Bab 4 : Kedatangan sahabat lama

Bram baru sampai di kantor selepas makan siang, menghempaskan tubuh lelahnya di kursi kerjanya.

Badan dan hatinya lelah memikirkan perangai anak gadisnya yang semakin hari semakin membuatnya tujuh keliling.

Dulu... ya dulu, Gelsey tidak seperti ini, sejak kedua kakaknya memilih tinggal terpisah dengan mereka, dan kesibukan orang tuanya juga semakin meningkat, mungkin Gelsey merasa kesepian sehingga harus melarikan diri ke club untuk mengusir kesepiannya.

Sebagai seorang ayah tentu Bram menginginkan yang terbaik untuk Gelsey, apalagi mata-mata yang ditempatkannya untuk mengawasi Gelsey memberi laporan yang meresahkan.

Berhubungan dengan lelaki tak jelas yang hanya bisa memporoti Gelsey dan juga berselingkuh di belakang Gelsey.

Kalau Bram belum mengambil tindakan sampai hari ini, itu semata-mata karena Rico tidak melakukan hal yang senonoh terhadap Gelsey.

Bram tak pernah menentang anak-anak untuk memilih pasangan hidupnya masing-masing selama orang itu baik dan tulus.

Begitu pun ketika Giorgino memilih untuk mendirikan perusahaan arsitektur ketimbang membantu Bram mengelola perusahaan, Bram pun tak mempermasalahkannya, yang penting anak mau mandiri, memikirkan masa depannya dengan baik.

Telepon internal di meja kerjanya berbunyi, membangunkan tentang semua lamunannya, dengan malas Bram mengangkatnya.

"Halo Lan," suara bariton Bram menyapa panggilan Lani sekretarisnya.

"Bapak di luar ada pak Baskoro ijin untuk bertemu."

"Suruh masuk Lan."

Lalu klik.... Bram meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.

Pintu ruangannya diketok, lalu Lani membukakan pintu dan mempersilakan Baskoro untuk masuk ke dalam ruangan Bram.

"Halo mas Bas, apa kabar?" sapa Bram sambil memeluk teman lamanya itu erat.

"Baik, baik Bram, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Baskoro sambil melepas pelukannya.

"Yah beginilah mas, lagi pusing mikirin anak wedok," jawab Bram lalu mempersilakan tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.

Tak lama Lani datang membawa kopi dan air putih untuk Bram dan tamunya.

"Thanks Lan," ucap Bram.

"Sama-sama pak." Lalu Lani undur diri dari hadapan Bram.

"Nak wedok? Maksud kamu Gelsey?" tanya Baskoro melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus karena sekretaris Bram masuk.

"Ya siapa lagi mas kalo bukan Gelsey, anak perempuanku kan cuman dia, hahaha," kekeh Bram geli.

"Ya siapa tahu ada anak perempuan yang lain," goda Baskoro jail.

"Oralah mas, punya Gelsey satu aja bikin ketar ketir mulu."

"Emang kenapa dengan gadis cantik itu?"

"Semakin dewasa semakin ada aja tingkahnya, aku sama mamanya sampai dibikin pusing tiap hari." Bram mengeluh sambil memijit kepalanya.

Baskoro sudah seperti kakak buat Bram, dulu sekali ketika Baskoro sedang kena musibah dan semua orang menghindari dirinya, hanya Bram yang berani mendekat dan mengulurkan bantuan, karena hal itu kedua keluarga menjadi sahabat dekat.

"Kadang memang anak memiliki karakter masing-masing Bram, tak bisa kita menuntut mereka seperti yang kita mau," nasihat Baskoro pelan.

"Iya sih mas, cuman yang ini bikin aku sama mamanya give up banget."

"Kenapa sih?" tanya Baskoro mulai kepo.

"Dugem, mabok, foya-foya, kuliah nggak bener, ntah apa lagi yang dia perbuat di luar sana," keluh Bram dengan nada frustasi.

"Aku sampai bingung mau gimanain tuh anak," lanjut Bram.

"Pelan-pelan Bram, anak seusia Gelsey gitu kalo semakin ditekan akan semakin memberontak."

"Em.... mas," panggil Bram ragu-ragu.

"Iya?"

"Satria gimana kabarnya?" tanya Bram mulai melancarkan rencananya semalam.

"Baik Bram."

"Dia udah punya kekasih lagi belum?" tanya Bram lagi.

"Sejak pertunangannya dengan Karina kandas tiga tahun yang lalu, sampai sekarang dia belum punya pacar lagi, kenapa?" tanya Baskoro mulai mencium niatan lain dari Bram yang menanyakan anak lelakinya.

"Kalo kita jodohin mereka gimana mas?"

"Maksud kamu Gelsey dan Satria kita jodohkan?" tanya Baskoro agak kaget.

"Iya, aku pengen punya mantu kaya Satria mas, aku tahu dia pasti bisa bimbing Gelsey ke arah yang lebih baik," ucap Bram hati-hati.

"Tapi apa Gelsey nggak terlalu muda untuk menikah Bram, jalannya masih panjang, kasihan kalo kita renggut masa mudanya," tegur Baskoro pelan.

"Bulan depan dia berumur dua puluh tahun, aku rasa dia sudah cukup umur untuk menikah, aku percaya dengan Satria mas," bujuk Bram.

Dan Baskoro hanya bisa menghela nafas panjang, pernah di tolong oleh Bram, istilahnya keluarganya bisa seperti sekarang ini juga berkat bantuan Bram dulu, membalas budi kebaikan seseorang itu kan perlu.

Tapi disisi lain kebahagiaan anaknya harus ia gadaikan untuk membalas budi ke Bram, sungguh Baskoro dilema, apalagi dia tahu kalau Satria belum bisa membuka hati untuk wanita lain setelah pertunangannya kandas ditengah jalan.

"Gimana mas?" tanya Bram ketika melihat Baskoro melamun dan tak menanggapi permintaan dirinya.

"Aku tanya anaknya dulu ya Bram, nanti aku kabarin lagi," jawab Baskoro akhirnya.

"Thanks mas, aku tahu kamu akan bantu aku kali ini." Ucapan biasa yang sarat akan makna itu hanya bisa diangguki oleh Baskoro.

Lalu keduanya melanjutkan obrolan lain tentang perkembangan bisnis mereka.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

BISA KLO DIDIDIK AGAMA SDARI OROK..

2024-06-29

1

Mamah Kekey

Mamah Kekey

bagus ceritanya aku gak ribet bacanya..

2023-10-19

2

Rien

Rien

ya bgs"

2023-09-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!