Rayya berangkat ke kantor diiringi dengan kehancuran hatinya. Lagi-lagi sang suami bermain tangan. Bahkan dia dipermalukan di depan madunya. Sungguh dunia Rayya seakan hancur dengan dendam yang semakin menggunung.
Rayya menyurut air mata sebelum keluar dari mobil. Dia bertekad masalah rumah tangga harus selesai dengan segera dan siapa yang curang akan mendapat imbalan.
Di ruangannya, Rayya segera menghubungi Pak Prio. Dia tidak ingin lagi mengulur waktu, hari ini juga Rayya harus mendapatkan tanda tangan Reza.
"Halo Pak, sudah sampai kantor?"
"Sudah, saya sedang mengecek beberapa berkas dan menanyakan banyak hal pada Pak Hamzah."
"Bagus, saya ingin segera Pak. Jika perlu hari ini ajukan dengan sistem kilat. Berapapun uang yang dibutuhkan, nanti saya kirim ke Bapak."
"Baik, akan segera dilaksanakan. Tunggu saja kabar selanjutnya!"
Rayya menutup ponselnya mengakhiri panggilan itu bebarengan dengan suara ketukan pintu menggema. Dia mempersilahkan Raditya untuk masuk dan membiarkan pria itu menjelaskan materi meeting hari ini.
"Demikian Bu, ada yang masih kurang jelas?" tanya Raditya kembali membereskan berkas yang ia bawa.
"Sudah cukup, kita berangkat sekarang! Pakai mobil kamu saja, ya!" Rayya segera beranjak dari duduknya dan bersiap untuk meeting disalah satu restoran ternama bersama klien dari Jepang.
"Baik Bu!"
Langkah Raditya terhenti saat dia tidak sengaja melihat wajah Rayya. Dengan cepat Raditya menghentikan langkah Rayya dengan kembali menutup pintu ruangan yang telah wanita itu buka hingga membuatnya terjingkat.
"Ada apa Pak Radit?" tanya Rayya heran.
"Maaf Bu Rayya jika saya lancang." Raditya mengeluarkan sapu tangannya dan beralih menuju lemari pendingin portabel yang ada di dalam ruangan tersebut, kemudian kembali lagi mendekati Rayya.
"Ini Bu, untuk mengompres pipi Ibu."
Rayya terdiam melihat sapu tangan yang Radit isi dengan beberapa bongkahan es batu. Dia mengambil sapu tangan tersebut dengan hati tak menentu, kalau kembali menatap Raditya..
"Terimakasih," lirih Rayya.
"Wanita kuat bukan wanita yang mampu menahan air mata, tetapi wanita kuat adalah wanita yang mampu menahan ego dan amarah di saat diri merasa diinjak. Maaf jika pundakku belum bisa menjadi sandaran, tapi aku harap kamu mampu melewati setiap masalahmu tanpa menyerah. Sampai dimana bukan hanya pundakku saja yang berguna untukmu tapi jemariku pun mampu mengusap setiap air matamu yang jatuh."
Raditya menunduk dengan menyunggingkan senyum lalu kembali membukakan pintu. Dia mempersilahkan Rayya keluar ruangan.
Rayya tercangang sesaat, menatap wajah Raditya yang begitu menenangkan. Ada rasa hangat di setiap ucapan Radit yang menyentuh hati. Entah mengapa pria itu mampu membuatnya nyaman dengan kata-kata receh yang tak seberapa, tetapi mampu menciptakan seulas senyum tipis di wajah Rayya.
Keduanya siap berangkat dengan mobil yang sama. Sesekali Rayya melirik ke arah Radit yang diam dengan pandangan fokus ke jalan. Dia mengusap pipinya yang terlihat lebam dengan sesekali meringis menahan sakit.
"Usapkan perlahan, Bu. Jangan terlalu ditekan jika itu menyakitkan!" ucap Raditya tanpa menoleh ke arah Rayya.
Rayya menganggukkan kepala mendengarkan ucapan Radit. Dia kembali mengusap dengan lembut sampai terasa jauh lebih baik dan menancap make up kembali agar warna merah di pipinya tersamarkan. Lanjut meeting dengan klien yang sudah menunggu.
Sampai di jam makan siang Rayya dan Radit kembali ke kantor setelah tadi menyempatkan makan siang bersama klien.
"Ada jadwal setelah ini?" tanya Rayya saat keduanya sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Tidak ada Bu, kita bisa kembali lagi ke kantor."
Keduanya sampai di kantor dan kembali keruangan masing-masing. Hingga waktu menunjukkan pukul lima, Rayya bersiap untuk pulang.
Rasanya ia enggan, terlebih saat ia mengingat ada orang lain yang mulai tinggal di rumahnya. Namun, Rayya tak ingin apa yang ia miliki dikuasai orang lain.
Rayya segera beranjak untuk pulang, tetapi pintu yang tiba-tiba terbuka membuatnya menghentikan pergerakan.
"Saya hanya ingin mengingatkan, jangan lupa simpan nomor saya dan hubungi jika ada sesuatu yang menyulitkan! Permisi."
Rayya tercengang mendengar ucapan Radit, dia menatap punggung pria itu yang telah menghilang di balik pintu.
"Raditya..." Rayya menggelengkan kapala dan kembali melangkah. Namun, tak lama sebuah pesan masuk menghentikan langkahnya.
Rayya mengerutkan kening membaca pesan singkat yang di kirim oleh Pak Prio. Dia bernafas lega, saat satu masalah sudah terselesaikan dengan baik.
"Secepat ini, hanya dalam hitungan jam saja aku sudah menyandang status janda." Rayya menghela nafas lega, meski dia harus bersabar lagi menghadapi Reza dan Ibu Hanum. Namun, terlepas dari pria yang telah menggerogoti hati, harta dan kepercayaan adalah suatu kebebasan baginya.
Rayya teringat akan rencana selanjutnya, dia teringat akan Raditya. "Aku harus segera menjalankan misiku selanjutnya, mereka harus tau jika aku bukan wanita mandul."
Rayya membalaskan pesan Pak Prio lalu kembali melangkah untuk pulang. Langkahnya terasa lebih ringan meski banyak beban yang masih menggelayuti dirinya. Terlebih rasa bersalah pada Mamah dan Papah membuat Rayya semakin ingin menghancurkan Reza.
Rayya terkejut melihat tatanan rumah yang sudah berubah. Baru saja ia melangkahkan kakinya memasuki pintu utama. Semua sekaan asing baginya. Rayya menoleh ke arah dapur terlihat ada dua wanita yang tengah sibuk menyajikan masakan ke meja makan.
Ibu Hanum bersikap begitu manis dan mau kembali masak seperti dulu saat hubungan pernikahannya masih baik-baik saja. Sekarang pun begitu, beliau terlihat ramah dan senang bisa menemani menantu barunya menyiapkan makanan.
"Siapa yang mengubah tatanan rumahku?" tanya Rayya lantang mengejutkan keduanya.
Ibu Hanum tersenyum miring dan melangkah mendekati Rayya diikuti dengan Nora di belakang beliau.
"Kanapa? Kamu tidak suka?"
"Ini rumahku, tidak seharusnya kalian mengubah semuanya tanpa persetujuan dariku. Kalian terlalu lancang melakukan itu tanpa seijin pemiliknya!"
"Seharusnya kamu itu berterima kasih pada Nora bukannya malah banyak berkomentar. Kamu sebagai istri pertama memilih bekerja, sedangkan Nora, dia tau tugasnya sebagai istri kedua Reza. Dia rajin, mengerti situasi dan mengubah suasana agar tidak bosan. Bukan seperti kamu, yang egois dan mementingkan diri sendiri. Kamu itu terlalu monoton! Bagaimana mau disayang suami jika hidupmu datar saja?"
Rayya menghela nafas berat, baru satu hari saja Nora berani mengubah tatanan rumah. Bahkan warna kesukaan Rayya sudah tak lagi dia lihat di rumahnya. Rayya menoleh ke arah Nora yang hanya diam menatapnya dengan senyum samar.
"Licik! Kamu boleh merebut Mas Reza, mengubah semua tatanan rumahku, tetapi jangan pernah berani mengusik kamar utama jika masih ingin tinggal di rumahku. Ingat, kamu hanya numpang!" lirih Rayya penuh penegasan tanpa Nora membuka suara. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu.
"Jaga bicara kamu, Rayya! Bersikaplah akur pada madumu!" sentak Reza yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan Nora berlari mendekati pria itu.
Rayya menatap Reza dengan jengah dan memilih masuk kamar dari pada pusing memikirkan drama yang terjadi di dalam rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
guntur 1609
kau ja yg bodohbrayya. knp gak kau usir semuanya. mereka hanya parasit nya
2024-09-26
0
Budi Paryanti
semoga secepat xa rayya berhasil mendepak keluar reza beserta benalu" lain xa yg juga numpang hidup sama rayya tapi g punya urat malu
2024-04-04
2
sherly
visumlah biar ada barbut kdrt
2024-02-07
0