Bab 19 : Hari pertunangan itu

Gelsey menatap parasnya yang terlihat berbeda pada cermin di depannya, sosok itu terlihat manis dan anggun, berbeda dengan kesehariannya yang terlihat semrawut karena berpenampilan apa adanya.

"Dek." Sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar.

MUA yang sedang membereskan alat make up nya berinisiatif membukakan pintu.

"Keluarga Satria sudah datang," ucap Laura calon kakak iparnya memberikan info.

"Nggak nyangka ya mbak harusnya yang hari ini tunangan kan kak Gino sama kak Sandi, ini malah aku langkahin," gerutu Gelsey lemah, setelah satu tahun yang lalu Gavin kakak tertua Gelsey bertunangan dengan Laura, harusnya giliran Gino dan Sandi yang bertunangan bukan dirinya.

"Jodohnya kan duluan kamu dek," hibur Laura sambil mengusap lengan Gelsey lembut.

"Jangan-jangan habis ini malah aku yang nikah duluan dibanding kakak."

"Udah ah nggak usah melow gitu, bikin aura ayunya jadi memudar." bisik Laura lembut.

Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuruni tangga menuju ke lantai satu untuk bergabung bersama keluarga mereka.

Meski saat ini hanya mengundang keluarga dan beberapa kerabat dekat tapi rumah ini yang telah disulap jadi tempat acara terlihat penuh dengan tamu undangan.

Semua mata menatap ke arah Gelsey yang sedang menuruni tangga dengan di gandeng oleh Laura.

Laura membimbing Gelsey untuk duduk diapit Bram dan Heidi yang terlihat bahagia karena perhelatan ini.

Sedang Satria yang duduk di hadapannya yang juga di apit kedua orang tuanya dengan intens menatap Gelsey yang terlihat cantik dan menawan memakai kebaya seperti itu.

Gelsey mengangkat wajahnya dan tanpa sengaja mata mereka bersirobak, senyum manis terukir di bibir Gelsey membuat Satria membalas senyumnya.

Lagi-lagi sesuatu yang di dalam dada sana berdesir pelan melihat Gelsey yang menawan seperti itu, nggak mungkin kan Satria tertarik dengan bocah ingusan yang sengaja disodorkan padanya itu?

Tanpa terasa acara demi acara telah Gelsey dan Satria lalui dan sekarang di jari manis tangan kiri mereka melingkar cincin pertunangan.

"Jadi rencananya acara pernikahannya mau kita adakan kapan?" Baskoro memulai diskusi dengan para tetua di keluarga tersebut.

"Semakin cepat semakin baik mas Bas," jawab Bram yang tak ingin menunda-nunda acara bahagia anak gadisnya.

"Enam bulan kelamaan nggak om?" tanya bunda Dewi.

"Kelamaan mbak, kalo bisa sih jangan lebih tiga bulan deh," jawab Bram.

Satria yang semula hanya menyimak obrolan para tetua tersebut langsung tersentak hebat.

'Kenapa kayak ter buru-buru gitu sih? Jangan-jangan nih cewek hamil sama pacarnya itu dan gue disuruh tanggungjawab, tapi kata Tama waktu itu dia masih ori' ucap Satria dalam hati.

"Mana bisa om waktu segitu untuk ngurusin ini itu," tegur Baskoro pelan.

Gelsey menatap orang disekitarnya dan memilih pergi dari ruangan tersebut, saat ini dia butuh pasokan udara untuk membuat otaknya bisa berfikir jernih.

Rasanya orang tuanya begitu terburu-buru untuk membuang dirinya dari kehidupan mereka.

"Ah sial!" maki Gelsey dengan mengetatkan rahangnya.

"Nyet!" panggil Caca yang berjalan menghampiri dengan Arumi yang berjalan mengekor di belakangnya.

"T**k!!" seru Gelsey tertahan.

"Sabar Nyet," ucap Rumi sambil mengelus pundak Gelsey lembut.

"Lo sadar nggak sih Ca Rum, gue kayak mau buru-buru dibuang sama bokap gue." Mata Gelsey menerawang menatap langit di atas sana yang terlihat gelap gulita tanpa bintang yang berpendar menghiasi langit itu.

Caca dan Arumi hanya terdiam, jujur dalam hati mereka juga paham apa yang dirasakan oleh Gelsey, usianya baru lepas dua puluh tahun, tapi dia diharuskan menikah beberapa bulan ke depan, ya meski ada perjanjian di dalam nikah kontrak mereka, tetap saja rasanya tuh..... menyakitkan!

Gelsey memejamkan mata, mendengar perdebatan di dalam sana yang masih terdengar memanas dan belum menemukan titik temu.

"Gel! Gelsey!" panggil Gino dari dalam rumah.

Dengan langkah berat, Gelsey terseok menghampiri sekumpulan orang tua yang sedang berdebat untuk menentukan masa depannya itu.

Dengan enggan Gelsey mengambil duduk di samping Satria, karena hanya itu saja tempat duduk yang tersisa.

"Kamu ingin konsep pernikahan seperti apa nak?" tanya Heidi lembut.

Semua mata menatap ke arahnya dan menunggu jawaban Gelsey.

"Aku ngikut aja ma, yang penting aku hanya ingin pernikahan aku diselenggarakan secara private dan dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja," jawab Gelsey lelah.

"Kamu nggak pengen perayaan besar-besaran dek?" tanya Gavin bingung dengan permintaan sang adik.

"Nggak ah kak, aku sama mas Satria udah sepakat pengen intimate aja dengan keluarga," jawab Gelsey.

"Yakin kamu?" tanya Bram tegas.

"Iya kan mas, kita maunya intimate aja kan?" tanya Gelsey menatap tunangan itu untuk meminta support.

Dan percayalah setiap Gelsey memanggilnya dengan sebutan 'mas', selalu saja dada Satria berdesir pelan.

"Iya." Hanya itu yang sanggup Satria ucapkan.

"Oke kalo begitu bagaimana kalo acara pernikahannya dilaksanakan di cottage kamu yang ada di Bali aja nak, kalo nggak salah sudah mau launching kan?" tanya bunda Dewi memberi usulan.

Satria melihat bundanya dengan tatapan yang.... entahlah, ada rasa kesal karena bundanya pakai menyebutkan usaha lain yang dimilikinya selain usaha restauran.

"Ya nggak papa bun, cuman cottage itu hanya memiliki beberapa kamar, nggak akan cukup meski hanya untuk menampung keluarga kita aja," ucap Satria setelah semua mata menatapnya dan menanti jawabannya.

"Dan juga venuenya tak begitu besar, paling pol hanya cukup menampung seratus orang," lanjut Satria lagi.

"Ya nggak papa sih, kan memang acaranya buat keluarga dan kerabat dekat saja, jadi pasti cukup kok," sambung Heidi menimpali pembicaraan orang disekitarnya.

"Jadi besok kita mulai bergerak ya mbak?" tanya Dewi mengajak calon besannya untuk acara pernikahan kedua anak mereka.

"Sat.... kamu tanya Gelsey mau minta seserahan apa aja? Kan karena pertunangan kalian yang mepet jadi seserahan belum sempat disiapin," kata Dewi yang duduk di sebelah kiri Satria.

"Iya nanti biar aku dibantu Sinta dan Winda bun untuk ngurusin itu," ucap Satria.

Dan setelah acara yang menguras energi dan emosi itu selesai, kini giliran Gelsey yang merenungi nasibnya di balkon kamarnya.

Nasibnya ibarat permen nano-nano yang rasanya ada manis, asem dan asin itu, entah bagaimana kelanjutan kisah hidupnya yang semakin semrawut itu.

Ah... entahlah....

Terpopuler

Comments

Rien

Rien

smg lancar.hepy bgt tentunta sang calon pengantin

2023-08-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!