“Ray, kalau kayak begini Kamu cari mati namanya!” Dito menasihati.
“Lily itu bukan barang yang bisa kalian perebutkan seenaknya. Mana dia mau sama si ****** itu? Udah jelas-jelas dia milih Kamu dari awal ketemu.” Caesa menambahkan.
Rayyan sebenarnya bingung dengan tantangan yang baru saja Ia terima. Tapi Ia merasa memerlukan tantangan itu untuk mendorong dirinya lebih kuat untuk belajar, juga untuk memperjuangkan Lily. Rayyan sadar yang telah dilakukannya itu tidak benar dan terlalu mengambil resiko, namun Ia menyetujui perkataan Messi bahwa yang terbaiklah yang berhak mendapatkan Lily.
***
“Makasih Lily, Tante Merry, dan om buat traktirannya dan udah antar Aku pulang. Dadahh..” Ucap Julia sambil melambaikan tangannya ke mobil yang ditumpangi sahabatnya sekeluarga.
Ketika hendak memasuki rumah sakunya terasa bergetar, Ia mengambil ponselnya dari dalam saku.
“S.O.S” - Dito
^^^“Apaan?” Balas Julia.^^^
“Bisa telepon?”
^^^“10menit lagi ya.”^^^
Julia segera mandi dan mengganti baju secepat kilat. Tepat dalam waktu sepuluh menit Ia sudah berada di depan ponselnya. Panggilan masuk dari Dito pun Ia terima. Dito menceritakan kejadian mengenai Rayyan dan Messi di tempat bimbel setelah Lily dan Julia pulang, terkait tantangan rahasia itu. Dito meminta Julia agar merahasiakan hal ini dari Lily.
“Berarti Messi juga suka sama Lily bahkan setelah Lily pacaran sama temennya sendiri?” Tanya Julia.
“Iya Jul, kalau nggak mana mungkin Messi nantangin Rayyan kayak gitu kan?” Jawab Dito yang sebenarnya hanya ingin mengobrol dengan Julia karena Diana sedang sibuk sendiri.
“Nggak habis pikir deh Aku, lagian bodoh juga Si Rayyan mau nerima tantangan kayak gitu. Mana Lily juga udah bucin sama dia.” Cerita Julia.
“Tapi Kamu harus rahasiain ini ta Jul, pura-pura nggak tahu aja. Kalau Rayyan tahu Aku ngasih tahu Kamu bisa mati Aku.” Ucap Dito.
“Biarin aja biar digantung nanti Kamu sama Rayyan.” Ucap Julia bercanda.
“Juliaaa..” Dito histeris.
“Bercanda kali, udahan ya, Aku mau baca novel. Kamu harus jagain Rayyan ya biar belajar terus jangan sampai kalah dari si ******. Nanti Aku bakal pastiin Lily nggak tertarik sama si ******.” Tutup Julia.
Si ****** adalah julukan untuk Messi yang Caesa buat saat berbicara dengan Dito dan Rayyan hingga Dito dan Rayyan ikut menyebutnya seperti itu di belakang Messi. Kini Julia juga mengetahuinya, Ia berdoa agar Ia tidak keceplosan di depan Lily tentang apa yang baru saja Ia dengar.
***
Hari Minggu, Lily sejak pagi menghabiskan waktunya membantu Ibunya dengan segala pekerjaan rumah, siang sampai sore belajar mengemudi dan malam harinya kembali di meja belajarnya. Sejujurnya Lily merindukan Rayyan yang tanpa kabar hari ini. Lily hanya bisa bersabar karena besok Ia akan bertemu dengan Rayyan di tempat bimbel setelah pulang dari sekolah.
Sedangkan Rayyan dari pagi mengurung diri di rumah. Ia terus mendalami materi-materi dari semua buku yang Ia miliki. Bahkan Ia sampai mengabaikan ajakan nongkrong dari Caesa. Ia sangat merindukan Lily namun memendam kerinduannya untuk memperjuangkan kekasihnya itu. Berkali-kali Ia menatap foto Lily di layar ponselnya.
“Doain Aku ya Lio-ku sayang, Aku pasti bisa ngalahin Messi.” Ucap Rayyan kemudian mencium ponselnya.
“Mas Rayyan makan dulu mas, Bibi lihat semangat banget belajarnya dari tadi. Bibi sudah masakkin nasi goreng kesukaan Mas Rayyan.” Ucap Bi Darsih yang hari ini baru datang sore karena habis menemani cucunya jalan-jalan sejak pagi, membuatnya pulang agak malam dari rumah Rayyan setelah bersih-bersih.
Melihat Rayyan yang sibuk belajar dan belum makan, Bi Darsih inisiatif memasak makanan kesukaan Rayyan. Nasi goreng Bi Darsih adalah Nasi goreng yang menurut Rayyan paling enak bahkan Ibunya sekalipun tidak bisa membuatkan yang sama persis dengan buatan Bibi. Rayyan meninggalkan buku-bukunya sejenak dan melahap nasi goreng Bi Darsih. Bi Darsih yang masih menunggu dijemput anaknya pun menemani Rayyan.
“Rajin banget Mas Rayyan belajarnya.”
“Iya Bi, doain ya supaya Aku bisa keterima di fakultas kedokteran universitas XX.” Rayyan memohon Bi Darsih akan mendoakannya.
Bi Darsih sudah seperti nenek Rayyan sendiri. Beliau sudah menjaga Rayyan sejak Rayyan masih di dalam perut Ibunya dan saat itu neneknya mengalami kelumpuhan pada kakinya karena serangan stroke. Selain dekat dengan Rayyan, Bi Darsih juga sangat dekat dengan Nenek Rayyan. Apalagi mereka berteman semasa sekolah. Ibu Rayyan juga sangat menghormati Bi Darsih, setiap pulang dari Ibukota Ibunya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Bi Darsih membawakan makanan dan pakaian baru untuk keluarga Bi Darsih.
***
Hari-hari berlalu seperti biasanya, hampir setiap hari mereka mengikuti kelas di tempat bimbingan belajar dan juga tambahan belajat kecuali hari minggu. Tibalah pada try out di bulan kedua. Rayyan, Lily, dan Julia yakin sekali mereka dapat mempertahankan posisinya dari Ivana, Jovanka, dan Anthony yang sama sekali tidak pernah mengikuti kelas tambahan. Hasil Try Out kedua pun muncul.
Mereka memang berhasil mengalahkan tiga rivalnya itu tapi mereka terkejut karena peringkat satu dengan nilai tertinggi direbut oleh orang lain. Lily bersikap biasa saja karena tidak memiliki masalah dengan orang itu karena mereka semua berteman tapi Rayyan, Dito, Caesa, dan Julia nampak kalang kabut.
Rayyan mengepalkan tangannya di dalam saku jaket yang dikenakan saat melihat lembaran-lembaran kertas yang ditempelkan di dinding.
“Nggak mungkin, Kenapa Aku bisa kalah dari dia? Cuma selisih satu poin aja.” Gumam Rayyan.
“Keren banget Messi bisa kalahin Rayyan.” Lily memuji Messi membuat Rayyan semakin panas.
“Hoki doang kali dia cuma selisih satu poin.” Julia memihak Rayyan yang masih mematung.
“Bulan depan kita harus coba supaya lebih unggul dari Messi ya Ray.” Lily menarik satu tangan Rayyan untuk menggenggamnya sambil tersenyum manis.
“Iya sayang.” Jawab Rayyan sambil mengecup kening Lily, namun matanya menatap tajam ke arah Messi.
Setelah menerima kecupan sang kekasih, Lily meninggalkannya untuk ke toilet.
“Pakai jimat apa Kamu ni Bang Messi bisa ngalahin Master Rayyan?” Tanya Caesa.
“Enggak ada kali yang kayak gitu-gitu. Aku rajin tambahan aja, kadang sampai malem, hari minggu juga masih berangkat.” Jawab Messi yang memang setelah memberikan tantangan itu ke Rayyan Ia berusaha lebih keras, tambahan belajar sampai malam setelah yang lain pulang bahkan meminta tambahan khusus di hari minggu kepada guru yang piket.
“Kok nggak ajak-ajak Kita sih?” Tanya Dito.
“Aku pikir kalian nggak mau kalau harus pulang malam apalagi masuk di hari minggu.”
“Iyasih hari minggu kan khusus buat Diana.” Ucap Dito.
“Belajar yang bener dulu kali pacaran mulu.” Caesa meledek Dito.
“Kayak Kamu sama Indira enggak aja.” Dito membalas.
Julia menepuk-nepuk lengan Dito melihat Rayyan yang semakin kesal dan mendorong Messi ke arah tembok. Rayyan mencengkeram kerah baju Messi dengan sorot yang tajam.
“To.. to.. gawaattt..” Ucap Julia memanggil Dito yang asik saling meledek dengan Caesa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments