Bab 8 : Tak sengaja bertemu

Sejak kedatangan sang bunda di kantornya tadi, praktis konsentrasi Satria jadi buyar, semua laporan yang harus ia baca dan periksa, tak ada satupun yang sesuai dengan kemauannya, semua salah dan harus dikoreksi.

Hingga mood Satria yang terjun bebas itu mempengaruhi anak buahnya, terkhusus untuk Winda yang bakalan jadi samsak hidup oleh Satria.

Sepanjang hari bibir Winda manyun dan mukanya terlihat bete, belum apa-apa saja setumpuk kertas sudah terlempar di atas mejanya.

Bahkan kalau mood si boss tak juga membaik, sudah dipastikan Winda harus siap untuk lembur untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tak penting untuk dikerjakan.

Pintu dari kayu jati kokoh di depannya terbuka, Satria keluar ruangan dengan menenteng tas kerjanya.

"Win... sudah malem, saya mau pulang." pamit Satria lalu pergi dari hadapan Winda.

Wuih.... serta merta muka Winda langsung berseri melihat si boss keluar dari ruangan dan memintanya pulang.

"Oke Pak, hati-hati dijalan," ucap Winda sambil melepas kepergian bossnya, lalu merapikan dokumen yang berserakan di mejanya.

Lagi diam menatap angka dalam lift yang bergerak turun, tiba-tiba bunyi ponsel di dalam saku bergetar meminta atensinya.

Satria menggeser tombol warna hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.

"Hmmm.... " sapanya kepada orang di seberang sana.

"__"

"Males gue," sahut Satria.

"__"

"Nggak minat!" ketus Satria.

"__"

"Oke gue meluncur, tapi gue nggak mau ada cewek ya?"

"__"

"Basi! Bikin males!" Satria menutup teleponnya.

Walau Satria mengatakan tak ingin bergabung dengan para sahabatnya untuk hangout, tapi kenyataan ia mengarahkan mobilnya menuju club langganan tempat biasa mereka hangout.

Sampai ke tempat tujuan, Satria melempar kunci mobilnya ke petugas valley lalu melangkah memasuki club yang terdengar hingar bingar dengan lampu kerlap kerlip yang memendar hampir di seluruh ruangan.

"Hai bos, tumben absen lagi?" sapa Tama dari balik meja bartender.

Satria menyunggingkan senyum tipis kepada Tama." Juna udah datang Tam?" tanya Satria.

"Udah boss, di ruangan biasa," jawab Tama.

Satria menenggak minuman yang disodorkan oleh Tama dalam satu kali tenggakan, lalu berjalan menuju ke ruangan yang berada di lantai dua.

Tanpa mengetuk pintu, Satria langsung masuk ke dalam ruangan privat itu lalu mendengus kasar ketika melihat Rendi sedang asyik dengan perempuan berpakaian minim yang duduk di pangkuannya itu.

"Wah wah.... akhirnya sohib kita nongol juga," seloroh Juna sambil berdiri dan menyambut sang sahabat.

Satria menghempaskan tubuhnya di samping Juna, dan sesekali melirik malas Rendi yang sedang bercu*bu dengan wanita itu.

"Come on bro, it's just for having fun, jadi cowok jangan kaku-kaku lo," ucap Rendi jengah karena tatapan Satria yang terlihat menusuk terhadapnya.

Tanpa berminat menimpali ucapan Rendi, Satria menenggak minuman berwarna pekat di depan, tenggorokannya terasa terbakar ketika minuman itu masuk ke tenggorokan.

Satria memang bukan pemabuk, tapi pria itu sesekali masih menikmati minuman tersebut, apalagi kalau dirinya sedang galau seperti ini.

Juna dan Satria asyik mengobrol tentang bisnis mereka tanpa mempedulikan aktivitas Rendi dan pasangannya yang semakin liar itu.

"Gue keluar dulu Jun," pamit Satria karena tak tahan melihat adegan di depannya yang menjijikkan itu.

Satria memilih duduk di kursi bar daripada harus menyaksikan kelakuan sahabatnya yang minus tadi.

Mata elang Satria menatap tertarik seorang wanita yang duduk melingkar dengan kedua temannya di sudut ruangan.

Salah satu cewek itu terasa familiar di mata Satria, tapi dia lupa pernah bertemu dimana.

"Tertarik bos?" tanya Tama membuat Satria mengalihkan matanya dari objek menarik di depan sana.

"Bocil!" jawab Satria santai.

"Bocil tapi most wanted boss."

"Tetep aja bocil."

"Cantik plus seksi gitu boss, apalagi value nya gede banget tuh cewek."

"Emang siapa?"

"Yang mana?"

"Cckk pakai nanya, yang ponian lah!"

"Mata lo tahu aja barang bagus."

"Ba*ot!"

"Gelsey," ucap Tama dengan santai.

"Gelsey anaknya Bramenda Wicaksono?" tanya Satria kaget.

"Yups," jawab Tama sambil tangannya bergerak aktif meracik minuman untuk tamu.

Satria menatap kembali Gelsey yang tampak cantik meski tanpa polesan apapun di wajahnya, bajunya juga bukan baju yang mengumbar aurat gitu, tak seperti orang yang sedang berada di club.

"Pepet bos, disamping cakep juga baek banget anaknya, dan yang pasti meski hobbynya dugem tapi gue jamin masih ori," info Tama.

"Maksudnya?" tanya Satria sambil mengeryit bingung.

"Halah si boss, pakai nanya segala." Tama nyengir menampilkan gigi putihnya yang rapi.

Satria kembali menatap Gelsey dengan tatapan tertarik, rasanya gadis itu sudah banyak berubah, terakhir kali dia melihat gadis itu masih memakai seragam putih birunya, dan sekarang sudah menjelma menjadi wanita secantik itu.

"Lo tahu dia ada pacar nggak Tam?" tanya Satria.

"Ada tapi bad guys gitu bos, gue sih unrespeck banget ma tuh cowok, tapi ya gimana lagi, Gelseynya nggak bisa lepas banget," jawab Tama sambil meletakkan tangannya di atas meja bar sedikit mencondongkan badan ke arah Satria.

Satu kata yang terlintas dalam benak Satria 'Menarik' mungkin keadaan ini bisa ia manfaatkan untuk menghindari perjodohan konyol ini.

Secantik dan semenarik apa Gelsey di mata semua orang, tapi tetap saja bagi Satria, Gelsey tetaplah gadis bau kencur yang tak sepadan untuk mendampinginya yang sudah matang seperti ini.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

CLUB LANGGANAN, CLUB YG SAMA BIASA GESLEY KUNJUNGI.

2024-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!