Bab 07

Rayya pulang ke rumah setelah tadi sempat meminta pertolongan kembali dengan Pak Prio. Kali ini bukan hanya tentang perusahaan ataupun masalah Reza, tetapi tentang rencana pernikahannya yang harus segera dilakukan dengan membereskan pernikahannya dengan Reza tanpa tercium oleh pria itu.

Rayya masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah. Namun, sambutan dari sang suami membuatnya geram. Terlebih mertuanya yang begitu terlihat bahagia dengan sikap yang sangat baik pada seorang wanita yang ia ketahui adalah selingkuhan dari suaminya.

"Baru pulang, kamu?" tanya Reza yang kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Rayya. Dia meraih tangan Rayya dan mengajak sang istri untuk melangkah mendekati kedua wanita yang tengah menatapnya.

"Ada apa ini, Mas?" tanya Rayya yang membuat Reza melebarkan tersenyum.

"Ada yang akan aku perkenalkan padamu," jawab Reza kemudian menoleh ke arah wanita yang nampak tersenyum dengan menggenggam tangan Ibu Hanum. Keduanya nampak akur, terlihat seperti anak dan Ibu yang sudah lama tidak bertemu.

Rayya menatap jengah kedua wanita itu, dia mulai paham drama yang suaminya tengah perlihatkan. Nemun, Rayya acungkan jempol karena suaminya begitu sangat berani terang-terangan membawa wanita selingkuhannya ke rumah.

"Sayang, kenalkan ini istri aku!" ucap Reza santai meminta wanita itu untuk berdiri dan berkenalan dengan Rayya, kemudian Reza menoleh ke arah sang istri dan memperkenalkan wanita itu bergantian.

"Rayya, dia pacarku. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku akan menikahinya, agar kamu tidak lagi menuduhku berselingkuh. Mungkin cara ini lebih baik, karena setelah makan malam aku akan menggelar acara ijab kabul disini."

Deg

Mata Rayya membola mendengar serangkaian ucapan dari Reza. Rayya kalah star, Reza lebih dulu akan menikahi wanita lain. Rayya tidak menyangka Reza berani melakukan itu tanpa takut bagaimana jika keluarganya akan tau.

"Apa-apaan kamu, Mas! Aku tidak mau di madu! Silahkan kamu menikah lagi tapi kamu selesaikan aku dulu, dan keluar dari rumah ini!" sahut Rayya tidak terima, dia mengeluarkan sebuah amplop yang berisi surat gugatan perceraian dan memberikannya dengan kasar.

"Tanda tangani ini dan bawa ibu serta wanita itu angkat kaki dari rumahku!" tegas Rayya membuat Reza, Ibu Hanum dan kekasihnya tercengang mendengar itu.

Reza meraih surat yang ada di dalamnya dan merobek tepat di depan wajah Rayya. Dia tidak bodoh untuk melepaskan Rayya begitu saja, karena Reza tau konsekuensinya jika ia bercerai dari istrinya.

Reza melemparkan sobekan kertas itu di wajah Rayya hingga membuat sepasang mata istrinya terpejam. Pria itu menatap nyalang istri yang telah dua tahun ia nikahi dengan wajah mengejek.

"Jangan bermimpi untuk lepas dariku! Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri pertamaku, Rayya. Dan ingat, aku tidak akan begini andai kamu tidak mandul!"

"Dan kamu pikir aku mau, Mas? Tidak! Silahkan menikah dengan pacar kamu, tapi jangan harap hidupmu bisa tenang setelah ini!" tegas Rayya tanpa ada rasa takut meski luka yang Reza torehkan begitu perih sampai dia ingin sekali menangis. Namun, Rayya menahan air matanya karena tak ingin terlihat lemah di depan Reza dan ibu mertua.

"Hei Rayya, seharusnya kamu itu bersyukur! Reza telah berbaik hati tidak melepaskan kamu dan kamu pun tidak lagi dituntut untuk memberikan anak. Bukan malah marah-marah dan mengeluarkan sumpah serapah! Ngaca donk! Kemampuan kamu itu seberapa? Jangan tambeng jadi perempuan!" celetuk Ibu Hanum yang kemudian tersenyum ramah pada calon menantunya.

"Justru karena saya berkaca, saya memilih untuk mundur dan silahkan kalian pergi dari sini karena saya tidak mau hidup dengan benalu!" ketus Rayya, dia segera menaiki tangga menuju kamar utama dan tidak lupa menguncinya dari dalam.

Tubuh Rayya luruh ke lantai di balik pintu kamar. Air matanya tak sanggup lagi dia bendung hingga Isak tangis kepiluan kembali terdengar memenuhi kamar. Tak ada wanita yang kuat saat orang ketiga berkunjung ke rumahnya tanpa memikirkan hati dan perasaan. Bahkan akan segera melangsungkan pernikahan secara terang-terangan di rumahnya sendiri. Rumah hadiah pernikahan dari kedua orang tuanya yang akan dijadikan tempat acara ijab kabul suaminya dengan calon madu.

"Keterlaluan kalian!" geram Rayya dengan kedua tangan terkepal.

Tepat pukul delapan malam kata Sah menggema. Rayya tersenyum getir melihat kesyahduan acara ijab dari lantai atas. Dia tidak sudi ikut bergabung menjadi saksi pernikahan suami dan madunya, bahkan Rayya pun enggan berbagi kamar lalu mengalah untuk tidur di kamar tamu.

"Kamu yang memulai, Mas dan kamu juga yang harus mengakhiri semuanya!"

Keesokan harinya Rayya telah bersiap berangkat ke kantor. Dia yang sejak semalam tidak bisa tidur karena suara berisik di kamar sebelah membuat tubuhnya sedikit lemas.

Rayya keluar dari kamar bertepatan dengan sepasang pengantin baru yang juga keluar dari kamar sebelah. Rayya tak menghiraukan dan tak ingin memperdulikan. Namun, suaminya seperti meminta perhatian dan ingin bertindak serakah.

"Pakaian kantorku sudah kamu siapkan, Rayya?" tanya Reza yang menghentikan langkah Rayya.

"Apa gunanya istri kedua kamu, jika masih aku juga yang kamu suruh, Mas?"

"Dia baru disini, dan itu sudah menjadi kewajiban kamu melayani suami. Lagian, itu hal biasa yang kamu lakukan. Kenapa harus menyuruh orang? Jangan menjadi istri yang semakin tidak berguna, Rayya!" sentak Reza membuat wanita di sampingnya tersenyum samar.

Rayya menghela nafas berat, rasanya dia begitu muak dengan drama pagi yang menguras emosi. Terlebih semakin kesini ucapan suaminya semakin menyakiti hati. Rasanya Rayya sudah ingin menendang pria itu dan membuat Reza pergi jauh dari kehidupannya.

"Tidak usah banyak bicara, Mas! Mulai hari ini, buktikan siapa yang lebih berguna, aku atau dia!" tunjuk Rayya kemudian kembali masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia tidak mengijinkan Reza masuk, bahkan Rayya sudah enggan mendapatkan sentuhan dari pria itu.

Brugh

Rayya memberikan banyak pakaian kantor Reza pada wanita yang bernama Nora. Dia melemparnya tepat di tubuh Nora membuat wanita itu tersentak. Reza pun tak kalah terkejutnya hingga spontan membantu Nora.

"Rayya! Kenapa semua pakaianku kamu keluarkan begini? Kamu semakin kurang ajar ya sekarang! Mulai tidak menghargai aku sebagai suami, hah!" Reza segera melangkah mendekati Rayya dan mencengkeram lengannya dengan kencang.

"Suami seperti apa yang harus aku hargai? Kurang harta yang selama ini kamu nikmati, Mas hingga meminta harga yang tinggi lagi dariku?"

PLAK

Tamparan keras singgah di pipi Rayya membuat wanita itu limbung dan terjatuh ke lantai. Rayya merasakan sakit yang teramat pedih hingga kepalanya pun ikut berdenyut nyeri.

"Jaga bicara kamu! Bersikaplah layaknya seorang istri! Jangan jadi pembangkang jika masih ingin disayang!" ucap Reza penuh penegasan dan kembali membantu Nora.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

ya ampun aku kok jd esmosi bgt yaaa,,🤣🤣

2024-09-30

0

guntur 1609

guntur 1609

cfasar rayya bodoh. masak dia dipoligami mau saja. kan bisa dilaporkan

2024-09-26

0

Budi Paryanti

Budi Paryanti

makin geregetan ama reza yg g tau diri dan g tau di untung, kalau aq dagh ku sepak laki" kaya gt bagian yg jadi andalan xa biar g bisa berfungsi lagi

2024-04-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!