Gelsey sudah berupaya sekuat tenaga, meminta tolong kedua kakaknya dan meminta tolong kedua sahabatnya, yang hasilnya..... zonk alias tak ada hasil.
Dan ketika dirinya tiba di rumah sore ini, mamanya memberikan kabar yang tak kalah mengejutkannya, yaitu seminggu lagi keluarga Satria akan datang melamar dirinya.
"Astaga.... kenapa sih Bram sama Heidi kok kesannya ngusir gue cepet-cepet dari rumah ini? Apa jangan-jangan gue anak angkat hingga mereka bisa melakukan hal ini ama gue," gumam Gelsey frustasi.
Bahkan sampai saat inipun dirinya dan Satria belum saling bertatap muka , paling tidak harusnya berkenalan berkenalan terlebih dahulu kan.
Ya memang Gelsey pernah bertemu dulu sekali saat dirinya masih pakai seragam putih biru dan cowok itu datang ke rumah untuk bertemu dengan Gavin.
Tapi itu kan dulu, bahkan sekarang Gelsey sudah lupa wajahnya kalau saja kemarin Arumi tidak mencari tahu sosok pria itu melalui media sosial.
Gelsey merasa heran, pria high quality kayak dia masak tak ada gandengan atau pacar, dan pasrah saja untuk dijodohkan dengan dirinya yang masih belia begini.
Atau kemungkinan besar Satria mempunyai penyimpangan hingga menjadikan dirinya tameng untuk menutupi perilakunya yang menyimpang itu?
Ah... Gelsey merasa pusing dan stress memikirkan itu, tak ada yang bisa ia lakukan selain minggat dari rumah.
Gelsey menyusun beberapa baju dalam kopernya dan menyeret koper itu keluar kamar, tekadnya sudah bulat, Gelsey lebih baik minggat daripada dipaksa untuk menikah dengan pria yang tak dicintainya.
"Gel.... mau kemana nak?" tanya Heidi menahan tangan Gelsey yang memegang gagang koper.
"Gelsey pergi aja ma, ngapain juga Gelsey disini kalo mama sama papa bisa seenaknya maksa Gelsey kayak gini." jawab Gelsey dengan nafas tersengal menahan amarahnya.
"Jangan pergi Gel, kamu mau kemana nak?" tanya Heidi dengan isak tangis yang tertahan.
"Biar aja kalo ia mau pergi ma, atm dan kartu kredit sudah papa bekukan dan papa sudah ultimatum Gavin dan Gino untuk nggak ngasih tumpangan buat dia, papa mau lihat sampai mana dia sanggup bertahan diluar sana!" suara bariton Bramenda menggema di ruang itu.
"Papa kenapa sih gitu banget sama Gelsey?!" teriak Gelsey dengan emosi.
"Kamu nggak sadar akan kelakuanmu itu?" tanya Bramenda dengan suara dinginnya.
"Apa? Aku ngerasa nggak ngelakuin kesalahan apa-apa!" balas Gelsey tak mau mengalah.
"Dugem, mabok, males kuliah, pacaran sama orang nggak jelas, apa itu bukan kesalahanmu?" tanya Bram sarkastis.
"Tapi nggak harus menikahkan aku kan pa?!" tanya Gelsey dengan suara kencang.
"Iya itu salah satu cara biar kamu mau bertanggungjawab dengan hidup kamu."
Gelsey mendengus malas, lalu dengan cuek tetap melanjutkan langkahnya.
"Silakan keluar dari pintu itu, satu langkah saja kamu keluar, kamu papa coret jadi ahli waris papa!" ultimatum Bram membuat Gelsey terpaku.
Bahunya luruh, rasanya papanya benar-benar marah kali ini, belum pernah Bram mengancam dirinya seperti ini.
Dengan marah, Gelsey membanting kopernya, lalu menghentakkan kaki dan kembali menuju kamarnya.
Tanpa berfikir dua kali, Gelsey menekan nomor ponsel Gavin dan melakukan panggilan.
"Hallo Gel, nanti kakak telpon balik ya, kakak lagi meeting sama klien," sapa Gavin lalu mematikan sambungan telepon mereka.
"Anji**" maki Gelsey gemas.
Tak kehilangan akal, Gelsey lalu menghubungi Gino kakak keduanya.
"Hallo kak Gino."
"Hallo Gel, ada apa?"
"Kak bagi duit dong."
"Buat apa? Memang papa nggak ngasih uang ke kamu?" tanya Gino, dari nada suaranya dia curiga atas permintaan Gelsey tersebut.
"Buat beli jam tangan," jawab Gelsey asal.
"Lho bukannya kamu dipegangin papa card unlimited?" tanya Gino lagi.
"Nggak cukup kak," rayu Gelsey.
"Aku telpon papa dulu deh, minta persetujuan, soalnya papa kemarin telpon, aku nggak boleh kasih kamu uang."
"F**k!" maki Gelsey lalu memutus panggilannya.
Dengan kepala semakin pusing dan bingung, Gelsey mencari cara untuk bertahan hidup diluar sana apabila dia beneran berniat hengkang dari rumah ini.
Selama hidup Gelsey si anak bungsu itu tak pernah kekurangan uang sama sekali, dunianya yang serba ada itu tak pernah membuatnya pusing dengan masalah uang, jadi bisa dipastikan kalau Gelsey tak akan sanggup hidup diluaran tanpa orang tua dan keluarganya.
"Ca.... lo ada duit nggak?" tanpa basa-basi Gelsey menghubungi Caca dan berniat meminjam uang.
"Berapa Gel?" tanya Caca kebingungan karena tumben-tumbenan sahabatnya itu butuh uang.
"Seratus juta kalo ada," jawab Gelsey.
"Hah! Gila, mana ada gue duit segitu, lo tahu kan uang jajan gue dibatesi sama bokap gue, emang buat apaan Gel?" tanya Caca kepo.
"Buat pegangan, gue mau minggat!"
"Kenapa emang lo mau minggat?"
"Gue marah, gue nggak mau disuruh nikah Ca, gilak, gue masih muda masak gue suruh nikah sekarang?" Tangis Gelsey pecah juga mengadukan nasibnya kepada Caca.
"Terus setelah lo minggat lo mau ngapain? Emang bisa lo ngelawan papa lo? Kalo menurut gue sih mending lo nurut aja deh," bujuk Caca karena tahu sekeras apapun Gelsey melawan keputusan Bramenda, Gelsey tak akan bisa menang.
"Kok lo malah nyuruh gue pasrah sih Ca!"
"Terus gue kudu gimana? Tahu kan segede apa pengaruh papa lo, lo nggak kan sanggup melawan dia, lagian gue pikir-pikir papa lo nggak mungkin ngejerumusin lo deh."
"Ashhh..... ta** lo!" maki Gelsey kencang lalu menutup teleponnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
KNP GK MINTA SAMA RICO..
2024-06-29
0
Sulaiman Efendy
CUN JUGA LO KAN...
2024-06-29
1
Sulaiman Efendy
AKIBAT ULAH LO YG LIAR, SAAT INI LO MMG BLM TRJERUMUS, GK TAU KDPANNY, CACA & ARUMI TK SLMANYA BSA DISISI LO TUK AWASI LO DRI RICO.. APALAGI DGN HOBY LO YG SUKA MABUK. ITU BSA DIMANFAATKN RICO BUAT ZINAHI LO
2024-06-29
1