"Win...!" panggilan tiba-tiba dari samping mejanya membuat Winda yang sedang menyeruput kopi itu menyemburkan kembali kopi panas yang belum masuk sempurna dalam tenggorokannya.
"Dih bapak, bikin kaget aja!" sahut Winda sambil melirik jam digital yang terletak di meja kerjanya.
"Masuk ke ruangan saya!" titah Satria dingin.
Winda ingin melayangkan protes karena jam baru menunjukkan pukul tujuh lebih sedikit yang artinya belum dimulainya jam kantor.
Tapi apa boleh buat karena perintah atasan, suka tidak suka Winda harus mentaatinya dan tak mempedulikan juga wajahnya yang masih polos belum tersentuh make up sedikitpun.
"Ada apa pak?" tanya Winda penasaran karena setahunya Satria biasa tiba di kantor ketika jam kerja telah dimulai, jarang sekali bosnya itu datang lebih awal atau kepagian seperti ini kalau tak ada sesuatu yang penting.
"Tolong kamu membantu Sinta adik saya untuk mencari barang untuk seserahan." titah Satria sambil membuka laptop di mejanya.
"Seserahan? Buat apaan pak?" tanya Winda kaget dengan perintah Satria..
"Kamu tahu seserahan kan Win?" tanya Satria menatap Winda dengan tatapan dingin serta alis yang dinaikkan.
"Ya tahu pak, seserahan kan buat orang menikah? Tapi ini seserahan buat siapa? Kok bapak suruh saya yang bantu nyari?" muka Winda semakin bingung melihat bosnya mengetatkan rahang, kesal dengan pertanyaan Winda yang tak berfaedah.
"Saya kan tadi bilang ke kamu suruh hubungi Sinta adik saya, kenapa masih tanya sih!?" sahut Satria dingin.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Winda memilih keluar, karena bertanya lebih lanjut kepada Satria bukannya mendapat jawaban justru membuat Winda semakin naik darah.
Sambil buru-buru mengulas make up di wajahnya, Winda langsung menghubungi Sinta.
"Hallo mbak Sinta, maaf mengganggu waktunya."
"__"
"Iya mbak, saya diperintahkan pak Satria untuk koordinasi dengan mbak Sinta masalah seserahan, saya bingung seserahan buat siapa, nanya bapak malah saya diomelin."
"__"
"Yang bener mbak, jadi pak Satria yang mau menikah?" tanya Winda exited.
"__"
"Bapak menikah sama siapa? Kok selama ini saya nggak pernah dengar beliau pacaran?" tanya Winda dengan suara dipelankan karena permintaan Sinta barusan agar pernikahan kakaknya jangan bocor dulu kemana-mana.
"__"
"Oh sama mbak Gelsey." Winda mengangguk-angguk paham.
"__"
"Iya mbak pernah dateng ke kantor waktu itu."
"__"
"Cantik mbak, keliatannya sih baik."
"__"
"Ya udah saya tunggu info selanjutnya ya mbak, selamat pagi selamat beraktivitas."
Sementara di ruang kerjanya Satria memejamkan mata, mengusir rasa pusing di kepalanya, jalan hidupnya ternyata selucu ini, kenapa dulu bukannya Sinta saja yang dinikahkan sama Gavin atau Giorgino, kalo Baskoro dan Bramenda ingin menjadi besan.
"Ah sial!" maki Satria kesal.
Lalu dengan kepala yang siap meledak, Satria mulai membaca satu persatu laporan dari cabang yang masuk melalui emailnya.
Bahkan saking seriusnya, Satria tak memperhatikan Winda yang keluar masuk ruangannya mengantarkan kopi dan beberapa map berisi dokumen yang harus ia tanda tangani.
Akhirnya dengan nafas lega Satria menutup laptopnya dan terperangah melihat tumpukan map yang ada di ujung sebelah kanan meja kerjanya.
Dengan gusar Satria mendial nomor extension Winda." Sini Win!" dan langsung meletakan gagang telepon dengan kasar.
"Bapak manggil saya?" tanya Winda sopan.
"Ini kenapa kamu tumpukin di sini semua sih Win?" tanya Satria dengan wajah sangar.
"Lho tadi kan saya tanya ke bapak, kata bapak heh heh aja pak." Winda menirukan kata-kata Satria ketika dirinya meminta ijin meletakkan map-map tersebut.
"Saya kan udah bilang sortir dulu Win, jangan semua dimasukin ke ruangan saya!"
"Itu udah saya sortir pak, semua urgent harus ditandatangani bapak secepatnya," kilah Winda tak mau disalahkan.
"Emang itu apa?" tanya Satria kesal karena dari tadi Winda menjawab perkataannya terus.
"Gaji karyawan pusat dan cabang, pembayaran tukang untuk Bali dan Surabaya, pembelian bahan baku impor untuk resto.... " jawaban Winda dipotong dengan gusar oleh Satria.
"Udah udah... kamu ngapain bacain satu-satu!" dengus Satria sambil mengambil map teratas, membacanya sebentar lalu membubuhkan tanda tangan disana.
Sambil mengerucutkan bibir Winda berujar."Saya tunggu di luar saja ya pak," ijin Winda.
"Siapa yang nyuruh kamu keluar?! Duduk!" titah Satria dingin sambil menunjuk kursi di depannya.
Astaga... dengan gerakan pelan tanpa diketahui oleh Satria, Winda mengelus dadanya pelan, rasanya ingin menjedotkan kepala Satria ke tembok untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Winda paham mood si boss lagi tidak baik-baik saja, lebih baik dia tidak lagi membantah dan mempersiapkan diri untuk menerima perkataan julid dari Satria hari ini.
"Kenapa kamu kayak orang bengek begitu?" Tuh kan suara intimadasi itu kembali terdengar jelas di telinga Winda, padahal Winda bernafas seperti biasa, bahkan mencoba bernafas sejarang mungkin.
Alih-alih menjawab Satria, Winda hanya melemparkan senyum manisnya, senjata ampuh yang membuat Satria terdiam.
Setelah berkas itu selesai ditandatangani, Winda langsung membawa setumpuk map itu keluar.
Teman dari departemen lain sudah menunggunya di depan meja kerjanya.
'Win, kok dokumenku belum dimasukin ke bapak?" tanya Siska protes melihat mapnya masih teronggok cantik di meja kerja Winda.
"Yaelah satu-satu kali Sis, ini gue masukin yang urgent dulu," jawab Winda lalu membagikan map yang telah ditandatangani itu ke masing-masing pemiliknya.
"Ini juga urgent lho Win, buat bayar ke intansi terkait!" ketus Sisca dari bagian accounting itu manyun.
"Eh iya besok jatuh tempo ya, maaf ya Sis, gue lupa, bentar gue masukin lagi."
"Gimana sih! Kayak baru kerja kemarin aja!" bentak Sisca kesal.
"Eh Sis, lo kalo ngomong di filter ya, kalo lo mau masukin aja sendiri ke dalem sono, mumpung bapaknya lagi angot!" balas Winda tak terima ditegur seperti itu.
"Sabar Win," tegur teman yang lain.
"Kalian tuh nggak tahu kalo bapak lagi angot marahnya tuh seberapa serem, ini udah gue pilah-pilah, kalo ada yang miss ya harap maklum, bapak juga nggak mau dokumen ditumpukin di mejanya semua!" Lanjut Winda melampiaskan rasa kesalnya karena sejak tadi dijutekin sama Satria.
"Win udah Win!"
"Kalian berdoa aja, semoga pawangnya bisa menjinakkan bos kalian itu!" ucap Winda lagi.
"Emang siapa pawang saya?!" suara bariton di belakang Winda membungkam semua orang yang berada disana termasuk Winda yang langsung tegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Rien
sabar sat sabar
2023-08-22
1