Gelsey menatap parasnya yang terlihat berbeda pada cermin di depannya, sosok itu terlihat manis dan anggun, berbeda dengan kesehariannya yang terlihat semrawut karena berpenampilan apa adanya.
"Dek." Sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar.
MUA yang sedang membereskan alat make up nya berinisiatif membukakan pintu.
"Keluarga Satria sudah datang," ucap Laura calon kakak iparnya memberikan info.
"Nggak nyangka ya mbak harusnya yang hari ini tunangan kan kak Gino sama kak Sandi, ini malah aku langkahin," gerutu Gelsey lemah, setelah satu tahun yang lalu Gavin kakak tertua Gelsey bertunangan dengan Laura, harusnya giliran Gino dan Sandi yang bertunangan bukan dirinya.
"Jodohnya kan duluan kamu dek," hibur Laura sambil mengusap lengan Gelsey lembut.
"Jangan-jangan habis ini malah aku yang nikah duluan dibanding kakak."
"Udah ah nggak usah melow gitu, bikin aura ayunya jadi memudar." bisik Laura lembut.
Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuruni tangga menuju ke lantai satu untuk bergabung bersama keluarga mereka.
Meski saat ini hanya mengundang keluarga dan beberapa kerabat dekat tapi rumah ini yang telah disulap jadi tempat acara terlihat penuh dengan tamu undangan.
Semua mata menatap ke arah Gelsey yang sedang menuruni tangga dengan di gandeng oleh Laura.
Laura membimbing Gelsey untuk duduk diapit Bram dan Heidi yang terlihat bahagia karena perhelatan ini.
Sedang Satria yang duduk di hadapannya yang juga di apit kedua orang tuanya dengan intens menatap Gelsey yang terlihat cantik dan menawan memakai kebaya seperti itu.
Gelsey mengangkat wajahnya dan tanpa sengaja mata mereka bersirobak, senyum manis terukir di bibir Gelsey membuat Satria membalas senyumnya.
Lagi-lagi sesuatu yang di dalam dada sana berdesir pelan melihat Gelsey yang menawan seperti itu, nggak mungkin kan Satria tertarik dengan bocah ingusan yang sengaja disodorkan padanya itu?
Tanpa terasa acara demi acara telah Gelsey dan Satria lalui dan sekarang di jari manis tangan kiri mereka melingkar cincin pertunangan.
"Jadi rencananya acara pernikahannya mau kita adakan kapan?" Baskoro memulai diskusi dengan para tetua di keluarga tersebut.
"Semakin cepat semakin baik mas Bas," jawab Bram yang tak ingin menunda-nunda acara bahagia anak gadisnya.
"Enam bulan kelamaan nggak om?" tanya bunda Dewi.
"Kelamaan mbak, kalo bisa sih jangan lebih tiga bulan deh," jawab Bram.
Satria yang semula hanya menyimak obrolan para tetua tersebut langsung tersentak hebat.
'Kenapa kayak ter buru-buru gitu sih? Jangan-jangan nih cewek hamil sama pacarnya itu dan gue disuruh tanggungjawab, tapi kata Tama waktu itu dia masih ori' ucap Satria dalam hati.
"Mana bisa om waktu segitu untuk ngurusin ini itu," tegur Baskoro pelan.
Gelsey menatap orang disekitarnya dan memilih pergi dari ruangan tersebut, saat ini dia butuh pasokan udara untuk membuat otaknya bisa berfikir jernih.
Rasanya orang tuanya begitu terburu-buru untuk membuang dirinya dari kehidupan mereka.
"Ah sial!" maki Gelsey dengan mengetatkan rahangnya.
"Nyet!" panggil Caca yang berjalan menghampiri dengan Arumi yang berjalan mengekor di belakangnya.
"T**k!!" seru Gelsey tertahan.
"Sabar Nyet," ucap Rumi sambil mengelus pundak Gelsey lembut.
"Lo sadar nggak sih Ca Rum, gue kayak mau buru-buru dibuang sama bokap gue." Mata Gelsey menerawang menatap langit di atas sana yang terlihat gelap gulita tanpa bintang yang berpendar menghiasi langit itu.
Caca dan Arumi hanya terdiam, jujur dalam hati mereka juga paham apa yang dirasakan oleh Gelsey, usianya baru lepas dua puluh tahun, tapi dia diharuskan menikah beberapa bulan ke depan, ya meski ada perjanjian di dalam nikah kontrak mereka, tetap saja rasanya tuh..... menyakitkan!
Gelsey memejamkan mata, mendengar perdebatan di dalam sana yang masih terdengar memanas dan belum menemukan titik temu.
"Gel! Gelsey!" panggil Gino dari dalam rumah.
Dengan langkah berat, Gelsey terseok menghampiri sekumpulan orang tua yang sedang berdebat untuk menentukan masa depannya itu.
Dengan enggan Gelsey mengambil duduk di samping Satria, karena hanya itu saja tempat duduk yang tersisa.
"Kamu ingin konsep pernikahan seperti apa nak?" tanya Heidi lembut.
Semua mata menatap ke arahnya dan menunggu jawaban Gelsey.
"Aku ngikut aja ma, yang penting aku hanya ingin pernikahan aku diselenggarakan secara private dan dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja," jawab Gelsey lelah.
"Kamu nggak pengen perayaan besar-besaran dek?" tanya Gavin bingung dengan permintaan sang adik.
"Nggak ah kak, aku sama mas Satria udah sepakat pengen intimate aja dengan keluarga," jawab Gelsey.
"Yakin kamu?" tanya Bram tegas.
"Iya kan mas, kita maunya intimate aja kan?" tanya Gelsey menatap tunangan itu untuk meminta support.
Dan percayalah setiap Gelsey memanggilnya dengan sebutan 'mas', selalu saja dada Satria berdesir pelan.
"Iya." Hanya itu yang sanggup Satria ucapkan.
"Oke kalo begitu bagaimana kalo acara pernikahannya dilaksanakan di cottage kamu yang ada di Bali aja nak, kalo nggak salah sudah mau launching kan?" tanya bunda Dewi memberi usulan.
Satria melihat bundanya dengan tatapan yang.... entahlah, ada rasa kesal karena bundanya pakai menyebutkan usaha lain yang dimilikinya selain usaha restauran.
"Ya nggak papa bun, cuman cottage itu hanya memiliki beberapa kamar, nggak akan cukup meski hanya untuk menampung keluarga kita aja," ucap Satria setelah semua mata menatapnya dan menanti jawabannya.
"Dan juga venuenya tak begitu besar, paling pol hanya cukup menampung seratus orang," lanjut Satria lagi.
"Ya nggak papa sih, kan memang acaranya buat keluarga dan kerabat dekat saja, jadi pasti cukup kok," sambung Heidi menimpali pembicaraan orang disekitarnya.
"Jadi besok kita mulai bergerak ya mbak?" tanya Dewi mengajak calon besannya untuk acara pernikahan kedua anak mereka.
"Sat.... kamu tanya Gelsey mau minta seserahan apa aja? Kan karena pertunangan kalian yang mepet jadi seserahan belum sempat disiapin," kata Dewi yang duduk di sebelah kiri Satria.
"Iya nanti biar aku dibantu Sinta dan Winda bun untuk ngurusin itu," ucap Satria.
Dan setelah acara yang menguras energi dan emosi itu selesai, kini giliran Gelsey yang merenungi nasibnya di balkon kamarnya.
Nasibnya ibarat permen nano-nano yang rasanya ada manis, asem dan asin itu, entah bagaimana kelanjutan kisah hidupnya yang semakin semrawut itu.
Ah... entahlah....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Rien
smg lancar.hepy bgt tentunta sang calon pengantin
2023-08-22
1