Bram baru sampai di kantor selepas makan siang, menghempaskan tubuh lelahnya di kursi kerjanya.
Badan dan hatinya lelah memikirkan perangai anak gadisnya yang semakin hari semakin membuatnya tujuh keliling.
Dulu... ya dulu, Gelsey tidak seperti ini, sejak kedua kakaknya memilih tinggal terpisah dengan mereka, dan kesibukan orang tuanya juga semakin meningkat, mungkin Gelsey merasa kesepian sehingga harus melarikan diri ke club untuk mengusir kesepiannya.
Sebagai seorang ayah tentu Bram menginginkan yang terbaik untuk Gelsey, apalagi mata-mata yang ditempatkannya untuk mengawasi Gelsey memberi laporan yang meresahkan.
Berhubungan dengan lelaki tak jelas yang hanya bisa memporoti Gelsey dan juga berselingkuh di belakang Gelsey.
Kalau Bram belum mengambil tindakan sampai hari ini, itu semata-mata karena Rico tidak melakukan hal yang senonoh terhadap Gelsey.
Bram tak pernah menentang anak-anak untuk memilih pasangan hidupnya masing-masing selama orang itu baik dan tulus.
Begitu pun ketika Giorgino memilih untuk mendirikan perusahaan arsitektur ketimbang membantu Bram mengelola perusahaan, Bram pun tak mempermasalahkannya, yang penting anak mau mandiri, memikirkan masa depannya dengan baik.
Telepon internal di meja kerjanya berbunyi, membangunkan tentang semua lamunannya, dengan malas Bram mengangkatnya.
"Halo Lan," suara bariton Bram menyapa panggilan Lani sekretarisnya.
"Bapak di luar ada pak Baskoro ijin untuk bertemu."
"Suruh masuk Lan."
Lalu klik.... Bram meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.
Pintu ruangannya diketok, lalu Lani membukakan pintu dan mempersilakan Baskoro untuk masuk ke dalam ruangan Bram.
"Halo mas Bas, apa kabar?" sapa Bram sambil memeluk teman lamanya itu erat.
"Baik, baik Bram, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Baskoro sambil melepas pelukannya.
"Yah beginilah mas, lagi pusing mikirin anak wedok," jawab Bram lalu mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
Tak lama Lani datang membawa kopi dan air putih untuk Bram dan tamunya.
"Thanks Lan," ucap Bram.
"Sama-sama pak." Lalu Lani undur diri dari hadapan Bram.
"Nak wedok? Maksud kamu Gelsey?" tanya Baskoro melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus karena sekretaris Bram masuk.
"Ya siapa lagi mas kalo bukan Gelsey, anak perempuanku kan cuman dia, hahaha," kekeh Bram geli.
"Ya siapa tahu ada anak perempuan yang lain," goda Baskoro jail.
"Oralah mas, punya Gelsey satu aja bikin ketar ketir mulu."
"Emang kenapa dengan gadis cantik itu?"
"Semakin dewasa semakin ada aja tingkahnya, aku sama mamanya sampai dibikin pusing tiap hari." Bram mengeluh sambil memijit kepalanya.
Baskoro sudah seperti kakak buat Bram, dulu sekali ketika Baskoro sedang kena musibah dan semua orang menghindari dirinya, hanya Bram yang berani mendekat dan mengulurkan bantuan, karena hal itu kedua keluarga menjadi sahabat dekat.
"Kadang memang anak memiliki karakter masing-masing Bram, tak bisa kita menuntut mereka seperti yang kita mau," nasihat Baskoro pelan.
"Iya sih mas, cuman yang ini bikin aku sama mamanya give up banget."
"Kenapa sih?" tanya Baskoro mulai kepo.
"Dugem, mabok, foya-foya, kuliah nggak bener, ntah apa lagi yang dia perbuat di luar sana," keluh Bram dengan nada frustasi.
"Aku sampai bingung mau gimanain tuh anak," lanjut Bram.
"Pelan-pelan Bram, anak seusia Gelsey gitu kalo semakin ditekan akan semakin memberontak."
"Em.... mas," panggil Bram ragu-ragu.
"Iya?"
"Satria gimana kabarnya?" tanya Bram mulai melancarkan rencananya semalam.
"Baik Bram."
"Dia udah punya kekasih lagi belum?" tanya Bram lagi.
"Sejak pertunangannya dengan Karina kandas tiga tahun yang lalu, sampai sekarang dia belum punya pacar lagi, kenapa?" tanya Baskoro mulai mencium niatan lain dari Bram yang menanyakan anak lelakinya.
"Kalo kita jodohin mereka gimana mas?"
"Maksud kamu Gelsey dan Satria kita jodohkan?" tanya Baskoro agak kaget.
"Iya, aku pengen punya mantu kaya Satria mas, aku tahu dia pasti bisa bimbing Gelsey ke arah yang lebih baik," ucap Bram hati-hati.
"Tapi apa Gelsey nggak terlalu muda untuk menikah Bram, jalannya masih panjang, kasihan kalo kita renggut masa mudanya," tegur Baskoro pelan.
"Bulan depan dia berumur dua puluh tahun, aku rasa dia sudah cukup umur untuk menikah, aku percaya dengan Satria mas," bujuk Bram.
Dan Baskoro hanya bisa menghela nafas panjang, pernah di tolong oleh Bram, istilahnya keluarganya bisa seperti sekarang ini juga berkat bantuan Bram dulu, membalas budi kebaikan seseorang itu kan perlu.
Tapi disisi lain kebahagiaan anaknya harus ia gadaikan untuk membalas budi ke Bram, sungguh Baskoro dilema, apalagi dia tahu kalau Satria belum bisa membuka hati untuk wanita lain setelah pertunangannya kandas ditengah jalan.
"Gimana mas?" tanya Bram ketika melihat Baskoro melamun dan tak menanggapi permintaan dirinya.
"Aku tanya anaknya dulu ya Bram, nanti aku kabarin lagi," jawab Baskoro akhirnya.
"Thanks mas, aku tahu kamu akan bantu aku kali ini." Ucapan biasa yang sarat akan makna itu hanya bisa diangguki oleh Baskoro.
Lalu keduanya melanjutkan obrolan lain tentang perkembangan bisnis mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
BISA KLO DIDIDIK AGAMA SDARI OROK..
2024-06-29
1
Mamah Kekey
bagus ceritanya aku gak ribet bacanya..
2023-10-19
2
Rien
ya bgs"
2023-09-10
0