Ayo Kita Pulang!

Dengan membawa dua buah tas besar berisi pakaian miliknya dan Galang, Ariel menggendong Galang keluar dari rumah. Udara malam ini begitu dingin sehabis diguyur hujan seharian.

Ariel bingung mau pergi kemana malam ini. Rencananya mau mencari kontrakkan kecil untuk tempat tinggalnya dan Galang nanti. Ariel tak mau lebih lama di rumah itu lagi, takut Wawan pulang dan mencegahnya pergi. Takut kalau Wawan kembali melakukan kekerasan padanya lagi. Sekali melawan, maka Ariel akan terus melawan. Pergi dari rumah adalah bentuk perlawanannya terhadap suami yang sudah 3 tahun dinikahinya tersebut.

Ariel berjalan menuju halte bus dan menunggu bus datang. Rencananya Ariel mau mencari kontrakan yang letaknya tak jauh dari rumah Om Bobby, agar ia bisa tetap menjaga Galang saat dirinya harus bekerja. Ariel mendengar Galang sedikit mengigau. Semula Ariel tersenyum namun saat melihat ada bulir keringat di kening Galang, senyum Ariel menghilang. Udara dingin namun Galang berkeringat, berarti ada sesuatu yang salah.

Ariel cepat-cepat memegang kening Galang. "Ya ampun, kamu demam, Nak. Bagaimana ini?" gumam Ariel.

Tak lama terdengar suara petir menggelegar dan disusul hujan lebat. Ariel terjebak di halte bersama Galang yang sedang demam. Ariel semakin bingung. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Ariel mencoba menghubungi Luna, sahabatnya. Ternyata Luna sedang pergi ke luar kota menemani suaminya tugas kantor. Ariel mencoba menghubungi Wening. Temannya tersebut sedang sibuk melayani sugar daddynya yang malam ini akan menginap di rumahnya.

"Maaf, Riel, Om-ku datang malam ini. Aku tak bisa mengijinkan kamu dan anakmu menginap karena akan mengganggu pekerjaannku nanti. Maaf ya!" kata Wening.

Hujan semakin deras saja mengguyur Jakarta. Halte yang sepi membuat Ariel makin bingung harus berbuat apa. Hari semakin malam. Udara semakin dingin. Tak ada bus yang lewat. Mau menerobos hujan, Ariel kasihan dengan Galang. Bisa tambah demam nanti. Yang terpenting, Ariel mau kemana? Tak mungkin pulang ke rumah orang tuanya, selain jauh juga Ariel tak mau membuat mereka sedih dengan keadaannya. Ariel mau mereka hanya tahu kalau dirinya bahagia hidup di Jakarta.

Satu-satunya tempat yang bisa Ariel tuju adalah rumah Om Bobby. Apakah Om Bobby akan mengijinkannya? Rasanya seperti tak tahu diri saja, sudah meminjam 30 juta eh sekarang Ariel malah mau membawa anaknya ikut serta. Malu. Meski bukan wanita baik-baik, Ariel kenal rasa malu. Tak mau memanfaatkan orang yang sudah baik padanya.

Di saat Ariel galau, suhu tubuh Galang semakin panas saja. Ariel harus membuat keputusan cepat. Om Bobby lagi-lagi yang ia hubungi di saat darurat.

"Malam, Om," kata Ariel melalui sambungan telepon.

"Malam, Riel. Ada apa malam-malam menelepon? Kamu ada dimana? Kok suara hujannya terdengar kencang sih?" tanya balik Om Bobby.

"Aku ... di halte, Om. Aku ...." Ariel tak kuasa menahan air matanya. "Anakku sakit, Om. Aku bingung mau kemana. Suamiku ... sudah menjatuhkan talak padaku."

Om Bobby yang sedang menonton TV langsung duduk tegak. "Kamu di halte mana?"

"Halte dekat rumahku, Om. Bagaimana ini, Om? Galang semakin demam." Ariel kembali terisak.

"Aku ke sana sekarang. Kamu jangan kemana-mana. Kirimkan alamatmu ya!" Om Bobby menyambar jaket hitam miliknya lalu pergi dengan mobil hitam kesayangannya.

Hujan semakin deras dengan petir kencang yang terdengar beberapa kali. Om Bobby pergi ke tempat yang sudah Ariel kirimkan alamatnya. Hujan yang deras membuat Om Bobby mengurangi laju kendaraannya karena jarak pandang yang terbatas.

Setengah jam kemudian, Om Bobby sampai di halte dimana ada Ariel sedang duduk sambil memeluk anaknya. Ada dua buah tas besar yang dibawa Ariel. Rupanya Ariel tak berbohong, dia memang sudah diceraikan oleh suaminya.

Om Bobby membunyikan klakson mobilnya. Ariel menoleh, ia menghapus air matanya lalu berdiri menyambut kedatangan Om kesayangannya.

Om Bobby keluar dari mobil dengan payung di tangannya. Dibukakannya pintu mobil agar Ariel bisa masuk. "Masuklah! Biar aku yang angkat barang-barangmu."

Ariel menurut. Dirinya dan Galang duduk di kursi depan sementara Om Bobby sibuk memasukkan barang-barang miliknya sebelum duduk di kursi pengemudi. "Kita langsung ke dokter saja ya!"

Tanpa menunggu jawaban Ariel, Om Bobby melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Om Bobby tak ingin terjadi sesuatu pada anaknya Ariel. Galang segera mendapat perawatan dokter. Beruntung Galang tak apa-apa, hanya demam karena cuaca dingin.

"Semua karena aku yang memaksa Galang pergi dari rumah malam-malam," kata Ariel menyalahkan dirinya sendiri.

"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu lagi, Riel. Yang terpenting, Galang sudah turun panasnya." Om Bobby berusaha menenangkan Ariel.

"Aku memang Mama yang bodoh, Om. Aku tak berpikir panjang. Aku hanya memikirkan diriku sendiri yang tak kuat lebih lama berada di rumah itu lagi. Aku bahkan tak tahu mau pergi kemana." Ariel menutup wajahnya dan kembali menangis.

"Menurutku, kamu itu seorang Mama yang pemberani, Riel. Aku yang belum lama mengenal kamu saja sudah tahu betapa kamu amat menyayangi anakmu. Apapun akan kamu lakukan demi anakmu. Wajar kalau pada akhirnya kamu tak kuat dan memilih pergi. Yang terpenting sekarang, Galang sudah boleh pulang, namun kamu tetap harus menjaganya agar tetap sehat. Masalah tempat tinggal ... kamu bisa tinggal di rumahku," kata Om Bobby dengan lembut.

"Di rumah Om? Aku ... akan merepotkan Om saja nanti, anakku masih 2 tahun, dia pasti akan membuat Om pusing dengan tangisan dan ulahnya. Papanya saja tak tahan, bahkan sampai tega mengatainya." Ariel kembali meneteskan air matanya. Sakit sekali membayangkan hinaan yang dilontarkan Wawan pada anaknya.

"Tak apa. Rumahku besar dan hanya aku seorang yang tinggal di sana. Bagiku, mendengar suara ramai karena ocehan dan tangisan anak kecil lebih baik daripada mendengar suara detak jarum jam, terasa sunyi sekali. Setelah infusan Galang habis, kita pulang. Aku akan mengurus biaya administrasi dulu ya!" Om Bobby berdiri dan mengusap lembut rambut Ariel. Senyumnya membuat Ariel tenang.

"Terima kasih banyak, Om. Tanpa Om, aku tak tahu harus pergi ke mana. Om seperti malaikat pelindungku," kata Ariel dari hati terdalam.

"Malaikat apa? Tak ada malaikat sejahat aku? Aku urus administrasi dulu!" Om Bobby pun pergi meninggalkan Ariel dan Galang.

Ariel menatap punggung tegap Om Bobby. "Terima kasih, Om," ucap Ariel pelan.

Ariel mengusap rambut Galang yang tertidur pulas sehabis diberi obat oleh dokter. "Nak, kita tinggal di rumah Om dulu ya untuk sementara. Jangan nakal, Nak. Om Bobby adalah malaikat penolong kita."

Tak lama Om Bobby kembali setelah membayar biaya pengobatan. "Riel, ayo! Kita pulang!"

"Iya, Om."

****

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Bagus sih tpi terlalu lebay kata katanya

2024-06-13

2

Agung Antarini

Agung Antarini

aq sukaaaaa Thor ceritanya..
lanjut... semangat 👍👍💪💪

2023-11-10

3

Berdo'a saja

Berdo'a saja

setelah Wawan sadar apa yang akan dilakukan

2023-11-02

0

lihat semua
Episodes
1 Om Bobby
2 Berubah Saat Mabuk
3 Butuh Uang
4 Om Puas Tak Apa Aku Lemas
5 Mahar Yang Dirampas
6 Mencari Pinjaman Uang
7 Bayaran Atas 30 Juta
8 Kecurigaan Wawan
9 Sebuah Kata Talak
10 Ayo Kita Pulang!
11 Membalas Kebaikan Om Bobby
12 Sidang Perceraian
13 Masih Loyo
14 Jalan-jalan Bersama Om
15 Kita Sama
16 Pesta Terkutuk
17 Tamu Tak Diundang
18 Bujuk Rayu Anak Nakal
19 Bujuk Rayu Om Sam
20 Antara Rindu dan Amarah
21 Menjemput Galang
22 Kisah Masa Lalu Om Bobby
23 Om Bobby Yang Hangat
24 Pengaruh Ucapan Om Sam
25 Mimpi Yang Terasa Hampa
26 Bapak dan Ibu Ariel
27 Menceritakan Kisah Masa Lalu
28 Tangisan Pilu Bapak
29 Merindukan Galang
30 Kedatangan Om Bobby
31 Menerima Tantangan
32 Wedding Day
33 Si Joni
34 Anak Siapa Itu?
35 Sentuhan Demi Sentuhan
36 Pekerjaan Om Bobby
37 Pijatan Super Nyaman
38 Om Puas Aku Lemas
39 Tanggung Jawab Membangunkan Joni
40 Joni Joni Yes Papa
41 Kekesalan Om Bobby
42 Anak Om Bobby
43 Sakit
44 Syuting Iklan
45 Menyambut Kepulangan Om Bobby
46 Menunaikan Janji
47 Latihan Akting
48 Syuting di Kebun Teh
49 Sebuah Penolakan
50 Menilai Kejujuran
51 Nasehat Seorang Sahabat
52 Lelakiku
53 Ulah Joni
54 Kemeja Om Bobby
55 Bertemu Adik Ipar
56 Prisa
57 Ariel si Sumbu Pendek
58 Kami Berbeda!
59 Tentang Lisa
60 Maaf
61 Gaya Baru
62 Nyonya Besar
63 Si Pedas Prisa
64 Mama Tita
65 Masa Lalu Yang Terkuak
66 Pelukan Menenangkan
67 Kemarahan Om Bobby
68 Si Pantang Menyerah
69 Joni yang Bereaksi
70 Bukan Nenek Sihir
71 Berjualan di Bazar
72 Si Bule Jualan
73 Penghinaan Tanpa Henti
74 Tangisan Penyesalan Ariel
75 Terima Kasih Prisa
76 Rengekan Galang
77 Ibu-ibu Arisan
78 Didatangi Warga
79 Menambah Kerusuhan
80 Bantahan
81 Malaikat Penolong Yang Sebenarnya
82 Tercengang
83 I Love You My Husband
84 Sayang Om Papa
85 Penyesalan
86 Membahagiakan Mama Ariel
87 Selamanya Tak Akan Merestui
88 Belajar Menjadi Pebisnis
89 Menjadi Manusia Yang Bermanfaat
90 Kangen Kamu
91 Berita Gembira
92 Kedatangan Mama Tita
93 Sikap Keras Mama Tita
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Om Bobby
2
Berubah Saat Mabuk
3
Butuh Uang
4
Om Puas Tak Apa Aku Lemas
5
Mahar Yang Dirampas
6
Mencari Pinjaman Uang
7
Bayaran Atas 30 Juta
8
Kecurigaan Wawan
9
Sebuah Kata Talak
10
Ayo Kita Pulang!
11
Membalas Kebaikan Om Bobby
12
Sidang Perceraian
13
Masih Loyo
14
Jalan-jalan Bersama Om
15
Kita Sama
16
Pesta Terkutuk
17
Tamu Tak Diundang
18
Bujuk Rayu Anak Nakal
19
Bujuk Rayu Om Sam
20
Antara Rindu dan Amarah
21
Menjemput Galang
22
Kisah Masa Lalu Om Bobby
23
Om Bobby Yang Hangat
24
Pengaruh Ucapan Om Sam
25
Mimpi Yang Terasa Hampa
26
Bapak dan Ibu Ariel
27
Menceritakan Kisah Masa Lalu
28
Tangisan Pilu Bapak
29
Merindukan Galang
30
Kedatangan Om Bobby
31
Menerima Tantangan
32
Wedding Day
33
Si Joni
34
Anak Siapa Itu?
35
Sentuhan Demi Sentuhan
36
Pekerjaan Om Bobby
37
Pijatan Super Nyaman
38
Om Puas Aku Lemas
39
Tanggung Jawab Membangunkan Joni
40
Joni Joni Yes Papa
41
Kekesalan Om Bobby
42
Anak Om Bobby
43
Sakit
44
Syuting Iklan
45
Menyambut Kepulangan Om Bobby
46
Menunaikan Janji
47
Latihan Akting
48
Syuting di Kebun Teh
49
Sebuah Penolakan
50
Menilai Kejujuran
51
Nasehat Seorang Sahabat
52
Lelakiku
53
Ulah Joni
54
Kemeja Om Bobby
55
Bertemu Adik Ipar
56
Prisa
57
Ariel si Sumbu Pendek
58
Kami Berbeda!
59
Tentang Lisa
60
Maaf
61
Gaya Baru
62
Nyonya Besar
63
Si Pedas Prisa
64
Mama Tita
65
Masa Lalu Yang Terkuak
66
Pelukan Menenangkan
67
Kemarahan Om Bobby
68
Si Pantang Menyerah
69
Joni yang Bereaksi
70
Bukan Nenek Sihir
71
Berjualan di Bazar
72
Si Bule Jualan
73
Penghinaan Tanpa Henti
74
Tangisan Penyesalan Ariel
75
Terima Kasih Prisa
76
Rengekan Galang
77
Ibu-ibu Arisan
78
Didatangi Warga
79
Menambah Kerusuhan
80
Bantahan
81
Malaikat Penolong Yang Sebenarnya
82
Tercengang
83
I Love You My Husband
84
Sayang Om Papa
85
Penyesalan
86
Membahagiakan Mama Ariel
87
Selamanya Tak Akan Merestui
88
Belajar Menjadi Pebisnis
89
Menjadi Manusia Yang Bermanfaat
90
Kangen Kamu
91
Berita Gembira
92
Kedatangan Mama Tita
93
Sikap Keras Mama Tita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!