"Anj**" maki Gelsey membuat Caca dan Arumi terpaku dan menatap Gelsey dengan tatapan menghunus.
Mereka kebetulan berada di sisi kiri kampus yang jarang didatangi oleh mahasiswa karena ini wilayah rektorat hingga hanya segelintir mahasiswa yang berani menjejakkan kaki disini, dan trio absurd tersebut termasuk segelintir mahasiswa yang berani berkeliaran di daerah ini.
"Kenapa sih Gel?" tanya Caca kepo.
"Kenapa gue bisa terjebak dikondisi ini sih?" Gelsey frustasi dan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Dasar be**! Nggak jelas banget!" maki Arumi.
"Gimana dong Ca?" Gelsey panik.
"Au ah lo kagak jelas banget, ngomong tuh yang jelas!"
"Gue Sabtu ini tunangan Ca," gumam Gelsey lirih.
"Hah? Lo ngomong apa barusan?" tanya keduanya berbarengan.
"Budek lo!"
"Lo nggak becanda kan Nyet?" tanya Caca sambil menatap Gelsey tajam.
"Emang muka gue lagi keliatan becanda?" Gelsey mendengus kesal atas tanggapan kedua sahabatnya itu.
"Jadi lo menerima perjodohan ini?" tanya Arumi terdengar excited.
"Kok lo kelihatan seneng gitu?" Gelsey mendengus mendengar nada bicara Arumi yang terdengar bahagia itu.
"Ya kan gue ikut bahagia Gel lo bisa lepas dari Rico," jawab Arumi cuek.
"Nggak ya gue nggak putus sama Rico, pernikahan gue hanya pernikahan bohong-bohongan sampai setahun ke depan, gue masih boleh pacaran sama Rico!" kata Gelsey sewot.
"Lo beneran ngikutin sarannya Rumi waktu itu nyet?" tanya Caca langsung berubah serius.
"Iyalah, emang lo kira gue mau nikah beneran ama Satria? Nggaklah ya." Gelsey mencebik kesal.
"Padahal ganteng gitu, mapan lagi, mau cari yang gimana lagi sih?!" omel Arumi kesal.
"Gue nggak cinta, males!"
"Awas lho Nyet, takutnya ketulah, bisa-bisa lo bucin ntar sama dia," ledek Caca sambil terkekeh.
"Nggak mungkinlah, sekali Rico tetap Rico!" ucap Gelsey tegas.
"Anjai.... jijay..... cinta banget ama kunyuk itu!"
Suara ponsel Gelsey membuat pembicaraan ketiganya berhenti.
"Siapa Nyet?" tanya Caca.
"Satria," jawab Gelsey sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Hallo mas," sapa Gelsey setelah menggeser tombol hijau.
"__"
"Harus sama aku?" tanya Gelsey mengeryitkan kening.
"__"
"Iya oke oke, aku otewe sekarang."
"__"
"Iya."
Gelsey menarik ponsel tersebut dari telinganya.
"Kenapa Gel?" tanya Arumi ketika melihat Gelsey bangkit dari duduknya dan menepis bagian belakang celananya menghela debu yang mungkin menempel disana.
"Diajak fitting baju sama ambil cincin," jawab Gelsey.
"Bau baunya ada yang semangat mempersiapkan pernikahan nih Ca," goda Arumi cengengesan.
"Ah lo pada nggak tahu rencana gue! Udah ah gue cabut dulu, ntar dia ngomel kalo gue nggak ontime," pamit Gelsey lalu melangkah lebar meninggalkan mereka.
Memakan waktu hampir tiga puluh menit, akhirnya Gelsey tiba di butik langganan sang mama.
Gelsey memasuki bangunan berlantai tiga tersebut dan mendapati Satria sudah menunggunya di dalam ruangan.
"Lama banget sih!?" tegur Satria dingin.
"Ya kan kampusku jauh mas, lagian mas kan nggak ngajakin dari semalem, " jawab Gelsey manyun.
"Ya udah buruan kita fitting, habis ini harus langsung ke toko perhiasan langgananku buat milih, harus buruan, ntar siang aku ada meeting penting!" Satria bangkit dari duduknya dan meminta salah satu karyawan untuk memanggilkan pemilik butik yang tadi sempat menemuinya dan kembali ke dalam ruangannya karena Gelsey belum sampai kesana.
"Gel," panggil Deasy pemilik butik sekaligus sahabat mamanya.
"Maaf ya tante aku terlambat soalnya tadi aku ke kampus," ucap Gelsey setelah melepaskan pelukan Deasy.
"Nggak nyangka deh kamu mau tunangan secepat ini."
Satria dan Gelsey sama-sama mendengus mendengar celotehan Daisy yang tidak tahu tentang cerita pemaksaan dalam rencana pernikahan keduanya.
"Ini kalian mau pakai jas dan kebaya atau pakai batik?" tanya Deasy.
"Seperti yang mama bilang sama aku kemarin tan, aku pakai kebaya dan bawahannya batik dengan motif yang sama untuk bajunya mas Satria," jawab Gelsey yang melirik calon tunangannya yang anteng mengotak-atik ponsel di tangannya.
"Coba kamu pilih mau model yang gimana?" Daisy menyodorkan buku berisi gambar model kebaya.
"Mas.... aku pakai kebaya warna apa?" tanya Gelsey meminta pertimbangan.
"Hm... ter..." seketika Satria tersadar bahwa yang berada di depannya tersebut adalah sahabat calon ibu mertuanya, kalau dia bersikap dingin sama Gelsey bisa-bisa Daisy melaporkan tindakan kepada Bram dan Heidi, dan rencananya untuk membuat hidup Gelsey menderita tak akan kesampaian.
"Terserah kamu Gel, mau pakai warna apa aja pasti pantes kok, kulit kamu kan putih bersih," jawab Satria lembut.
"Kalo aku pilih yang kuning ini boleh nggak mas?" tanya Gelsey lagi.
"Kalo yang kuning ini nanti baju aku bagusnya motif yang mana Tan?" Satria meminta pendapat Daisy.
"Ini Sat, ada beberapa motif yang bisa kamu pilih." Daisy menunjukan satu map yang berisi contoh kain batik kepada Satria.
"Kamu pilih yang mana sayang?" tanya Satria sambil mengelus punggung Gelsey lembut.
Mata Gelsey ketap-ketip mendapat perlakuan tersebut." Kalo yang ini gimana mas?" Gelsey menunjuk salah satu kain dengan motif yang selaras dengan kebayanya.
"Ya itu juga bagus," jawab Satria lembut.
"Oke deh kalo gitu tante ukur dulu ya." Daisy mengambil meteran dan mengukur ukuran badan keduanya.
Setelah selesai mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke toko perhiasan untuk memesan cincin.
"Kita naik mobil masing-masing aja ya mas, kan katanya habis ini ada meeting penting." ucap Gelsey ketika mereka sudah berada di luar butik.
"Hmm..." sahut Satria dingin karena tidak harus berpura-pura lagi di depan Daisy.
Gelsey mengerucutkan bibirnya gemas. "Pinter banget actingnya!" gerutu Gelsey pelan.
Lalu keduanya menuju ke toko perhiasan dan memilih cincin yang tersedia di sana toh ini hanya cincin pengikat yang nantinya ketika mereka menikah mereka akan mengganti cincin tersebut dengan cincin custom.
Hari ini suka tidak suka mereka harus mau berjalan berdua untuk memesan keperluan untuk pertunangan mereka.
Dan kesan yang Gelsey dapatkan setelah berjalan berdua dengan Satria adalah.... tidak ada kesan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments