Dengan membawa dua buah tas besar berisi pakaian miliknya dan Galang, Ariel menggendong Galang keluar dari rumah. Udara malam ini begitu dingin sehabis diguyur hujan seharian.
Ariel bingung mau pergi kemana malam ini. Rencananya mau mencari kontrakkan kecil untuk tempat tinggalnya dan Galang nanti. Ariel tak mau lebih lama di rumah itu lagi, takut Wawan pulang dan mencegahnya pergi. Takut kalau Wawan kembali melakukan kekerasan padanya lagi. Sekali melawan, maka Ariel akan terus melawan. Pergi dari rumah adalah bentuk perlawanannya terhadap suami yang sudah 3 tahun dinikahinya tersebut.
Ariel berjalan menuju halte bus dan menunggu bus datang. Rencananya Ariel mau mencari kontrakan yang letaknya tak jauh dari rumah Om Bobby, agar ia bisa tetap menjaga Galang saat dirinya harus bekerja. Ariel mendengar Galang sedikit mengigau. Semula Ariel tersenyum namun saat melihat ada bulir keringat di kening Galang, senyum Ariel menghilang. Udara dingin namun Galang berkeringat, berarti ada sesuatu yang salah.
Ariel cepat-cepat memegang kening Galang. "Ya ampun, kamu demam, Nak. Bagaimana ini?" gumam Ariel.
Tak lama terdengar suara petir menggelegar dan disusul hujan lebat. Ariel terjebak di halte bersama Galang yang sedang demam. Ariel semakin bingung. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Ariel mencoba menghubungi Luna, sahabatnya. Ternyata Luna sedang pergi ke luar kota menemani suaminya tugas kantor. Ariel mencoba menghubungi Wening. Temannya tersebut sedang sibuk melayani sugar daddynya yang malam ini akan menginap di rumahnya.
"Maaf, Riel, Om-ku datang malam ini. Aku tak bisa mengijinkan kamu dan anakmu menginap karena akan mengganggu pekerjaannku nanti. Maaf ya!" kata Wening.
Hujan semakin deras saja mengguyur Jakarta. Halte yang sepi membuat Ariel makin bingung harus berbuat apa. Hari semakin malam. Udara semakin dingin. Tak ada bus yang lewat. Mau menerobos hujan, Ariel kasihan dengan Galang. Bisa tambah demam nanti. Yang terpenting, Ariel mau kemana? Tak mungkin pulang ke rumah orang tuanya, selain jauh juga Ariel tak mau membuat mereka sedih dengan keadaannya. Ariel mau mereka hanya tahu kalau dirinya bahagia hidup di Jakarta.
Satu-satunya tempat yang bisa Ariel tuju adalah rumah Om Bobby. Apakah Om Bobby akan mengijinkannya? Rasanya seperti tak tahu diri saja, sudah meminjam 30 juta eh sekarang Ariel malah mau membawa anaknya ikut serta. Malu. Meski bukan wanita baik-baik, Ariel kenal rasa malu. Tak mau memanfaatkan orang yang sudah baik padanya.
Di saat Ariel galau, suhu tubuh Galang semakin panas saja. Ariel harus membuat keputusan cepat. Om Bobby lagi-lagi yang ia hubungi di saat darurat.
"Malam, Om," kata Ariel melalui sambungan telepon.
"Malam, Riel. Ada apa malam-malam menelepon? Kamu ada dimana? Kok suara hujannya terdengar kencang sih?" tanya balik Om Bobby.
"Aku ... di halte, Om. Aku ...." Ariel tak kuasa menahan air matanya. "Anakku sakit, Om. Aku bingung mau kemana. Suamiku ... sudah menjatuhkan talak padaku."
Om Bobby yang sedang menonton TV langsung duduk tegak. "Kamu di halte mana?"
"Halte dekat rumahku, Om. Bagaimana ini, Om? Galang semakin demam." Ariel kembali terisak.
"Aku ke sana sekarang. Kamu jangan kemana-mana. Kirimkan alamatmu ya!" Om Bobby menyambar jaket hitam miliknya lalu pergi dengan mobil hitam kesayangannya.
Hujan semakin deras dengan petir kencang yang terdengar beberapa kali. Om Bobby pergi ke tempat yang sudah Ariel kirimkan alamatnya. Hujan yang deras membuat Om Bobby mengurangi laju kendaraannya karena jarak pandang yang terbatas.
Setengah jam kemudian, Om Bobby sampai di halte dimana ada Ariel sedang duduk sambil memeluk anaknya. Ada dua buah tas besar yang dibawa Ariel. Rupanya Ariel tak berbohong, dia memang sudah diceraikan oleh suaminya.
Om Bobby membunyikan klakson mobilnya. Ariel menoleh, ia menghapus air matanya lalu berdiri menyambut kedatangan Om kesayangannya.
Om Bobby keluar dari mobil dengan payung di tangannya. Dibukakannya pintu mobil agar Ariel bisa masuk. "Masuklah! Biar aku yang angkat barang-barangmu."
Ariel menurut. Dirinya dan Galang duduk di kursi depan sementara Om Bobby sibuk memasukkan barang-barang miliknya sebelum duduk di kursi pengemudi. "Kita langsung ke dokter saja ya!"
Tanpa menunggu jawaban Ariel, Om Bobby melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Om Bobby tak ingin terjadi sesuatu pada anaknya Ariel. Galang segera mendapat perawatan dokter. Beruntung Galang tak apa-apa, hanya demam karena cuaca dingin.
"Semua karena aku yang memaksa Galang pergi dari rumah malam-malam," kata Ariel menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu lagi, Riel. Yang terpenting, Galang sudah turun panasnya." Om Bobby berusaha menenangkan Ariel.
"Aku memang Mama yang bodoh, Om. Aku tak berpikir panjang. Aku hanya memikirkan diriku sendiri yang tak kuat lebih lama berada di rumah itu lagi. Aku bahkan tak tahu mau pergi kemana." Ariel menutup wajahnya dan kembali menangis.
"Menurutku, kamu itu seorang Mama yang pemberani, Riel. Aku yang belum lama mengenal kamu saja sudah tahu betapa kamu amat menyayangi anakmu. Apapun akan kamu lakukan demi anakmu. Wajar kalau pada akhirnya kamu tak kuat dan memilih pergi. Yang terpenting sekarang, Galang sudah boleh pulang, namun kamu tetap harus menjaganya agar tetap sehat. Masalah tempat tinggal ... kamu bisa tinggal di rumahku," kata Om Bobby dengan lembut.
"Di rumah Om? Aku ... akan merepotkan Om saja nanti, anakku masih 2 tahun, dia pasti akan membuat Om pusing dengan tangisan dan ulahnya. Papanya saja tak tahan, bahkan sampai tega mengatainya." Ariel kembali meneteskan air matanya. Sakit sekali membayangkan hinaan yang dilontarkan Wawan pada anaknya.
"Tak apa. Rumahku besar dan hanya aku seorang yang tinggal di sana. Bagiku, mendengar suara ramai karena ocehan dan tangisan anak kecil lebih baik daripada mendengar suara detak jarum jam, terasa sunyi sekali. Setelah infusan Galang habis, kita pulang. Aku akan mengurus biaya administrasi dulu ya!" Om Bobby berdiri dan mengusap lembut rambut Ariel. Senyumnya membuat Ariel tenang.
"Terima kasih banyak, Om. Tanpa Om, aku tak tahu harus pergi ke mana. Om seperti malaikat pelindungku," kata Ariel dari hati terdalam.
"Malaikat apa? Tak ada malaikat sejahat aku? Aku urus administrasi dulu!" Om Bobby pun pergi meninggalkan Ariel dan Galang.
Ariel menatap punggung tegap Om Bobby. "Terima kasih, Om," ucap Ariel pelan.
Ariel mengusap rambut Galang yang tertidur pulas sehabis diberi obat oleh dokter. "Nak, kita tinggal di rumah Om dulu ya untuk sementara. Jangan nakal, Nak. Om Bobby adalah malaikat penolong kita."
Tak lama Om Bobby kembali setelah membayar biaya pengobatan. "Riel, ayo! Kita pulang!"
"Iya, Om."
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Anonymous
Bagus sih tpi terlalu lebay kata katanya
2024-06-13
2
Agung Antarini
aq sukaaaaa Thor ceritanya..
lanjut... semangat 👍👍💪💪
2023-11-10
3
Berdo'a saja
setelah Wawan sadar apa yang akan dilakukan
2023-11-02
0