Sebuah Kata Talak

Ariel pulang kerja dengan raut wajah bahagia. Pekerjaannya hari ini sangat ringan, hanya membacakan cerita untuk Om Bobby lalu membuatkan masakan sederhana untuk makan siang Om kesayangannya tersebut. Uang lima ratus ribu rupiah sudah di tangan Ariel. Betapa beruntungnya Ariel mendapatkan pekerjaan ini, gajinya lumayan besar, menjadi pembantu saja gajinya tidak akan sebesar ini.

Tak lupa Ariel menabung sebagian besar uang miliknya melalui ATM setoran tunai. Ariel tersenyum melihat pundi-pundi uang yang ia kumpulkan. Sedikit demi sedikit Ariel yakin tabungannya akan banyak. Uang tersebut akan dipakai untuk biaya hidupnya nanti jika sudah berpisah dengan Wawan. Tak lupa Ariel menyembunyikan ATM miliknya dari Wawan. Jangan sampai suaminya tahu kalau Ariel punya uang simpanan, bisa diambil lagi seperti kalung dan gelangnya dulu.

Sesampainya di rumah, Wawan yang tidak bekerja sudah menjemput Galang. Wawan menatap Ariel dengan tatapan bersalah. Ariel tidak menanggapi Wawan. Dia masih kesal dan tangannya masih terasa sakit terkena cengkramannya. "Kamu sudah pulang, Riel?" tanya Wawan.

"Ya," jawab Ariel dengan singkat.

"Sudah lama kamu bekerja di sana?" tanya Wawan lagi.

"Belum lama. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Ibu kamu. Aku hanya beberapa kali menitipkan Galang selama aku bekerja." Ariel menjawab dengan dingin. Ia tak sekalipun menatap balik Wawan yang terus melihatnya sibuk mondar-mandir membereskan rumah.

"Mas sudah memikirkan matang-matang, kalau kamu mau bekerja, ya bekerja saja. Selama tidak mengganggu tugas dan kewajiban kamu sebagai seorang istri, Mas ijinkan," kata Wawan yang terlihat menyesal sudah terbawa emosi.

"Iya." Ariel tetap bersikap dingin. Hatiya sudah mati rasa terhadap Wawan.

****

Ariel tak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk bekerja di rumah Om Bobby karena Wawan sudah mengijinkan. Ariel menitipkan Galang ke rumah mertuanya dan tak lupa membawakan sesuatu untuk mertuanya tersebut sebagai bayaran karena sudah menjaga anaknya selama ia bekerja.

Wawan juga sudah lama tidak berbuat ulah, mungkin karena terus Ariel acuhkan. Sayangnya, malam ini Wawan kembali pulang telat. Wawan datang dalam keadaan mabuk. Tubuhnya sangat bau alkohol. Ariel sampai menutup hidungnya karena tak tahan dengan bau alkohol yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Pasti Wawan kalah judi lagi.

"Ariel, istriku tersayang! Istriku yang kini menjadi babu di rumah orang. Bagaimana, kamu senang bekerja menjadi seorang babu?" Wawan mengoceh seenaknya selama dia mabuk. Ia tak sadar kalau perkataannya sangat menyakiti hati Ariel.

"Ariel sayang, berapa sih gaji kamu selama menjadi babu? Apakah lebih besar dari uang bulanan yang aku berikan?" Wawan tertawa puas seakan dirinya yang lebih hebat.

Ariel tersenyum mengejek perkataan Wawan. "Jelas dapat lebih besar dari uang yang kamu berikan, Mas. Kamu pikir uang seratus ribu selama seminggu itu cukup? Uang gaji kamu lumayan besar sebenarnya, Mas. Mana uang gaji kamu? Semua habis untuk judi dan minuman keras. Bagaimana dengan aku dan Galang? Apa kamu pernah peduli? Enggak pernah! Kalau aku tidak bekerja, bagaimana dengan masa depan Galang?"

Wawan bertepuk tangan mendengar perkataan Ariel. "Wow, hebat sekali istriku sekarang. Sudah bisa ceramah dia! Mentang-mentang sekarang sudah punya pekerjaan, merasa dirinya hebat gitu? Kalau hebat, kenapa kamu tidak melamar pekerjaan di perusahaan saja sana? Kamu 'kan sarjana, kenapa malah jadi babu? Oh iya, aku lupa. Kamu 'kan bodoh ya. Nilai IPK kamu saja jelek karena kamu terlalu sibuk menjual diri untuk bayar kuliah. Kasian sekali nasib si bodoh ini!" Wawan kembali menertawakan Ariel sambil mengacak rambut Ariel dengan asal.

Ariel menepis tangan Wawan. Ariel lalu menghapus air mata yang tak kuasa ia tahan. Lagi-lagi dirinya dihina karena masa lalunya. Mana lelaki yang katanya menerima Ariel apa adanya? Pembohong! Sekarang dirinya malah dihina terus menerus karena masa lalu kelamnya.

Ariel berdiri dan hendak masuk ke dalam kamar namun tangan Wawan menariknya sampai duduk kembali. "Mau kemana kamu? Suami lagi bicara itu di dengar! Mentang-mentang kamu bodoh, mendengarkan suami saja kamu tak mau! Mana uang gaji kamu? Aku minta! Aku mau merasakan uang gaji babu buat beli minuman!"

"Sudah menghinaku, sekarang kamu mau mengambil uangku? Jangan harap, Mas!" Ariel cepat-cepat merekam semua yang terjadi. Ia menaruh ponsel miliknya di tempat yang aman untuk dijadikan bukti.

"Heh, pelit sekali kamu. Kayak gajimu banyak saja!" Mata Wawan tiba-tiba tertuju pada tas hitam milik Ariel. Ariel lupa menaruh tas miliknya. Ia sibuk menyuapi Galang tadi. "Coba aku lihat uangmu!"

"Mau apa kamu, Mas?" Ariel berusaha menyelamatkan uang miliknya. Hari ini hujan terus mengguyur kota Jakarta, Ariel memutuskan langsung pulang dan belum sempat memasukkan uang pemberian Om Bobby ke rekeningnya. Gawat kalau Wawan merebutnya.

Tangan Wawan dengan cepat meraih tas hitam milik Ariel. Tak mau uang hasil bekerjanya dirampas begitu saja, Ariel melawan. Ia merebut tas miliknya. Terjadi aksi tarik menarik tas.

"Minggir, aku bilang!"

"Enggak, Mas. Ini tasku!"

"Dasar istri pembangkang! Apa yang suami bilang tuh nurut!"

"Enggak mau! Aku enggak mau nurut sama suami yang tukang mabuk dan seenaknya macam kamu, Mas! Kembalikan tasku!" balas Ariel tak mau kalah.

"Apa?" Wawan menatap Ariel dengan tatapan tajam. "Kamu tak mau jadi istriku, hah? Oke, aku talak kamu! Baru jadi babu saja sudah belagu!"

Wawan mendorong Ariel dengan kasar sampai Ariel menabrak lemari plastik milik Galang. Ariel merasakan sakit di lengan dan punggungnya yang membentur lemari.

Wawan membuka tas Ariel dan mengambil dompet miliknya. Dibukanya dompet tersebut, mata Wawan berbinar melihat uang lima ratus ribu di dalamnya. "Wah ... baru gajian ya? Pantas tak mau aku lihat."

Wawan mengambil semua uang Ariel dan memasukkannya ke saku celana. "Lumayan, bisa beli minuman lagi nih!"

"Kembalikan, Mas! Itu uangku!" kata Ariel sambil menahan sakitnya.

"Jangan harap! Kerja lagi sana yang rajin, biar aku bisa membeli minuman ha ... ha ... ha ...." Wawan tertawa puas lalu pergi meninggalkan rumah.

Hati dan tubuh Ariel sangat sakit dengan perlakuan Wawan. Ariel berdiri dan mematikan rekaman ponselnya. Air mata tak kuasa Ariel tahan. "Akhirnya, aku ditalak cerai juga. Apakah ini yang namanya cinta? Di awal manis, penuh janji-janji dan berakhir dengan sakit hati?"

Ariel pergi ke kamar dan menatap Galang yang tertidur pulas. Galang tak tahu apa yang menimpa Mamanya. Galang tak tahu betapa Mamanya sangat sakit hati dan menderita. "Nak, kita pergi saja ya. Rumah ini sudah bukan rumah lagi untuk kita. Tak ada kebahagiaan lagi di rumah ini untuk kita. Mama akan berusaha sekuat tenaga agar kamu bisa hidup dengan baik. Ayo, kita pergi, Nak! Mama percaya di luar lebih baik daripada di rumah ini."

****

Hi semua! Yuk bantu aku kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ ya 🥰🥰🥰

Terpopuler

Comments

iin

iin

Kasih uang belanja 100rebu seminggu aja bangga 😏

2024-03-14

3

Arohi Sharma

Arohi Sharma

mungkin karena ini cerita,kl aku dah aku siram wajahx dengan air satu teko

2023-11-29

0

Wkwkwkk

Wkwkwkk

semoga kau aman " saja reil

2023-11-23

0

lihat semua
Episodes
1 Om Bobby
2 Berubah Saat Mabuk
3 Butuh Uang
4 Om Puas Tak Apa Aku Lemas
5 Mahar Yang Dirampas
6 Mencari Pinjaman Uang
7 Bayaran Atas 30 Juta
8 Kecurigaan Wawan
9 Sebuah Kata Talak
10 Ayo Kita Pulang!
11 Membalas Kebaikan Om Bobby
12 Sidang Perceraian
13 Masih Loyo
14 Jalan-jalan Bersama Om
15 Kita Sama
16 Pesta Terkutuk
17 Tamu Tak Diundang
18 Bujuk Rayu Anak Nakal
19 Bujuk Rayu Om Sam
20 Antara Rindu dan Amarah
21 Menjemput Galang
22 Kisah Masa Lalu Om Bobby
23 Om Bobby Yang Hangat
24 Pengaruh Ucapan Om Sam
25 Mimpi Yang Terasa Hampa
26 Bapak dan Ibu Ariel
27 Menceritakan Kisah Masa Lalu
28 Tangisan Pilu Bapak
29 Merindukan Galang
30 Kedatangan Om Bobby
31 Menerima Tantangan
32 Wedding Day
33 Si Joni
34 Anak Siapa Itu?
35 Sentuhan Demi Sentuhan
36 Pekerjaan Om Bobby
37 Pijatan Super Nyaman
38 Om Puas Aku Lemas
39 Tanggung Jawab Membangunkan Joni
40 Joni Joni Yes Papa
41 Kekesalan Om Bobby
42 Anak Om Bobby
43 Sakit
44 Syuting Iklan
45 Menyambut Kepulangan Om Bobby
46 Menunaikan Janji
47 Latihan Akting
48 Syuting di Kebun Teh
49 Sebuah Penolakan
50 Menilai Kejujuran
51 Nasehat Seorang Sahabat
52 Lelakiku
53 Ulah Joni
54 Kemeja Om Bobby
55 Bertemu Adik Ipar
56 Prisa
57 Ariel si Sumbu Pendek
58 Kami Berbeda!
59 Tentang Lisa
60 Maaf
61 Gaya Baru
62 Nyonya Besar
63 Si Pedas Prisa
64 Mama Tita
65 Masa Lalu Yang Terkuak
66 Pelukan Menenangkan
67 Kemarahan Om Bobby
68 Si Pantang Menyerah
69 Joni yang Bereaksi
70 Bukan Nenek Sihir
71 Berjualan di Bazar
72 Si Bule Jualan
73 Penghinaan Tanpa Henti
74 Tangisan Penyesalan Ariel
75 Terima Kasih Prisa
76 Rengekan Galang
77 Ibu-ibu Arisan
78 Didatangi Warga
79 Menambah Kerusuhan
80 Bantahan
81 Malaikat Penolong Yang Sebenarnya
82 Tercengang
83 I Love You My Husband
84 Sayang Om Papa
85 Penyesalan
86 Membahagiakan Mama Ariel
87 Selamanya Tak Akan Merestui
88 Belajar Menjadi Pebisnis
89 Menjadi Manusia Yang Bermanfaat
90 Kangen Kamu
91 Berita Gembira
92 Kedatangan Mama Tita
93 Sikap Keras Mama Tita
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Om Bobby
2
Berubah Saat Mabuk
3
Butuh Uang
4
Om Puas Tak Apa Aku Lemas
5
Mahar Yang Dirampas
6
Mencari Pinjaman Uang
7
Bayaran Atas 30 Juta
8
Kecurigaan Wawan
9
Sebuah Kata Talak
10
Ayo Kita Pulang!
11
Membalas Kebaikan Om Bobby
12
Sidang Perceraian
13
Masih Loyo
14
Jalan-jalan Bersama Om
15
Kita Sama
16
Pesta Terkutuk
17
Tamu Tak Diundang
18
Bujuk Rayu Anak Nakal
19
Bujuk Rayu Om Sam
20
Antara Rindu dan Amarah
21
Menjemput Galang
22
Kisah Masa Lalu Om Bobby
23
Om Bobby Yang Hangat
24
Pengaruh Ucapan Om Sam
25
Mimpi Yang Terasa Hampa
26
Bapak dan Ibu Ariel
27
Menceritakan Kisah Masa Lalu
28
Tangisan Pilu Bapak
29
Merindukan Galang
30
Kedatangan Om Bobby
31
Menerima Tantangan
32
Wedding Day
33
Si Joni
34
Anak Siapa Itu?
35
Sentuhan Demi Sentuhan
36
Pekerjaan Om Bobby
37
Pijatan Super Nyaman
38
Om Puas Aku Lemas
39
Tanggung Jawab Membangunkan Joni
40
Joni Joni Yes Papa
41
Kekesalan Om Bobby
42
Anak Om Bobby
43
Sakit
44
Syuting Iklan
45
Menyambut Kepulangan Om Bobby
46
Menunaikan Janji
47
Latihan Akting
48
Syuting di Kebun Teh
49
Sebuah Penolakan
50
Menilai Kejujuran
51
Nasehat Seorang Sahabat
52
Lelakiku
53
Ulah Joni
54
Kemeja Om Bobby
55
Bertemu Adik Ipar
56
Prisa
57
Ariel si Sumbu Pendek
58
Kami Berbeda!
59
Tentang Lisa
60
Maaf
61
Gaya Baru
62
Nyonya Besar
63
Si Pedas Prisa
64
Mama Tita
65
Masa Lalu Yang Terkuak
66
Pelukan Menenangkan
67
Kemarahan Om Bobby
68
Si Pantang Menyerah
69
Joni yang Bereaksi
70
Bukan Nenek Sihir
71
Berjualan di Bazar
72
Si Bule Jualan
73
Penghinaan Tanpa Henti
74
Tangisan Penyesalan Ariel
75
Terima Kasih Prisa
76
Rengekan Galang
77
Ibu-ibu Arisan
78
Didatangi Warga
79
Menambah Kerusuhan
80
Bantahan
81
Malaikat Penolong Yang Sebenarnya
82
Tercengang
83
I Love You My Husband
84
Sayang Om Papa
85
Penyesalan
86
Membahagiakan Mama Ariel
87
Selamanya Tak Akan Merestui
88
Belajar Menjadi Pebisnis
89
Menjadi Manusia Yang Bermanfaat
90
Kangen Kamu
91
Berita Gembira
92
Kedatangan Mama Tita
93
Sikap Keras Mama Tita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!