Gelsey meneliti penampilannya di kaca besar yang ada di depannya.
Setelah tak ada celah untuk dia menolak perjodohan ini, akhirnya Gelsey menyerah yang tak benar-benar menyerah, lho maksudnya apa ini?
Ya Gelsey ingin bertemu dengan calon suaminya, cckk terdengar cringe banget nggak sih, menyebutkan kata calon suami ketika umurnya masih berada di angka awal dua puluhan.
Dan sehari sebelumnya ia mengirimkan pesan kepada Satria untuk mengajak pria itu bertemu, at least dia ingin mengenal Satria terlebih dulu, memahami kenapa pria high quality jomblo kayak dia tak bisa mencari pasangan yang sepadan dan menerima begitu saja perjodohan ini.
Dan good news-nya Satria bahkan menerima ajakan Gelsey itu tanpa berfikir panjang, terlihat dari dia meng-oke-kan ajakan Gelsey.
Gelsey memacu mobilnya menuju ke sebuah kafe, tempat yang ditentukan untuk mereka bertemu.
Pernah melihat wajah sang calon suami di sebuah berita online membuat Gelsey tak kesulitan menemukan pria yang dicarinya duduk di pojokan kafe sedang mengotak-atik ponselnya.
"Hai," sapa Gelsey ramah, setidaknya Gelsey harus bersikap sopan di tempat umum kan?
Satria mendongak menatap cewek cantik yang sedang berdiri di depannya.
'Not bad' batin Satria.
"Duduk Gel," perintah Satria dengan suara dingin.
Gelsey menurut, menarik kursi di depan Satria dan menatap pria di depannya yang memasang muka datar minim ekspresi.
"Mau minum apa?" tanya Satria seraya mengangkat tangan memanggil salah satu pelayan yang melintas di dekatnya.
Pelayan datang dan mencatat pesanan Gelsey, dan tak lama menyingkir dari sana.
"Jadi? Kenapa kamu ngajak saya ketemu?" tanya Satria to the point.
"Batalin rencana perjodohan ini!" jawab Gelsey to the point juga.
"Kenapa?" tanya Satria sambil mengeryitkan kening bingung.
"Pertama karena aku masih muda, kedua aku nggak tertarik sama kamu, ketiga aku punya pacar," jawab Gelsey cuek.
"Kenapa nggak kamu aja yang batalin ke papa kamu?" tanya Satria ketus, sisi hatinya yang lain tersinggung dengan keterus-terangan Gelsey barusan.
"Ya karena aku nggak punya kuasa buat nolak mas!" sahut Gelsey ketus.
Deg.
Entah kenapa hati Satria menghangat mendengar Gelsey memanggilnya dengan sebutan mas.
"Kenapa kamu nggak kuasa menolak?" tanya Satria semakin tertarik.
"Ya karena yang aku hadapi Bramenda Wicaksono, si diktaktor itu sulit untuk ditolak keputusannya." dengus Gelsey sebal.
"Kalo kamu aja yang anaknya nggak bisa nolak, apalagi keluarga saya yang notabene punya utang budi sama papa kamu!"
"Anj** emang tuh orang!" maki Gelsey kesal lalu menyesap kopi yang baru saja disajikan oleh pelayan.
"Terus rencana kamu apa?" tanya Satria lagi.
Gelsey mengedikkan bahu."Aku nggak tahu mas, baru bilang nggak mau aja semua kartuku langsung diblokir!"
"Oh cuman gegara itu, kamu bisa kok mengandalkan saya kalo cuman masalah finansial, saya akan support kamu asal kamu menolak keinginan papa kamu itu!"
"Kenapa bukan mas Satria aja yang menolak?!" tanya Gelsey sarkas.
"Karena saya nggak kuasa menolak Gel, perusahaan kami bisa digulung sama papa kamu kalo kami sampai menolak permintaannya," tolak Satria halus, dia tak akan tega mengorbankan keluarganya dalam hal ini, Bramenda jelas sanggup melakukan banyak hal hanya untuk menghancurkan keluarga Baskoro Danuarta yang kuasanya hanya seujung kukunya Bram.
"Berarti mas pengecut dong?" ledek Gelsey santai.
"Kamu!" tegur Satria menggeram.
"Ya terus apa namanya mas, jangan beraninya nyuruh anak kecil kayak aku gini dong," sahut Gelsey tak terima ditegur Satria.
Satria memijit keningnya kesal, cewek di depannya ini benar-benar menguras kesabarannya, belum jadi istri saja sudah seabsurd begini, apalagi kalau mereka benar-benar menikah nanti.
"Kita bikin contract of marriage aja!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments