Seminggu telah berlalu sejak kedatangan Baskoro waktu itu ke kantor Satria, dan karena kesibukannya yang menggunung untuk persiapan pembukaan cabang di Surabaya, maka Satria melupakan begitu saja tentang permintaan sang ayah yang ingin Menjodohkan dengan Gelsey.
Sedang sibuk membalas email anak buahnya yang berada di Surabaya, Satria dikagetkan dengan suara ketukan pintu ruang kerjanya.
"Masuk!" sahut Satria dingin.
Pintu terkuak dan masuklah sang bunda yang menenteng sebuah paper bag di tangan.
"Bunda!" seru Satria terkejut mendapati sang bunda mengunjunginya di kantor seperti ini.
Satria bangkit lalu menghampiri sang bunda dan mencium punggung wanita yang melahirkannya itu dengan takjim.
"Bunda ngapain capek-capek kemari, kalo bunda kangen kan bisa telpon Satria nanti Satria yang pulang," tegur Satria sambil membimbing sang bunda untuk duduk di sofa yang ada di dalam bahasa ruangan tersebut.
"Kapan? Kamu mah sukanya janji-janji doang," dengus sang bunda kesal.
"Maaf bun, Satria lagi sibuk banget sekarang, masih harus mondar-mandir ke Bali sama Surabaya."
"Sibuk tapi nggak harus lupa sama orang tua kan mas?" tanya Bunda lirih.
"Iya maaf bunda."
"Inget istirahat, kerja jangan sampai lupa waktu lupa istirahat," nasehat Bunda sayang.
"Iya bunda," sahut Satria dengan senyum lebar.
Seberapa besar dan dewasanya seorang anak, tetaplah dianggap masih kecil oleh orang tuanya, yang masih perlu dikhawatirkan.
"Bunda bawain apa?" tanya Satria mengalihkan pembicaraan, daripada diceramahin sang bunda yang panjangnya kayak rel kereta itu, Eh kok?
"Kamu nggak kangen semur daging bikinan bunda?" tanya Bunda Dewi langsung mengeluarkan tempat makanan dari paper bag tersebut.
Lalu Satria bergeser untuk menghubungi Winda, meminta sang sekretaris untuk menyiapkan piring dan sendok.
Dengan telaten Dewi mengambilkan nasi dan lauk serta tumis brokoli untuk Satria, yang diterima pria itu dengan sukacita.
Mereka menikmati makanan itu dalam diam, jujur dalam hati Satria merindukan masakan lezat sang bunda yang sering membuatnya kalap dan berakhir menghabiskan beberapa jam untuk membakar kalori yang masuk ke dalam tubuhnya itu.
"Mas.... " panggil Dewi lembut setelah mereka menghabiskan makanan mereka
"Iya bun," jawab Satria.
"Ayah kemarin cerita.... " Dewi ingin melanjutkan pembicaraan tetapi melihat Satria menghela nafas panjang, kata-katanya nyangkut di tenggorokan.
"Ayah udah cerita ke bunda mengenai permintaan om Bram?" tanya Satria melanjutkan ucapan bundanya yang terputus.
"Bunda sih tidak memaksa mas, tapi bunda minta kamu pikirin dulu, om Bram sudah begitu baik sama kita, mereka keluarga baik-baik, dan bunda tahu Gelsey juga anak yang baik," pinta Dewi lembut.
"Tapi aku belum ingin menikah bun," ucap Satria pelan.
"Kenapa? Apa kamu masih trauma dengan perempuan?" tanya Dewi lembut.
"Nggak kan mas? Karina sudah masa lalumu, sekarang waktunya move on, Sinta aja udah mau ngasih bunda cucu lagi, masak kamu nggak kepikiran buat ngasih cucu ke bunda."
"Nanti Satria pikirin Bun," ucap Satria akhirnya.
"Bener ya mas?" tanya Dewi penuh harap.
Dengan enggan Satria mengangguk, semata-mata hanya untuk menyenangkan hati sang bunda, jujur dia belum ada niatan mengakhiri kesendiriannya saat ini, apalagi harus menikah dengan Gelsey, cewek tanggung yang masih labil itu.
Setelah kepergian Dewi dari hadapannya, mood Satria langsung anjlok dan tentu saja yang jadi sasarannya adalah anak buahnya.
"Win..... kesini!" panggil Satria dari telepon internalnya.
Winda langsung masuk ke ruangan Satria. "Ya pak?" tanya Winda sopan.
"Panggil Mieke sama Dani kemari!" ketua Satria sambil melempar tumpukan dokumen itu ke atas meja.
"Ba baik pak," sahut Winda langsung kabur keluar ruangan.
Sampai di meja kerjanya Winda mengelus dadanya pelan, mempersiapkan diri untuk menerima omelan dan teriakan Satria karena kelihatannya mood sang bos lagi tidak baik-baik saja setelah kunjungan ibunya barusan.
Di dalam ruangannya Satria memijat pelipisnya pelan, rasanya emosinya siap meledak saat ini juga.
'Gelsey.... kalo sampai pernikahan ini benar-benar terjadi, siap-siap lo gue perkedel untuk membalaskan sakit hati gue karena bokap lo yang sudah mengusik hidup gue!" gumam Satria lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
YAKIN SAT, YG ADA LO TRBUCIN BUCIN NNTI..
2024-06-29
1
Sulaiman Efendy
KIRAIN ANAK TUNGGAL, TERNYATA PNY SAUDARI SI SAT..
2024-06-29
1