Pagi yang cerah di kerajaan Madison. Seperti biasanya setiap pagi hari maka Delvin akan mencari Latizia untuk membersihkan kamarnya. Ia sengaja datang ke kamar baru wanita itu dengan niat yang sangat percaya diri.
"Latiziaa!!" Panggilnya arogan mengetuk pintu.
Delvin ada urusan pagi ini dan kamarnya belum di bersihkan. Tentu saja rasa jengkel dan marah itu membeludak di batinnya.
"Latiziaa!! Kau tuli, ha??!" Geram Delvin mengeraskan ketukan pintu itu.
Sementara sang empu yang sedari tadi ia maki dan panggil tampak belum bangun dari peraduan empuknya. Ntah terlalu nyaman atau memang pengaruh mabuk tadi malam ia jadi enggan membuka mata.
"Latiziaaa!!!"
Suara kencang itu langsung menariknya sadar. Latizia membuka matanya sayu dan linglung menatap setiap sudut ruangan yang begitu asing baginya.
"A..***!! Ada apa denganku?" Gumam Latizia memegangi kepalanya. Ia diam sejenak mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang baru saja ia alami dan.."
"Astaga!!"
Pekik Latizia syok saat sadar jika semalam ia di paksa minum oleh brandal satu itu. Dengan cepat Latizia menyibak selimut di tubuhnya hingga..
"T..tidak mungkin!" Gugup Latizia saat melihat ia tak memakai satu helai benang-pun.
Seketika jantungnya berdebar antara marah, kecewa bercampur menjadi satu.
"A..apa yang dia lakukan padaku?! Dia..dia tak mungkin-kan..dia ..."
Batin Latizia berkecamuk hebat. Ia ingin bangkit mencari Milano tapi lagi-lagi suara Delvin membuatnya sadar.
Dengan menahan pusing dan lemas di sekujur tubuhnya, Latizia pergi ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin wastafel hingga kedua tangannya mencengkram pinggir benda itu.
"Apa yang kau lakukan padaku, ha?!" Geram Latizia kala melihat banyak bekas ciuman di lehernya.
Sungguh, Latizia merasa jijik pada dirinya sendiri bahkan, ia segera berdiri di bawah shower dan mengusap kasar setiap jejak di tubuhnya dengan air mata yang keluar.
A..aku sudah berusaha menjaga diriku sendiri. Aku memang tak pantas di sebut wanita terhormat.
Makinya pada dirinya sendiri. Tak peduli jika lehernya merah dan meradang, Latizia tetap melakukan hal itu hingga rasa perih menjalar di sekujur kulitnya.
"Latiziaa!! Kau memang ingin mati, haa??"
Suara Delvin berulang kali mendobrak telinga. Latizia yang sedang dilema terpaksa keluar dari kamar dengan mata sembab pergi ke ruang ganti memakai terusan santai yang nyaman di tubuhnya.
Tak ada semangat apapun. Rambutnya ia urai untuk menutupi bagian leher dan syal yang ia belitkan ke bagian merah itu.
"Latiziaa!!"
Latizia mengambil nafas dalam. Setelah cukup tenang barulah ia membuka pintu kamar hingga Delvin tampak sudah emosi.
"Apa kau begitu hidup senang disini hingga tak tahu tugas utamamu?!" Emosinya dengan deru nafas naik turun.
Latizia diam. Ia sudah malas menanggapi ocehan Delvin hingga tak ingin berdebat lagi.
"Aku akan bersihkan! Kau pergilah!" Dingin Latizia sudah pusing.
Delvin menyunggingkan senyum sarkas dan remeh. Ia memindai tubuh Latizia dari atas kepala sampai ujung kaki dengan menyelidik.
"Begitu menyenangkan menjadi budak pria tak berguna itu?! Tampaknya kau sangat senang disini."
"Senang atau tidak, itu bukan urusanmu!" Tegas Latizia ingin pergi tapi Delvin langsung mencengkal lengannya.
Latizia di dorong merapat ke pintu hingga Delvin mendekatkan wajahnya penuh selidik.
"Apa dia..sudah memanjakan mu?"
"Kauu.."
"Cih, kau memang pantas menjadi penghangat ranjang!"
Plakkk..
Latizia melayangkan tamparannya sekuat tenaga sampai Delvin terkejut akan rasa panas di pipinya.
"Kau sudah mulai melampaui batasan mu," Geram Latizia dengan mata mengigil menahan amarah.
Delvin tersenyum kecut mengusap sudut bibirnya yang berdarah karna tangan lentik halus itu sudah mulai berani.
"Kau berani melawanku?"
"Bahkan, sejak lama aku sudah melawan tikus kotor sepertimu!"
"Latiziaa!!" Bentaknya ingin memukul wanita itu tapi, tiba-tiba saja tangannya di tahan oleh seseorang.
Latizia tersentak melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan punggung kekar dan bahu lebar khas yang selalu membuatnya mendidih setiap saat.
"K..kau.."
Milano diam. Tatapan datarnya begitu menusuk dengan wajah dingin membekukan keberanian Delvin.
Cengkraman Milano begitu kuat ke pergelangan tangannya hingga Delvin berkeringat dingin.
"Siall!! Tanganku akan patah jika terus begini," Batinnya menahan sakit akan tekanan yang Milano berikan.
"Kau jangan ikut campur!!" Geram Delvin berusaha untuk lepas dari genggaman tangan kekar Milano yang tak bergeming bahkan tak ada emosi di wajahnya.
Latizia juga menatap ngeri tangan Delvin yang sudah pucat karna darah yang mengalir sudah tak stabil.
"K..kauu..kau ingin membunuhku?! Kau berani mem...aaaaass sialaan!!" Teriak Delvin diakhir kalimatnya saat Milano memelintir tangannya hingga bersuara retakan.
Latizia terkejut kala dalam satu hempasan saja Delvin tergeletak di bawah sana memeggang pergelangannya yang terasa patah dan begitu sakit.
"Milano sialaann!! Kau akan menerima ganjaranmuu!! Kau berusaha melenyapkan putra mahkota kerajaan iniii!!"
Teriaknya membuat para pengawal di depan sana mendekat. Mereka terkejut melihat keadaan Delvin yang memprihatinkan tapi, mereka tak berani menghardik Milano yang masih setia dengan wajah datarnya.
"P..pangeran!"
"B..beritahu ibuku!! Pria ini ingin melenyapkan akuu!!" Geram Delvin di bopong pergi oleh para prajurit untuk pergi ke kamarnya.
Latizia menatap kepergian Delvin dengan cemas. Milano melirik raut wajah khawatir Latizia dari ekor netra elangnya tajam.
"Jika sangat cemas, kau bisa ikut dengannya!" Tegas Milano ingin pergi tapi Latizia segera menyela langkahnya.
"Dia akan melapor pada Raja Barack. Kau akan terkena masalah besar," Jelas Latizia dengan tatapan berempati.
Milano diam sejenak. Ia menyelami manik ungu mistik ini dalam hingga Latizia merasa tak nyaman.
"Kau mencemaskanku?!"
"Kau jangan membual!! Ini semua terjadi karna-ku, jika kau terkena masalah hanya .."
"Jangan terlalu percaya diri. Aku tak berniat membelamu," Angkuh Milano memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan tatapan sangat arogan.
Latizia seketika tak lagi merasa bersalah. Ia langsung ingat soal amarahnya tadi yang kembali meminta penghakiman pada Milano.
"Apa yang kau lakukan padaku?! Kau tak benar-benar memanfaatkan keadaanku saat itu-kan? Kauu.."
"Menurutmu?!" Tanya Milano menaikan satu alisnya penuh arti. Sontak saja hal itu langsung membuat Latizia naik pitam segera ingin mencekik leher Milano tapi, pria itu sangat cemas menahan tangannya dan menarik tengkuk Latizia.
Cup...
Bibir bertemu bibir dan Milano tak melewatkan kesempatan ini. Ia melahap setiap inci delima segar itu sampai Latizia memberontak tapi tak bisa lepas begitu saja.
"Lepasmmmm!!!"
Milano mengigit bibir bawahnya dengan sedikit kuat sampai Latizia terpekik mencengkram tangan Milano yang menahan pergerakannya.
"Wanita Ja**lang!!"
Makian seseorang tiba-tiba menarik Latizia kasar lepas dari genggaman Milano yang tahu putri Veronica melihat ini sedari tadi.
Latizia yang emosi karna ciuman pertamanya direnggut oleh brandal seperti Milano, segera menunjuk kiri wajah tampan licik pria itu.
"Ajari suamimu ini sopan santun!!"
"Sudah jelas kau yang menggodanya!!" Keras putri Veronica menggila. Latizia semakin tak bisa menahan diri. Ntah apa yang sudah di berikan oleh Milano hingga wanita ini sampai buta.
"Kau buta atau bagaimana?! Dia yang tiba-tiba menarikku. Dia.."
"Dia suamiku dan dia milikku! Jangan macam-macam denganku, mengerti?!" Ancam putri Veronica menekan setiap intonasinya.
Latizia menatap benci Milano yang santai dan tenang. Ia sengaja melakukan itu agar putri Veronica bermusuhan dengan Latizia. Wanita ini terlalu santai di kerajaan sampai berani bergaul dengan Delvin sialan itu.
"Milano! Kau di panggil ke ruang persidangan. Kau memang sangat ceroboh!" Maki Putri Veronica melenggang pergi dengan marah.
Latizia hanya diam. Ia berharap jika Milano tak lagi mengganggunya.
"Aku akan membalas mu!"
"Tugasmu hanya melayaniku. Di luar dari itu, bukan lagi urusanmu!" Tegas Milano melangkah pergi.
Latizia tahu apa maksud Milano barusan. Ia tak boleh lagi berurusan dengan Delvin dan itu sama saja tidak.
Delvin maupun Milano adalah brandal yang sama. Hanya berbeda tingkat profesionalnya saja.
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
valleri
sungguh is the best semua karya mu kak.. 😍 ak sampai ga mau brenti membacanya
2024-06-07
0
Rabiah Windi
membaca karyamu thor bikin dadaku berdebar tak karuang
2023-11-11
0
Vanny Candra
mantap
2023-08-17
1