Empat bulan berlalu, strategi mereka membuahkan hasil. Peringkat lima besar bisa dipertahankan oleh Rayyan, Lily, Julia, Messi, dan Ben. Sesekali posisi mereka saling bertukar namun tidak pernah terkalahkan oleh trio Ivana, Jovanka, dan Anthony.
Ketiganya yang merasa malu karena tidak mampu masuk ke lima besar memutuskan berhenti mengikuti bimbingan belajar.
“Kok kalian nggak lanjutin bimbel lagi sih?” Tanya Lily terakhir kali bertemu di sekolah saat semester pertama berakhir.
“Kita mau kuliah di LN (luar negeri) aja deh jadi ngapain harus buang-buang waktu di tempat bimbel kalian yang nggak seberapa itu.” Jawaban pedas Ivana yang tetap sombong meskipun sudah kalah telak.
Julia yang juga mendengar jawaban Ivana hanya tertawa bahagia.
“Sombong banget sih jadi orang, rasain kan dikalahin sama yang mereka sebut pecundang. Jadi yang pecundang kami apa mereka? Hahahaa” Ucap Julia dalam pikirannya dengan senyum sinisnya.
Posisi peringkat satu dan dua di sekolah sudah berhasil diambil alih juga oleh duo Lily dan Julia. Membuat trio Ivana, Jovanka, dan Anthony bergeser dari posisinya. Bagaimana tidak, Lily dan Julia hampir setiap hari belajar bersama sampai malam. Sedangkan mereka bertiga, selesai kelas langsung hang out atau pulang ke rumah masing-masing. Tidak berusaha lebih keras untuk belajar seperti pesaingnya.
Libur peralihan semester satu ke semester dua tidak disia-siakan begitu saja oleh anak-anak bimbel kelas khusus itu. Mereka meminta tambahan belajar minimal dua jam setiap harinya supaya bisa terus mengulang materi pelajaran. Menurut mereka apabila mereka asik liburan mereka akan dengan cepat lupa dengan materi-materi yang dipelajari. Oleh sebab itu, mereka terus mengasah otaknya dengan mengulang materi-materi yang telah dipelajari bahkan mempelajari materi yang belum diajarkan di sekolah.
Lily yang setiap hari minggu belajar mengemudi kini sudah mahir. Ia juga sudah mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) miliknya. Kini Ia tidak diantar lagi oleh ibunya. Pulang dan pergi ke tempat bimbel selalu bersama-sama dengan Julia.
***
Hari itu, Messi belum juga datang padahal yang lain sudah berkumpul. Tiba-tiba Rayyan mendapatkan kabar bahwa Messi mengalami kecelakaan ketika akan berangkat ke tempat bimbel. Kondisi Messi tidak parah, hanya lecet-lecet di bagian kaki dan lengan akibat berbenturan dengan aspal. Namun motornya mengalami kerusakan yang cukup serius. Rayyan pun berinisiatif untuk melihat kondisi Messi.
Dito dan Caesa yang masih fokus belajar pun memilih tinggal di tempat bimbel meminta Julia dan Ben untuk mengajari mereka materi yang sulit mereka pahami. Akhirnya Rayyan pergi berdua bersama Lily dengan mobil Rayyan. Messi mengabari bahwa Ia sedang berada di IGD salah satu rumah sakit di kotanya untuk mengobati luka-luka di tubuhnya, motor yang Ia tumpangi pun sudah diamankan polisi. Tapi Messi belum mengabari orang tuanya karena takut membuat khawatir, Ia ingin menyampaikannya secara langsung saja dengan kedua orang tuanya.
Rayyan dan Lily bergegas menjuju IGD. Disana Messi sudah mendapatkan perawatan tinggal mengurus administrasi supaya bisa pulang. Rayyan lega melihat kondisi Messi yang masih bisa melakukan salam tos persahabatan mereka sambil bersandar di tempat tidurnya. Rayyan membantu mengurus administrasi Messi, sedangkan Lily duduk di kursi yang berada di samping Messi.
“Makasih ya udah nyamperin Aku ke sini.” Ucap Messi kepada Lily.
“Iya sama-sama. Kamu harusnya berterima kasihnya sama Rayyan. Dia kelihatan khawatir banget sama Kamu. Dito dan Caesa lagi serius belajar jadi Aku yang nemenin Rayyan kesini.” Jawaban Lily ini membuat Messi sangat yakin bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Selesai dengan pengurusan administrasi, Rayyan menghampiri kekasihnya dan sahabatnya. Mereka pun mengantarkan Messi untuk pulang ke rumahnya.
“Bisa jalan nggak bro?” Tanya Rayyan memastikan sambil bersiap memapah Messi.
“Bisa.. bisa.. Amann..” Jawab Messi yang beranjak dari tempat tidurnya.
Rayyan yang tadinya hendak bersiap memapah Messi pun tidak jadi. Ia memilih merangkul kekasihnya sambil berjalan ke arah mobil. Messi mengikuti sepasang sejoli itu dari belakang. Setelah mobil berjalan, Rayyan mulai menanyai Messi terkait kecelakaan yang dialami oleh Messi.
“Gimana ceritanya Bang Messi bisa jatuh dari motor?” Tanya Rayyan.
“Messi kan pemain bola bukan pembalap R.” Canda Lily.
Rayyan menatap wajah manis kekasihnya yang duduk di sampingnya. Ia menarik telapak tangan kekasihnya lalu menciuminya di depan Messi untuk membuat Messi cemburu.
“Sial. Kawannya lagi sakit malah dijadiin nyamuk sama dia.” Gumam Messi dalam hati.
“Kenapa Mess?” Tanya Rayyan lagi.
“Eh.. iya tadi kan Aku mau putar balik tiba-tiba ada motor yang kebut gitu terus dia nabrak Aku. Untung aja masih selamat. Padahal udah tipis ini tadi kepala udah di depan ban mobil orang, untung dia berhenti.” Jawab Messi.
“Syukurlah, terus orang yang nabrak kamu gimana?” Tanya Lily.
“Dia langsung berdiri lagi bawa motornya terus kabur.”
“Nggak lihat plat nomornya apa?” Tanya Rayyan.
“Udah pasrah aja tadi Ray, kaku badan Aku saking shock nya jadi nggak kepikiran lihat plat nomornya. Pikiran udah kemana-mana.” Jawab Messi.
“Iyasih kelihatan masih pucat.” Ucap Rayyan yang ternyata memperhatikan Messi.
Messi melanjutkan ceritanya. Setelah terjatuh, Ia dibantu oleh seorang wanita pemilik mobil yang hampir melindasnya. Wanita itulah yang mengantarkan Messi ke IGD. Orang itu juga yang menghubungi polisi untuk mengurus motor Messi, Ia juga meninggalkan nomor ponselnya pada secarik kertas apabila Messi memerlukan bantuan karena wanita itu sedang terburu-buru. Ia meninggalkan Messi di IGD setelah tahu teman Messi akan segera datang.
Sampai di depan rumah Messi, Rayyan membukakan pintu mobilnya tanpa mengantarkannya masuk ke dalam rumah. Ia takut disangka orang tua Messi sebagai penabrak anaknya. Messi berterima kasih kepada Rayyan dan Lily karena sudah mengantarkannya pulang sampai ke rumah dengan selamat.
“Sayang, habis darisini kamu mau kemana? Ke rumah Aku dulu yuk. Nggak jauh dari sini.” Ajak Rayyan.
“Mau ngapain R? Langsung balik aja yuk ke tempat bimbel. Nanti pada nyariin loh.” Ucap Lily
“Sebentar aja yukk temenin Aku ke rumah, pleasee.. Ada buku yang mau Aku ambil.”
Melihat pacarnya yang terus memohon, Lily pun terpaksa menuruti.
Mobil terparkir di rumah bergaya minimalis yang memiliki halaman luas. Kemudian Rayyan membukakan pintu mobil untuk kekasihnya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Jantung Lily berdetak kencang, Ia takut kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali. Tentang ciuman itu, Lily merasa tidak siap apabila Rayyan tiba-tiba memaksanya lagi.
“Ada siapa R di rumah?” Tanya Lily yang merasa tidak nyaman berkunjung ke rumah pacarnya.
“Nggak ada siapa-siapa kok di dalam, yukk masuk dulu.” Ucap Rayyan.
“Aku nunggu disini aja deh.”
“Ikut masuk aja yuk.” Rayyan menarik tangan Lily.
“R!!” Panggil Lily ketika Rayyan menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments