Setelah mendengar rencana Bram yang akan menikahkan dirinya dengan anak sahabatnya, Gelsey memilih diam di dalam kamar dan tak menampakkan batang hidungnya sepanjang hari itu.
Dia marah dan kesal, gadis seusia dirinya yang membuang ingus saja belum becus malah disuruh menikah dan mengurus suami.
Bisa dikatakan Bram itu membuang Gelsey alih-alih menyelamatkan gadis itu, bisa saja kan anak gadisnya yang banyak tingkah itu membuat masalah dan huru-hara dalam rumah tangganya.
Dengan dada bergemuruh karena menahan emosi, Gelsey tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, tak lupa sesekali ia menggigit kukunya, hal yang biasa ia lakukan ketika stress dan bingung.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Gelsey kembali ke dunia nyata, tahu bahwa itu pasti sang mama yang sejak kemarin selalu mengetuk pintu kamarnya.
Lalu sebuah ide melintas begitu saja di kepala Gelsey, mungkin dengan cara ini dia bisa terbebas dari rencana gila sang papa.
Setelah menyambar kunci mobil dan dompet, Gelsey lalu membuka pintu kamarnya dan mendapati sang mama masih berdiri di sana dengan raut khawatir.
"Gel.... " panggil Heidi lembut.
Tak menghiraukan panggilan sang mama, Gelsey lalu bergegas menuju ke garasi dan melakukan mobilnya menuju ke kantor sang kakak.
Dari teras rumah Heidi memanggil Bram panik.
"Pa... papa!" panggil Heidi histeris melihat mobil sang putri melaju dengan kecepatan tinggi itu.
Bram keluar dari rumah dengan langkah lebar." Kenapa sih ma?" tanya Bram panik.
"Gelsey pa.... Gelsey," isak Heidi tertahan.
"Gelsey kenapa?" tanya Bram bingung.
"Gelsey pergi bawa mobil kenceng banget pa," adu Heidi dengan terisak.
"Udah biarin aja, dia bisa jaga diri!" sahut Bram lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara Gelsey si anak bandel itu tetap melajukan mobilnya kencang tanpa peduli dengan umpatan dan makian pengendara yang lain.
Tak berapa lama mobil tersebut masuk ke pusat perkantoran tempat kakak pertamanya bekerja, atau lebih tepatnya memimpin perusahaan yang juga milik papanya itu.
"Mbak.... kak Gavin nya ada?" tanya Gelsey sopan kepada sekretaris sang kakak.
"Ada mbak, cuman didalem ada bu Laura," jawab Sasa sopan.
Dengan anggukan pelan, tanpa mengetuk pintu Gelsey langsung masuk ke dalam ruang kerja sang kakak.
"Astaga adek gue," sahut Gavin kaget melihat pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu.
"Hayoo lagi pada ngapain? Mesum ya?" ledek Gelsey sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ampun dek masak mesum di kantor sih, kayak nggak ada tempat lain aja," kata Laura lalu memeluk calon adik iparnya itu erat.
"Tumben kamu kesini dek?" tanya Gavin mengeryit curiga, karena hampir tak pernah adik bungsunya itu mengunjunginya kalau tak butuh sesuatu.
"Nuduh!" sungut Gelsey kesal.
"Kan emang kenyataan, siapa yang nuduh coba?" goda Gavin sambil tersenyum lebar.
"Kenapa, kenapa?" sambung Gavin melihat sang adik manyun.
"Kak.... bilangin papa dong," rengek Gelsey sambil bergelayut manja di lengan sang kakak.
"Bilangin apa?" tanya Gavin bingung.
"Masak papa mau ngejodohin aku sama anak temennya sih," aduk Gelsey dengan wajah cemberut.
"Hah?! Masak sih dek?" tanya Laura dengan suara kaget.
"Cckk... nggak percaya!"
"Ya pasti nggak percaya, kamu salah denger kali."
"Dih duaan kok pada nggak percaya sih?!" celetuk Gelsey kesal.
"Ya habis kamu lucu sih dek, masak papa mau nikahin kamu yang masih kecil gini, nggak mungkinlah," kata Gavin.
"Ya udah kalo nggak percaya, tanya aja ke mama!"
"Emang kamu mau dijodohin sama siapa sih Gel?" tanya Laura kepo.
"Em.... sama Satria anaknya om Baskoro," jawab Gelsey dengan muka datar.
"What!" pekik Laura dan Gavin bersamaan.
"Satria yang itu kan yang?" tanya Gavin dengan wajah cengo.
"Siapa lagi kalo bukan Satria yang itu, anak om Bas kan tadi Gelsey bilang," jawab Laura dengan wajah berubah serius.
"Kalian kenal?" tanya Gelsey penasaran.
"Kenalah, dia kan kakak tingkat aku dan temen sekolah kak Gavin," jawab Laura.
"Astaga! Jadi aku mau dinikahin sama om-om?!" pekik Gelsey frustasi.
"Masak om-om sih dek, dia kan teman kakak," gerutu Gavin tak terima.
"Apa namanya kalo bukan om-om, selisihnya aja delapan tahun sama aku kak," rengek Gelsey kesal.
"Tapi high quality jomblo lho Gel," goda Laura sambil terkikik.
"Mau high mau low, aku nggak peduli mbak," ketus Gelsey kesal.
Laura dan Gavin hanya bisa saling pandang, tak mungkin Bram mengirim anaknya untuk menikah dengan Satria kalau ia tak percaya bahwa Satria bisa menjadi suami yang baik untuk Gelsey.
"Kak.... " panggil Gelsey pelan.
"Hmm.... "
"Bantuin bilang papa ya kak?" pinta Gelsey memelas.
"Nggak ah, aku nggak berani, kamu tahu kan kalo apa yang menjadi keputusan papa tuh nggak bisa kita tentang," tolak Gavin lembut.
"Kakak ih...., masak nggak mau bantuin adeknya," rengek Gelsey memelas.
"Bukannya nggak mau Gel, tapi kakak pasti juga ngga bakalan didengar papa."
"Coba dulu kak," cecar Gelsey tanpa lelah.
"Nggak ah, aku nggak berani melawan papa, nanti fasilitasku dicabut kan berabe," tolak Gavin.
"Kakak nggak asyik!"
"Biarin, demi hidup kakak dan masa depan kakak, ya kakak harus berani bilang nggak untuk hal ini."
"Gelsey benci kak Gavin!" Lalu Gelsey keluar dari ruangan tersebut dengan membanting pintu sekeras-kerasnya.
Gavin dan Laura hanya menatap kepergian Gelsey dengan raut wajah prihatin, bagi mereka lebih baik menghindar daripada ikut campur urusan papanya, bukan tak sayang sama Gelsey hanya saja memang tak mudah melawan keputusan Bramenda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
MAKANYA JDI ANAK PENURUT DN ALIM, GK LO DI JODOHIN..
2024-06-29
0