Rayya mengerjapkan kedua mata dengan bibir mendesis merasakan tubuhnya yang masih terasa sakit akibat kejadian semalam. Dia mencoba benar-benar membuka mata kala menatap suasana berbeda dengan dahi yang mengerut.
Bingung, asing, dan terkejut. Itulah yang ia rasakan saat ini. Bentuk kamar yang sama dengan apartemennya tetapi nuansa dan aroma ruangan kanuh beda dengan miliknya.
Rayya menatap sekeliling ruangan, dia berusaha beranjak dengan perlahan untuk duduk dengan mata terus menelisik setiap sudut ruangan tersebut.
"Aku dimana?" lirih Rayya. Hingga tak lama kemudian ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka yang membuatnya reflek menolehkan kepala.
"Akkkhh..." Rayya berteriak dengan menutup kedua mata dengan selimut tebal yang sejak tadi membungkus tubuhnya. Penampakan pria yang keluar kamar mandi dengan handuk sebatas pinggul dan dada kekar yang terpampang jelas membuat Rayya sangat terkejut.
Namun, yang lebih membuatnya terkejut lagi, pria yang ia lihat itu adalah orang yang ia kenal baru-baru ini. Rayya tak habis pikir mengapa dia bisa berada di kamar apartemen pria yang kini menjadi asisten barunya.
"Maaf, saya pikir Ibu belum bangun. Sebentar, saya ingin mengambil pakaian saya dulu di lemari!" Raditya segera melangkah menuju lemari dengan buru-buru dan meraih kemeja serta celana kerjanya, tak lupa juga pakaian keramat yang penting dan wajib.
Rayya kembali membuka selimut setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Dia menghela nafas lega meski hati masih tak menyangka dirinya bisa ada di sana.
Wanita itu terus mencoba mengingat kejadian semalam, hingga bayangan akan dirinya yang diperlukan kasar oleh Raza begitu jelas diingatan. Serta dirinya yang melarikan diri menuju apartemen dan tak ingat lagi apapun lagi setelah ia berada di dalam lift.
Rayya ingin memijit keningnya tetapi, seketika tangannya terhenti saat menyadari jika di kening sebelah kanan terdapat plester dan perban yang entah sejak kapan menempel disana. Setelah itu Rayya menyibak selimut yang ia pakai untuk melihat keadaan kedua lututnya.
"Pasti Radit yang sudah mengobati luka aku." Rayya menghela nafas lega, beruntung dia bertemu dengan Raditya. Jika bukan pria itu, akan jadi apa dirinya saat ini.
Rayya kembali menoleh saat pintu kamar mandi terdengar lagi. Dia segara beranjak dan melangkah mendekati Radit yang diam di tempat setelah melihat Rayya melangkah ke arahnya.
"Radit, dimana kamu menemukan saya?" tanya Rayya tanpa basa-basi. Rayya ingin memastikan jika dugaannya itu benar.
"Maaf Bu Rayya, jika saya lancang sekali membawa Ibu ke kamar apartemen milik saya. Semalam saya menemukan Ibu sudah tak sadarkan diri di pintu lift," jelas Raditya dengan dengan lembut. Dia teringat lagi akan kondisi Rayya semalam.
"Maaf juga jika saya tidak sopan menyentuh tubuh Ibu, tetapi boleh saya tau kenapa ada lebam dan beberapa titik luka di tubuh Ibu? Apa suami Ibu melakukan tindak kekerasan?" tanya Raditya lagi. Dia menghela nafas panjang dengan menoleh ke arah Rayya sekilas kemudian menundukkan kepalanya lagi.
Rayya menghembuskan nafas kasar, dia membalikan tubuhnya dan melangkah menuju pintu balkon dan membukanya.
"Terimakasih Radit, kamu telah menolong saya," ucap Rayya dengan bersedekap dada menatap langit biru yang cerah tetapi tidak dengan hatinya yang seakan berduka. "Saya mohon apapun yang kamu tau, rahasiakan dengan baik dari kedua orang tua saya."
Rayya kembali membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Raditya yang begitu menjaga pandangan matanya. Mungkin semalam menolong dan menyentuhnya pun, karena terpaksa.
"Sudah saya katakan saya siap menikah dengan kamu, asal kamu cepat menghamili saya. Hubungan saya dan Mas Reza telah berakhir, tanpa diketahui olehnya. Semalam Mas Reza menginginkan saya untuk melayaninya karena masih menganggap saya istri. Penolakan saya pun berujung pertengkaran hingga berujung saling menyakiti."
Rayya menghela nafas berat, dadanya begitu sesak mengingat ucapan Reza dan semua perlakuan yang ia terima. Di tambah lagi sikap istri baru Reza dan mantan Ibu mertua yang semakin keterlaluan.
"Kenapa harus menyembunyikan semua dari mantan suami? Bukankah itu justru membahayakan untuk Ibu? Anda akan kesulitan menjaga marwah anda dari mantan suami jika ia tidak tau hubungan kalian sebenarnya."
Rayya kembali menoleh ke arah Raditya hingga pandangan mata keduanya sempat saling bersinggungan. Namun, Raditya lebih dulu memalingkan wajahnya membuat Rayya mendengus kesal.
Rayya sedikit gemas, sikap Radit hampir sama dengan sang Kakak yang selalu menjaga sikap dengan lawan jenis. Rayya tersenyum kecut mengingat pertanyaan Raditya padanya.
"Kalau aku mengatakannya bukan surprise namanya Radit. Bagaimana aku akan membalaskan rasa sakit hatiku jika aku melepaskannya begitu saja? Kamu tidak tau rasanya dicap mandul oleh suami dan mertuaku sendiri. Aku ingin membuka mata mereka dan membuktikan jika aku tidaklah seperti yang merak pikirkan."
Rayya menoleh ke arah ranjang, dia melihat kasur yang luas dengan berbalut sprei berwarna abu bersih dan wangi. Wanita itu kembali menoleh ke arah Raditya yang nampak terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana jika DP sekarang? Aku sudah janda, dan tidak lagi terikat pernikahan. Jika aku hamil, berarti itu anak kamu kan?Hitung-hitung test Drive," celetuk Rayya membuat Raditya dengan cepat menoleh ke arahnya.
Raditya tercengang mendengar ucapan Rayya, dia tak menyangka wanita itu dengan mudah mengajaknya berhubungan badan, dan yang lebih membuatnya tak habis pikir, Rayya terkesan tak percaya akan dirinya.
"Apa ibu meragukan saya?"
"Bagaimana saya ingin percaya jika belum ada buktinya? Gantle saja tidak cukup untuk membuktikan pria itu subur. Bukti yang akan mematahkan semuanya," sahut Rayya santai dengan menyunggingkan senyuman manis.
Raditya, pria yang sudah berusaha menahan. Ternyata sabarnya tak setebal buku kamus, dia melangkah mendekati Rayya dengan tatapan menghunus pada wajah wanita itu. Sedangkan Rayya begitu senang karena hati yang telah tertutup dendam.
Raditya semakin mengikis jarak mambuat hati Rayya bersorak. Wanita itu membuka jalan selebar-lebarnya jika Raditya benar akan singgah. Dia menyambut dengan senyuman manis dan wajah berbinar, terlebih Rayya melihat wajah Raditya yang terkesan menginginkan.
Hanya tinggal sejengkal lagi tubuh keduanya akan bersinggungan. Langkah Raditya terhenti dengan tatapan tak lepas dari mata Rayya. Pria itu mulai mengikis jarak dengan memiringkan kepala. Bahkan gerakannya membuat Rayya memejamkan mata menyambut bibir yang sebentar lagi akan bertemu.
Hembusan nafas Raditya begitu hangat menerpa wajah Rayya. Baru nafasnya saja membuat tubuh wanita itu meremang. Namun, Rayya benar-benar menantikan sentuhan itu dan sedikit bersabar menghadapi perjaka yang mungkin baru belajar.
Hembusan nafas hangat Raditya beralih ke leher jenjang Rayya dan berakhir di telinga wanita itu. Sedikit menggelitik indra pendengarannya hingga Rayya bergidik, tetapi semua rasa runtuh setalah ia mendengar bisikan Raditya yang membuat kedua matanya terbuka lebar.
"Sebagai pria normal saya sangatlah tergoda, tetapi hubungan ini bukan untuk coba-coba! Saya siap halalkan Ibu setelah masa Iddah selesai."
Pupus sudah harapan Rayya yang berharap akan mendapatkan sentuhan perjaka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ita rahmawati
laki laki yg sweet
2024-09-30
1
Budi Paryanti
maasya Allah ternyata radit pria yg agamis dan bisa menjaga nafsu xa dr hal" yg merusak iman xa , semoha ini lah jodoh tuk rayya
2024-04-04
1
Yuliana Purnomo
terlalu semangat Rayya,,sampe gak ingat lagi kalau hbs cerai itu ada masa Iddah
2024-02-21
0