Pulang clubbing dengan keadaan mabuk parah, membuat Gelsey tak berani untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Alhasil bersama kedua sahabatnya Caca dan Arumi, akhirnya mereka memilih menginap di apartemen pribadi Gelsey yang diberikan kepada gadis itu sebagai hadiah ulang tahun yang ke tujuh belas.
"Asli gue sebenarnya harus pulang nih Ca," ucap Arumi memulai percakapan setelah mereka berada di dalam apartemen.
"Kenapa? Bukannya bokap lo lagi berada di Jepang sekarang?" tanya Caca bingung.
"Emang bokap gue di Jepang, tapi sekarang doi punya CCTV hidup di rumah," jawab Arumi.
"Tukang ngadu?" tebak Caca santai.
"Iya.... asyem.... nyebelin!" maki Arumi kesal.
"Kenapa sih tuh para ortu gitu amat ama kita yak? Bukannya kalo dikekang kayak gini bikin kita tambah liar, susah diatur," gerutu Caca kesal, jujur belakangan hari dia lagi bete bin kesel sama papanya yang selalu kebanyakan aturan, ini itu selalu dilarang, padahal Caca merasa dia bisa jaga diri.
"Apalagi gue Ca, rasanya seperti hidup dalam penjara, mana bokap gue disiplin banget lagi, udah gitu mulai bulan kemarin uang jajan gue dipotong, katanya buat dimasukin ke investasi buat masa depan gue, cihh." Desis Arumi kesal.
"Iya heran, untung si monyet baik banget, nggak sayang duit ama kita, jadi kita bisa keluar masuk kayak ginian nggak perlu mikir keluar duit berapa."
"Tapi lama-lama nggak enak juga kali Rum, gue juga mau ngurangin keluar malemnya, bokap gue semakin sadis sekarang," gerutu Caca kesal.
"Yang gue heran tuh si Gelsey kok nyantai aja ya hidupnya? Dugem, mabok, ngabisin duit.... " Ucapan Arumi terpotong oleh ucapan Caca yang emosi.
"Dia nge dablek Rum, bokapnya aslinya udah empet kali, wong waktu itu pas gue anterin pulang, gue ketemu bokapnya aja mukanya serem, nih bocah aja yang nggak ada takutnya, bener-bener bocah sableng!" maki Caca emosi, lalu keduanya menatap Gelsey yang sudah terlelap dalam tidurnya.
***
Keesokan harinya.
Gelsey membuka mata, kepalanya terasa berat dan berdenyut, dia sudah tak mendapati kedua sahabat di dalam ruangan, karena sejak subuh tadi Caca dan Arumi sudah berjalan pulang ke rumah masing-masing.
Dengan tubuh sempoyongan, Gelsey berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air dingin dari dalam kulkas.
Dia tenggak air putih itu dengan rakus karena tenggorokan yang terasa terbakar efek kebanyakan minum alkohol semalam.
Setelah dirasa cukup kuat dan pening di kepala sedikit mereda, Gelsey memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Perjalanan yang tak begitu lama karena jarak keduanya yang tak begitu jauh, akhirnya Gelsey sampai juga di depan gerbang rumah megah tersebut.
Pak Satpam yang tak lain mang Udin membuka gerbang tinggi tersebut untuk sang nona muda, membiarkan mobil mungil berharga fantastis itu melaju pelan menuju garasi.
Turun dari mobil, Gelsey berjalan dengan mengedap dari dalam garasi menuju rumah utama, Gelsey mencoba tak menimbulkan suara agar papa dan mamanya tak memergoki kedatangannya.
"Dari mana Gel?" suara bariton sang papa mengintrupsi langkahnya.
"Eh papa," sahut Gelsey santai dan berjalan menghampiri sang papa dan mendaratkan ciuman di pipi pria setengah baya itu.
"Jam segini baru pulang darimana aja?" tanya Bram lagi.
"Dari apartemen pa," jawab Gelsey sambil duduk berhadapan dengan Bram di ruang makan tersebut.
"Kenapa nggak pulang?" cecar Bram dingin, dan percayalah kalau orang lain yang diajak bicara seperti ini pasti mereka akan gemeteran karena takut, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Gelsey.
Gadis itu tetap tenang bahkan terkesan cuek dengan suara dingin dan mengintimidasi dari sang papa.
Tak ada yang bersuara, lalu terdengar langkah kaki Heidi berjalan mendekat menghampiri suami dan anaknya yang tampangnya terlihat akan terjadi perang.
"Sampai kapan kamu kayak gini? Susah banget ya dengerin nasihat papa mama? Kamu mau jadi apa nanti kalo setiap hari keluyuran, clubbing, mabuk-mabukan," ucap Bram menatap Gelsey dengan aura tajam.
"Papa apaan sih, nggak bosen apa tiap hari ngomongin itu lagi itu lagi!" sahut Gelsey ketus.
"Gel.... " bujuk mamanya lembut agar anaknya tak membantah perkataan Bram yang sedang emosi tingkat tinggi itu.
"Aku tuh masih muda, waktunya main-main, kalo nanti aku udah dewasa juga mikir sendiri, berhenti sendiri!"
"Kamu tuh udah dua puluh tahun Gel, kalo nggak mulai sekarang kapan lagi kamu mikirin masa depan kamu!" bentak Bram dengan suara menggelegar.
"Aelah ribet banget sih baru juga umur segitu," celetuk Gelsey santai.
"Astaga anak ini!" sahut Bram pelan sambil memijit keningnya yang mulai berdenyut.
"Pa... " Heidi mengusap lengan suaminya pelan, Bram punya darah tinggi dan tak ingin sang suami kolaps lagi karena stress memikirkan tingkah laku anak bungsunya ini.
"Kalo kamu masih seperti ini terus, jangan salahin papa kalo papa beneran menikahkan kamu dengan Satria!" ucap Bram dingin.
"What! Menikah! Sama siapa?!" teriak Gelsey panik.
"Iya biar kamu tahu artinya tanggung jawab dan berubah dari kelakuan kamu yang minus itu," jawab Bram santai lalu berniat beranjak dari sana.
"Aku nggak mau pa!" teriak Gelsey marah.
"Papa nggak minta pendapat kamu!" ketus Bram lalu pergi dari tempat itu dan menuju ruang kerjanya.
"Mama.... " rengek Gelsey memelas.
Heidi hanya memeluk Gelsey dengan erat, di rumah ini keputusan Bramenda adalah keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
"Masak aku mau dinikahkan sih ma, aku kan masih muda," rengek Gelsey dengan memeluk pinggang mamanya erat.
"Ma.... tolong bilangin papa dong ma, aku nggak mau nikah muda," rengek Gelsey lagi dengan muka memelas.
"Ma.... mama jangan diem aja dong ma," tangisan Gelsey mulai pecah karena panik dengan rencana sang papa tadi.
"Kamu masuk kamar dulu ya nak, biar mama bicara sama papa," bujuk Heidi lembut yang langsung dituruti oleh Gelsey.
Gadis itu berjalan terseok menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah tersebut, sedang Heidi berjalan menuju ke ruang kerja suami.
Sebagai seorang ibu, Heidi tidak setuju dengan rencana Bram menikahkan Gelsey dengan Satria.
Satu hal yang ditakutkan Heidi, jika pernikahan keduanya akan berakhir dengan perceraian kalau dipaksakan seperti ini, apalagi mengingat umur Gelsey yang belum cukup umur tersebut, serta kesiapan mental Gelsey yang belum siap untuk menikah.
Agaknya bujukan Heidi ke Bram saat ini akan menemui jalan yang terjal dan berliku karena suaminya itu tipe suami yang tidak bisa dibantah apalagi kalau keputusan itu sudah final ia ambil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments