Sejak kedatangan sang bunda di kantornya tadi, praktis konsentrasi Satria jadi buyar, semua laporan yang harus ia baca dan periksa, tak ada satupun yang sesuai dengan kemauannya, semua salah dan harus dikoreksi.
Hingga mood Satria yang terjun bebas itu mempengaruhi anak buahnya, terkhusus untuk Winda yang bakalan jadi samsak hidup oleh Satria.
Sepanjang hari bibir Winda manyun dan mukanya terlihat bete, belum apa-apa saja setumpuk kertas sudah terlempar di atas mejanya.
Bahkan kalau mood si boss tak juga membaik, sudah dipastikan Winda harus siap untuk lembur untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tak penting untuk dikerjakan.
Pintu dari kayu jati kokoh di depannya terbuka, Satria keluar ruangan dengan menenteng tas kerjanya.
"Win... sudah malem, saya mau pulang." pamit Satria lalu pergi dari hadapan Winda.
Wuih.... serta merta muka Winda langsung berseri melihat si boss keluar dari ruangan dan memintanya pulang.
"Oke Pak, hati-hati dijalan," ucap Winda sambil melepas kepergian bossnya, lalu merapikan dokumen yang berserakan di mejanya.
Lagi diam menatap angka dalam lift yang bergerak turun, tiba-tiba bunyi ponsel di dalam saku bergetar meminta atensinya.
Satria menggeser tombol warna hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Hmmm.... " sapanya kepada orang di seberang sana.
"__"
"Males gue," sahut Satria.
"__"
"Nggak minat!" ketus Satria.
"__"
"Oke gue meluncur, tapi gue nggak mau ada cewek ya?"
"__"
"Basi! Bikin males!" Satria menutup teleponnya.
Walau Satria mengatakan tak ingin bergabung dengan para sahabatnya untuk hangout, tapi kenyataan ia mengarahkan mobilnya menuju club langganan tempat biasa mereka hangout.
Sampai ke tempat tujuan, Satria melempar kunci mobilnya ke petugas valley lalu melangkah memasuki club yang terdengar hingar bingar dengan lampu kerlap kerlip yang memendar hampir di seluruh ruangan.
"Hai bos, tumben absen lagi?" sapa Tama dari balik meja bartender.
Satria menyunggingkan senyum tipis kepada Tama." Juna udah datang Tam?" tanya Satria.
"Udah boss, di ruangan biasa," jawab Tama.
Satria menenggak minuman yang disodorkan oleh Tama dalam satu kali tenggakan, lalu berjalan menuju ke ruangan yang berada di lantai dua.
Tanpa mengetuk pintu, Satria langsung masuk ke dalam ruangan privat itu lalu mendengus kasar ketika melihat Rendi sedang asyik dengan perempuan berpakaian minim yang duduk di pangkuannya itu.
"Wah wah.... akhirnya sohib kita nongol juga," seloroh Juna sambil berdiri dan menyambut sang sahabat.
Satria menghempaskan tubuhnya di samping Juna, dan sesekali melirik malas Rendi yang sedang bercu*bu dengan wanita itu.
"Come on bro, it's just for having fun, jadi cowok jangan kaku-kaku lo," ucap Rendi jengah karena tatapan Satria yang terlihat menusuk terhadapnya.
Tanpa berminat menimpali ucapan Rendi, Satria menenggak minuman berwarna pekat di depan, tenggorokannya terasa terbakar ketika minuman itu masuk ke tenggorokan.
Satria memang bukan pemabuk, tapi pria itu sesekali masih menikmati minuman tersebut, apalagi kalau dirinya sedang galau seperti ini.
Juna dan Satria asyik mengobrol tentang bisnis mereka tanpa mempedulikan aktivitas Rendi dan pasangannya yang semakin liar itu.
"Gue keluar dulu Jun," pamit Satria karena tak tahan melihat adegan di depannya yang menjijikkan itu.
Satria memilih duduk di kursi bar daripada harus menyaksikan kelakuan sahabatnya yang minus tadi.
Mata elang Satria menatap tertarik seorang wanita yang duduk melingkar dengan kedua temannya di sudut ruangan.
Salah satu cewek itu terasa familiar di mata Satria, tapi dia lupa pernah bertemu dimana.
"Tertarik bos?" tanya Tama membuat Satria mengalihkan matanya dari objek menarik di depan sana.
"Bocil!" jawab Satria santai.
"Bocil tapi most wanted boss."
"Tetep aja bocil."
"Cantik plus seksi gitu boss, apalagi value nya gede banget tuh cewek."
"Emang siapa?"
"Yang mana?"
"Cckk pakai nanya, yang ponian lah!"
"Mata lo tahu aja barang bagus."
"Ba*ot!"
"Gelsey," ucap Tama dengan santai.
"Gelsey anaknya Bramenda Wicaksono?" tanya Satria kaget.
"Yups," jawab Tama sambil tangannya bergerak aktif meracik minuman untuk tamu.
Satria menatap kembali Gelsey yang tampak cantik meski tanpa polesan apapun di wajahnya, bajunya juga bukan baju yang mengumbar aurat gitu, tak seperti orang yang sedang berada di club.
"Pepet bos, disamping cakep juga baek banget anaknya, dan yang pasti meski hobbynya dugem tapi gue jamin masih ori," info Tama.
"Maksudnya?" tanya Satria sambil mengeryit bingung.
"Halah si boss, pakai nanya segala." Tama nyengir menampilkan gigi putihnya yang rapi.
Satria kembali menatap Gelsey dengan tatapan tertarik, rasanya gadis itu sudah banyak berubah, terakhir kali dia melihat gadis itu masih memakai seragam putih birunya, dan sekarang sudah menjelma menjadi wanita secantik itu.
"Lo tahu dia ada pacar nggak Tam?" tanya Satria.
"Ada tapi bad guys gitu bos, gue sih unrespeck banget ma tuh cowok, tapi ya gimana lagi, Gelseynya nggak bisa lepas banget," jawab Tama sambil meletakkan tangannya di atas meja bar sedikit mencondongkan badan ke arah Satria.
Satu kata yang terlintas dalam benak Satria 'Menarik' mungkin keadaan ini bisa ia manfaatkan untuk menghindari perjodohan konyol ini.
Secantik dan semenarik apa Gelsey di mata semua orang, tapi tetap saja bagi Satria, Gelsey tetaplah gadis bau kencur yang tak sepadan untuk mendampinginya yang sudah matang seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
CLUB LANGGANAN, CLUB YG SAMA BIASA GESLEY KUNJUNGI.
2024-06-29
1