Tantangan yang Dirahasiakan

“Jul, nanti pulang tambahan ikut Aku yuk makan sama Bapak Ibu. Nanti kita anter pulang sekalian.” Ajak Lily.

“Wah udah lama ya nggak pulang bareng Kamu, dulu awal masuk SMA padahal Aku suka nebeng Kamu ya karena Mama nggak bisa jemput. Oke, Aku chat Mama dulu ya biar nanti nggak usah jemput.” Julia setuju dan mengabari Mama Jeany.

Setelah sakit baru kali ini mengikuti tambahan belajar sehingga Ia baru membahas soal-soal try out yang belum terpecahkan kemarin. Kebetulan Pak Rama juga sedang stand by saat ini.

“Ya ampun Ly, masih aja dibahas yang udah lewat. Kayak nggak bisa move on aja.” Ucap Julia.

“Justru ini bagus Julia, Kita harus menguasai apa yang menjadi kelemahan Kita. Siapa tahu nanti ujian kalian yang keluar materi seperti ini.” Bela Pak Rama.

“Oh iya juga ya Pak, yaudah mumpung ada Pak Rama Kita bahas matematika dulu ya. Saya ada banyak yang nggak bisa soalnya kemarin pas ngerjain try out.” Ajak Julia.

“Sebentar, bukannya ada tiga siswa baru dari sekolah kalian? Kok nggak ikut?” Tanya Pak Rama.

“Dito takut kalah saing pak, soalnya mereka peringkat satu sampai tiga tertinggi di sekolah Kami.” Jawab Julia polos.

“Loh, kalian jangan begitu dong sama teman sendiri. Ajak aja, justru seru kalau membahas soal nanti bisa saling membantu.” Nasihat Pak Rama.

“Iya Pak.” Jawab Lily dan Julia kompak.

“Yaudah di-chat dong sekarang, nunggu apalagi?”

Julia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Ivana.

“Tuh kan Pak cuma di read doang. Dibales kek! Mereka tuh ngajak ngobrol Kita kalau ada maunya aja.” Julia yang masih memegang ponselnya pun meledak namun langsung ditenangkan oleh Pak Rama.

“Ya sudah sekarang Kita fokus bahas soal ini aja yuk.” Ajak Pak Rama.

“Eh itu si Ben, Ben sini.” Panggil Julia.

Ben berjalan menghampiri mereka dan mengikuti pembahasan. Ben duduk di samping Julia dan Lily bersebelahan dengan Pak Rama. Mereka duduk berhadap-hadapan di meja dekat resepsionis. Ternyata Ben tak kalah cerdas dari keduanya, bahkan tanpa Pak Rama mereka bertiga sebenarnya sudah bisa menyelesaikan soal-soal itu sendiri. Pak Rama yang dari tadi hanya mengawasi anak-anak itu pun meninggalkan meja untuk memeriksa hal-hal lainnya di rempat bimbel itu.

“Ben, rencana kuliah mau ambil apa?” Tanya Julia.

“Kedokteran.” Jawab Ben.

“Mau ambil Kedokteran dimana? Aku juga pengen itu.” Tanya Julia.

“Pengennya sih universitas XX tapi lihat nanti, mungkin juga disini aja.” Jawab Ben.

“Kalau kalian?” Ben balik bertanya.

“Aku paling disini aja biar dekat Mama.” Jawab Julia.

“Sementara sih Aku Teknik Sipil di Universitas XX, nggak tahu kalau nanti berubah lagi yang penting di Universitas XX.”

Rayyan dan teman-temannya datang bersamaan dan menghampiri mereka.

“Udah mulai belajar duluan ya? Habis bahas apa tadi?” Tanya Rayyan.

“Kita habis bahas soal matematika try out kemarin R. Bahas biologi yukk.. Mumpung banyak calon dokter disini, bisa lah ajarin Aku.” Jawab Lily.

“Tapi nanti ajarin Aku matematikanya ya.” Ucap Rayyan.

“Minta ajarin Ben tuh, jago dia.” Puji Lily.

“Maunya sama Kamu aja Lio.” Rayyan memanja.

“Tapi Aku hari ini kayaknya pulangnya lebih cepet.”

“Mau kemana?” Tanya Rayyan.

“Mau nge-date!” Sahut Julia

“Sama?”

“Sama Aku dong.” Julia dengan narsisnya.

“Oiya tadi Kita kena tegur sama Pak Rama karena gak ajakin Ivana, Jovanka, dan Anthony. Jadi terpaksa Kita ajakin. Udah di-chat sama Julia tapi di-read doang.” Ucap Lily.

“Kualat sama Aku tuh dia, chat Aku sering cuma di-read aja sama dia. Hahaha..” Dito tertawa.

“Curhat kamu to?” Lanjut Caesa menghentikan tawa Dito.

Setelah banyak berbincang, mereka bersama-sama membahas soal biologi. Beberapa soal yang mereka tidak bisa menemukan jawabannya ditanyakan kepada guru biologi yang sedang makan siang di dekat tempat mereka duduk. Sisanya mereka membahasnya sendiri.

“Bentar deh, Aku masih sedikit kurang paham nih yang golongan darah, kok orang tua golongan darah A dan B bisa punya anak golongan darah O?” Tanya Lily.

“Coba golongan darah Kamu apa?” Tanya Rayyan.

“Aku B.” Jawab Lily.

“Nah kebetulan kan Aku A. Misal kita punya anak..” Ucapan Rayyan terpotong.

“Nikah dulu woyy.” Ucap Caesa.

“Iya misal Aku sama Lily udah menikah dan punya anak, nah kemungkinan anak Kita golongan darahnya adalah A, B, AB dan O. Kita nggak bisa ngecek nih golongan darah kita itu membawa faktor dominan atau nggak, bahkan ada kemungkinan kalau kita membawa faktor O juga. Tapi kemungkinan kita punya anak bergolongan darah O itu akan lebih kecil dengan yang lain.” Rayyan menjelaskan.

“Oh gitu ya.. Aku ngerti.” Ucap Lily.

“Luar biasa Rayyan, sangat visioner ya.” Ucap Messi sambil tepuk tangan diikuti oleh teman-teman yang lain.

“Sumpah Aku ikut tepuk tangan karena Bang Messi udah ganti profesi jadi pelawak.” Ucap Caesa.

“Aku cuma ikut-ikutan aja.” Celetuk Julia ketika sahabatnya melirik ke arahnya.

Jam dua belas Lily dan Julia sudah dijemput. Mereka meninggalkan teman-temannya yang baru selesai membahas soal-soal biologi tadi. Ben tidak keberatan untuk menjelaskan pembahasan soal matematika yang sebelumnya sehingga Rayyan dan tiga temannya masih belajar di tempat bimbel.

Julia menyapa Tante Merry dan Pak Sadewa dengan salim tangan dan sangat sopan. Mereka berangkat menuju restoran padang favorit Lily yang ternyata juga merupakan restoran favorit Julia. Apalagi menu yang mereka sukai sama yaitu Ayam Pop. Bu Merry ikut bahagia melihat kebahagiaan putrinya bersama sahabatnya itu.

Apa yang Ia lihat saat ini persis seperti yang Bu Merry harapkan. Putrinya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan memiliki pertemanan yang sehat, saling membantu di kala salah satunya mengalami kesulitan. Tidak saling merusak seperti apa yang Ia lihat pada mendiang kakaknya.

“Julia mau nambah lagi?” Tanya Bu Merry.

“Iiihhh… Ibu.. Julia ditawarin anaknya sendiri enggak.” Protes Lily.

“Kamu kan baru sembuh jangan banyak-banyak dulu.” Ucap Bu Merry.

“Julia sudah cukup tante, satu porsi aja udah kenyang banget.” Ucap Julia dengan sangat dewasa.

Entah kenapa pembawaan Julia di depan orang tua lebih kalem dan dewasa. Ia terkesan jaim (jaga image). Sangat berbeda apabila sedang berada dengan teman sebayanya saja. Lily sudah paham dengan sikap Julia yang ini, Ia tahu bahwa Julia pandai menyesuaikan situasi.

***

Rayyan dan teman-temannya selesai membahas soal matematika bersama Ben.

“Lainnya kita bahas kapan-kapan lagi ya. Kepalaku pusing nih.” Ucap Rayyan.

“Kamu ini, kalau nggak ada pawangnya nggak semangat banget belajar.” Celetuk Caesa.

“Ya udah kalau gitu Aku pulang duluan ya.” Benjamin berpamitan dan meninggalkan teman-temannya.

“Ray.. Kamu kan paling pintar di antara Kami, kalau Kamu nggak semangat belajar gimana nasib Kami?” Dito mempertanyakan nasibnya.

“Jangan bergantung sama orang lain dong, kalo mau maju ya usaha sendiri, jangan nunggu orang lain gerak baru ikut bergerak. Jangan jadi pengikut aja. Ingat ya, Kita ini perintis bukan pewaris!” Messi mengingatkan.

“Memang paling bener titah Raden Mas Messi ini.” Celetuk Caesa.

“Ray ayo Ray semangat demi FK (Fakultas Kedokteran) Universitas XX!” Dito memberi semangat.

“Masih kangen sama Lily.” Rayyan merajuk.

“Udahlah nanti kalau Kamu udah jadi dokter, masih muda, tinggi, ganteng gini cewek-cewek udah pasti ngantri!” Ucap Dito.

“Nggak mau yang lain! Maunya sama Lily aja!” Rayyan makin merajuk.

“Yaudah gimana kalau Kamu putusin Lily kalau nggak bisa keterima di Fakultas Kedokteran Universitas XX?” Ucap Messi yang sebenarnya masih menaruh harapan dengan Lily.

“Maksud Kamu apa?” Rayyan bangun dari kursinya dengan sedikit marah.

“Aku pengen nantangin Kamu aja, siapa yang terbaiklah yang berhak mendapatkan Lily. Kalau Kamu keterima di FK XX Aku yang bakalan mundur tapi kalau Kamu nggak keterima dan Aku keterima di TI (Teknik Informatika) XX Aku boleh deketin Lily.” Tantang Messi karena Ia tahu FK dan TI Universitas XX sama-sama susah ditembus.

“Gimana kalau Kita sama-sama nggak keterima di XX?” Tanya Rayyan.

“Nggak ada yang berhak ngedeketin Lily diantara Kita.” Jawab Messi.

“Ente kadang-kadang Bang Messi.” Ucap Caesa

“Jangan diladenin Ray, Messi lagi konslet.” Dito mengingatkan.

“Ok, Aku terima tantangannya. Tapi jangan sampai Lily tahu soal ini. Kita harus fair. Ingat Messi, Lily itu punyaku dan Aku nggak akan ngebiarin Kamu ngambil apa yang udah jadi punyaku.” Rayyan menerima tantangan Messi dan berjabat tangan dengan Messi.

“Ok bro, itu baru namanya laki-laki.” Balas Messi yang sebenarnya memberikan tantangan itu hanya karena melihat Rayyan yang selalu merajuk apabila tidak ada Lily. Ia masih mengharapkan Lily tapi Ia cukup tahu diri bahwa Lily sudah menjatuhkan pilihannya kepada Rayyan. Ia cukup tahu kemampuan Rayyan, Ia yakin Rayyan bisa diterima di Universitas pilihannya itu dengan mudah mengandalkan kemampuannya saat ini. Messi sangat tahu akan hal itu.

Dito dan Caesa memegangi kepalanya yang mendadak pusing karena Rayyan menerima tantangan semacam itu dari Messi. Rayyan mengambil resiko yang terlalu besar atas hubungannya. Padahal untuk menjalani hubungan yang tulus tidak memerlukan ijazah universitas ternama.

Episodes
1 Liony Sadewa
2 Log in
3 Pertemuan pertama
4 Menyatakan Perasaan
5 Menghilangkan barang bukti
6 Modus
7 Ciuman pertama
8 Ketahuan
9 Peringkat Pertama
10 Menjenguk Lily
11 Hanya Dianggap Teman
12 Tips-tips berciuman
13 Misi Membuat Lily Tersenyum
14 Lagu untuk Lily
15 Penuh dengan Kejutan
16 Tantangan yang Dirahasiakan
17 Gawat
18 Kerja Keras
19 Terjebak
20 Putus atau Terus?
21 Maaf
22 Ketahuan
23 Triple Date
24 Janji
25 Dikerjai Balik
26 Malam Tahun Baru
27 Bergabung
28 Biar saja
29 Cinta yang Tak Terbalas
30 Menentukan Pilihan
31 Ada Maunya
32 Khawatir
33 Pajak Jadian
34 Jalur Prestasi
35 Tidak Bersemangat
36 Buku Catatan
37 Hilang Kabar
38 Berpisah
39 That’s what friends are for
40 Pria Jenius
41 Bertemu lagi
42 Bukit Bintang
43 Salah Sangka
44 Makan Malam Darurat
45 Pagi Ceria
46 Hari Pertama Kampus
47 Pawang Singa
48 Kena Hukuman
49 Pacar Pura-Pura
50 Klarifikasi
51 Tinggal bersama?
52 Banyak Kesamaan
53 Malam Pelantikan
54 Bertemu Mantan
55 Temani Aku
56 Siomay Depan Kampus
57 Dingin ke Wanita Lain
58 Siapa Dia?
59 Thanks for today
60 Pengakuan
61 Petjaahh!
62 Singa Lapar
63 Pemaparan Visi Misi
64 Bungkusss!
65 Panas Hati
66 Gara-Gara Mantan
67 Akun Mencurigakan
68 Dinner Sederhana tapi Romantis
69 Beda Nasib
70 Tantangan Satu Juta Like
71 On The Way
72 Mengejar Lily
73 Pemeran Pengganti
74 Hilang dan Kembali
75 Menahan Diri
76 Rapat Internal
77 Lawan yang Sepadan
78 Adegan Cinderella
79 Strategi PDKT
80 Kecelakaan Kecil
81 Menguak Fakta
82 Sweet Treats
83 Memecahkan Tantangan
84 Gelang Pintar
85 Penyelamat
86 Ajakan Ngopi
87 Makrab (1)
88 Makrab (2)
89 Insiden Kecil
90 Hunting Foto
91 Pak Robbin
92 Anniversary Bohongan
93 Pasar Malam
94 Jadi Kita ini Apa?
95 Penutup
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Liony Sadewa
2
Log in
3
Pertemuan pertama
4
Menyatakan Perasaan
5
Menghilangkan barang bukti
6
Modus
7
Ciuman pertama
8
Ketahuan
9
Peringkat Pertama
10
Menjenguk Lily
11
Hanya Dianggap Teman
12
Tips-tips berciuman
13
Misi Membuat Lily Tersenyum
14
Lagu untuk Lily
15
Penuh dengan Kejutan
16
Tantangan yang Dirahasiakan
17
Gawat
18
Kerja Keras
19
Terjebak
20
Putus atau Terus?
21
Maaf
22
Ketahuan
23
Triple Date
24
Janji
25
Dikerjai Balik
26
Malam Tahun Baru
27
Bergabung
28
Biar saja
29
Cinta yang Tak Terbalas
30
Menentukan Pilihan
31
Ada Maunya
32
Khawatir
33
Pajak Jadian
34
Jalur Prestasi
35
Tidak Bersemangat
36
Buku Catatan
37
Hilang Kabar
38
Berpisah
39
That’s what friends are for
40
Pria Jenius
41
Bertemu lagi
42
Bukit Bintang
43
Salah Sangka
44
Makan Malam Darurat
45
Pagi Ceria
46
Hari Pertama Kampus
47
Pawang Singa
48
Kena Hukuman
49
Pacar Pura-Pura
50
Klarifikasi
51
Tinggal bersama?
52
Banyak Kesamaan
53
Malam Pelantikan
54
Bertemu Mantan
55
Temani Aku
56
Siomay Depan Kampus
57
Dingin ke Wanita Lain
58
Siapa Dia?
59
Thanks for today
60
Pengakuan
61
Petjaahh!
62
Singa Lapar
63
Pemaparan Visi Misi
64
Bungkusss!
65
Panas Hati
66
Gara-Gara Mantan
67
Akun Mencurigakan
68
Dinner Sederhana tapi Romantis
69
Beda Nasib
70
Tantangan Satu Juta Like
71
On The Way
72
Mengejar Lily
73
Pemeran Pengganti
74
Hilang dan Kembali
75
Menahan Diri
76
Rapat Internal
77
Lawan yang Sepadan
78
Adegan Cinderella
79
Strategi PDKT
80
Kecelakaan Kecil
81
Menguak Fakta
82
Sweet Treats
83
Memecahkan Tantangan
84
Gelang Pintar
85
Penyelamat
86
Ajakan Ngopi
87
Makrab (1)
88
Makrab (2)
89
Insiden Kecil
90
Hunting Foto
91
Pak Robbin
92
Anniversary Bohongan
93
Pasar Malam
94
Jadi Kita ini Apa?
95
Penutup

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!