Bab 11 : Usaha tanpa hasil

Dari kantor Gavin, Gelsey lalu mengarahkan laju mobilnya menuju ke rumah Giorgino kakak keduanya.

Sebenarnya Gelsey sangsi untuk meminta bantuan dari Giorgino, sedang sang kakak tertuanya saja menolak membantu, apalagi kakak keduanya yang lebih introvert dan malas ikut campur dengan urusan orang lain itu.

Tapi Gelsey pantang menyerah dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membatalkan rencana sang papa yang ingin menikahkan dirinya dengan Satria.

Gelsey berhenti di sebuah rumah mewah dengan disain yang memukau di depannya itu.

Gelsey melongokan kepala ke pos satpam di sampingnya.

"Kak Gino ada nggak pak?" tanya Gelsey kepada mang Jajang, satpam sekaligus tukang kebon dirumah Gino.

"Ada neng, baru nyampai dari luar kota pagi tadi, hari ini kebetulan nggak ngantor," jawab Jajang sambil membuka pintu gerbang untuk Gelsey.

Gelsey memarkirkan mobilnya di belakang mobil Gino, dan melangkah memasuki rumah bergaya minimalis tapi elegan itu.

"Mbok... " sapa Gelsey ketika melihat mbok Yem keluar dari dapur.

"Eh non, tumben kesini," sapa mbok Yem.

"Kak Gino dimana mbok?" tanya Gelsey celingukan mencari sang kakak.

"Tidur kayaknya non, baru pulang dari Bali tadi pagi," jawab mbok Yem.

Gelsey mengangguk-angguk lalu melangkah menuju kamar sang kakak.

"Non Gelsey mau minum apa?" tanya mbok Yem sebelum Gelsey menghilang ke dalam kamar Gino.

"Apa aja mbok," jawab Gelsey hanya menggerakkan bibirnya.

Mbok Yem mengangguk, lalu Gelsey menutup pintu tersebut dan berjalan berjingkat mendekati ranjang tempat Gino sedang tidur tersebut.

Tanpa basa-basi Gelsey langsung melompat ke atas tempat tidur dan menindih tubuh Gino.

"An**ng!" maki Gino kaget membuat Gelsey tertawa terbahak-bahak.

"Astaga dek, aku kira siapa, hampir aja aku tonjok tadi," gerutu Gino lalu kembali berbaring sambil memeluk guling.

Gelsey memeluk Gino dengan erat, membuat sang kakak kembali melek mendapati adeknya bertingkah aneh.

Meskipun Gino lebih pendiam dan berwajah datar mirip triplek, tapi Gelsey tak sungkan untuk bermanja-manja dengannya.

"Kak.... Kak Gino," panggil Gelsey menyuruh kakaknya balik badan berhadapan dengannya.

"Apa sih dek? Kakak capek banget nih beberapa hari kurang tidur," gumam Gino masih setia memeluk guling dan mengabaikan Gelsey.

Karena tak tega dengan kakaknya, Gelsey memilih membiarkan Gino melanjutkan tidurnya dan Gelsey pun ikut terlelap bersama sang kakak.

Entah sudah berapa lama Gelsey tertidur, tiba-tiba dirinya terbangun dan tidak mendapati sang kakak di sampingnya.

Sejenak merenggangkan otot-ototnya yang kaku lalu Gelsey bangun dan melangkahkan kaki keluar kamar untuk mencari Gino.

"Kebiasaan jelek kamu tuh dek, paham nggak sih udah gede main nemplok aja sama kakak," gerutu Gino kesel.

"Ya kan sama kakak sendiri, lagian aku juga ngantuk kak," sahut Gelsey pelan, lalu menjatuhkan tubuh di samping sang kakak yang sedang duduk selonjoran di sofa ruang tengah.

"Kenapa? Uang jajanmu dipotong papa lagi?" tanya Gino menebak masalah sang adik yang sejak tadi terlihat manyun itu.

Gelsey menggeleng lalu menyandarkan kepala di bahu Gino.

"Kenapa hmm?" tanya Gino menjadi penasaran.

Gino memang pelit bicara, sering berwajah datar dan tak suka ikut campur urusan orang lain, tapi khusus masalah Gelsey entah kenapa cowok ganteng itu tak bisa kalau ia cuek dan berkesan tak peduli.

"Bantuin aku kak," rengek Gelsey manja.

"Bantuin apa?" tanya Gino penasaran.

"Kamu nggak lagi hamil kan?!" pekik Gino panik melihat Gelsey hanya mengatupkan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan darinya.

Dengan gemas Gelsey menabok paha Gino."Dih bukan itu!"

"Syukur deh, soalnya kakak khawatir sama kelakuan kamu diluaran sana, dugem, pacaran sama cowok nggak jelas itu.... duh dek kadang kamu tuh bikin kakak jantungan."

"Kakak tahu pacar aku?" tanya Gelsey penasaran.

"Iyalah, waktu itu papa sama mama cerita ke aku sama kak Gavin mengenai kelakuan kamu itu, masak pacaran sama orang kayak gitu," jawab Gino sambil menyentil kening sang adik gemas.

Gelsey mengusap kening yang disentil sang kakak dengan pelan, mengerucutkan bibir kesal dengan semua orang yang tak suka sama Rico.

"Rico baik kok," bela Gelsey pelan.

Gino hanya mencibir mendengar pembelaan Gelsey kepada pacarnya.

"Kak.... masak papa mau jodohin aku sama anaknya om Baskoro," adu Gelsey dengan wajah ditekuk, mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya dan Rico.

"Satria maksud kamu?" tanya Giorgino kaget.

"Iya, kakak kenal emang?" Gelsey balik bertanya.

"Kenal banget sing nggak, dia kan temen sekolahnya kak Gavin, jadi yang kenal dekat sih kak Gavin," jawab Giorgino.

"Nah kan, masak aku mau dinikahkan sama om-om," omel Gelsey kesal.

"Hey.... dia itu seumuran kak Gavin, belum om-om," sahut Giorgino sambil menoleh ke arah Gelsey.

"Tetep aja jaraknya kejauhan sama aku, please kak, bilangin papa aku nggak mau nikah sama dia," rengek Gelsey memelas.

"Hei... daripada kamu nikah sama cowok nggak jelas itu mending kamu nikah ama Satria, aku dengar dia pengusaha muda yang sukses dan dari keluarga baik-baik juga," ucap Gino pelan.

"Tapi aku masih muda kak, aku masih kepengen main-main," rengek Gelsey lagi.

"Ya iya sih, kamu ngelap ingus aja belum bener kok mau nikah," sahut Gino sambil terkekeh.

"Nah kan, makanya tolong bantu aku bilang ke papa buat ngebatalin perjodohan ini," rayu Gelsey.

"Nggak ah, aku nggak berani," tolak Gino tegas.

"Ah kakak..... " rengek Gelsey.

"Aku nggak berani Gel, takutnya aku nanti ditarik buat kerja di perusahaannya papa dan nggak diijinin buat ngembangin usaha arsitekku, aku nggak mau ikut campur ah," tolak Gino tegas.

"Kak Gino gitu deh." Gelsey masih berusaha merayu sang kakak.

"Kenapa nggak minta tolong kak Gavin?" tanya Gino.

"Kak Gavin nggak mau!" ketus Gelsey mulai emosi.

"Nah kak Gavin aja nggak berani, apalagi aku dek."

Gelsey menghembuskan nafas lelah, tidak ada lagi yang bisa ia harapkan untuk menolong dirinya dari pernikahan konyol ini.

Dengan langkah gontai Gelsey keluar dari rumah sang kakak, tak menghiraukan panggilan Gino dan memilih untuk pergi dari rumah tersebut.

Gelsey menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong, ya kali dia yang baru berusia dua puluh tahun harus menikah sih, apa tak ada lagi yang bisa orang tuanya rencanakan kecuali menikahkan dirinya.

"Argggg...... bang**t!" teriak Gelsey marah, karena usahanya tak membuahkan hasil.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

BAIK KRN ADA MODUSNYA, LO AZA YG GABLEK..

2024-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!