Gelsey menatap langit-langit apartemennya, otaknya tiba-tiba kosong memikirkan hal yang segera menimpanya.
Dinikahkan dengan orang yang tak dia cintai diusia yang belia, terasa masa depan di depannya terlihat suram dan tak ada cerahnya sama sekali.
Pintu apartemen terbuka dan menampilkan dua orang yang saling berdebat dan saling melontarkan kata makian.
"Kita tuh be** amat ya Ca, disuruh kesana nurut, disuruh kesini manut, rasanya tuh hidup kita nggak bisa bebas ngikutin mau kita sendiri," sungut Arumi dengan wajah cemberut.
"Lagian udah tahu kita dibeg*in kenapa kita nurut aja sih, sekali-kali kek kita ngeles cari alasan apa gitu." Caca menyetujui ucapan Arumi.
"Bajaj dong Ca kalo ngeles?" seloroh Arumi asal.
Gelsey menatap keduanya yang sedang sibuk berdebat dengan menenteng belanjaan dikedua tangan mereka.
Selepas merayu Gavin serta Gino, dan tak mendapat hasil yang memuaskan, Gelsey memang menghubungi Caca dan Arumi untuk datang ke apartemennya sekaligus berbelanja makanan dan minuman ringan untuk menemani mereka mengobrol.
Lebih baik dia mengendorkan ketegangan pada sarafnya bersama kedua sahabatnya itu daripada pusing memikirkan masalah yang sedang menimpanya.
Dengan emosi yang masih memuncak Caca melempar barang belanjaan yang ada di tangannya ke atas sofa tempat Gelsey sedang duduk.
"Wow.... wow... wow.... calm babe, ada minuman ini ntar berantakan," tegur Gelsey sambil tersenyum manis kepada Caca.
"Ngapain sih lo Nyet, gue lagi asyik tidur siang, lo telponin suruh kesini," dengus Caca masih mode kesal.
"Ini kan udah sore Ca, waktunya wake up bukannya molor," sahut Gelsey santai sambil mencomot salah satu snack kesukaannya dari dalam plastik.
"Iya sih udah nggak pantes bobok siang di jam segini," sambung Arumi cuek.
"Eh lo! Tadi aja lo ngomel-ngomel disuruh dia kesini, kok sekarang lo bisa balik arah ngebela dia gitu?!"
"Gue capek marah-marah Ca, mending anteng menikmati snack dan minuman favorit sambil liat drakor di TV," jawab Arumi langsung anteng menikmati oppa-oppa Korea yang berseliweran di televisi sana.
"Gue pusing!" celetuk Gelsey.
"Udah biasa!" timpal Caca malas.
"Ini bukan biasa tapi luar biasa!" sahut Gelsey gemas.
"Apaan itu?" tanya Arumi.
"Gue dijodohin," jawab Gelsey membuat Arumi dan Caca menoleh serentak kepadanya.
"What!" Pekik keduanya berbarengan.
"Budek gue!" omel Gelsey sambil mengorek telinganya.
"Habis kata-kata lo nggak lucu," dengus Caca pelan.
"Gue seriusan Ca."
"Kok bisa Gel?" Kali ini Arumi langsung konsentrasi menatap ke Gelsey melupakan tontonannya yang menarik di depan sana.
"Bram jodohin gue sama anak temennya, udah om-om pula," sungut Gelsey frustasi.
"Astaga, jangan becanda lo!" bentak Caca.
"Gue seriusan Ca, apa nada bicara gue terlihat becanda?" tanya Gelsey dengan suara meninggi.
"Ya.... gue nggak percaya aja Gel, ya kalik om Bram mau nikahin gadis bau kencur kayak lo gini? Ngelap ingus aja kagak bersih."
"Itu juga tadi yang diucapin kakak-kakak gue," gumam Gelsey nelangsa.
"Setua apa emang calon lo?"
"Teman sekolahnya kak Gavin."
"Itu mah belum tua kali Gel!" teriak Arumi kesal, dikiranya beneran papanya Gelsey menjodohkan anak gadisnya yang imut gini sama om-om.
"Tetep aja selisihnya jauh ama gue, dia udah mateng, sementara gue? Masih mikirin seneng-seneng, hura-hura, gue pusing tahu sekarang."
"Terus apa yang mau lo lakuin?"
"Jujur gue bingung banget sekarang, kalo boleh gue pengen lari dari kenyataan ini."
Arumi dan Caca saling lempar pandang dengan alis saling bertaut.
"Lo nggak ngerencanain kabur kan Gel?"
Gelsey mengedikkan bahu, otaknya yang biasanya sanggup merancang banyak rencana itu tiba-tiba zonk.
"I don't know what can i do," gumam Gelsey lirih.
"Coba liat sekeren apa sih calon lo itu, siapa namanya tadi?" tanya Arumi siap berselancar ke dunia maya dengan ponsel canggihnya.
"Setahu gue namanya Satria, nggak tahu Satria siapa," jawab Gelsey acuh.
"Satria pengusaha muda," gumam Arumi mengetikan ke kolom pencarian.
"Got it!" teriaknya girang sambil mengangkat ponsel di tangannya.
"Liat... Liat Rum!" teriak Caca penasaran, sementara Gelsey tampak acuh tak peduli dengan penemuan profil cowok tersebut.
"Gilak ini mah high quality man," ucap keduanya hampir bersamaan.
"Lo beneran nggak mau Gel? Buat gue aja ya?" celetuk Arumi kegirangan melihat figur Satria yang begitu mempesona tersebut.
"Ambil gih, ambil, sekalian ngomong ama bokap gue sana," jawab Gelsey cuek lalu menyesap minuman dingin yang telah dipegangnya sejak tadi.
"Kalo gue jadi lo sih Gel, gue bakalan nurut ama bokap lo, secara bokap lo nggak mungkin juga mau ngejerumusin lo, mungkin bokap lo gedek kali modelan Rico gitu lho pacari," nasehat Caca pelan sambil menatap wajah Gelsey yang terlihat murung.
Gelsey menoleh cepat ke arah Caca, tak terima Rico dibawa-bawa dalam masalah ini, baginya sejelek apapun Rico tetap saja hatinya sudah terpaut pada cowok itu.
"Kenapa? Lo nggak terima penilaian gue tentang Rico? Kenyataannya memang begitu kok." ucap Caca cuek tak peduli meski Gelsey sakit hati.
"Please deh Ca, lo jangan nambahin pikiran gue kayak gini, gue pusing, gue capek, gue kudu gimana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments