Bab 15

Rayya terjingkat saat tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar. Dia yang akan menurunkan dress segera merapatkan kembali pakaiannya. Rayya menoleh ke arah pintu. Dia cukup terkejut dengan kedatangan Reza dan merutuki kelalaiannya yang lupa mengunci pintu kamar.

"Bisa ketuk pintu dulu tidak, Mas?" tanya Rayya dengan kesal.

Hal itu menimbulkan seringai tipis di wajah Reza. Sejak menikah baru kali ini dia diminta mengetuk pintu dulu jika ingin masuk ke kamarnya bagaikan tamu. Reza jelas tak terima dan itu membuatnya semakin murka.

"Mana ada suami masuk ke dalam kamar harus mengetuk pintu terlebih dahulu? Kamu anggap apa aku, hhmm?" tanya Reza yang berjalan mendekati Rayya.

Melihat pergerakan Reza dengan wajahnya yang mencurigakan membuat Rayya melangkah mundur. Namun, dengan cepat Reza menarik tangan Rayya hingga dress-nya terjatuh dan menampakkan tubuh mulusnya yang menyisakan dua lembar kain berwarna senada.

"Mas!"

"Ini yang seharusnya kamu lakukan, Rayya. Menyambut kepulangan suami dengan sikap manis dan suguhan yang memabukan. Bukan malah aturan yang membuat aku muak!"

Mata Reza berbinar melihat tubuh Rayya. Sudah sejak kemarin ia menginginkan Rayya tetapi inginnya belum kunjung tersalurkan. Padahal dia sudah menumpahkan hasratnya pada Nora tetapi Reza masih belum merasa terpuaskan jika belum menikmati tubuh Rayya. Wanita yang sudah dua tahun menjadi peraduannya, tempat menumpahkan segala hasrat.

Rayya menggelengkan kepala, dia tidak membenarkan ucapan pria itu. Rayya mencoba melepaskan diri dari cengkraman Rayya tetapi lagi-lagi gagal dan tubuhnya justru semakin dekat dengan Reza.

"Kenapa? Kamu mau menolak aku lagi? Atau diam-diam tubuhmu telah merasakan keperkasaan laki-laki lain hingga kamu enggan aku nikmati?"

"Cukup Mas! Aku bukan wanita murahan!" sentak Rayya dengan emosi yang menggebu.

Hatinya seperti diterjang ribuan belati mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Reza. Kali ini dia sadar mengapa Raditya menolak mentah-mentah ajakannya. Selain karena keduanya bukan pasangan halal, ternyata pria itu tak ingin cap buruk tersemat untuknya.

"Jika itu tidak benar, kenapa kamu seperti menghindar Rayya? Kamu itu juga istriku! Sama dengan Nora. Jangan karena aku sudah menikah lagi lantas kamu lepas dari kewajiban! Jika begini lebih baik kamu aku kurung dan tidak usah kembali bekerja! Agar pikiran kamu tidak terkontaminasi dengan pengaruh luar!"

Kedua mata Rayya membola dengan sempurna, dengan cepat dia menggelengkan kepala tidak terima dengan keputusan Reza. "Tidak Mas, aku tidak mau kamu kurung! Aku wanita bebas bukan seperti burung dalam sangkar emas! Aku tidak butuh kamu puja karena aku sudah cukup kenyang dengan segala hinaan! Aku wanita karir bukan ibu rumah tangga lagi. Apa dengan kamu menikahi Nora belum membuat kamu puas, Mas? Sehingga kamu terus mengejar aku. Sudah sadar kamu sekarang jika posisiku ternyata tak terkalahkan dengan wanita murahan itu?"

PLAK

Tamparan keras membungkam mulut Rayya. Tubuhnya terhuyung hingga jatuh ke lantai, bahkan tamparan itu menyisakan kepedihan yang membuat air mata Rayya tak dapat tertahan. Rayya mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Dia menunduk tanpa niat kembali melihat wajah Reza.

Reza menekuk kakinya mendekati Rayya, dia menjambak rambut Rayya dengan tatapan tajam menatap wajah yang memerah akibat tamparan keras darinya.

"Jangan pernah kamu menyebut Nora wanita murahan! Dia wanita baik-baik yang aku nikahi sama seperti kamu! Justru kamu yang pantas disebut wanita murahan ketika kamu lalai mengerjakan kewajiban. Kamu istri tetapi menolak ajakan suami, dan diluaran kamu begitu dekat dengan pria lain. Siapa wanita murahan yang sebenarnya disini?" sentak Reza kemudian melepaskan cengkramannya dan mendorong kepala Rayya hingga hampir terbentur lantai.

"Pakai lingerie favoritku dan bersiaplah karena malam ini aku tidak akan melepaskanmu lagi!" titah Reza sebelum meninggalkan kamar Rayya. Dia mengunci pintu kamar itu dari luar dan tak membiarkan Rayya kabur dari sana.

Rayya menatap nanar pintu yang terkunci rapat, bahkan untuk berlari mendekati Reza dan menahannya saja Rayya tidak sanggup. Dia segera beranjak dari sana dan melangkah menuju kamar mandi.

Sejenak Rayya berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya. Rambut acak-acakan dengan pipi dan lengan yang memerah. Bahkan kali ini Reza meninggalkan bekas luka di wajahnya.

"Jahat kamu, Mas!"

...****************...

Di kamar sebelah Nora begitu rewel karena Reza yang kembali meminta ijin untuk tidur di kamar Rayya. Sejak tadi wanita itu bergelayut manja di lengan Reza tanpa niat untuk melepaskan.

"Besok malam aku akan tidur disini, sementara kamu tidur sendiri dulu ya. Aku harus adil dong Sayang, Rayya juga kan istri aku. Jika perlu besok pagi aku akan kembali ke sini dan kembali menghangatkan pagi kita," bujuk Reza dengan melepaskan genggaman tangan Nora di lengannya. Dia mengecup bibir ranum Nora dan segera melangkah meninggalkan wanita itu yang kini terlihat merajuk dan memilih naik ke atas ranjang untuk tidur.

Reza tak menghiraukan Nora, dia segera melangkah kembali ke kamar utama untuk mengunjungi istri pertama. "Kali ini aku tidak boleh gagal. Rayya tetap yang terbaik urusan ranjang meski rahimnya tak berguna." Reza tersenyum miring dan segera membuka pintu kamar.

Reza melangkah mendekati Rayya setelah kembali mengunci pintu. Senyumannya luntur saat melihat penampilan Rayya yang tak mengikuti keinginannya.

"Kenapa tidak memakai lingerie? Apa kamu sengaja ingin kembali membuat aku marah?" tanya Reza dengan menahan kesal dan menarik tubuh Rayya masuk ke dalam pelukannya.

"Aku tidak akan lagi memakai pakaian itu di depan kamu, Mas!" lirih Rayya dengan mata tegas. Dia tidak sudi memakai kembali pakaian dinas yang hampir setiap malam ia pakai untuk memanjakan mata Reza. Meskipun pria itu terkadang enggan, tetapi Rayya tetap menjamu Reza dengan baik. Namun, itu dulu saat Reza menjadi suami yang baik untuknya.

"Oh, berarti kamu mau aku bersikap kasar agar ranjang kita semakin panas, Sayang!" Reza mendorong tubuh Rayya ke atas ranjang membuat tubuh wanita itu tersentak. Reza merangkak naik dengan menarik paksa pakaian Rayya hingga kancing piyama yang wanita itu kenakan berhamburan di lantai, kemudian melepaskan paksa dan membuang pakaian itu hingga menyisakan dua kain tipis di tubuhnya.

"Jangan, Mas! Kita sudah tidak bisa melakukan itu lagi! Aku sudah menceraikan kamu, Mas!" seru Rayya dengan tangan menyilang.

"Omong kosong! Jangan lagi menghalangiku karena aku tidak akan melepaskanmu Rayya!" sentak Reza yang kemudian mengecup bibir Rayya dengan kasar. Reza bergerak brutal hingga Rayya tak mampu menghindar.

"Henti_mmpphh..." Mulutnya tak dapat lagi berkomentar bahkan air mata Rayya sudah kembali menggenang dan lolos dari pelupuk mata.

Rayya melirik ponsel yang tak jauh darinya. Dia berusaha meraih hingga ponsel itu berhasil berada dalam genggamannya. Rayya tak bisa melihat jelas layar ponsel itu, tapi dia sadar telah menekan panggilan pada seseorang.

Melihat pergerakan tangan Rayya, Reza segera melepaskan ponsel itu hingga terjatuh ke lantai dan menggenggam kuat kedua tangan Rayya laku meletakannya di atas kepala.

Terpopuler

Comments

Nike Natalie

Nike Natalie

othor adiknya Reza niii

2024-12-22

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

gk usah byk alesan lah raya raya ,,klo emg masih pengen ngerasain belutnya reza mah blng aja atuh 🤣🤣

2024-09-30

1

Dev

Dev

hadeehh..td ditinggal ngapain aja sih rayyan..kan bisa buat telpon minta bantuan..emng kmu.nya aja yg cari penyakit..

2024-06-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!