Bab 18 : Persiapan Pertunangan

"Anj**" maki Gelsey membuat Caca dan Arumi terpaku dan menatap Gelsey dengan tatapan menghunus.

Mereka kebetulan berada di sisi kiri kampus yang jarang didatangi oleh mahasiswa karena ini wilayah rektorat hingga hanya segelintir mahasiswa yang berani menjejakkan kaki disini, dan trio absurd tersebut termasuk segelintir mahasiswa yang berani berkeliaran di daerah ini.

"Kenapa sih Gel?" tanya Caca kepo.

"Kenapa gue bisa terjebak dikondisi ini sih?" Gelsey frustasi dan mengacak rambutnya dengan kasar.

"Dasar be**! Nggak jelas banget!" maki Arumi.

"Gimana dong Ca?" Gelsey panik.

"Au ah lo kagak jelas banget, ngomong tuh yang jelas!"

"Gue Sabtu ini tunangan Ca," gumam Gelsey lirih.

"Hah? Lo ngomong apa barusan?" tanya keduanya berbarengan.

"Budek lo!"

"Lo nggak becanda kan Nyet?" tanya Caca sambil menatap Gelsey tajam.

"Emang muka gue lagi keliatan becanda?" Gelsey mendengus kesal atas tanggapan kedua sahabatnya itu.

"Jadi lo menerima perjodohan ini?" tanya Arumi terdengar excited.

"Kok lo kelihatan seneng gitu?" Gelsey mendengus mendengar nada bicara Arumi yang terdengar bahagia itu.

"Ya kan gue ikut bahagia Gel lo bisa lepas dari Rico," jawab Arumi cuek.

"Nggak ya gue nggak putus sama Rico, pernikahan gue hanya pernikahan bohong-bohongan sampai setahun ke depan, gue masih boleh pacaran sama Rico!" kata Gelsey sewot.

"Lo beneran ngikutin sarannya Rumi waktu itu nyet?" tanya Caca langsung berubah serius.

"Iyalah, emang lo kira gue mau nikah beneran ama Satria? Nggaklah ya." Gelsey mencebik kesal.

"Padahal ganteng gitu, mapan lagi, mau cari yang gimana lagi sih?!" omel Arumi kesal.

"Gue nggak cinta, males!"

"Awas lho Nyet, takutnya ketulah, bisa-bisa lo bucin ntar sama dia," ledek Caca sambil terkekeh.

"Nggak mungkinlah, sekali Rico tetap Rico!" ucap Gelsey tegas.

"Anjai.... jijay..... cinta banget ama kunyuk itu!"

Suara ponsel Gelsey membuat pembicaraan ketiganya berhenti.

"Siapa Nyet?" tanya Caca.

"Satria," jawab Gelsey sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.

"Hallo mas," sapa Gelsey setelah menggeser tombol hijau.

"__"

"Harus sama aku?" tanya Gelsey mengeryitkan kening.

"__"

"Iya oke oke, aku otewe sekarang."

"__"

"Iya."

Gelsey menarik ponsel tersebut dari telinganya.

"Kenapa Gel?" tanya Arumi ketika melihat Gelsey bangkit dari duduknya dan menepis bagian belakang celananya menghela debu yang mungkin menempel disana.

"Diajak fitting baju sama ambil cincin," jawab Gelsey.

"Bau baunya ada yang semangat mempersiapkan pernikahan nih Ca," goda Arumi cengengesan.

"Ah lo pada nggak tahu rencana gue! Udah ah gue cabut dulu, ntar dia ngomel kalo gue nggak ontime," pamit Gelsey lalu melangkah lebar meninggalkan mereka.

Memakan waktu hampir tiga puluh menit, akhirnya Gelsey tiba di butik langganan sang mama.

Gelsey memasuki bangunan berlantai tiga tersebut dan mendapati Satria sudah menunggunya di dalam ruangan.

"Lama banget sih!?" tegur Satria dingin.

"Ya kan kampusku jauh mas, lagian mas kan nggak ngajakin dari semalem, " jawab Gelsey manyun.

"Ya udah buruan kita fitting, habis ini harus langsung ke toko perhiasan langgananku buat milih, harus buruan, ntar siang aku ada meeting penting!" Satria bangkit dari duduknya dan meminta salah satu karyawan untuk memanggilkan pemilik butik yang tadi sempat menemuinya dan kembali ke dalam ruangannya karena Gelsey belum sampai kesana.

"Gel," panggil Deasy pemilik butik sekaligus sahabat mamanya.

"Maaf ya tante aku terlambat soalnya tadi aku ke kampus," ucap Gelsey setelah melepaskan pelukan Deasy.

"Nggak nyangka deh kamu mau tunangan secepat ini."

Satria dan Gelsey sama-sama mendengus mendengar celotehan Daisy yang tidak tahu tentang cerita pemaksaan dalam rencana pernikahan keduanya.

"Ini kalian mau pakai jas dan kebaya atau pakai batik?" tanya Deasy.

"Seperti yang mama bilang sama aku kemarin tan, aku pakai kebaya dan bawahannya batik dengan motif yang sama untuk bajunya mas Satria," jawab Gelsey yang melirik calon tunangannya yang anteng mengotak-atik ponsel di tangannya.

"Coba kamu pilih mau model yang gimana?" Daisy menyodorkan buku berisi gambar model kebaya.

"Mas.... aku pakai kebaya warna apa?" tanya Gelsey meminta pertimbangan.

"Hm... ter..." seketika Satria tersadar bahwa yang berada di depannya tersebut adalah sahabat calon ibu mertuanya, kalau dia bersikap dingin sama Gelsey bisa-bisa Daisy melaporkan tindakan kepada Bram dan Heidi, dan rencananya untuk membuat hidup Gelsey menderita tak akan kesampaian.

"Terserah kamu Gel, mau pakai warna apa aja pasti pantes kok, kulit kamu kan putih bersih," jawab Satria lembut.

"Kalo aku pilih yang kuning ini boleh nggak mas?" tanya Gelsey lagi.

"Kalo yang kuning ini nanti baju aku bagusnya motif yang mana Tan?" Satria meminta pendapat Daisy.

"Ini Sat, ada beberapa motif yang bisa kamu pilih." Daisy menunjukan satu map yang berisi contoh kain batik kepada Satria.

"Kamu pilih yang mana sayang?" tanya Satria sambil mengelus punggung Gelsey lembut.

Mata Gelsey ketap-ketip mendapat perlakuan tersebut." Kalo yang ini gimana mas?" Gelsey menunjuk salah satu kain dengan motif yang selaras dengan kebayanya.

"Ya itu juga bagus," jawab Satria lembut.

"Oke deh kalo gitu tante ukur dulu ya." Daisy mengambil meteran dan mengukur ukuran badan keduanya.

Setelah selesai mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke toko perhiasan untuk memesan cincin.

"Kita naik mobil masing-masing aja ya mas, kan katanya habis ini ada meeting penting." ucap Gelsey ketika mereka sudah berada di luar butik.

"Hmm..." sahut Satria dingin karena tidak harus berpura-pura lagi di depan Daisy.

Gelsey mengerucutkan bibirnya gemas. "Pinter banget actingnya!" gerutu Gelsey pelan.

Lalu keduanya menuju ke toko perhiasan dan memilih cincin yang tersedia di sana toh ini hanya cincin pengikat yang nantinya ketika mereka menikah mereka akan mengganti cincin tersebut dengan cincin custom.

Hari ini suka tidak suka mereka harus mau berjalan berdua untuk memesan keperluan untuk pertunangan mereka.

Dan kesan yang Gelsey dapatkan setelah berjalan berdua dengan Satria adalah.... tidak ada kesan.

Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!