Latizia sudah turun di jemput oleh pelayan Wey yang membawanya hati-hati menuju ruangan makan. Latizia berusaha tak menunjukan keanehan dengan cara berjalannya karna memang, bagian intinya terasa cukup perih saat bergesekan dengan daleman.
"Nona! Kau baik-baik saja?" Tanya pelayan Wey karna wajah Latizia sedikit pucat.
"Aku baik-baik saja. Emm.. apa ada pesta? Tampaknya dekorasi ini tak ada tadi siang."
"Ini pesta yang di buat oleh pangeran Franck. Nona!" Jawab pelayan Wey seadanya.
Saat tiba di ruang makan luas dan megah ini. Latizia menautkan alis kala melihat banyak balon dan bunga-bunga di setiap sudut ruangan.
Ia juga melihat Milano yang tampak duduk patuh di samping Franck yang terlihat memberinya nasehat.
Kala melihat Latizia sudah datang, Franck langsung mendorong bahu Milano yang terpaksa berdiri.
"Jemput kekasihmu dan duduk di sampingnya!"
Tanpa ada bantahan lagi, Milano mendekati Latizia dengan wajah datar dan tatapan yang stabil tapi Latizia tahu apa yang harus ia lakukan.
"Membuat masalah, aku akan mengakhiri-mu," Bisik Milano segera membelit pinggang Latizia yang terpaksa ikut bergabung di meja makan.
Ia berjalan beriringan dengan Milano yang menarik kursi berhadapan dengan Franck yang menatap hangat mereka berdua.
"Duduklah! Anggap rumah sendiri!" Ucapnya ramah dan sangat perhatian.
Milano hanya diam duduk di samping Latizia yang juga nyaman dengan respon Franck dalam menerimanya.
Untuk sesaat Franck diam memperhatikan mereka berdua secara bergantian. Latizia kikuk, ia tak tahu apa yang mau di bicarakan semetara Milano hanya membisu sedia dengan wajah datarnya.
"Apa yang kau tunggu, ha?! Ambilkan makanan ke piringnya. Dasar anak ini!" Kesal Franck pada Milano yang patuh.
Ia mengambil piring Latizia lalu mengisinya dengan makanan yang sudah tersaji di atas meja. Latizia yang melihat Milano di marahi dan begitu patuh pada kakaknya itu sampai menahan senyum.
Tak menyangka pria brandal dan messum seperti Milano akan jadi anak ayam di depan kakaknya.
Pikir Latizia mengulum senyum geli tapi segera merubah raut wajahnya saat mendapat lirikan mematikan dari Milano.
"Kondisikan wajahmu," Geram Milano dengan cepat meletakan piring ke hadapan Latizia lalu ia memilih untuk minum segelas anggur.
Melihat Milano yang seperti ini, tentu saja Franck merasa bersalah karna tak bisa mendidik adiknya untuk bersikap lebih manis.
"Siapa namamu?" Tanya Franck pada Latizia yang tadi mencicipi sayur di piringnya.
"Latizia!"
"Nama yang cantik seperti orangnya. Adikku sangat beruntung bisa berdampingan denganmu. Tapi, dia memang tak pandai berhubungan dengan wanita. Agak kaku memang dan terlalu dingin," Jelas Franck tapi Latizia hanya mengangguk.
Jelas-jelas Milano itu pemain profesional. Semalam saja ia di buat tak henti-hentinya memekik nikmat dan..haiss kenapa aku jadi mengingat itu. Pikir Latizia menggeleng cepat.
"Sejak kapan kalian jadi pasangan kekasih?"
"Sejak tadi!"
Degg..
Latizia tak sengaja menjawab itu. Ia pucat saat Milano melempar tatapan membunuh padanya bahkan hawa di ruang makan ini terasa beku.
"A...mak..maksudku sejak tadi kami sebenarnya ingin memberitahumu kalau kami sudah menjalin hubungan sejaaak..."
Latizia memeggang tangan Milano yang ada di atas meja dengan isyarat mata untuk meneruskan jawaban itu.
"Sejak 3 bulan yang lalu!"
"Y..yah, 3 bulan yang lalu!" Imbuh Latizia tersenyum canggung.
Franck diam. Ia menatap Milano yang sama sekali tak menunjukan raut berbeda. Pria itu sangat tenang dan santai.
"Jadi, selama beberapa bulan ini kau tak pulang karna asik berpacaran?"
"Kak! Kau yang selalu menyuruhku mencari pendamping, bukan?!" Malas Milano pada Franck yang akhirnya terkekeh kecil.
"Sudahlah. Aku tak mempermasalahkan itu. Yang jelas sekarang kau sudah dewasa dan jangan sia-siakan wanita-mu. Malam ini aku berencana merayakan hari kedewasaan adikku karna sudah berani memiliki wanita. Besulaaaang!!"
Ucapnya menyodorkan gelas anggur pada mereka hingga Latizia mengikut bersama Milano.
"Panglima! Perlu-ku tarik tanganmu!" Tegas Franck menyadarkan panglima Ottmar di belakangnya.
Pria paruh baya itu segera mengambil gelas anggurnya dan ikut bergabung. Mereka minum dengan suka cita dan tentunya sangat hangat.
Baru malam ini Latizia melihat Milano mau mendengarkan nasihat kakaknya soal sebuah hubungan. Pria tampan yang biasa bersikap acuh itu tiba-tiba saja menuruti apapun yang Franck katakan bahkan, ia makan dengan patuh di atas meja besar ini.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Uhuuk!!"
Latizia dan Milano yang tadi sedang fokus makan seketika tersedak. Keduanya sama-sama langsung menegguk segelas air putih di dekatnya dengan wajah yang sama-sama canggung.
"Kenapa? Kalian tak berencana untuk menikah?" Tanya Franck menyelidik.
"Kak! Hubungan kami masih baru. Tak berpikir ke sana dulu," Jawab Milano menormalkan kerongkongannya yang tadi sakit.
Latizia hanya mengangguki hal itu. Salah bicara sedikit saja Milano bisa mengulitinya hidup-hidup.
"Emm..baiklah! Jangan buru-buru. Kalian bisa menyicil anak lebih dulu."
"A..anak apanya?!" Batin Latizia mendengus. Jika bukan karna rencana pura-pura itu, maka ia tak akan mau duduk berdampingan seperti ini.
"Kak! Bagaimana dengan kesehatanmu?" Tanya Milano mengalihkan pembahasan karna merasa Latizia sudah mulai tak nyaman.
"Aku baik-baik saja. Tak ada yang berubah!" Jawab Franck ringan dengan senyum santai.
Latizia tahu betul pasti Franck juga ingin berdiri seperti pria normal pada umumnya. Menghabiskan sepenuh usia di kursi roda memang sangat melelahkan tapi, Latizia salut pada Franck yang masih bisa ceria bahkan sangat hangat.
"Kau tak perlu lagi mengirim pak tua berkacamata itu ke sini lagi. Tak akan ada yang bisa berubah. Aku sudah lelah melakukan ini itu tak ada hasil yang jelas," Cerewet Franck tanpa beban memintanya.
Milano diam. Kebisuannya adalah sebuah proses berpikir dan pertimbangan. Ada rasa tak suka di hatinya kala kakaknya tak punya semangat lagi untuk sembuh.
"Adik! Kakak tak ingin merepotkan-mu. Lagi-pula berkursi roda tak kutukan sama sekali. Sebaiknya fokus pada.."
"Aku yang menentukan apa kau bisa berhenti atau tidak. Kau cukup lakukan saja apa yang ku mau!" Sela Milano tegas tak main-main.
Franck akhirnya diam sejenak. Dari raut wajahnya mulai terlihat jenuh akan obat-obatan atau terapi mahal yang tak pernah berhasil.
"Adik! Kakak tak mau kau membuang-buang uang lagi!"
"Aku yang bekerja dan aku yang putuskan! Kakak cukup terima saja," Tekan Milano langsung bangkit dari duduknya lalu pergi dengan penuh emosi.
Latizia diam saling pandang dengan panglima Ottmar yang tak bisa berbuat apa-apa dengan semua ini.
"Maafkan aku jadi membuat suasana makan-mu terganggu!" Segan Franck pada Latizia yang hanya diam menatap dalam netra coklat pria ini.
"Aku tahu, kau hanya tak ingin berharap lagi!"
"Kau..."
"Tapi, Milano penuh dengan harapan! Dia melawan siapapun yang berpotensi mengganggumu dan bekerja keras agar kau bisa berjalan lagi. Jangan patahkan itu, hm?"
Franck diam. Ia menunduk menatap kedua kakinya yang sudah lama kaku dan tak pernah bergerak padahal sudah sering melakukan operasi.
"Sumsum tulang ku bermasalah! Tak ada yang cocok sama sekali. Syaraf kedua kakiku juga tak lagi stabil. Aku tak ingin memberinya beban. Biarkan aku seperti ini. untuk..untuk apa aku berjalan?! Aku hanya ingin melihatnya bahagia, dia punya anak dan aku akan menjadi uncle. Itu sederhana!" Jelas Franck sampai berkaca-kaca dan lirih.
Latizia mengambil nafas dalam. Jika mendengar situasi Franck saat ini sepertinya ia tahu siapa yang bisa mengobati pria ini walau belum pasti.
"Apa kau sudah mencoba pengobatan tradisional?"
"Semuanya sudah di lakukan. Milano yang selalu keras kepala," Gumam Franck tampak lelah.
Latizia segera berdiri dari duduknya. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Milano yang mungkin saja tengah menahan emosi di suatu tempat.
"Kau tahu jika adikmu memang keras kepala. Seharusnya kau harus mendukungnya. Jika kau tak mau berjuang untuk diri sendiri maka, berjuanglah demi harapan adikmu!" Ucap Latizia tegas lalu berdiri. Ia menepuk bahu Franck sebelum benar-benar pergi dari ruang makan.
Panglima Ottmar diam. Ia senang akan kehadiran Latizia karna bisa menjadi penengah antara Milano dan Franck yang memang kerap kali berbeda pendapat.
"Semoga saja putri Latizia bisa meredam amarah, Prince Milano!" Batin panglima Ottmar
.....
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Nazwaputri Salmani
semoga latizia bisa jadi bagian kakak beradik itu
2023-07-24
0
sari
lanjut baca will
2023-07-24
0
sari
seperti dunia nyata jaman sekarang dimana orang tua yg seharusnya melindungi anaknya malah jadi musuh hanya demi harta dan tahta..
semoga kita semua di jauhkan dari situasi semacam itu
aamiin
2023-07-24
0