Dugh
"Auwh..."
Sebuah tendangan Rayya layangkan dengan kencang tepat di bagian inti Reza. Pria itu mengaduh kesakitan dengan terduduk di lantai. Kesempatan itu dijadikan Rayya untuk kabur dari Reza. Wanita itu berlari ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Brugh
"Aakkkhh..."
Rayya terjatuh dengan lutut terbentur lantai. Sungguh rasanya ia tak sanggup lagi untuk berdiri. Lututnya mulai memerah dan mengeluarkan darah.
Rayya menoleh ke belakang, dia menatap sengit pria yang sengaja menjagal kakinya hingga ia terjatuh dan terluka.
"Rasakan! Kamu tidak akan bisa kabur dari aku, Rayya! Kamu sudah berani menolak dan melukai suamimu sendiri! Ini balasan untuk istri yang durhaka terhadap suami!" sentak Reza dengan posisi yang masih sama. Pria itu belum banyak bergerak karena tendangan kaki Rayya menyisakan sakit yang teramat hingga Reza merasakan miliknya ingin pecah.
Rayya tidak menggubris ucapan Reza, dengan sekuat tenaga dia berdiri dan mengambil pakaian di lemari. Rayya segera memakai pakaian itu dan meraih tas serta kunci mobil lalu berjalan kembali dengan terseok-seok menuju pintu kamar.
Lagi-lagi Reza tak tinggal diam melihat Rayya yang ingin pergi. Pria itu berusaha untuk bangkit dan menghentikan langkah Rayya dengan menarik rambutnya hingga kepala wanita itu mendongak ke belakang. Ringisan kecil mulai terdengar dengan desisan halus tanda kesakitan yang begitu menyiksa.
"Berani kabur, hhm?" tanya Reza dengan mencengkeram kuat rambut Rayya dan terus menariknya hingga sulit berbicara. Buliran bening terus menetes dengan peluh yang membasahi kening Rayya.
"A...A... Ampun, Mas!"
"Tidak ada ampun untuk istri pembang_"
"Shiitt!"
Rayya menginjak kaki Reza hingga pria itu mengaduh kesakitan dan melepaskan cengkraman di rambutnya secara tiba-tiba. Namun, akibat cengkeraman yang begitu kuat membuat kepala Rayya terbentur pintu kamar.
Keduanya saling mengaduh merasakan kesakitan di tubuh mereka. Terlebih Rayya yang sudah seperti ingin pingsan dengan berpegangan handle pintu untuk menahan diri agar tidak terjatuh, sedangkan tangan kiri memijit pelipisnya.
"Rayya!" sentak Reza dengan suara tertahan membuat Rayya terjingkat dan segera meraih kunci yang tergeletak di lantai lalu buru-buru membuka pintu kamar dengan tangan bergetar.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Ibu Hanum dan Nora sudah tidur nyenyak di kamar mereka masih-masing hingga tak ada yang tau Rayya berlari keluar kamar dengan langkah terseok dan berulang kali menoleh ke belakang dengan wajah ketakutan.
"Rayya!" seru Reza yang berusaha bangkit tapi tak dipedulikan oleh Rayya. Wanita itu terus berusaha melarikan diri hingga sampai di ujung tangga, ia melihat Reza mulai berlari tertatih untuk mengejarnya.
Rayya panik, dia kembali berlari sampai di pintu utama dan melepas kunci dengan susah payah. Tangan yang bergetar membuatnya kesulitan, terlebih dirinya yang semakin panik karena Reza sudah hampir mendekat.
"Ya Tuhan, tolong aku!"
"Mau apa kamu, Rayya?" tanya Reza yang semakin mendekat.
Rayya semakin ketakutan, dia berusaha fokus hingga kunci terlepas dan segara melangkah keluar dari rumah. Namun, saat pintu ingin kembali ia tutup, Reza menahannya dari dalam membuat Rayya semakin kesulitan.
Sekuat tenaga ia menarik pintu tetapi kekuatannya tak seimbang dengan Reza. Hampir-hampir Rayya tertarik masuk ke dalam rumah jika ia tidak melepaskan tangannya yang sejak tadi mencengkeram handle pintu dengan kuat.
Reza terpelanting ke lantai karena Rayya melepaskan genggamanya. Pria itu kembali mengaduh dengan tubuh yang semakin remuk. Rayya sempat terdiam sejenak melihat Reza yang kembali kesakitan, tetapi dia tak ingin menyiakan kesempatan. Sebelum Reza kembali tarbangun dan mencelakainya, Rayya buru-buru menutup pintu dan menguncinya dari luar. Wanita itu kabur tanpa memperdulikan teriakan Reza dari dalam rumah.
Rayya segara melajukan mobilnya dengan kencang keluar dari pagar. Dia menghela nafas lega, akhirnya bisa terlepas dari jeratan pria yang kini telah menjadi mantan suami.
Nafas Rayya tersengal dengan genggaman erat di stir mobil. Dia menyurut air mata dengan rasa syukur karena Tuhan melindunginya.
"Maaf Mas, aku tidak akan begini jika tidak kamu yang memulai. Kita sudah tak ada hubungan apapun meski kata talak tak terucap dari bibirmu, tapi perlakuan dan bukti-bukti perselingkuhan membuat aku menang dalam persidangan. Aku yang mengajukan dengan banyak bukti kesalahanmu. Kelak kamu akan sadar dan menyesali semuanya, Mas. Nikmati dulu hidupmu, aku mengalah, tapi jangan salahkan aku jika setelah ini kamu akan menjadi sampah!"
Rayya memilih untuk menginap di apartemen yang sudah lama tidak ia tinggali. Apartemen hasil dari tabungannya selama ia bekerja, sebelum menikah dengan Reza.
Rayya perlahan dengan langkah tertatih karena luka di lutut yang belum terobati. Terlebih tubuhnya remuk redam setelah dibanting dan terjatuh tadi. Dia menghela nafas berat merasakan sakug di sana sini. Sampai tak kuat dan terjatuh saat lift sudah terbuka. Rayya tak sadarkan diri dengan tubuh tergeletak di tengah-tengah pintu lift.
Sedangkan saat ini Reza tengah diobati oleh Ibu Hanum di ruang keluarga. Ibunya tak habis pikir Rayya bersikap demikian. Setelah mendengarkan cerita dari Reza, ibu Hanum semakin murka dan membenci Rayya. Beliau tak terima putranya di buat sakit seperti ini.
"Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja?"
"Tidak Bu, aku hanya butuh istirahat. Tidak ada luka ditubuhku dan sakitnya pun di bagian-bagian tertentu yang tidak mungkin aku tunjukkan. Jadi aku ingin tidur saja." Reza berusaha untuk berdiri tetapi pinggangnya terasa begitu sakit hingga Bu Hanum tidak tega melihatnya.
"Lebih baik kamu di sini dulu! Nora kemana? Apa dia tidak tau dengan apa yang terjadi padamu, Nak?"
Reza menggelengkan kepala, dia menoleh ke arah Ibunya dengan menghela nafas berat. "Malam ini jatah Rayya Bu, jadi Nora aku minta tidur sendiri karena aku harus bisa bersikap adil."
"Tapi kamu justru mengabaikan dia dan lebih memilih istri mandul itu. Begini kan jadinya?" tanya Ibu Hanum. Beliau sebenarnya sudah muak dengan Rayya, tetapi karena Reza terus mengingatkan akan apa yang ia dapatkan dari pernikahanbya bersama Rayya membuat Ibu Hanum berusaha untuk menerima Rayya yang ia anggap tak lagi bisa diharapkan.
"Cukup Bu, besok lagi marah-marahnya. Aku akan kembali ke kamar. Sebaiknya ibu keluar lewat pintu samping dan membuka kunci pintu utama karena tadi Rayya menguncinyabdati luar. Aku ingin istirahat dulu," pamit Reza. Dia berusaha beranjak dengan susah payah. Reza melangkah menuju kamar Nora untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Ada apa dengan kamu Rayya, kenapa kamu menolakku begini?" gumam Reza saat melawati kamar utama yang berantakan setelah terjadinya percekcokan sengit antara dia dengan Rayya.
...****************...
Hay-hay Man-temanku yang cantik, tampan dan baik hati. Jangan lupa dukung karyaku yang ini juga ya, agar akah bisa semakin emosi menulisnya 🤭🤭 karena itu yang membuatku semangat. Makasih semuanya 🤗🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
guntur 1609
mantap
2024-09-26
0
Cornelia Pujiastuti
Goblok kqmu resa .. sadarlh knp raya begitu .. sp yg mau diaelinkuui
2024-05-04
0
Budi Paryanti
alhamdulillah akhir xa rayya bisa kabur, kenapa rayya bertahan g ngasih tau kondisi rt xa ea padahal apa pun itu ortu g bakal terima anakbxa di sakitin oleh laki" yg seharus xa melindungi dan menyayangi xa
2024-04-04
0