Bab 05

Suara heels yang bertarung dengan lantai marmer menarik perhatian Ibu Hanum yang sedang berdiri di depan meja makan. Beliau menoleh menatap heran dan kesal ke arah menantunya yang sudah rapi ntah hendak kemana.

"Mau kemana kamu jam segini sudah rapi? Bukannya membuat sarapan malah asik berdandan! Buat sarapan dulu!" titah Ibu Hanum dengan suara meninggi.

Rayya tersenyum dan melangkah mendekati Ibu mertuanya. Dia melirik ke arah meja makan, masih ada makanan semalam yang belum habis, lalu kembali menoleh ke arah Ibu Hanum.

"Yang aku masak semalam masih ada kan, Bu? Dipanaskan saja, Bu! Mulai hari ini aku tidak akan masak lagi karena aku akan kembali bekerja."

"Bekerja? Sungguh jadi istri tidak bersyukur sekali kamu ya! Dikasih enak masih pengen nyari sendiri. Jika kamu kerja, lalu siapa yang akan mengurus rumah? Hah!"

"Ada Ibu kan? Jika ibu keberatan, bisa meminta Mas Reza untuk mencarikan asisten rumah tangga. Jika Mas Reza tidak mampu bayar, biar aku yang bayar." Rayya tersenyum manis menatap Ibu Hanum yang terlihat begitu kesal. Bukan Rayya jahat, tetapi putranya lebih dulu yang bermain curang. Membuat Rayya sakit hati dan kecewa.

"Rayya-Rayya, selain mandul kamu pun pandai menggurui Ibu ya! Oke jika setelah ini ada asisten rumah tangga yang bekerja, tapi apa kamu tidak berpikir jika kamu kembali bekerja akan semakin membuatmu sulit punya anak? Atau memang kamu sengaja? Iya? Agar kamu bisa bebas tanpa anak!" sewot Ibu Hanum.

"Maaf Bu, aku harap usahaku selama ini jangan hanya dipandang sebelah mata saja! Dua tahun aku berusaha keras, bahkan pernah sampai masuk rumah sakit karena salah obat, tapi untuk hamil yang usaha bukan hanya aku saja. Apa Ibu sudah melihat usaha Mas Reza? Aku sudah lelah Bu berjuang sendirian. Tanpa Ibu berpikir, usaha apa yang dilakukan anak Ibu!"

Rayya segera melangkah keluar rumah, dia sudah tidak peduli dengan rumah tangganya yang hanya menjadi toxic untuk hidupnya. Sampai saat ini bukan hanya sakit hati, tapi dendam sudah mulai tergali.

"Ya, biar kali ini Reza yang usaha. Ibu akan memintanya untuk menikah lagi!"

Langkah Rayya terhenti, dia menghela nafas kasar dan membalikkan tubuhnya menatap Ibu Hanum dengan tatapan penuh kebencian.

"Kenapa? Kamu keberatan Reza menikah lagi? Dia pria, punya harga diri dan martabat. Bukan untuk diinjak-injak dengan istri tak berguna seperti kamu. Jadi Ibu sangat mendukung jika Reza menikah lagi lalu punya anak dari wanita lain. Agar pikiran kamu terbuka, jika wanita bukan hanya kamu saja! Masih banyak wanita yang mau dengan anak saya! Dan akan dipastikan jika wanita itu bisa hamil anak Reza, dan membuktikan jika kamu memang mandul!"

"Silahkan! Saya tidak takut, tapi bersiaplah kalian angkat kaki dari rumah saya!" tegas Rayya dengan hati berantakan. Sudah cukup penghinaan ini. Rasa sakit itu begitu menggerogoti hingga pikirannya semakin jahat.

"Aku yang akan membuktikan lebih dulu, jika aku bukan wanita mandul seperti yang kalian ucapkan!"

Rayya melajukan mobilnya menuju kantor tempatnya dulu bekerja, yaitu kantor sang Mamah. Sebelumnya Rayya sudah mengabari Mamahnya, jika ia akan kembali ke perusahaan tersebut dan kembali memimpin perusahaan.. Tentunya Mamah Ceri sangat terkejut, karena yang beliau tau Rayya tidak diizinkan bekerja oleh suaminya. Namun, beliau tak banyak bicara, karena cukup paham Rayya yang sampai saat ini belum dianugerahkan momongan. Beliau hanya berpikir jika Rayya bosan di rumah.

"Assalamualaikum, Mah."

"Wa'allaikumsalam, Nak. Gimana jadi?"

"Tentu, aku sudah di jalan. Sudah ada asisten baru untuk aku, Mah?"

"Kenapa tidak dengan orang kepercayaan Mamah, Nak? Beliau bekerja sangat baik dan bisa membantu kamu."

"Tidak Mah, Rayya butuh yang masih muda dan energik. Oh ya, yang tampan ya Mah. Biar agak terang lihatnya."

"Kamu ini, ditunggu saja!"

"Oke, makasih Mah. Assalamualaikum."

"Wa'allaikumsalam."

Rayya mengukir senyum, dengan tatapan tegas. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, tetapi tujuannya kembali berkarir hanya untuk keluar dari kebodohan yang dibuat sang suami.

Tak ada yang berubah sesampainya dia di kantor. Banyak karyawan yang sangat merindukannya dan senang akan kembalinya Rayya memimpin perusahaan.

Setelah menyapa para karyawan, Rayya melangkah menuju ruang kerja. Dia kembali menyibukkan diri dan melupakan sejenak atas semua masalah yang terjadi.

Ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. "Masuk!"

"Selamat pagi Bu Rayya, selamat bekerja kembali. Saya senang Ibu bisa kembali memimpin perusahaan ini. Jujur saya agak kewalahan," ucap Pak Prio kalem.

"Terimakasih Pak, mati kita bekerja sama kembali!"

"Tentu Bu, saya siap membantu Ibu," jawab Pak Prio. Beliau adalah orang kepercayaan dari Mamah Ceri. Beliau yang selama ini membantu menjalankan perusahaan peninggalan kakeknya. Sebelum menjadi kepercayaan Mamah Ceri, Pak Prio adalah asisten dari Sang kakek. Hingga kini beliau sangat setia mengabdi pada keluarganya dan banyak membantu dalam memajukan perusahaan.

"Tapi bukan di sini, Pak. Hari ini sudah ada asisten baru untuk membantu saya."

Pak Prio mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang Rayya maksud. "Maaf Bu, maksud Ibu Rayya apa ya?"

Rayya beranjak dari duduknya, dia melangkah mendekati pria paruh baya itu lalu memeluknya. Hubungan Rayya dengan Pak Prio saat di luar seperti kakek dan cucu. Berbeda jika di kantor yang dibatasi dengan hubungan pekerjaan.

"Ada apa, Nak?" tanya Pak Prio mengusap lembut air mata Rayya.

"Reza, Kek." Rayya menceritakan semuanya Pada Pak Prio. Rayya pun menugaskan Pak Prio untuk pindah tugas di kantor sang Papah.

"Kamu yakin akan itu?"

"Tolong Rayya, Kek. Bisa saja Rayya meminta Pak Hamzah, tapi Rayya tidak percaya pada Reza. Rayya takut Mas Reza akan mengancam Pak Hamzah. Harapan Rayya hanya pada kakek. Biarkan di sini Rayya di bantu oleh asisten baru yang di kirim oleh Mamah."

Pak Prio menghela nafas berat, bukan hanya Tio saja yang tidak setuju Rayya menikah dengan Reza, tetapi beliau pun sama. Kini terbukti pria itu bukan pria baik-baik.

"Ya sudah, Kakek kesana sekarang."

"Jangan lupa dengan permintaan yang satu tadi Kek!"

"Tentu," jawab Pak Prio. Beliau segera pergi menuju perusahaan sang Papah. Rayya tidak hanya meminta Pak Prio untuk mengurus tentang pekerjaan, tetapi juga masalah pribadinya. Tentu saja tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.

Ketukan pintu kembali menggema membuat Rayya dengan cepat melangkah menuju pintu.

"Ada yang tertinggal, Kek?"

"Maaf Bu, saya Raditya. Saya ditugaskan oleh Ibu Ceri untuk menjadi asisten Bu Rayya," ucap Raditya sopan membuat Rayya tertegun melihatnya. Mata Rayya terus menatap pria itu dengan memikirkan sesuatu.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

2 manusia yg cuma numpang bangek aja sok² an 😏😏

2024-09-30

0

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

Yach siip,,ayoo Rayya semangat untuk membalas Reza suami yg cuma numpang kaya,,tapi gak tau diri itu

2024-02-21

0

sherly

sherly

kirain akan terus mau di injak2 Ama Reza kamu rayya, ternyata bisa juga kamu melawan... gini donk baru seru hempaskan benalu tu buang ke tempat sampah biar tau dia posisinya dimana

2024-02-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!