Bab 10 : Usaha pertama Gelsey

Setelah mendengar rencana Bram yang akan menikahkan dirinya dengan anak sahabatnya, Gelsey memilih diam di dalam kamar dan tak menampakkan batang hidungnya sepanjang hari itu.

Dia marah dan kesal, gadis seusia dirinya yang membuang ingus saja belum becus malah disuruh menikah dan mengurus suami.

Bisa dikatakan Bram itu membuang Gelsey alih-alih menyelamatkan gadis itu, bisa saja kan anak gadisnya yang banyak tingkah itu membuat masalah dan huru-hara dalam rumah tangganya.

Dengan dada bergemuruh karena menahan emosi, Gelsey tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, tak lupa sesekali ia menggigit kukunya, hal yang biasa ia lakukan ketika stress dan bingung.

Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Gelsey kembali ke dunia nyata, tahu bahwa itu pasti sang mama yang sejak kemarin selalu mengetuk pintu kamarnya.

Lalu sebuah ide melintas begitu saja di kepala Gelsey, mungkin dengan cara ini dia bisa terbebas dari rencana gila sang papa.

Setelah menyambar kunci mobil dan dompet, Gelsey lalu membuka pintu kamarnya dan mendapati sang mama masih berdiri di sana dengan raut khawatir.

"Gel.... " panggil Heidi lembut.

Tak menghiraukan panggilan sang mama, Gelsey lalu bergegas menuju ke garasi dan melakukan mobilnya menuju ke kantor sang kakak.

Dari teras rumah Heidi memanggil Bram panik.

"Pa... papa!" panggil Heidi histeris melihat mobil sang putri melaju dengan kecepatan tinggi itu.

Bram keluar dari rumah dengan langkah lebar." Kenapa sih ma?" tanya Bram panik.

"Gelsey pa.... Gelsey," isak Heidi tertahan.

"Gelsey kenapa?" tanya Bram bingung.

"Gelsey pergi bawa mobil kenceng banget pa," adu Heidi dengan terisak.

"Udah biarin aja, dia bisa jaga diri!" sahut Bram lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Sementara Gelsey si anak bandel itu tetap melajukan mobilnya kencang tanpa peduli dengan umpatan dan makian pengendara yang lain.

Tak berapa lama mobil tersebut masuk ke pusat perkantoran tempat kakak pertamanya bekerja, atau lebih tepatnya memimpin perusahaan yang juga milik papanya itu.

"Mbak.... kak Gavin nya ada?" tanya Gelsey sopan kepada sekretaris sang kakak.

"Ada mbak, cuman didalem ada bu Laura," jawab Sasa sopan.

Dengan anggukan pelan, tanpa mengetuk pintu Gelsey langsung masuk ke dalam ruang kerja sang kakak.

"Astaga adek gue," sahut Gavin kaget melihat pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu.

"Hayoo lagi pada ngapain? Mesum ya?" ledek Gelsey sambil menaik-turunkan alisnya.

"Ampun dek masak mesum di kantor sih, kayak nggak ada tempat lain aja," kata Laura lalu memeluk calon adik iparnya itu erat.

"Tumben kamu kesini dek?" tanya Gavin mengeryit curiga, karena hampir tak pernah adik bungsunya itu mengunjunginya kalau tak butuh sesuatu.

"Nuduh!" sungut Gelsey kesal.

"Kan emang kenyataan, siapa yang nuduh coba?" goda Gavin sambil tersenyum lebar.

"Kenapa, kenapa?" sambung Gavin melihat sang adik manyun.

"Kak.... bilangin papa dong," rengek Gelsey sambil bergelayut manja di lengan sang kakak.

"Bilangin apa?" tanya Gavin bingung.

"Masak papa mau ngejodohin aku sama anak temennya sih," aduk Gelsey dengan wajah cemberut.

"Hah?! Masak sih dek?" tanya Laura dengan suara kaget.

"Cckk... nggak percaya!"

"Ya pasti nggak percaya, kamu salah denger kali."

"Dih duaan kok pada nggak percaya sih?!" celetuk Gelsey kesal.

"Ya habis kamu lucu sih dek, masak papa mau nikahin kamu yang masih kecil gini, nggak mungkinlah," kata Gavin.

"Ya udah kalo nggak percaya, tanya aja ke mama!"

"Emang kamu mau dijodohin sama siapa sih Gel?" tanya Laura kepo.

"Em.... sama Satria anaknya om Baskoro," jawab Gelsey dengan muka datar.

"What!" pekik Laura dan Gavin bersamaan.

"Satria yang itu kan yang?" tanya Gavin dengan wajah cengo.

"Siapa lagi kalo bukan Satria yang itu, anak om Bas kan tadi Gelsey bilang," jawab Laura dengan wajah berubah serius.

"Kalian kenal?" tanya Gelsey penasaran.

"Kenalah, dia kan kakak tingkat aku dan temen sekolah kak Gavin," jawab Laura.

"Astaga! Jadi aku mau dinikahin sama om-om?!" pekik Gelsey frustasi.

"Masak om-om sih dek, dia kan teman kakak," gerutu Gavin tak terima.

"Apa namanya kalo bukan om-om, selisihnya aja delapan tahun sama aku kak," rengek Gelsey kesal.

"Tapi high quality jomblo lho Gel," goda Laura sambil terkikik.

"Mau high mau low, aku nggak peduli mbak," ketus Gelsey kesal.

Laura dan Gavin hanya bisa saling pandang, tak mungkin Bram mengirim anaknya untuk menikah dengan Satria kalau ia tak percaya bahwa Satria bisa menjadi suami yang baik untuk Gelsey.

"Kak.... " panggil Gelsey pelan.

"Hmm.... "

"Bantuin bilang papa ya kak?" pinta Gelsey memelas.

"Nggak ah, aku nggak berani, kamu tahu kan kalo apa yang menjadi keputusan papa tuh nggak bisa kita tentang," tolak Gavin lembut.

"Kakak ih...., masak nggak mau bantuin adeknya," rengek Gelsey memelas.

"Bukannya nggak mau Gel, tapi kakak pasti juga ngga bakalan didengar papa."

"Coba dulu kak," cecar Gelsey tanpa lelah.

"Nggak ah, aku nggak berani melawan papa, nanti fasilitasku dicabut kan berabe," tolak Gavin.

"Kakak nggak asyik!"

"Biarin, demi hidup kakak dan masa depan kakak, ya kakak harus berani bilang nggak untuk hal ini."

"Gelsey benci kak Gavin!" Lalu Gelsey keluar dari ruangan tersebut dengan membanting pintu sekeras-kerasnya.

Gavin dan Laura hanya menatap kepergian Gelsey dengan raut wajah prihatin, bagi mereka lebih baik menghindar daripada ikut campur urusan papanya, bukan tak sayang sama Gelsey hanya saja memang tak mudah melawan keputusan Bramenda.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

MAKANYA JDI ANAK PENURUT DN ALIM, GK LO DI JODOHIN..

2024-06-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Di Kampus
2 Bab 2 : Clubbing
3 Bab Tiga : Kena Amuk
4 Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5 Bab 5 : Rencana Perjodohan
6 Bab 6 : Parasit
7 Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8 Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9 Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10 Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11 Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12 Bab 12 : Gue kudu gimana?
13 Bab 13 : Gelsey pusing.
14 Bab 14 : Pusing? Party aja
15 Bab 15 : Akhirnya menyerah
16 Bab 16 : Pertemuan pertama
17 Bab 17 : Perjanjian pranikah
18 Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19 Bab 19 : Hari pertunangan itu
20 Bab 20 : Pawangnya si boss
21 Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22 Bab 22 : Pacar si bos?
23 Bab 23 : Cincinnya bagus
24 Bab 24 : Prewedding
25 Bab 25 : The Wedding Day
26 Bab 26 : Tidur Bersama
27 Bab 27 : Suami dan aturannya
28 Bab 28 : Sang Paduka Raja
29 Bab 29 : Kursus Memasak
30 Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31 Bab 31 : Melumer
32 Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33 Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34 Bab 34 : Rico ketahuan
35 Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36 Bab 36 : Makanya jangan nethink
37 Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38 Bab 38 : Belum usai
39 Bab 39 : Pengacau
40 Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41 Bab 41 : New Beginning
42 Bab 42 : Madu Cinta
43 Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44 Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45 Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46 Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47 Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48 Bab 48 : Kampus geger
49 Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50 Bab 50 : Rencana honeymoon
51 Bab 51 : Honeymoon
52 bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53 Bab 53 : Panggilan Sidang
54 Bab 54 : Tak Rela
55 Bab 55 : Salah paham.
56 Bab 56 : Masih marahan
57 Bab 57 : Pasangan labil
58 Bab 58 : Konfrontasi
59 Bab 59 : Konfrontasi 2
60 Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61 Bab 61 : Usaha ini milik kita
62 Bab 62 : Vonis
63 Bab 63 : Usaha Karina
64 Bab 64 : Apa tega?
65 Bab 65 : Pengakuan Laura
66 Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67 Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68 Bab 68 : Garis......
69 Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70 Bab 70 : Mencari fakta
71 Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72 Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73 Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74 Bab 74 : Melumer
75 Bab 75 : Terkuak juga
76 Bab 76 : Bad Move Karina
77 Bab 77 : Poor Karina
78 Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79 Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80 Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81 Bab 81 : Anugerah terindah
82 Bab 82 : Kabar dari Karina
83 Bab 83 : Epilog
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Di Kampus
2
Bab 2 : Clubbing
3
Bab Tiga : Kena Amuk
4
Bab 4 : Kedatangan sahabat lama
5
Bab 5 : Rencana Perjodohan
6
Bab 6 : Parasit
7
Bab 7 : Usaha membujuk Satria
8
Bab 8 : Tak sengaja bertemu
9
Bab 9 : Akhirnya Gelsey tahu
10
Bab 10 : Usaha pertama Gelsey
11
Bab 11 : Usaha tanpa hasil
12
Bab 12 : Gue kudu gimana?
13
Bab 13 : Gelsey pusing.
14
Bab 14 : Pusing? Party aja
15
Bab 15 : Akhirnya menyerah
16
Bab 16 : Pertemuan pertama
17
Bab 17 : Perjanjian pranikah
18
Bab 18 : Persiapan Pertunangan
19
Bab 19 : Hari pertunangan itu
20
Bab 20 : Pawangnya si boss
21
Bab 21 : Seserahan antik permintaan Gelsey
22
Bab 22 : Pacar si bos?
23
Bab 23 : Cincinnya bagus
24
Bab 24 : Prewedding
25
Bab 25 : The Wedding Day
26
Bab 26 : Tidur Bersama
27
Bab 27 : Suami dan aturannya
28
Bab 28 : Sang Paduka Raja
29
Bab 29 : Kursus Memasak
30
Bab 30 : Rasa itu mulai menyapa
31
Bab 31 : Melumer
32
Bab 32 : Undangan menginap di rumah mertua
33
Bab 33 : Tak sadar telah bucin
34
Bab 34 : Rico ketahuan
35
Bab 35 : Cemburu itu menyebalkan.
36
Bab 36 : Makanya jangan nethink
37
Bab 37 : Pagi dengan suasana baru
38
Bab 38 : Belum usai
39
Bab 39 : Pengacau
40
Bab 40 : (K)Satria berbaju hitam
41
Bab 41 : New Beginning
42
Bab 42 : Madu Cinta
43
Bab 43 : Kunjungan ke kantor suami.
44
Bab 44 : Sebucin itu ternyata.
45
Bab 45 : Ngapain kamu kesini
46
Bab 46 : Akhirnya Keluarga Tahu
47
Bab 47 : Aku takut mereka terlalu berlebihan.
48
Bab 48 : Kampus geger
49
Bab 49 : Lebih baik cuti dulu
50
Bab 50 : Rencana honeymoon
51
Bab 51 : Honeymoon
52
bab 52 : Dunia milik berdua, yang lain ngontrak
53
Bab 53 : Panggilan Sidang
54
Bab 54 : Tak Rela
55
Bab 55 : Salah paham.
56
Bab 56 : Masih marahan
57
Bab 57 : Pasangan labil
58
Bab 58 : Konfrontasi
59
Bab 59 : Konfrontasi 2
60
Bab 60 : Cantiknya luar dalam
61
Bab 61 : Usaha ini milik kita
62
Bab 62 : Vonis
63
Bab 63 : Usaha Karina
64
Bab 64 : Apa tega?
65
Bab 65 : Pengakuan Laura
66
Bab 66 : Serangan musuh dilancarkan.
67
Bab 67 : Ada apa lagi ini?
68
Bab 68 : Garis......
69
Bab 69 : Ujian dibalik anugerah
70
Bab 70 : Mencari fakta
71
Bab 71 : Papa akhirnya tahu juga
72
Bab 72 : Pada akhirnya semua keluarga tahu
73
Bab 73 : Merekatkan hati yang retak
74
Bab 74 : Melumer
75
Bab 75 : Terkuak juga
76
Bab 76 : Bad Move Karina
77
Bab 77 : Poor Karina
78
Bab 78 : Cinta memang se luar biasa itu
79
Bab 79 : Ngeblend dengan keluarga mertua
80
Bab 80 : Pertemuan Satria dan Bramenda
81
Bab 81 : Anugerah terindah
82
Bab 82 : Kabar dari Karina
83
Bab 83 : Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!