“Jadi Rayyan cuma dianggap teman aja nih Ly?” Caesa memulai.
“Jangan kompor deh, anak orang lagi sakit juga.” Balas Rani.
“Jadi Aku cuma dianggap sebagai teman aja nih?” Pertanyaan Rayyan membuat satu ruangan menatapnya tajam.
“Ya masa Aku harus bilang Kamu pacar Aku depan Ibu? Lihat kan tadi respon Ibu gimana pas Caesa bilang Dito ngedeketin Rani?” Lily menjelaskan.
“Aku cuma bercanda sayang.” Jawab Rayyan sambil tersenyum padahal dalam hatinya Ia ingin sekali diakui sebagai pacar, Rayyan berusaha mengerti kenapa Lily melakukannya.
“Ly, ini bunganya spesial dari Rayyan, tadinya dia mau bawain Kamu mawar tapi takut ketahuan Ibu Kamu. Ini buahnya dari Kita semua, habisin ya biar cepet sehat.” Ucap Rani.
“Maaf ya Ly, Aku cuma bawa ini.” Julia menyodorkan fotokopian buku catatannya.
“Ya ampun, kalian repot-repot banget sih. Makasih banyak yaaa temen-temen dan pacar.” Ucap Lily membuat Rayyan tersenyum dan menghampiri untuk memeluknya.
Belum sampai memeluk Lily, Rani yang mempunyai tinggi badan di atas rata-rata namun masih tidak setinggi Rayyan menjambak rambut Rayyan.
“Mau ngapain heh?” Tanya Rani membuat seisi ruangan tertawa.
“Mau peluk ayang.” Jawab Rayyan.
“Gak usah aneh-aneh, nanti repot urusannya kalau tiba-tiba Tante Merry dateng.” Rani melanjutkan ucapannya.
Caesa dan Dito menertawai Rayyan sangat keras membuat perawat mengetuk pintu kamar pasien dan meminta tolong mereka untuk mengecilkan volume suaranya. Julia malah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Caesa dan Dito.
“Hahahaha… Mampuss..” Ucap Julia yang merasa lucu tapi malah dianggap aneh oleh yang lainnya. Bahkan terlihat seram karena sebagian wajahnya tertutup oleh rambut.
“Wah.. temen Kamu kesurupan nih Ly.” Ucap Dito
“Gebetan Kamu tu.” Caesa meneruskan.
“Takut Aku kalau kayak begini.” Ucap Dito.
Bu Merry yang baru datang melihat Julia tertawa.
“Kalian lagi ngobrolin apa sih? Seru banget kayaknya.” Tanya Bu Merry.
“Julia lagi kelaperan itu Tante, serem banget.” Jawab Caesa.
“Kebetulan nih, tante bawain makanan sama camilan, pada dimakan dulu ya.” Ucap Tante Merry sambil menyerahkan makanan yang telah dibelinya.
“Makan tante..” Anak-anak itu menawarkan Ibu Merry.
“Iya tante sudah makan, kalian makan yang banyak ya. Nanti kalau masih belum kenyang camilannya dihabiskan.”
“Boleh bawa pulang nggak tante?” Tanya Caesa.
“Bawa pulang bayar.” Canda Lily.
“Boleh.. boleh..” Jawab Tante Merry.
Selesai menyantap hidangan mereka berpamitan dengan Bu Merry dan Lily.
“Makasih ya udah jengukin Lily, doain ya Lily cepet sembuh biar bisa ketemu di sekolah dan di tempat bimbel.” Ucap Bu Merry
“Iya tante..” Ucap kawan-kawan Lily secara serempak.
“Kapan-kapan boleh ditraktir lagi ya tante.” Caesa bercanda lagi.
“Nanti kalau sudah keterima di Universitas Kita makan-makan lagi deh, kalian semangat ya belajarnya.” Ucap Bu Merry sambil mengantarkan mereka ke pintu.
Setelah mengantar lima anak itu ke depan pintu ruangan, Bu Merry kembali di samping tempat tidur Lily.
“Aneh-aneh ya temen-temen Kamu, apalagi yang namanya Ca..Cahyo apa siapa tadi susah banget namanya?” Tanya Bu Merry.
“Caesa Ibu, jauh banget jadi Cahyo.” Jawab Lily.
“Iya padahal baru juga sekali ketemu, udah heboh banget sama Ibu padahal Ibu kan jauh lebih tua.”
“Yang satu itu emang agak lain Bu.”
Tak Lama berselang Pak Sadewa yang sengaja pulang lebih awal sampai di ruang perawatan Lily.
“Gimana anak Bapak?” Tanya Pak Sadewa.
“Udah mendingan kok Pak.” Jawab Lily.
“Boleh pulang kapan sama dokter?” Tanya Pak Sadewa lagi.
“Semoga aja besok, pengen cepet pulang Pak. Sekolah lagi, takut ketinggalan pelajaran. Satu hari nggak masuk aja udah segitu catatannya.” Jawab Lily sambil menunjuk setumpuk kertas fotokopian dari Julia yang diletakkan di meja.
Di dekat meja juga ada bunga Krisan dan parsel buah yang dibawakan oleh teman-temannya tadi.
“Tadi ada yang jenguk kesini?”
“Iya Pak, temen sekolah sama temen-temen bimbel Lily tadi kesini bawa bingkisan sama bunga itu juga.” Gantian Bu Merry yang menjawab pertanyaan suaminya itu.
“Ini bunganya dari siapa?” Tanya Pak Sadewa membuat Lily yang sedang minum tersedak.
“Itu tadi Rani yang bawa.” Jawab Lily setelah berhenti batuk.
“Kirain anak Bapak udah punya pacar.” Ucap Pak Sadewa.
“Kata Bapak sama Ibu nggak boleh pacar-pacaran.”
“Iya tapi teman cowok Lily yang tadi jengukin ada banyak loh Pak.” Goda Bu Merry.
“Iiiihhh… Ibu itu kan temen-temen bimbel Aku, lagian mereka juga kesini karena ada tugas kelompok sama Rani setelah darisini, kalau enggak mana mungkin sampai kesini.” Kilah Lily yang pipinya sedikit memerah.
“Ada yang kamu taksir ya?” Selidik Bu Merry.
“Apasih Ibu nggak jelas banget, anaknya lagi sakit juga. Suapin kenapa” manja Lily.
Bu Merry pun menyuapkan bubur yang telah disediakan oleh perawat untuk Lily. Lily disarankan untuk memakan makanan yang halus, tidak asam, dan tidak pedas saat ini. Membuatnya makan bubur seharian penuh. Padahal Ia ingin sekali makan siomay Pak Dadang yang bumbunya cukup pedas.
“Makanan rumah sakit nggak enak ya Bu, masa Aku seharian dikasih bubur terus. Aku kan pengen Siomay Pak Dadang di kantin sekolah.” Gerutu Lily.
“Soalnya kan Kamu harus makan yang teksturnya halus dulu belum boleh yang padat, kalau boleh yang padat menunya pasti enak-enak. Nanti kalau udah sehat ya beli siomay Pak Dadang lagi.” Jawab Bu Merry.
“Tapi lebih enak lagi kalau makannya di restoran, bukan di rumah sakit. Jangan lagi-lagi ya nginep disini. Kamu jaga kesehatan.” Timpal Pak Sadewa.
“Pokoknya kalau udah sehat Aku mau makan ayam pop di resto padang langganan kita, pakai sambal hijaunya yang banyak terus siram kuah gule sama rendang. Jadi ngiler deh.” Pinta Lily dan disetujui oleh kedua orang tuanya.
Keesokan harinya, dokter sudah visit pagi-pagi sekali dan memperbolehkan Lily pulang hari ini. Lily sangat senang namun raut wajahnya berubah ketika dokter melarangnya untuk makan pedas dan asam dulu selama masih terasa mual. Bu Merry mengelus pundak putrinya agar lebih sabar lagi. Hal yang terpenting saat ini adalah Lily sudah diijinkan pulang oleh dokter dan Lily tidak boleh terlalu lelah. Jadi Bu Merry juga menghubungi Mbak Maya memberitahukan bahwa putrinya hari ini tidak masuk kelas bimbingan belajar.
***
Sesampainya di rumah, Lily merebahkan punggungnya di kasur empuk yang Ia tinggalkan dua malam. Karena hari senin Ia tidur di meja belajar dan hari selasa menginap di hotel rumah sakit. Bayangannya terkait setumpuk catatan kemarin pun bersliweran di kepalanya. Walaupun masih sedikit pusing Ia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada seseorang.
“Julia, besok Aku pinjam catatan hari ini di sekolah dan di tempat bimbel ya.”
Tak berselang lama Lily menerima balasan dari pesannya tadi.
“Oke!” Jawaban Julia sangat singkat, padat, dan jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments