Dari kantor Gavin, Gelsey lalu mengarahkan laju mobilnya menuju ke rumah Giorgino kakak keduanya.
Sebenarnya Gelsey sangsi untuk meminta bantuan dari Giorgino, sedang sang kakak tertuanya saja menolak membantu, apalagi kakak keduanya yang lebih introvert dan malas ikut campur dengan urusan orang lain itu.
Tapi Gelsey pantang menyerah dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membatalkan rencana sang papa yang ingin menikahkan dirinya dengan Satria.
Gelsey berhenti di sebuah rumah mewah dengan disain yang memukau di depannya itu.
Gelsey melongokan kepala ke pos satpam di sampingnya.
"Kak Gino ada nggak pak?" tanya Gelsey kepada mang Jajang, satpam sekaligus tukang kebon dirumah Gino.
"Ada neng, baru nyampai dari luar kota pagi tadi, hari ini kebetulan nggak ngantor," jawab Jajang sambil membuka pintu gerbang untuk Gelsey.
Gelsey memarkirkan mobilnya di belakang mobil Gino, dan melangkah memasuki rumah bergaya minimalis tapi elegan itu.
"Mbok... " sapa Gelsey ketika melihat mbok Yem keluar dari dapur.
"Eh non, tumben kesini," sapa mbok Yem.
"Kak Gino dimana mbok?" tanya Gelsey celingukan mencari sang kakak.
"Tidur kayaknya non, baru pulang dari Bali tadi pagi," jawab mbok Yem.
Gelsey mengangguk-angguk lalu melangkah menuju kamar sang kakak.
"Non Gelsey mau minum apa?" tanya mbok Yem sebelum Gelsey menghilang ke dalam kamar Gino.
"Apa aja mbok," jawab Gelsey hanya menggerakkan bibirnya.
Mbok Yem mengangguk, lalu Gelsey menutup pintu tersebut dan berjalan berjingkat mendekati ranjang tempat Gino sedang tidur tersebut.
Tanpa basa-basi Gelsey langsung melompat ke atas tempat tidur dan menindih tubuh Gino.
"An**ng!" maki Gino kaget membuat Gelsey tertawa terbahak-bahak.
"Astaga dek, aku kira siapa, hampir aja aku tonjok tadi," gerutu Gino lalu kembali berbaring sambil memeluk guling.
Gelsey memeluk Gino dengan erat, membuat sang kakak kembali melek mendapati adeknya bertingkah aneh.
Meskipun Gino lebih pendiam dan berwajah datar mirip triplek, tapi Gelsey tak sungkan untuk bermanja-manja dengannya.
"Kak.... Kak Gino," panggil Gelsey menyuruh kakaknya balik badan berhadapan dengannya.
"Apa sih dek? Kakak capek banget nih beberapa hari kurang tidur," gumam Gino masih setia memeluk guling dan mengabaikan Gelsey.
Karena tak tega dengan kakaknya, Gelsey memilih membiarkan Gino melanjutkan tidurnya dan Gelsey pun ikut terlelap bersama sang kakak.
Entah sudah berapa lama Gelsey tertidur, tiba-tiba dirinya terbangun dan tidak mendapati sang kakak di sampingnya.
Sejenak merenggangkan otot-ototnya yang kaku lalu Gelsey bangun dan melangkahkan kaki keluar kamar untuk mencari Gino.
"Kebiasaan jelek kamu tuh dek, paham nggak sih udah gede main nemplok aja sama kakak," gerutu Gino kesel.
"Ya kan sama kakak sendiri, lagian aku juga ngantuk kak," sahut Gelsey pelan, lalu menjatuhkan tubuh di samping sang kakak yang sedang duduk selonjoran di sofa ruang tengah.
"Kenapa? Uang jajanmu dipotong papa lagi?" tanya Gino menebak masalah sang adik yang sejak tadi terlihat manyun itu.
Gelsey menggeleng lalu menyandarkan kepala di bahu Gino.
"Kenapa hmm?" tanya Gino menjadi penasaran.
Gino memang pelit bicara, sering berwajah datar dan tak suka ikut campur urusan orang lain, tapi khusus masalah Gelsey entah kenapa cowok ganteng itu tak bisa kalau ia cuek dan berkesan tak peduli.
"Bantuin aku kak," rengek Gelsey manja.
"Bantuin apa?" tanya Gino penasaran.
"Kamu nggak lagi hamil kan?!" pekik Gino panik melihat Gelsey hanya mengatupkan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan darinya.
Dengan gemas Gelsey menabok paha Gino."Dih bukan itu!"
"Syukur deh, soalnya kakak khawatir sama kelakuan kamu diluaran sana, dugem, pacaran sama cowok nggak jelas itu.... duh dek kadang kamu tuh bikin kakak jantungan."
"Kakak tahu pacar aku?" tanya Gelsey penasaran.
"Iyalah, waktu itu papa sama mama cerita ke aku sama kak Gavin mengenai kelakuan kamu itu, masak pacaran sama orang kayak gitu," jawab Gino sambil menyentil kening sang adik gemas.
Gelsey mengusap kening yang disentil sang kakak dengan pelan, mengerucutkan bibir kesal dengan semua orang yang tak suka sama Rico.
"Rico baik kok," bela Gelsey pelan.
Gino hanya mencibir mendengar pembelaan Gelsey kepada pacarnya.
"Kak.... masak papa mau jodohin aku sama anaknya om Baskoro," adu Gelsey dengan wajah ditekuk, mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya dan Rico.
"Satria maksud kamu?" tanya Giorgino kaget.
"Iya, kakak kenal emang?" Gelsey balik bertanya.
"Kenal banget sing nggak, dia kan temen sekolahnya kak Gavin, jadi yang kenal dekat sih kak Gavin," jawab Giorgino.
"Nah kan, masak aku mau dinikahkan sama om-om," omel Gelsey kesal.
"Hey.... dia itu seumuran kak Gavin, belum om-om," sahut Giorgino sambil menoleh ke arah Gelsey.
"Tetep aja jaraknya kejauhan sama aku, please kak, bilangin papa aku nggak mau nikah sama dia," rengek Gelsey memelas.
"Hei... daripada kamu nikah sama cowok nggak jelas itu mending kamu nikah ama Satria, aku dengar dia pengusaha muda yang sukses dan dari keluarga baik-baik juga," ucap Gino pelan.
"Tapi aku masih muda kak, aku masih kepengen main-main," rengek Gelsey lagi.
"Ya iya sih, kamu ngelap ingus aja belum bener kok mau nikah," sahut Gino sambil terkekeh.
"Nah kan, makanya tolong bantu aku bilang ke papa buat ngebatalin perjodohan ini," rayu Gelsey.
"Nggak ah, aku nggak berani," tolak Gino tegas.
"Ah kakak..... " rengek Gelsey.
"Aku nggak berani Gel, takutnya aku nanti ditarik buat kerja di perusahaannya papa dan nggak diijinin buat ngembangin usaha arsitekku, aku nggak mau ikut campur ah," tolak Gino tegas.
"Kak Gino gitu deh." Gelsey masih berusaha merayu sang kakak.
"Kenapa nggak minta tolong kak Gavin?" tanya Gino.
"Kak Gavin nggak mau!" ketus Gelsey mulai emosi.
"Nah kak Gavin aja nggak berani, apalagi aku dek."
Gelsey menghembuskan nafas lelah, tidak ada lagi yang bisa ia harapkan untuk menolong dirinya dari pernikahan konyol ini.
Dengan langkah gontai Gelsey keluar dari rumah sang kakak, tak menghiraukan panggilan Gino dan memilih untuk pergi dari rumah tersebut.
Gelsey menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong, ya kali dia yang baru berusia dua puluh tahun harus menikah sih, apa tak ada lagi yang bisa orang tuanya rencanakan kecuali menikahkan dirinya.
"Argggg...... bang**t!" teriak Gelsey marah, karena usahanya tak membuahkan hasil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
BAIK KRN ADA MODUSNYA, LO AZA YG GABLEK..
2024-06-29
1