Bramenda berjalan hilir mudik di teras rumahnya dengan perasaan gusar, sudah hampir jam tiga subuh tapi putri kesayangannya itu belum juga menampakkan hidungnya.
Pria berumur lima puluh tahunan itu bangkit dari duduknya ketika mendengar suara mobil memasuki garasi.
Dia berdiri dengan berkacak pinggang melihat Gelsey berjalan sempoyongan dengan dipapah Caca.
"Kenapa dia Ca?" tanya Bram dengan suara datar.
"Um..... um.... dia.... anu om," jawab Caca kebingungan mencari kata yang tepat, agak kesal sama papanya Gelsey, udah tahu anaknya mabuk eh pakai nanya segala.
Tanpa basa-basi lagi, Bram mengambil alih tubuh Gelsey dari tangan Caca dan dengan cekatan menggendong Gelsey ala bridal style.
"Makasih ya Ca, kamu mau diantar supir atau bawa mobil Gelsey untuk pulang?" tanya Bram sebelum menghilang ke dalam rumah.
"Saya bawa mobil Gelsey aja deh om," jawab Caca cepat, berharap segera pergi dari hadapan Bram yang auranya selalu terlihat sangat mengintimidasi.
Bramenda mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah membawa Gelsey dalam gendongannya.
Gelsey membuka matanya pelan." Eh.... pacar aku kok berubah tua sih," kicau Gelsey sambil mengelus rahang sang papa dengan gerakan sen*ual.
Caca yang mendengar samar-samar ucapan Gelsey hanya mampu menarik nafas dalam, rasanya ingin menjedotkan kepala gadis itu ke tembok biar bisa berfikir bener.
Bramenda mendengus kasar melihat anak gadisnya mengoceh dengan kata-kata aneh dan mencium aroma alkohol yang menyengat menguar dari bibir tipis sang anak.
"Dasar anak kurang ajar!" maki Bramenda kesal.
"Eh kok suaranya mirip Bramenda papa gue, padahal mukanya muka Rico," cerocos Gelsey dengan mata ketap-ketip.
"Gelsey kenapa pa?" Heidi mamanya Gelsey keluar dari kamar mendengar suaminya mengomel tak jelas tadi.
"Biasa mabok! Heran aku, sampai kapan sih dia bisa berubah, perasaan dulu kakak-kakaknya melewati masa remajanya nggak kayak dia gini!" omel Bram sambil memasuki kamar Gelsey.
"Jangan suka banding-bandingin anak pa, mereka kan kepribadiannya berbeda satu sama lain," tegur Heidi tak terima, anak kesayangannya dicap seperti ini.
"Ini nih yang bikin dia semakin bandel, kamu belain dia terus!" omel Bramenda kesal.
Heidi hanya mampu terdiam, tak mungkin melawan ucapan suami yang memang benar adanya, dia sebagai ibu sering kali tak bisa tegas khususnya kepada Gelsey.
"Hoek.... hoek..... " Belum juga tubuh Gelsey dibaringkan di atas tempat tidur, gadis itu tiba-tiba muntah di dada sang papa.
Heidi shock melihat kelakuan Gelsey, memijat pelipisnya dengan frustasi, lalu melirik sekilas ke suaminya yang wajahnya tampak kesal itu.
Dengan emosi yang ada di atas ubun-ubun, Bram melempar anak gadisnya itu di atas ranjang, sumpah serapah terdengar dari bibir Bram.
Dengan cemberut Heidi menegur suaminya." Papa ih, masak anak dilempar kayak karung beras?!"
"Anak kurang ajar!" Lalu dengan langkah lebar dia keluar dari kamar Gelsey.
Belum juga Bram menghilang di balik pintu, Gelsey berdiri di atas tempat tidurnya, dengan wajah garang dia menunjuk sang mama.
"Mama selingkuh sama pacar aku?" teriak Gelsey lantang.
Heidi terpaku sesaat, lalu menarik tangan Gelsey agar kembali berbaring di atas ranjang.
Dengan kasar Gelsey menepis tangan Heidi, lalu kembali berteriak," Mama nggak takut sama suami mama? Bramenda tuh galak ma!"
Dengan menghela nafas kasar, Heidi menarik tangan Gelsey yang langsung terjerembab ke atas tempat tidurnya, sambil gadis itu terus mengoceh dengan kata-kata tidak jelas.
Heidi menatap suami dengan rasa tak enak di hati, merutuki mulut Gelsey yang suka bicara sembarangan kalau sedang mabuk.
Tak lagi ingin berada disana, Bram melangkah meninggalkan kamar Gelsey, lalu memasuki kamar pribadinya.
Selepas kepergian Bram, Heidi melepas semua baju Gelsey dan menggantinya dengan baju bersih, mengelap wajah anaknya dengan air hangat, lalu menyelimuti tubuh Gelsey dengan selimut.
Heidi menyusul Bram yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mereka, si suami tampak menatap kegelapan malam dari balkon.
Banyak hal yang ia pikirkan, jujur sebagai orang tua Bram merasa gagal mendidik Gelsey, sementara kedua anak lelakinya Gavin dan Georgino justru sudah bisa mandiri dan sukses di umur mereka yang masih muda itu.
"Pa.... " panggil Heidi lembut.
Lalu 'slep' perempuan setengah abad yang masih terlihat cantik itu memeluk suaminya dari belakang.
"Aku pusing ma, rasanya aku gagal jadi papa yang baik untuk Gelsey," ucap Bram lirih, sambil tangannya menggenggam tangan Heidi yang berada di perutnya.
"Sabar pa, namanya anak lagi cari jati diri," sahut Heidi sambil mencium punggung suami yang begitu ia cintai itu.
"Aku takut ia jatuh dalam pergaulan bebas ma, bagaimana kalo dia sampai.... " Bram tak melanjutkan ucapannya, rasanya ketakutannya saat ini benar-benar telah mencengkeram hatinya.
Ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.
***
Paginya..... sengaja Bram tak berangkat ke kantor untuk mengkonfrontasi kelakuan Gelsey semalem.
Sementara waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang, dan anak gadisnya itu belum juga keluar dari kamarnya.
Gelsey yang ditunggu sang papa di ruang keluarga sejak tadi sebetulnya sudah bangun, hanya saja kepalanya sangat pusing dan perutnya melilit sakit.
Dengan menyeret kakinya Gelsey berjalan menuju kamar mandi, membasuh muka lalu kembali keluar.
Tanpa ia sadari Bram sudah berdiri menjulang di depan pintu kamar, bersandar di kusen pintu dan bersedekap.
Gelsey menenggak air putih yang ada di nakas samping tempat tidurnya, suara deheman sang papa mengagetkannya.
"Eh papa," sapa Gelsey dengan wajah innocent.
"Papa siapa? Emang aku papamu? Bukannya kemarin kamu manggil aku Rico?!" dengus Bram datar, kesal jika mengingat polah Gelsey semalam.
"Papa ngomong apaan sih pa, aku nggak paham deh," elak Gelsey pura-pura lupa dengan kejadian tadi pagi, padahal sebenarnya sih ingat walau samar-samar.
"Duduk, papa mau bicara!" perintah Bram dengan wajah menegang.
Gelsey meneguk ludahnya kasar, tenggorokannya terasa semakin kering melihat aura papanya yang tegas dan kaku itu.
Gelsey duduk di pinggir tempat tidurnya sengaja mengambil jarak sejauh mungkin dari papanya yang duduk di single sofa di sudut ruangan.
"Sampai kapan kamu ngelakuin hal yang nggak berguna gini Gel? Mabok, clubbing, kamu mau cari apa?" tanya Bram dengan suara dingin dan mengintimidasi.
"Kamu nggak pengen jadi anak baik, kuliah, mikirin masa depanmu?" tanya Bram membuat Gelsey menundukkan kepala dan terlihat malas mendengar nasihat Bram yang itu lagi itu lagi.
"Gelsey kan masih muda pa, waktunya buat main dan seneng-seneng, kalo nanti udah gede kan pasti Gelsey mikir masa depan juga," sahut Gelsey melengos tak ingin menatap sang papa yang terlihat menatapnya dengan mata tajamnya.
"Kapan waktu itu Gel? Emang sekarang belum gede? Papa sama mama kan udah tua, tak selamanya papa mama ngedampingin kamu terus, kalo nggak dimulai sekarang kapan lagi?"
"Ah papa mikirnya kejauhan, lagian kalo papa mama nggak ada kan ada kak Gavin, kak Gino ya bakalan jagain aku, nggak usah khawatir pa," jawab Gelsey santai.
"Kakak-kakak kamu kan juga nggak akan bisa jaga kamu terus Gel!" bentak Bram lama-lama kesal juga karena Gelsey selalu membantah ucapannya.
"Tenang aja sih," sahut Gelsey masih terlihat santai.
Melihat Gelsey terus menjawab perkataannya, lambat laun Bram emosi juga dan berniat melaksanakan apa yang telah direncanakan sejak tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
GINO SI MAFIA ..
2024-06-29
1
Sulaiman Efendy
KLO GK ADA CACA, UDH HABIS TUH SI GELSEY
2024-06-29
1
Mamah Kekey
masih nyimak
2023-10-19
1