“Enggaaakkk.. Jangan kesini malam-malam. Aku nggak mau bukain pintu.” Jawab Lily histeris.
“Aku cuma bercanda Lio sayang.” Rayyan tertawa bisa mengerjai pacarnya.
Mereka banyak menceritakan hal-hal tentang diri mereka membuat mereka saling mengenal. Obrolan berlangsung hingga larut malam. Lily yang mengantuk tiba-tiba tertidur dan Rayyan mengamati wajah kekasihnya yang sudah terlelap dan mengecupnya di layar ponsel. Baru setelah itu Rayyan ikut memejamkan matanya.
Pagi menyapa, Lily yang terbangun lebih dulu kaget karena ponselnya masih dalam mode panggilan video. Ia menatap layar ponselnya.
“Selamat pagi R-ku sayang.”
Melihat Rayyan yang sepertinya mendengar ucapannya, Lily langsung bangun merapikan tempat tidurnya. Ia masih canggung memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘sayang’. Ia harap Rayyan tidak mendengarnya mengatakan seperti itu.
Sedangkan Rayyan yang tiba-tiba mendengar kata sayang itu terbangun mencari asal suara sambil mengusap matanya. Ia melihat panggilan video yang masih menyala. Rayyan melihat Lily yang sedang merapikan tempat tidurnya kemudian melihatnya yang sudah bangun dari tidur.
“Hai, sudah bangun?” Tanya Lily.
“Iya sayang, hari ini rencana mau kemana?”
“Mungkin siang atau sore belajar nyetir sama Bapak. Sebentar lagi kuliah jadi Aku harus bisa bawa mobil sendiri apalagi kalau jauh dari orang tua nanti.”
“Semangat ya sayang. Kamu bisa bilang Aku kalau mau Aku ajarin. Hari ini Kita nggak bisa ketemu dong?”
“Sabar ya, kan kita ketemu hampir setiap hari dari senin sampai sabtu. Hari minggu waktunya Aku me time dulu.”
“Oke deh, nanti kalau kangen Aku boleh telepon ya?”
“Rayyannn..” Lily memanggil Rayyan tidak seperti biasa.
“Aku bercanda Lio-ku sayang,”
“Kamu sibuk apa hari ini R?”
“Aku nggak tahu nih, mungkin nongkrong sama Caesa siangan.”
“Nggak sama Dito juga? Biasanya kalian selalu bertiga.”
“Dito biasanya kalau hari minggu sibuk sama Diana.”
Lily mendengar hal itu pun langsung terkekeh. Dito yang suka menggoda sahabatnya ternyata sangat bucin dengan pacarnya. Dalam hati Lily berpikir jangan sampai Julia kemakan rayuan buaya satu ini. Tapi Ia terus meyakinkan dirinya bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena Dito bukan tipe Julia.
***
Jam sebelas siang Rayyan, Caesa, dan Dito sedang duduk di sebuah meja Kafe langganan mereka. Setelah memesan makanan dan minuman mereka mengobrol seperti biasa. Namun ada yang aneh dengan Caesa, mata Caesa seperti sedang mencari seseorang. Sedangkan Dito, seperti biasa Ia hanya menatap layar ponsel menunggu sampai Diana selesai dandan dan menghubunginya baru Ia akan menjemput.
Rayyan yang menyadari keanehan Caesa itu hanya diam sambil menperhatikan. Tiba-tiba Caesa meminjam kunci mobil Rayyan untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Setelah Caesa pergi Dito pun berdiri.
“Bro, duluan ya Nyonya udah minta jemput.” Ucap Dito.
“Jagain mejanya sebentar ya, Aku mau ke toilet dulu.”
Rayyan bergegas meninggalkan Ditto yang nampak bingung. Padahal Ia yang sudah memiliki janji tapi kenapa Ia juga yang ditinggal sendirian. Namun Ia duduk kembali menjalankan amanah yang Rayyan berikan. Sedangkan Rayyan tidak ke toilet melainkan mengecek sesuatu. Tidak lama Ia pun kembali ke meja dan mempersilahkan Dito pergi.
Melihat Caesa datang, Rayyan menyilangkan kedua tangannya di depannya.
“Loh, Si Dito udah cabut Ray?” Tanya Caesa dibalas dengan anggukan Rayyan.
Rayyan tersenyum aneh ke arah Caesa, membuat Caesa kebingungan.
“Kamu kenapa Ray? Salah obat?” Tanya Caesa.
“Justru Kamu yang kenapa?” Rayyan balik bertanya.
“Maksudnya?” Caesa kebingungan.
“Kenapa nggak jujur aja sih Cae sama kita-kita? Ya kalau belum berani ngomong sama Dito nggak apa-apa lah sama Aku dulu.”
“Kamu ngikutin Aku tadi? Dito belum tahu kan?” Caesa memastikan.
“Ya, Aku juga lihat Kalian lagi..” Ucapan Rayyan terhenti ketika Caesa mengisyaratkan jarinya agar tidak melanjutkan perkataannya.
“Jangan disini lah Ray ngomongnya, nggak enak Aku kalau ada yang denger.”
“Ya..ya.. Kalian udah lama?” Tanya Rayyan
“Belum ada sebulan.”
“Jadi habis putusin Dito, Indira langsung Kamu pacarin?” Tanya Rayyan dibalas anggukan Caesa.
Indira merupakan mantan pacar Dito sebelum Dito berpacaran dengan Diana. Indira memutuskan Dito karena Dito sangat genit dengan cewek-cewek lain. Indira nggak tahan dengan sikap Dito. Setelah meninggalkan Dito, Indira malah berpacaran dengan Caesa sahabat Dito sendiri. Namun mereka merahasiakan hubungan mereka untuk menjaga perasaan Dito.
“Jadi kapan mau jujur sama Dito?” Ucap Rayyan sambil mengemudikan mobilnya.
“Kalau momennya udah pas deh.”
“Oiya, tadi Aku lihat kalian lagi ciuman. Kalian udah sering?”
“Hehehe.. Ya lumayan. Iseng-iseng nyoba sekali langsung ketagihan. Pernah juga pas lagi pilek, hidung mampet langsung plong bisa nafas lagi.” Ucap Caesa.
“Hah iya kah?” Tanya Rayyan penasaran.
“Iya, tapi besoknya Indi ikutan pilek. Hahaha”
“Kesempatan dong!”
“Hehe. Paling tahu aja deh Kamu. Sama Lily gimana? Udah nyoba?” Caesa gantian bertanya.
“Hmm.. Gimana ya? Dia masih belum ngerti yang kayak begitu.” Jawab Rayyan.
“Ya, namanya masih pemula bro, ajarin aja pelan-pelan. Beruntung kalau Kamu bisa jadi yang pertama.”
“Daripada sama bekasan temen sendiri ya nggak bro?”
Mendengar itu Caesa tidak tersinggung bahkan tertawa terbahak-bahak. Mereka berbincang-bincang sambil mengelilingi kota. Setelah bosan mengelilingi kota, Rayyan mengantar Caesa pulang setelah pukul delapan malam. Rayyan kangen dengan pacarnya karena sehari tidak bertemu.
“Setengah jam dari sekarang Kamu buka jendela kamar ya.” -Rayyan
Setelah mengirim pesan Rayyan melajukan mobilnya. Rayyan tahu bahwa kamar Lily berada di paling depan tepat ke arah jalan. Lily yang sedang belajar menerima pesan itu pun langsung menghapusnya. Namun Ia terus memperhatikan jam.
“Aku harus buka jendela jam 8.32.” Gumam Lily dalam hati.
Lily berpura-pura ke dapur mengambil minum untuk memperhatikan orang-orang di rumahnya. Bapak dan Ibunya sudah berada di dalam kamar. Biasanya kalau sudah masuk ke kamar Bapak dan Ibu Lily sudah tidak keluar kamar lagi. Lily pun membuka jendela kamarnya meskipun waktu belum menunjukkan pukul 8.32. Lily tidak menyangka Rayyan senekat itu.
Di dalam hatinya Lily hanya takut kalau ketahuan. Tapi Ia juga merindukan Rayyan setelah aktivitasnya yang padat hari ini tanpa kabar dari Rayyan setelah semalaman melakukan panggilan video. Detak jantungnya semakin kencang saat mobil merah tiba dan berhenti di depan rumahnya.
Lily melambaikan tangannya kepada Rayyan. Rayyan pun membalas lambaian tangan Lily sambil memberikan ciuman dari kejauhan. Lily tersenyum melihat kelakuan pacarnya.
“Kangen..” Rayyan mengirimkan chat kepada Lily.
“Sama..” Balas Lily.
Rayyan turun dari mobilnya menghampiri Lily. Lily mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Rayyan. Mereka berpegangan tangan dengan erat dengan Lily yang masih berada di dalam jendela dan Rayyan di luar. Mata mereka saling bertatapan seolah saling berbicara dan melepas rindu. Rayyan dan Lily tidak menimbulkan suara agar tidak ada yang curiga.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan Lily menyuruh Rayyan untuk segera pulang.
“R, udah malam kamu cepet pulang gih. Besok ketemu lagi ya di tempat bimbel.” Bisik Lily.
“Mimpi indah Lio-ku sayang.” Ucap Rayyan sambil mengelus kepala Lily dan menciumi punggung tangan Lily.
Setelah mengecup tangan Lily, Rayyan meninggalkan rumah Lily dan pulang dengan hati yang berbunga-bunga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Teco
Mantap banget nih ceritanya, thor!
2023-07-25
1
Maria Elizabeth Pereira
Yess, langganan setiap update punya author ini, doi keren abis!
2023-07-25
1