Frustasi dengan usahanya yang gagal, tak membuat Gelsey larut dalam kesedihan.
Gadis cantik itu telah bersiap menuju ke club langganannya setelah tadi sempat menyelinap ke kamar sang mama dan mencomot salah satu kartu kredit milik mamanya itu.
Keputusan Bram untuk memblokir semua kartu debit dan kredit milik Gelsey tak membuat Gelsey mati suri, karena akal gadis itu sudah masuk level jawara untuk hal-hal seperti ini.
Gelsey turun dari lantai dua dan melenggang melewati kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Mau kemana kamu?" tegur Bram.
Gelsey merotasi kedua matanya dan melihat papanya dengan sengit.
"Aku udah setuju dengan kemauan papa itu, tapi please deh jangan ganggu kesukaan aku ini."
Heidi yang melihat ketegangan mulai tercipta disana hanya bisa menghela nafas lelah, bapak dan anak yang sama-sama keras dan susah untuk mengalah.
"Gel... udah malem lho, masak kamu mau keluar malem-malem, nanti kalo ada apa-apa gimana nak?" Heidi berdiri mengelus pundak Gelsey pelan.
"Aku sama Caca sama Rumi kok ma, tenang aja, pasti aman."
Bram menatap putri semata wayangnya itu dengan tatapan mata garang, tapi yang namanya Gelsey mana takut dengan papanya itu.
"Sudah ya pa ma, aku jalan dulu." Gelsey melambaikan tangan dan berjalan keluar.
Dengan nafas berat, Bram menghubungi seseorang. "Seperti biasa Bim, tolong awasi Gelsey!"
Segalak apapun seorang ayah pasti itu dilakukan untuk kebaikan anak-anaknya, begitu juga Bram yang tak akan melepaskan Gelsey begitu saja.
Gelsey terus memacu kendaraannya menuju club langganannya, dan gadis itu langsung menuju ke dalam club sudah terlihat hingar bingar tersebut.
Gelsey menjatuhkan badannya di samping Arumi yang sedang asyik melihat cowok dan cewek yang sedang asyik bergoyang di lantai dansa.
"Udah lama lo pada?"
"Belum lama."
"Untung Steven tadi berangkat ke Bali sama bininya jadi gue bisa kesini."
"Lo nggak diomelin bokap lo pergi kemari?" tanya Caca sambil menghisap rokoknya.
"Gue bilang perginya sama lo berdua, jadi bokap gue sih anteng nggak banyak nanya."
"Anjai kita diumpanin babe!" seru Arumi kesal.
"Lo kalo nggak ikhlas ya udah sono cabut aja, gue juga nggak butuh kalian temenin kok."
"Sensi amat babe." Arumi merangkul pundak Gelsey pelan.
"Gue pusing tahu Rum kalo inget lagi kalo harus kawin muda, gue sengaja begini siapa tahu nanti si Satria itu illfeel ngeliat kelakuan gue dan batalin nikah ama gue." Gelsey menyesap cairan berwarna kuning tersebut dalam sekali tenggak.
"Tapi ya nggak harus ngrusak diri lo sendiri lagi Nyet, inget sayang badan, takutnya masih muda lo kena stroke." Caca mengucapkan kata-kata nya pelan, takut memancing emosi Gelsey yang setipis tissue itu.
"Daripada kawin ama Si Satria itu mending gue merusak diri gue!" dengus Gelsey pelan.
"Kenapa lo nggak nemuin Satria itu sih Gel, at least kan lo tahu bagaimana perasaannya mengenai perjodohan ini syukur-syukur lo bisa ajak kerjasama dengan kawin kontrak misalnya." Seperti biasa Arumi yang suka mengeluarkan saran out of the box itu memberi masukan kepada Gelsey.
"Astaga Rum, ya nggak gitu juga kali, masak lo nyuruh orang mempermainkan lembaga pernikahan sih, dosa itu dosa," tegur Caca dengan wajah betenya.
"Lalu apa dong? Daripada Gelsey tersiksa, nolak nggak bisa maju juga terpaksa kan mending bikin agreement gitu," sahut Arumi tak terima nasihat briliant nya di tolak oleh Caca.
"Ah lo berdua brisik, gue tambah pusing." Gelsey berdiri lalu ikut bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkan disk Jockie di depan sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
PARAH NI GELSEY MUDA..
2024-06-29
1