."
Ariel mengakhiri panggilan dengan kepala yang semakin pening saja. Darimana ia akan mendapat uang sebanyak itu? Meminjam pada siapa? Sahabatnya Luna? Tidak, di hadapan Luna ia sudah bertaubat. Jangan sampai Luna tahu kalau hidupnya tidak baik-baik saja. Wening? Ah, pasti tak akan dikasih, malah Ariel akan disuruh mencari lelaki hidung belang lain. Satu-satunya orang yang bisa menolong Ariel adalah Om Bobby.
"Siang, Om. Boleh kita bertemu?" Ariel pun nekat menelepon Om Bobby.
"Ada apa?" tanya Om Bobby dengan dingin.
"Aku ... mau minta tolong sama Om." Suara Ariel bergetar mengingat masalah yang kini menimpanya.
"Datanglah ke rumah. Dua jam lagi aku sampai!" kata Om Bobby.
"Baik, terima kasih, Om." Ariel cepat-cepat bersiap-siap. Ia memandikan Galang lalu menitipkannya pada sang mertua.
"Bu, aku ada keperluan sebentar. Tolong titip Galang ya, Bu."
Meski menatap dengan tatapan curiga, namun mertua Ariel mau saja dititipi Galang. Ariel cepat-cepat pergi ke rumah Om Bobby.
Ternyata Om Bobby belum sampai. Ariel menunggu di depan rumahnya. Lima belas menit kemudian, Om Bobby datang dengan mobil mewahnya. Om Bobby terlihat sangat tampan dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans yang dikenakannya.
"Masuklah!" Om Bobby membukakan pintu untuk Ariel masuk. "Kamu sudah lama menunggu?"
"Belum lama, Om." Ariel masuk ke dalam rumah mewah Om Bobby.
"Ada apa kamu mengajakku bertemu?" Om Bobby duduk di sofa dan menatap penampilan Ariel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wajahnya polos tanpa make up dan pakaiannya sederhana, hanya celana jeans dan kaos dengan cardigan hitam. Wajah Ariel terlihat panik dan putus asa. Om Bobby menebak ada masalah pelik yang sedang dihadapi wanita bayarannya tersebut.
"Aku ... mau minta tolong sama Om."
"Minta tolong?" Om Bobby mengernyitkan keningnya. "Minta tolong apa?"
"Aku ... mau pinjam uang, Om. Adikku ... terlibat tawuran dan melukai orang lain. Kalau aku tidak membayar ganti rugi maka adikku akan dilaporkan ke polisi." Air mata Ariel menetes tanpa bisa ia tahan.
Om Bobby terus menatap Ariel. Ternyata saat bersedih, Ariel malah lebih mengingatkannya dengan sang mantan istri, Lisa.
"Tolong, Om. Aku akan lakukan apapun untuk membayar hutangku. Tolong selamatkan adikku, Om. Aku mohon!"
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Om Bobby.
"Tiga puluh juta, Om."
"Oke. Aku akan berikan pada kamu. Tak perlu kamu ganti."
"Makasih, Om!" Ariel tersenyum dengan mata berbinar-binar. Akhirnya ada yang bisa membantunya melewati masalah ini.
"Ingat, tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini."
Ariel menelan salivanya dengan susah payah. "Apa yang bisa aku lakukan, Om?"
"Kamu harus menginap denganku selama 2 hari, kamu mau?"
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
iin
Atulah biarin aja di penjara. Biar dia tahu kalo tiap tindakan tuh ada konsekuensi yg harus dibayar😑
2024-03-14
4
Wkwkwkk
duh gimana anakmu ?
2023-11-23
2
Berdo'a saja
trus bagaimana dengan anak mu
2023-11-01
0