Lily yang sudah mendapatkan jemputannya langsung bergegas masuk ke mobil. Hatinya sangat berbunga-bunga namun Ia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya dari raut wajahnya. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana wajahnya saat itu, yang Ia tahu Ia harus menyembunyikan apa yang baru saja terjadi di depan Ibunya.
Sesampainya di rumah Lily buru-buru masuk ke kamar. Ia menutup rapat-rapat pintu kamarnya dan membuka isi tasnya tadi. Ia mengeluarkan setangkai bunga mawar merah pemberian Rayyan. Lily melihat bunga yang sangat cantik itu lalu menciumnya, baunya harum membuat dirinya semakin riang.
“Lily…” Panggil Bu Merry memecahkan lamunan anaknya.
Sontak Lily yang kaget pun reflek melemparkan bunganya ke atas lemari di kamarnya agar tidak terlihat oleh Ibunya.
“Lily bantu Ibu menurunkan belanjaan di mobil.” Ucap Bu Merry yang ternyata tidak membuka pintu kamar Lily.
Lily merasa lega dan langsung buru-buru keluar dari dalam kamar. Lily pun membantu Ibunya menurunkan barang-barang belanjaan Ibunya dan menatanya di tempat penyimpanan.
“Hampir aja copot jantungku kalau sampai ketahuan Ibu bisa bahaya.” Ucap Lily dalam hati.
***
Setelah makan malam dengan keluarga Lily kembali ke ruang belajarnya dan teringat dengan Rayyan. Ia pun membuka ponselnya dan mengirimi Rayyan pesan.
“Makasih ya bunganya, cantik banget Aku suka!” Setelah mengirimkannya Lily segera menghapus pesan yang dikirimnya supaya Ibu tidak membacanya.
“Sama-sama sayang, semoga kamu suka ya.” Rayyan membalas pesan dengan cepat.
“Rayyan, tolong jangan panggil Aku begitu, Ibuku suka mengecek hapeku, Aku takut ketahuan.” Balas Lily
“Okay Lio.” Jawab Rayyan
“Okay R, jangan lupa belajar dan istirahat ya.”
“Jangan lupa makan juga Lio.”
“Ok, sampai ketemu besok R.”
“Goodnight Lio.”
Begitulah isi pesan dua anak Remaja yang baru saja berstatus pacaran. Setelah membaca berulang-ulang pesan terakhir Rayyan, Lily pun menghapusnya agar tidak meninggalkan jejak.
Sebelum tidur Lily mengecek bunga mawar miliknya di atas lemari. Lily meraihnya kemudian memeluknya sambil mencium harumnya.
“Terima kasih sudah hadir mewarnai hidupku mulai hari ini, semoga kita bisa terus bahagia seperti ini.” Ucap Lily dalam keheningan
Setelah itu, Lily memasukkan bunganya ke dalam tas sekolah.
***
Pagi itu seperti biasa Lily datang paling pagi di kelas. Ia pun membawa bunga mawar miliknya ke belakang kelas tempat loker berada. Sebelum memasukannya ke dalam loker Lily kembali menghirup harum bunganya yang menenangkan sambil menutup mata.
“Kamu mungkin sebentar lagi akan layu tapi Aku harap cinta Rayyan ke Aku nggak akan pernah layu.” Ucap Lily tanpa bersuara.
“Cieee.. Bunga mawar dari siapa Ly?”
Seseorang menangkap basah Lily yang sedang menikmati bunganya, memecahkan keheningan dan membuat Lily langsung membuka matanya. Untung saja yang melihatnya adalah sahabatnya, Julia. Lily pun menceritakan apa yang terjadi kemarin di tempat bimbel, membuat Julia tertawa terbahak-bahak.
“Jul, tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa kalau Aku punya pacar.” Pinta Lily
“Aku nggak bisa janji ya Ly, lagian Kamu aneh baru kenal satu hari masa udah mau sih jadi pacar dia?”
“Memangnya harus berapa lama waktu yang dibutuhkan dari kenalan sampai jadian?”
“Nggak ada teorinya sih tapi aneh aja. Tapi kalau ternyata Rayyan toxic kamu harus langsung jauh-jauh ya Lily. Ya ampun polos banget sih sahabatku.”
“Hehehe.. Kenyataannya Aku lebih dulu punya pacar ketimbang kamu.”
“Iya deh iya..” Jawab Julia yang seolah pasrah padahal yang mengantri untuk mendapatkannya pun banyak.
“Ohiya nanti Mama mau anter Aku ke tempat bimbel kamu, kasih tahu Aku ya mana orangnya biar Aku bisa lihat dia anak yang baik atau enggak.” Ucap Julia
“Siap Mama Julia.” Jawaban Lily membuat keduanya terkekeh.
***
Pulang sekolah Lily kembali ke tempat bimbel dan memasuki ruang bimbel. Ruangan itu masih kosong dan seperti biasa Ia mengambil bangku paling depan. Lily pun mengeluarkan soal yang belum terselesaikan kemarin.
Dari luar pintu Rayyan dan sahabat-sahabatnya mengamati Lily yang sudah berada di dalam ruangan. Rayyan meminta sahabatnya untuk memberikannya waktu berdua dengan Lily. Mereka pun setuju menunggu di luar sebelum guru datang.
“Hai Lio, udah daritadi?” Tanya Rayyan mengagetkan Lily
“Enggak Ray baru aja kok. Mana temen-temen Kamu?”
“Mereka mau beli cemilan dulu katanya.” Rayyan berbohong.
“Aku mau tanya dong, kenapa kamu panggil Aku Lio?”
“Nama kamu Liony Sadewa kan? Aku panggil Lio aja biar beda sama yang lain, panggilan kesayangan khusus dari Aku. Boleh kan?”
“Iya boleh, kalau gitu Aku mau panggil kamu R aja biar beda juga sama yang lain.”
“Terserah Kamu yang penting Kamu happy sayang.”
Rayyan menggenggam tangan Lily erat sambil menatap matanya. Mereka saling bercerita tentang harinya masing-masing di sekolah, tidak lupa Lily juga menceritakan nasib bunga mawar pemberian Rayyan. Tiba-tiba seorang anak perempuan yang Lily kenal datang diikuti dengan dua teman Rayyan lainnya. Lily yang kaget pun melepaskan genggaman tangannya.
“Awas dong, Aku mau duduk sini. Lagian kamu kan tinggi kenapa nggak duduk di belakang aja?”
“Kamu kalau mau duduk di depan kan bisa duduk sebelah situ.” Ucap Rayyan menunjuk bangku di sebelah kanan Lily.
“Enggak mau, Aku maunya duduk disini deket pintu.” Jawab Julia
Lily menatap ke arah Rayyan dan menunjuk bangku di sebelah kanannya untuk Rayyan tempati. Rayyan pun mengalah dengan sosok anak perempuan itu. Tiba-tiba Julia sudah menunjukkan keakrabannya dengan Lily, membuat Rayyan mengerti bahwa anak perempuan itu adalah sahabat Lily. Di saat yang bersamaan Dito si playboy cap buaya dibuat terpesona oleh kecantikan Julia.
“Jadi itu orangnya ly? Beneran kayak tiang listrik ya Ly” Tanya Julia sambil tertawa.
Lily mengangguk menahan tawa sambil menepuk bahu Julia.
“Eh Rayyan sorry ya, tadi cuma ngetes doang. Ternyata kamu sabar juga ya orangnya. Makasih udah ngasih tempat duduknya buat Aku.”
“Hai teman Lily kenalan dong, Aku Dito.” Dito yang awalnya duduk di belakang Rayyan tiba-tiba sudah berada di belakang Julia sambil mengulurkan tangan.
“Wah kacau banget si Diana!” Ucap Caesa dengan suara kencang yang diikuti tawa Caesa dan Rayyan. Hal itu membuat Dito melirik ke arah dua temannya.
“Diana yang mana emang?” Tanya Julia
“Masih di rumahnya.” Jawab Caesa ceplas ceplos.
“Oooohhh.. oiyaaa, Aku Julia!” Julia mengulurkan tangannya kepada Dito membuat uluran tangannya yang sudah ia tarik Ia keluarkan lagi untuk menjabat tangan Julia.
“Jadi Julia namanya, Aku Caesa!” Ucap Caesa yang duduk di ujung paling belakang.
“Salam kenal ya Caesa, nggak bisa salaman jauh.” Balas Julia karena Caesa duduk di ujung ruangan yang paling jauh dengan pintu.
“Iya nggak apa-apa nggak usah salaman nanti Diana marah.” Celoteh Caesa
Celotehan Caesa yang ceplas ceplos itu mengundang tawa seisi kelas. Jadi siapa Diana? Diana itu sebenarnya pacarnya Dito. Dan kenapa Caesa berbicara seperti tadi? Sebenarnya Caesa hanya ingin mengingatkan Dito agar tidak melirik cewek lain.
“Nah kalau ini Bang Messi namanya jul.” Caesa memberitahukan Julia ketika Messi memasuki kelas.
“Hai Bang Messi! Jadi kamu yang paling tua disini?” Tanya Julia polos.
“Iya dia pemain bola kelas dunia.” Jawab Caesa yang lagi-lagi membuat semua orang tertawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Nino
Intensitas emosi tinggi.
2023-07-16
1
Maria Fernanda Gutierrez Zafra
Terima kasih sudah menghibur! 😊
2023-07-16
1
彡 Misaki ZawaZhu-!
Ceritanya aduhai banget, bikin senang hati! 😍
2023-07-16
2