"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, Pak Raditya. Jika tidak ada anda, saya tidak tau bagaimana nasib saya," lirih Rayya dengan menatap wajah tampan penuh keringat.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil Raditya setelah pria itu bersusah payah melarikan diri dengan menggendong tubuh Rayya. Tidak hanya itu, bahkan Raditya terus melindungi Rayya dari tatapan mata orang yang tiba-tiba melintas karena penampilan wanita itu yang hanya menggulung selimut sebatas dada.
"Saya siap membantu anda, asal anda harus kuat apapun serangan yang dilayangkan dari Reza setelah ini!" ucap Radit tegas dan segera membawa Rayya menuju apartemen wanita itu. Tatapannya datar bahkan emosi mampu pria itu sembunyikan.
Pagi ini Reza dibuat terkejut dengan surat beramplop coklat dengan keterangan dari pengambilan agama yang menyatakan dirinya telah resmi bercerai dengan Rayya Salsabila datang tanpa diminta.
Pria itu marah, bahkan membanting perabot yang ada di rumah membuat Ibu dan Nora begitu terkejut. Berawal dari kurir datang memberikan paket, yang ia kira menyangkut pekerjaan tetapi ternyata malah surat perceraian.
"Aaagghhh!" teriakan Reza menggema di setiap sudut ruangan.
Ibu yang sedang memasak di dapur segera mematikan kompor dan berlari tergopoh-gopoh mendekati, begitupun dengan Nora yang mendadak panik.
"Kamu kenapa Za? Sadar! Kamu telah membuat barang-barang berharga ini hancur. Sebenarnya ada apa denganmu, Nak?" tanya Ibu dengan menghela nafas berat melihat barang-barang serta pajangan yang menghiasi ruang keluarga hancur berhamburan di lantai. Beliau tau persis itu barang mahal yang Rayya beli di awal menikah.
"Iya Mas, aku sampai terkejut. Kamu kenapa, Mas?" sahut Nora menambahi. Dia yang baru selesai mandi bergegas mendekati dengan rambut yang masih terbungkus handuk.
"Rayya diam-diam mengajukan surat perceraian ke pengadilan, Bu. Aku tidak terima, aku akan mengajukan banding sekarang juga!"
Reza bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera berlari keluar menuju mobil. Melihat pergerakan Reza, Nora pun ikut berlari menyusul pria itu. Dia tidak boleh menyiakan kesempatan ini, justru Nora senang karena kini statusnya adalah istri tunggal. Tak ada lagi madu dan saingan di rumah ini.
"Mas, tunggu Mas!" Nora menarik tangan Reza hingga pria itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa Nora?" tanya Reza dengan wajah datar menatap Nora.
"Untuk apa kamu melakukan banding, Mas? Bukannya kamu senang terlepas dari Rayya? Kan sudah ada aku, Mas," ucap Nora dengan senyum mengembang.
Reza tersenyum miring, dia menatap Nora dengan menyipitkan mata dan mendekati wanita itu lalu mengapit kedua pipinya.
"Aku menikahmu karena aku butuh anak, bukan karena semata-mata cinta, tapi bersama Rayya aku mendapatkan segalanya. Hanya satu yang tidak aku dapatkan dari dia, yaitu anak. Maka dari itu aku menikahi kamu. Aku tergoda dengan kamu bukan berarti aku ingin melepaskan istri pertamaku. Mengerti kamu? Jangan pernah bermimpi menjadi istri Reza satu-satunya! Yang kamu pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya cepat memberikan aku anak sebelum aku menendang kamu dari rumah ini?"
Reza melepas kasar dagu Nora hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Dia menatap nanar mobil yang melaju kencang dengan kedua tangan terkepal.
"Aku doakan kamu kalah, Mas!" ucap Nora dengan menatap sengit ke arah mobil yang semakin tak terlihat.
...****************...
BRAK
Rayya terjingkat melihat pintu ruangannya terbuka dengan kasar dan Reza masuk dengan tatapan tajam. Dia yang sedang menerima panggilan dari Pak Prio segera mematikan sambungan teleponnya.
"Mau apa kamu kesini, Mas? Bukannya surat perceraian itu telah kamu terima?" tanya Rayya. Dia beranjak dari duduk saat Reza menyobek surat putusan pengadilan di hadapannya.
"Tidak ada perceraian dan surat ini tidak sah! Kamu mencurangiku Rayya," sentak Reza dan membuang serpihan surat itu ke wajah Rayya.
"Aku tidak peduli, Mas! Silahkan kamu hancurkan atau kamu bakar sekalian. Yang jelas pernikahan kita sudah berakhir dan datanya ada di pengadilan agama!" sahut Rayya dengan bersedekap dada.
Reza menyeringai tipis menatap Rayya, pria itu melangkah mendekat dan mengeluarkan berkas lalu melemparnya di atas meja kerja wanita itu.
"Tidak semudah itu untuk bisa lepas dari aku! Ini surat banding yang telah aku ajukan, dan kamu bisa datang ke pengadilan besok pagi. Jangan lupa jika aku masih lebih kuat dari kamu! Hanya bukti kdrt tidak mampu mengalahkan aku. Ingat Rayya, aku masih menafkahimu dengan benar dan sabar menerimamu meskipun kamu mandul!" ucap Reza dengan tersenyum miring. Pria itu segera pergi dengan kembali menutup pintu dengan kencang.
Rayya yang masih diam memikirkan ucapan Reza tersentak dengan panggilan di ponselnya. Pak Prio kembali menghubungi, dengan cepat Rayya menerimanya.
"Anda mendapatkan panggilan dari pengadilan karena Reza telah melayangkan banding, dan proses perceraian kembali dipertimbangkan pihak pengadilan agama."
Rayya terduduk lemas di lantai, dia tak menyangka Reza justru menyerangnya balik. Wanita itu memijit pelipisnya, dia harus memiliki banyak bukti sedangkan semua bukti telah ia berikan ke pengadilan.
"Halo Pak Hamzah, bisa tolong saya!"
"Maaf Bu, saya akan dipecat jika memberikan informasi kepada Ibu."
Rayya mengeratkan genggaman tangannya di ponsel. Dia melempar ponsel tersebut hingga hancur di depan pria yang baru saja memasuki ruangannya.
Radit melihat ke bawah, dia mengambil ponsel Rayya dan melangkah mendekati wanita itu. Matanya menoleh ke arah amplop yang tergeletak di atas meja. Raditya yang penasaran segera membukanya dan membaca isi surat tersebut.
"Jangan lemah hanya karena ini. Saya pernah katakan Ibu harus punya banyak bukti untuk melawan dia. Itu gunanya, karena Reza pasti tidak akan terima begitu saja."
"Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana Radit. Aku ingin mengembalikan semua seperti dulu tanpa bantuan orang tua. Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Tapi untuk lepas dengan pria itu saja ternyata tak semudah yang aku bayangkan," lirih Rayya dengan wajah sendu.
"Bangunlah Bu! Besok datanglah ke pengadilan jika anda ingin memenangkan perkara!"
Rayya mengangkat kepalanya, dia menatap wajah datar Raditya dengan tangan pria itu yang di masukkan ke dalam dua saku celananya. Mata Raditya mengarah ke depan dengan tatapan tegas.
Perlahan Rayya beranjak dari sana, ia berdiri dengan terus memperhatikan Raditya.
"Tapi saya tidak ada bukti apapun, Pak Raditya. Bagaimana jika saya kalah? Saya tidak mau menjadi istri dari Mas Reza lagi."
" Besok akan saya dampingi di persidangan!" tegas Raditya kemudian meletakkan berkas perusahaan di atas meja.
"Ini tolong tanda tangani Bu, setelah ini ada meeting dengan para petinggi. Saya harap Ibu bisa fokus kembali!" ucap Raditya. Pria itu segera melangkah keluar, tidak lupa ia pun meletakkan ponsel yang tadi Rayya lempar.
"Lain kali jangan merusak barang jika hati kesal, karena mereka tak memiliki mulut untuk berteriak!" ucap Raditya sebelum menutup pintu ruangan Rayya.
...****************...
Kalian gemas nggak sich lihat gaya Raditya?
Yang gemas angkat ✋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ita rahmawati
kyknya si radit bkn org biasa deh tp sesuatu gtu 🤭
2024-09-30
0
Budi Paryanti
yg bikin ribet kan rayya sendiri, gregetan ama kebodohan dia
2024-04-05
1
sherly
kok repot kali hidupmu rayya, hanya Reza loh yg kerjanya juga diperusahan papa Tio, gampang banget menekan dia tinggal pecat, usir dr rmhmu selesai
2024-02-07
0