“Katanya ke tempat fotokopian kok itu sambil nenteng makanan. Kamu beli apa?” Tanya Bu Merry ketika Lily masuk ke dalam mobil.
“Iya, ini tadi dibeliin Julia pas lagi antri fotokopi Bu.” Lily lancar berbohong karena Julia sudah mengajarinya dari sebelum mereka ke kantin.
“Bukannya kamu bilang Siomay Pak Dadang pedas? Memang Kamu mau makan itu?” Tanya Bu Merry lagi.
“Ini pakai kecap doang kok bu, nggak pakai bumbu kacang.” Jawab Lily sambil menunjukkan isi plastiknya.
“Perhatian banget ya Julia sama Kamu, beruntung banget Kamu punya teman kayak dia. Udah pintar, cantik, baik lagi.” Ucap Bu Merry sambil melajukan mobilnya.
“Iya soalnya nggak ada yang mau diperhatiin lagi Bu.” Ucap Lily terkekeh.
“Oh iya, Julia belum punya pacar?” Tanya Bu Merry.
“Iya bu.” Tiba-tiba Lily menjadi canggung.
“Nah contoh Julia dong, udah cantik, pinter, baik, fokus sekolah nggak pacar-pacaran.” Ucap Bu Merry.
Lily hanya mengangguk.
Di rumah Lily menyantap siomay pemberian Rayyan tadi. Sesekali Ia kelepasan menjadi senyum-senyum sendiri jika mengingat kejadian di sekolah tadi.
“Ya ampun kenapa Aku baru tahu, ini siomaynya Pak Dadang cuma dikasih kecap aja udah enak.” Gumam Lily yang sedang menikmati siomay miliknya.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Bu Merry yang berjalan ke arah dapur bertanya.
“Ini bu, enak banget. Akhirnya kesampean makan Siomay Pak Dadang walaupun nggak pakai bumbu kacang.” Lily berkilah.
Bu Merry hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan putrinya.
“Besok Aku masuk bimbel nggak bu?” Tanya Lily.
“Tergantung besok, kalau kamu yakin kuat ikut aja kalau nggak ya nggak usah.”
“Tapi bu, Si Ivana, Jovanka, sama Anthony mau ikutan bimbel disitu. Aku harus lebih rajin biar bisa unggul dari mereka.”
Bu Merry yang mengetahui bahwa tiga orang yang disebutkan putrinya itu merupakan top three di kelas diam sejenak. Bu Merry sangat tahu putrinya ingin sekali menyaingi tiga orang itu di sekolah walaupun tidak pernah berhasil. Kini ketiganya akan mengikuti bimbingan belajar di tempat yang sama dengan Lily, itu artinya persaingan akan semakin ketat. Namun Bu Merry tetap mendoakan apa yang terbaik untuk putrinya.
“Lily, yang terpenting sekarang Kamu sehat. Tidak perlu memaksakan diri kamu, lakukan yang terbaik yang Kamu bisa. Tapi Kamu harus tahu batasannya supaya nggak jatuh sakit lagi kayak kemarin. Soal hasilnya, Kamu cukup berdoa saja.” Nasihat Bu Merry.
Lily melihat ada perubahan pada Ibunya. Tentu kejadian kemarin membuat Bu Merry semakin khawatir dan tidak terlalu memaksa Lily untuk belajar terus-menurus. Lily yang menyadari hal itu bertekad untuk mengupayakan yang terbaik.
Setelah siomaynya habis, Lily kembali ke meja belajar untuk menyalin catatan yang diberikan oleh Julia sambil mempelajarinya. Lily tidak merasa kesulitan sehingga penyalinan dapat dilakukan dengan cepat. Setelah selesai, Lily merebahkan punggungnya di kasur dan ketiduran.
***
Rayyan menghampiri dua temannya yang menunggu di mobil. Mereka melihat Rayyan yang tersenyum lebih lebar dari kemarin. Tidak sabar mereka memborbardir Rayyan dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Gimana..gimana? Udah ketemu Lily?” Tanya Dito.
“Udah eksekusi belum kayak yang Kita ajarin kemarin?” Tanya Caesa sembarangan.
Rayyan menoyor kepala Caesa.
“Pikiranmu dilaundry dulu biar bersih Cae.. Cae..” Ucap Rayyan setelahnya.
“Loh kirain Kamu ninggalin Kita berdua di mobil untuk itu.” Lanjut Dito.
“Ya nggak di sekolah juga kali.” Jawab Rayyan.
Rayyan mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumahnya sebagai basecamp tempat mereka berkumpul. Rumah Rayyan menjadi tempat mereka berkumpul karena hanya Rayyan yang tinggal disana. Bi Darsih yang membersihkan rumah hanya datang setiap pagi dan pulang setelah pekerjaannya selesai. Bahkan Rayyan sekalipun jarang bertemu dengan Bi Darsih jika tidak sedang libur sekolah.
“Ray, kenapa nggak ajak Lily kesini aja? Rumah sepi gini, nggak bakal ada yang gangguin.” Tanya Dito.
“Wah kalau diajak kesini bisa bahaya lah to. Kalau tiba-tiba Rayyan kelepasan bisa diamuk warga sekampung.” Ucap Caesa.
“Ya, itu sih tergantung Rayyan juga bisa nahan diri atau enggak.” Lanjut Dito.
“Sepertinya itu ide yang bagus tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Aku perlu mengontrol diriku dan mencari waktu yang pas.” Gumam Rayyan.
“Heh.. bocah.. malah bengong.. bayangin yang enggak-enggak ya?” Ucap Caesa sambil melemparkan majalah yabg dipegangnya ke wajah Rayyan untuk membuyarkan lamunannya.
“Enak aja bengong, lagi inget-inget di kulkas ada camilan apa. Bentar ya Aku ambil dulu.” Kilah Rayyan sambil meninggalkan kedua temannya.
Sampai hari semakin gelap mereka menghabiskan waktu untuk memainkan gitar dan bernyanyi. Tak mau hanya menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermain-main, Rayyan meminta bantuan kedua temannya untuk membuat sebuah lagu untuk Lily.
Dito adalah pemain gitar di band sekolah. Meskipun wajahnya pas-pasan Ia cukup populer sehingga mampu menaklukkan siswi-siswi di sekolahnya. Sedangkan Caesa yang suka bercanda ala stand up comedy sangat pintar merangkai kata-kata.
Rayyan ingin dirinya menjadi penyanyi di lagu yang Ia ciptakan dan Ia juga membuat liriknya dibantu oleh Caesa. Tentu Dito yang ditunjuk sebagai pengiring musiknya. Caesa juga ikut memberikan backsound supaya lagu yang dibuat lebih heboh. Mereka merekam lagu buatan mereka menggunakan ponsel Rayyan.
***
Bu Merry membangunkan Lily ketika waktu makan malam tiba. Pak Sadewa sudah lebih dulu duduk di meja makan. Bu Merry pun menyusul bersamaan dengan putrinya.
“Gimana hari ini masih pusing atau demam?” Tanya Pak Sadewa sambil mengambilkan nasi untuk putrinya.
“Udah enggak sih Pak, malahan tadi di sekolah ada kuis matematika dadakan. Bu Ratna nyuruh Aku buat kuis susulan aja tapi Aku nggak mau. Aku bisa ngerjain paling cepat dan dapat nilai seratus pula. Keren kan?” Ucap Lily dengan bangga.
“Keren lah, siapa dulu Bapaknya?” Ucap Pak Sadewa.
“Nurun Ibunya itu makanya anaknya pintar.” Bu Merry tidak mau mengalah.
“Iya deh bu.” Pak Sadewa akhirnya mengalah.
“Pak, Aku bosan makan hambar terus. Pokoknya Aku mau nagih ayam pop Aku!!” Ucap Lily selesai menyantap makanannya.
“Kalau ayam pop aja sih boleh tapi kalau sama sambal dan kuah-kuahannya kan kamu belum boleh.” Ucap Pak Sadewa.
“Sabtu ya pak pulang tambahan atau hari minggu nggak apa-apa deh.” Lily memohon.
“Iya..iya..” Jawaban Pak Sadewa membuat Lily kegirangan.
“Gimana kalau Kita ajak Julia juga kalau pulang bimbel? Sebagai tanda terima kasih karena Kamu sudah dipinjami catatan dan dibelikan siomay tadi?” Ajak Bu Merry.
“Siomay?” Tanya Pak Sadewa sambil melirik ke arah putrinya.
“Iya tapi cuma pakai kecap kok nggak pakai bumbu kacangnya juga.” Jawab Lily.
“Nanti pulangnya Julia Kita antar ke rumahnya, kan dekat.” Lanjut Bu Merry.
Rumah Julia tidak terlalu jauh dengan rumah Lily. Hanya berbeda blok namun masih di satu komplek yang sama. Perlu waktu lima menit menggunakan kendaraan bermotor untuk sampai di rumah Julia dan sepuluh menit jika berjalan kaki. Oleh karenanya Lily maupun Julia jarang bertemu di rumah apabila tidak ada tugas kelompok yang mengharuskannya mengerjakan di luar jam sekolah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments