Bab Tiga : Kena Amuk

Bramenda berjalan hilir mudik di teras rumahnya dengan perasaan gusar, sudah hampir jam tiga subuh tapi putri kesayangannya itu belum juga menampakkan hidungnya.

Pria berumur lima puluh tahunan itu bangkit dari duduknya ketika mendengar suara mobil memasuki garasi.

Dia berdiri dengan berkacak pinggang melihat Gelsey berjalan sempoyongan dengan dipapah Caca.

"Kenapa dia Ca?" tanya Bram dengan suara datar.

"Um..... um.... dia.... anu om," jawab Caca kebingungan mencari kata yang tepat, agak kesal sama papanya Gelsey, udah tahu anaknya mabuk eh pakai nanya segala.

Tanpa basa-basi lagi, Bram mengambil alih tubuh Gelsey dari tangan Caca dan dengan cekatan menggendong Gelsey ala bridal style.

"Makasih ya Ca, kamu mau diantar supir atau bawa mobil Gelsey untuk pulang?" tanya Bram sebelum menghilang ke dalam rumah.

"Saya bawa mobil Gelsey aja deh om," jawab Caca cepat, berharap segera pergi dari hadapan Bram yang auranya selalu terlihat sangat mengintimidasi.

Bramenda mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah membawa Gelsey dalam gendongannya.

Gelsey membuka matanya pelan." Eh.... pacar aku kok berubah tua sih," kicau Gelsey sambil mengelus rahang sang papa dengan gerakan sen*ual.

Caca yang mendengar samar-samar ucapan Gelsey hanya mampu menarik nafas dalam, rasanya ingin menjedotkan kepala gadis itu ke tembok biar bisa berfikir bener.

Bramenda mendengus kasar melihat anak gadisnya mengoceh dengan kata-kata aneh dan mencium aroma alkohol yang menyengat menguar dari bibir tipis sang anak.

"Dasar anak kurang ajar!" maki Bramenda kesal.

"Eh kok suaranya mirip Bramenda papa gue, padahal mukanya muka Rico," cerocos Gelsey dengan mata ketap-ketip.

"Gelsey kenapa pa?" Heidi mamanya Gelsey keluar dari kamar mendengar suaminya mengomel tak jelas tadi.

"Biasa mabok! Heran aku, sampai kapan sih dia bisa berubah, perasaan dulu kakak-kakaknya melewati masa remajanya nggak kayak dia gini!" omel Bram sambil memasuki kamar Gelsey.

"Jangan suka banding-bandingin anak pa, mereka kan kepribadiannya berbeda satu sama lain," tegur Heidi tak terima, anak kesayangannya dicap seperti ini.

"Ini nih yang bikin dia semakin bandel, kamu belain dia terus!" omel Bramenda kesal.

Heidi hanya mampu terdiam, tak mungkin melawan ucapan suami yang memang benar adanya, dia sebagai ibu sering kali tak bisa tegas khususnya kepada Gelsey.

"Hoek.... hoek..... " Belum juga tubuh Gelsey dibaringkan di atas tempat tidur, gadis itu tiba-tiba muntah di dada sang papa.

Heidi shock melihat kelakuan Gelsey, memijat pelipisnya dengan frustasi, lalu melirik sekilas ke suaminya yang wajahnya tampak kesal itu.

Dengan emosi yang ada di atas ubun-ubun, Bram melempar anak gadisnya itu di atas ranjang, sumpah serapah terdengar dari bibir Bram.

Dengan cemberut Heidi menegur suaminya." Papa ih, masak anak dilempar kayak karung beras?!"

"Anak kurang ajar!" Lalu dengan langkah lebar dia keluar dari kamar Gelsey.

Belum juga Bram menghilang di balik pintu, Gelsey berdiri di atas tempat tidurnya, dengan wajah garang dia menunjuk sang mama.

"Mama selingkuh sama pacar aku?" teriak Gelsey lantang.

Heidi terpaku sesaat, lalu menarik tangan Gelsey agar kembali berbaring di atas ranjang.

Dengan kasar Gelsey menepis tangan Heidi, lalu kembali berteriak," Mama nggak takut sama suami mama? Bramenda tuh galak ma!"

Dengan menghela nafas kasar, Heidi menarik tangan Gelsey yang langsung terjerembab ke atas tempat tidurnya, sambil gadis itu terus mengoceh dengan kata-kata tidak jelas.

Heidi menatap suami dengan rasa tak enak di hati, merutuki mulut Gelsey yang suka bicara sembarangan kalau sedang mabuk.

Tak lagi ingin berada disana, Bram melangkah meninggalkan kamar Gelsey, lalu memasuki kamar pribadinya.

Selepas kepergian Bram, Heidi melepas semua baju Gelsey dan menggantinya dengan baju bersih, mengelap wajah anaknya dengan air hangat, lalu menyelimuti tubuh Gelsey dengan selimut.

Heidi menyusul Bram yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mereka, si suami tampak menatap kegelapan malam dari balkon.

Banyak hal yang ia pikirkan, jujur sebagai orang tua Bram merasa gagal mendidik Gelsey, sementara kedua anak lelakinya Gavin dan Georgino justru sudah bisa mandiri dan sukses di umur mereka yang masih muda itu.

"Pa.... " panggil Heidi lembut.

Lalu 'slep' perempuan setengah abad yang masih terlihat cantik itu memeluk suaminya dari belakang.

"Aku pusing ma, rasanya aku gagal jadi papa yang baik untuk Gelsey," ucap Bram lirih, sambil tangannya menggenggam tangan Heidi yang berada di perutnya.

"Sabar pa, namanya anak lagi cari jati diri," sahut Heidi sambil mencium punggung suami yang begitu ia cintai itu.

"Aku takut ia jatuh dalam pergaulan bebas ma, bagaimana kalo dia sampai.... " Bram tak melanjutkan ucapannya, rasanya ketakutannya saat ini benar-benar telah mencengkeram hatinya.

Ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.

***

Paginya..... sengaja Bram tak berangkat ke kantor untuk mengkonfrontasi kelakuan Gelsey semalem.

Sementara waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang, dan anak gadisnya itu belum juga keluar dari kamarnya.

Gelsey yang ditunggu sang papa di ruang keluarga sejak tadi sebetulnya sudah bangun, hanya saja kepalanya sangat pusing dan perutnya melilit sakit.

Dengan menyeret kakinya Gelsey berjalan menuju kamar mandi, membasuh muka lalu kembali keluar.

Tanpa ia sadari Bram sudah berdiri menjulang di depan pintu kamar, bersandar di kusen pintu dan bersedekap.

Gelsey menenggak air putih yang ada di nakas samping tempat tidurnya, suara deheman sang papa mengagetkannya.

"Eh papa," sapa Gelsey dengan wajah innocent.

"Papa siapa? Emang aku papamu? Bukannya kemarin kamu manggil aku Rico?!" dengus Bram datar, kesal jika mengingat polah Gelsey semalam.

"Papa ngomong apaan sih pa, aku nggak paham deh," elak Gelsey pura-pura lupa dengan kejadian tadi pagi, padahal sebenarnya sih ingat walau samar-samar.

"Duduk, papa mau bicara!" perintah Bram dengan wajah menegang.

Gelsey meneguk ludahnya kasar, tenggorokannya terasa semakin kering melihat aura papanya yang tegas dan kaku itu.

Gelsey duduk di pinggir tempat tidurnya sengaja mengambil jarak sejauh mungkin dari papanya yang duduk di single sofa di sudut ruangan.

"Sampai kapan kamu ngelakuin hal yang nggak berguna gini Gel? Mabok, clubbing, kamu mau cari apa?" tanya Bram dengan suara dingin dan mengintimidasi.

"Kamu nggak pengen jadi anak baik, kuliah, mikirin masa depanmu?" tanya Bram membuat Gelsey menundukkan kepala dan terlihat malas mendengar nasihat Bram yang itu lagi itu lagi.

"Gelsey kan masih muda pa, waktunya buat main dan seneng-seneng, kalo nanti udah gede kan pasti Gelsey mikir masa depan juga," sahut Gelsey melengos tak ingin menatap sang papa yang terlihat menatapnya dengan mata tajamnya.

"Kapan waktu itu Gel? Emang sekarang belum gede? Papa sama mama kan udah tua, tak selamanya papa mama ngedampingin kamu terus, kalo nggak dimulai sekarang kapan lagi?"

"Ah papa mikirnya kejauhan, lagian kalo papa mama nggak ada kan ada kak Gavin, kak Gino ya bakalan jagain aku, nggak usah khawatir pa," jawab Gelsey santai.

"Kakak-kakak kamu kan juga nggak akan bisa jaga kamu terus Gel!" bentak Bram lama-lama kesal juga karena Gelsey selalu membantah ucapannya.

"Tenang aja sih," sahut Gelsey masih terlihat santai.

Melihat Gelsey terus menjawab perkataannya, lambat laun Bram emosi juga dan berniat melaksanakan apa yang telah direncanakan sejak tadi.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

GINO SI MAFIA ..

2024-06-29

1

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

KLO GK ADA CACA, UDH HABIS TUH SI GELSEY

2024-06-29

1

Mamah Kekey

Mamah Kekey

masih nyimak

2023-10-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!